
Istri mana yang tak sakit hati kalau sama sekali tak di hargai. Suami yang selama ini ia rawat dengan penuh ketulusan malah masih mencintai mantan istri nya. Ia hanya di anggap seperti perawat pribadi yang menawarkan diri khitmat plus untuk majikan nya.
"Kalau aku tahu jadi seperti ini, aku lebih rela menjadi perawat pribadi kamu, mas. Dapat gaji yang mahal dan aku juga nggak perlu repot - repot makan hati seperti ini". Desi mengeluarkan semua unek - unek yang sedang menghimpit batin nya pada Rehan.
Hati Rehan sedikit merasa kasihan melihat istri nya menangis seperti itu. Tapi ia bisa apa, ia juga nggak bisa memaksakan hati nya untuk mencintai wanita itu lagi. Perasaan nya benar - benar sudah tidak bisa memaafkan kesalahan Desi pada masa lalu.
"Maaf, aku nggak bisa melupakan masa lalu diantara kita. Mungkin sebab itu lah ibu tega memberi obat agar ingatan ku tak kembali. Tapi tetap saja, meskipun ingatan ku hilang tapi yang hilang hanya beberapa tahun sebelum musibah itu menimpaku. Maka nya aku heran saat sadar kok kamu yang menjadi istri ku padahal seingat ku bukan. Tapi setelah semua ingatan ku kembali, akhirnya aku sadar dan tahu letak kesilapan ku di mana". Jelas Rehan sambil merangkul Desi agar wanita itu tenang.
Desi semakin terisak, karena selama ini ia melayani Rehan seperti orang paling bodoh di dunia ini. Ia pikir Rehan benar - benar kehilangan semua ingatan nya tapi ternyata tidak. Bahkan kesalahan yang ia lakukan dulu masih terekam jelas di ingatan pria itu.
"Tapi kenapa selama ini kamu hanya bungkam, mas? Kamu membuatku merasa seperti wanita paling bodoh sekarang. Dulu setelah cerai dari nya kamu menikahi hanya untuk membalas dendam pada ku, tapi setelah kamu mengalami musibah itu aku merasa beruntung karena aku yakin kamu akan mencintai ku lagi karena sudah melupakan masa lalu kita tapi nyata nya kamu ingat hanya saja bersikap seolah - olah tidak ingat". Tunkas Desi penuh emosi yang ledak - ledak sambil meneteskan air mata kecewa.
Malam itu di hiasi dengan suara Desi yang raung - raung menyalahkan Rehan akan semua kejadian ini. Suasana malam tidak tenang di mana pun, termasuk di kamar Hansi dan Bu Wahida. Mereka berdua juga ikutan menangis menyesali semua masalah yang telah terjadi di dalam keluarga ini.
Mana kala di kamar tamu yang di tempati Karim, sudah senyap karena pria paruh baya itu sudah tertidur pulas tanpa memperdulikan sahutan - sahutan antara Rehan dan Desi.
*
*
Keesokan hari nya, mobil yang ingin membawa Rehan ke bandara sudah tiba di depan rumah pada pukul delapan pagi.
Hansi dengan wajah pucat dan bengkak karena menangis semalaman kembali terisak saat melihat cinta pertama nya akan pergi meninggalkan nya ketempat yang belum pernah ia lihat sebelum nya. Begitu pun dengan bu Wahida, ia masih berusaha membujuk Rehan agar mengurung kan niat nya untuk pergi.
__ADS_1
"Ibu mohon jangan pergi, nak". Lirih bu Wahida dengan deraian air mata permohonan.
"Jangan seperti ini terus, bu. Aku pergi juga demi kebaikan kita bersama". Jawab Rehan membujuk ibu nya sambil memeluk wanita rentan itu dengan lembut.
Rehan kemudian beralih pada sahabatnya, Karim. "Aku titip mereka ya, Rim". Imbuh Rehan sambil menyalami Karim.
"Lo tenang saja asal gue pasti akan jagain mereka kok. Asal lo sadar diri saja". Bisik Karim..
Rehan paham maksud sahabatnya itu. "Kalau itu gue tahu lah". Sahut Rehan malas.
"Kamu baik - baik tinggal bersama mama, yah. Jaga mama dan jangan sesekali membantah perkataan mama selagi itu baik". Kini Rehan memeluk anak Gadis nya dengan penuh haru.
Hansi hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan bapak nya. Hati dan raga nya sudah cukup kelelahan untuk bersuara. Semalam meratapi nasib keluarga nya membuatnya murung pagi ini.
