
"Clara ayo kita pergi ke Villa Patrik!" Ajak seorang pemuda kepada seorang gadis cantik.
"Kak Jerry.., untuk apa kita kesana? Bukankah nanti kau akan ada acara?" Tanya gadis itu dengan kening berkerut.
"Rapat masih lama. Sekitar jam 3 sore. Lagi pula, bukan masalah besar bagi mereka untuk menunggu kehadiran ku. Jika tidak bisa menunggu, jangan lagi menjadi pegawai di perusahaan William Group ini. Aku tidak butuh pegawai seperti itu." Kata Jerry sambil menarik lengan Clara dengan paksa membuat gadis itu sedikit meringis menahan sakit.
Begitu Jerry dan Clara keluar dari ruangan pribadi nya di kantor tersebut, seorang staf seperti sekretaris menegur Jerry dan mengingatkan bahwa rapat akan di mulai sekitar 2 jam lagi.
"Suruh mereka menunggu ku dan jangan ada yang beranjak dari ruangan rapat tanpa perintah dari ku!" Bentak Jerry dengan mata merah membuat staf wanita itu mengkerut bagai kerupuk tersiram air.
Tak lama setelah itu, tampak sebuah mobil Lamborghini Sian yang terparkir sesukanya di depan pintu masuk kantor tersebut bergerak dan melaju seperti kesetanan menuju bukit Metro tempat pemukiman bangsawan elit di Metro city ini.
Mobil yang di kendarai oleh Jerry didampingi oleh Clara itu terus membelah jalan Metro city dan menanjak menuju sebuah bangunan super mewah kelas atas dan berhenti secara mendadak di depan sebuah Villa yang dikawal oleh beberapa penjaga.
Begitu mobil itu berhenti, tampak seorang pemuda dengan wajah bengis menendang pintu pagar yang terbuat dari besi itu dengan keras sambil berteriak, "Buka pagar ini!!!"
Suara teriakan itu menggelegar membuat seluruh pengawal yang bertugas sebagai penjaga keamanan mulai panik dan bergegas mengambil senjata masing-masing dan berkeluaran dari pagar yang mereka buka tadi dan mulai mengepung pemuda itu.
Melihat pemuda tadi telah di kepung oleh beberapa orang penjaga, gadis yang sejak tadi hanya diam saja di dalam mobil bergegas keluar dan tanpa Ba Bi Bu lagi langsung menyerang para pengawal yang mengelilingi pemuda itu.
Karena para pengawal ini membelakangi mobil dan tidak menduga bahwa seseorang akan menyerang mereka dari belakang, hal ini membuat kepungan itu menjadi berantakan dan seketika itu juga pecah perkelahian antara sepasang pemuda yang mengendarai Lamborghini Sian itu dengan pengawal Villa Patrik.
Tampak kini beberapa pengawal itu menggeliat di tanah sambil memegangi kantong kemenyan mereka yang menjadi sasaran serangan dari gadis itu. Sedangkan kaki kanan pemuda itu tampak melayang kesana kemari mengincar wajah dan pinggul para pengepung membuat pertarungan yang tadinya terlihat tidak seimbang itu menjadi bukan seperti apa-apa bagi sepasang muda-mudi itu.
Suara bising dan teriakan jerit pekik di luar membuat penghuni Villa itu penasaran dan segera keluar dari dalam bangunan megah itu.
Kini di ambang pintu tampak seorang lelaki tua didampingi oleh lelaki setengah baya di samping kanan dan pemuda berusia sekitar 25 tahun di samping kiri berdiri dengan kening berkerut menyaksikan para pengawal Villa mereka bergelimpangan tumpang tindih di halaman Villa yang luas tersebut.
"Jerry... Hentikan itu!" Teriak lelaki tua itu begitu melihat siapa orang yang mengamuk membabi-buta di siang bolong itu.
Mendengar teriakan itu, pemuda yang di keroyok yang ternyata adalah Jerry William dan Clara segera menghentikan aksi mereka dan mulai melangkah menghampiri ketiga cucu, ayah dan kakek itu sambil melangkahi tubuh-tubuh pengawal yang bertumbangan akibat perkelahian tadi.
"Apakah begini cara mu bertamu ke rumah orang?" Tanya lelaki tua itu menghardik Jerry.
__ADS_1
"Maaf Kek. Aku terpaksa. Karena bagiku, tidak ada sopan santun lagi kepada orang yang telah membunuh orang tua ku dan menyebabkan aku menjadi anak yatim."
Praaaak....?!
Bugh......?!
Begitu Jerry selesai dengan kalimat nya, tampak kaki kanan nya melayang tepat menghantam rahang kiri lelaki setengah baya yang ternyata Robin Patrik itu sehingga lelaki setengah baya itu jatuh dengan bunyi bergedebug bagai buah nangka yang masak.
"Bangun kau keparat! Aku ingin melihat bagaimana kau meregang nyawa seperti kau membunuh orang tua ku dulu!" Kata Jerry sambil menarik kerah baju Robin Patrik dan memaksanya untuk bangun.
Melihat ayahnya diperlakukan seperti itu membuat Ivan bertindak cepat menghalangi Jerry dengan menarik tangan pemuda itu.
Jerry yang sudah dikuasai oleh kemarahan tidak perduli lagi dan langsung saja mengibaskan tangan nya membuat Ivan harus terbanting ke belakang dan jatuh terduduk di lantai Villa tersebut.
"Jawab aku Robin! Dulu ketika kau mengupah seorang pembunuh bayaran untuk membunuh ayah ku dengan cara pengecut, aku ingin tau di bagian mana bekas luka tembak yang menyebabkan ayah ku terbunuh?" Tanya Jerry.
"Jerry tolong ampuni nyawa busuk ku ini! Aku berjanji akan bertaubat dan tidak akan melakukan kejahatan lagi di sisa hidupku ini." Kata Robin memelas memohon belas kasihan dari Jerry.
"Maaf? Apakah semudah itu? Dulu ketika kau membunuh ayah ku dan memburu ku, apakah kau pernah berfikir bahwa hari ini akan tiba?" Tanya Jerry dengan wajah semakin dingin.
"Baiklah. Sekarang aku tanya. Mengapa kau memburu ku dan membunuh paman Yosep dan bibi Lina? Kalian menggantung tubuh mereka di ruangan tengah. Kau memang bangsaaaat.....??"
Buuugh.....?!
"Arghhhh... uhuk.., uhuuuk. Ampun Jerry!" Kata Robin mulai terbatuk dan mengeluarkan darah akibat dadanya di tumbuk dengan kuat oleh Jerry.
"Jawab pertanyaan ku Robin! Di bagian mana ayah ku di tembak?" Tanya Jerry.
"Di.., di.., dibagian samping pelipis sebelah kanan." Kata Robin.
"Oooh.., baik. Aku juga akan melakukan hal yang sama." Kata Jerry sambil meraba pinggangnya dan mencabut sepucuk pistol dan mulai menekan pelatuk untuk menembak bagian samping pelipis Robin sebelah kanan.
"Hentikan Jerry. Jika kau ingin membunuh Ayah ku, maka bunuh juga aku sekalian." Kata Ivan.
"Minggir kau Ivan. Kau tidak tau bagaimana rasanya menjadi aku." Kata Jerry.
__ADS_1
"Sama. Kau juga tidak pernah tau bagaimana rasanya menjadi aku. Mungkin ini yang kau inginkan." Kata Ivan sambil berlari dan membenturkan kepalanya ke dinding ruangan Villa tersebut sehingga ubun-ubun Ivan mengeluarkan darah segar dan langsung meleleh sampai ke ujung hidung.
"Ivaaan. Kau gila." Kata Jerry sambil memburu Ivan dan menyandarkan Ivan di dada nya sendiri.
"Jika kau membunuh Ayah ku, maka kau harus mempersiapkan dua peti mati! Yang satu untuk Ayahku dan yang satu lagi untukku." Kata Ivan.
"Kau..,"
"Aku akan bunuh diri di hadapan mu biar semua orang tau bahwa Jerry William adalah seorang yang haus darah dan mementingkan balas dendam daripada hubungan persahabatan."Kata Ivan dengan nafas tersengal.
"Kau tidak tau bagaimana menjadi aku Van. 22 tahun lamanya aku tersiksa dan itu karena ulah Ayah mu." Kata Jerry.
"Kau juga harus berfikir berada di posisi ku Jerry. Selama ini aku selalu di hina, dikatakan anak haram dan kelahiran ku sama sekali tidak di inginkan oleh Ayah ku. Baru saat ini Ayahku mengakui bahwa aku adalah anak nya. Tapi sebelum aku sempat berbakti dan mengenyam kasih sayang, kau malah akan membunuh nya. Kasihanilah aku Jerry. Kau walau bagaimanapun mendapat kasih sayang dari orang tua asuh mu. Bukan begitu? Kau juga di sayangi oleh paman Drako. Kau dan aku berbeda Jerry. Aku ini anak haram. Bunuh juga aku Jerry!" Kata Ivan dengan suara semakin lemah.
"Panggil Ambulance. Hey mengapa kau mematung di situ? Panggil Ambulance cepat!" Kata Jerry berteriak kepada Robin.
"Ba.., baik." Kata Robin bergegas menuju ke pesawat telepon dan memanggil Ambulace.
Tak lama setelah itu Ambulance pun datang dan Jerry bergegas mengangkat tubuh Ivan yang terkulai sambil terus menangis.
"Bangun Van. Kau jangan nakal Van. Bangun lah sobat!" Kata Jerry.
"Van.., mengapa kau bodoh sekali Van. Awas jika kau tidak mau bangun, aku tidak akan mau lagi bersahabat dengan mu!" Kata Jerry terus-terusan menangis sambil memeluk tubuh Ivan.
"Apakah kau tadi habis makan jengkol? Mengapa nafas mu bau sekali?"
"Setan kau sialan. Kau...?!"
"Aku belum mau mati. Ini karena aku tidak ingin berpisah dari sahabatku yang baik hati." Kata Ivan sambil memaksakan bibir nya untuk tersenyum.
"Ayo. Kau harus segera dirawat!" Kata Jerry sambil membantu petugas medis memasukkan Ivan kedalam Ambulance.
Setelah Ambulance itu pergi, Jerry segera menemui tuan besar Aaron Patrik yang hanya mematung seperti orang linglung.
"Kek. Aku pamit dulu mau menyusul Ivan ke rumah sakit. Katakan kepada setan insaf itu untuk bersembunyi terlebih dahulu. Ini karena anak buah Fardy sedang mengintai Villa ini." Kata Jerry sambil membungkuk dan meraih tangan lelaki tua itu, mencium nya dan segera berbalik pergi sambil menggandeng tangan Clara.
__ADS_1