"Aku akan bukti kan pada ibu kalau aku nggak bersalah". Gumam Rehan dalam hati.
"Semoga keinginan dan tekat mu terwujud". Batin Karim melepas kepergian sahabatnya.
"Sampai mati pun aku tak akan pernah memaafkan semua perlakuan mu pada ku mas". Batin Desi sambil mengusap air matanya. Rehan masuk ke dalam mobil tanpa berpamitan pada nya terlebih dahulu seperti yang lain.
"Aku selalu berharap bapak dan mama tetap bersama meskipun jarak memisahkan kalian berdua". Batin Hansi. Seperti anak pada umum nya, dia juga nggak mau kalau kedua orang tua nya berpisah dengan alasan apa pun.
"Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk mu, nak". Meskipun keberatan dengan perginya Rehan, anak semata wayang nya. Bu Wahida tetap mendoakan yang baik - baik untuk anak nya itu..
__ADS_1
"Sekarang ambil koper kamu di kamar. Kita juga harus pergi dari rumah ini dan tinggal di rumah oma dan opa". Seru Desi pada anak gadis nya.
"Tapi, mah". Hansi masih ingin tinggal beberapa hari di rumah bapak nya tapu tatapan tajam Desi membuat nyali gadis kecil itu ciut.
"Kamu itu apa - apa an sih, Desi! Rehan baru saja pergi, kamu harus nya sabar sampai di selamat sampai ke tempat tujuan nya. Sebagai seorang...". Cerca Bu Wahida kesal pada menantu nya.
"Sebagai seorang apa, bu? Seorang istri? Percuma karena selama ini hanya aku yang menganggap serius pernikahan ini sementara putra ibu hanya menganggap ku perawat pribadi gratisan nya. Jadi untuk apa aku masih berusaha menyangjung nya sebagai suami, percuma!". Sahut Desi membalas perkataan pedas mertuanya.
"Kamu aja yang pergi, Hansi tetap tinggal di sini bersama ku. Kamu nggak layak di jadikan seorang ibu, berlaku kasar pada suami sendiri dan sama sekali tidak menghormati ibu mertua". Ujar bu Wahida lagi.
"Apa? Coba ibu ulang lagi. Siapa yang sebenarnya tidak layak di jadi kan ibu? Aku atau ibu sendiri? Aku kenal ibu bukan baru beberapa hari yang lalu, tapi sudah puluhan tahun lama nya. Aku nggak pernah melihat seorang ibu tega membuat anak nya sendiri tetap lupa ingatan, bahkan selama ini ibu terkenal egois lebih egois dari ibu - ibu lain di luar sana". Balas Desi membalikkan ucapan bu Wahida.
Hansi yang sudah cukup lelah mendengar perdebatan itu pun akhirnya berteriak frustasi. "Stoooooppp!!!".
"Kalian bisa nggak sih nggak perlu bertengkar masalah sepele. Telinga ku sudah cukup bosan dengar nya". Sambung Hansi dengan hati yang penuh sayatan luka dari keluarga nya.
Bu Wahida menghampiri cucu kesayangan nya dan membawa gadis kecil itu ke dalam pelukan nya. "Nenek minta maaf ya, sayang. Nenek janji tak akan berdebat lagi dengan mama kamu tapi kamu harus tinggal dengan nenek di sini yah. Biar kan mama kamu tinggal di rumah oma dan opa kamu sendirian, itu sudah menjadi resiko nya meminta pisah dari bapak kamu". Bujuk Bu Wahida.
Hansi menggeleng kepala. "Tidak nek, aku nggak bisa membiarkan mama ku tinggal sendirian di sana. Kalau di sini nenek tinggal bersama om Karim sementara mama nggak ada yang menamaninya. Bapak tadi pesan untuk menjaga mama jadi aku harus menunaikan amanah itu". Tolak Hansi dengan halus.
Bu Wahida membuang nafas kasar. "Tapi nenek mau tinggal bersama kamu, sayang". Bujuk bu Wahida lagi..
"Ibu jangan memaksakan kehendak gitu, Hansi itu anak ku jadi dia harus menuruti perkataan ku lebih dulu berbanding orang lain". Seru Desi nggak suka dengan sikap memaksa bu Wahida.
__ADS_1
"Ini semua terjadi karena ulah mu Desi! Anak dan cucu ku pergi meninggal ku sendiri karena kamu sangat egois jadi orang". Bentak bu Wahida.