
"Di sini senang di sana senang di mana-mana hatiku senang~"
"Di sini senang di sana senang di mana-mana hatiku senang. Lalala lalala~."
Bus itu terus melaju meninggalkan kota Starhill menuju ke kampung halaman Ryan.
Tampak tiga anak muda yang tampan dengan daya pesona nya masing-masing kini dengan riang-ria bernyanyi membuat para penumpang yang lain tersenyum geli melihat tingkah mereka.
"Lagu apa lagi Ryan?" Tanya Daniel sebaik saja mereka menyelesaikan satu lagu yang mereka nyanyikan.
"Sudah Daniel..! Aku cape." Kata Ryan.
"Ryan.., apakah perjalanan kita ini masih lama?" Tanya Jerry.
"Masih beberapa jam lagi Jerry." Jawab Ryan.
"Sebenarnya mengapa kau begitu mendadak ingin pulang kampung Ryan?" Tanya Daniel.
"Sepupu ku Daniel. Katanya dia ingin menyambung pendidikan ke perguruan tinggi. Paman ku menginginkan agar dia masuk ke Golden university karena di sana ada aku yang bisa menjaga nya." Jawab Ryan mengatakan alasannya yang mendadak tersebut.
"Sepupu mu jantan atau betina?" Tanya Daniel.
"Sialan kau Daniel. Memangnya sepupu ku itu kambing?" Jawab Ryan sedikit jengkel.
"Hahahaha... Aku hanya becanda Ryan." Kata Daniel sambil tertawa melihat ekspresi sewot di wajah Ryan.
"Sepupuku itu seorang gadis yang sangat cantik. Pokoknya mengalahkan kecantikan Lisa dan Rindy." Kata Ryan memuji sepupu nya tersebut.
"Ehem.., ehem."
"Apa ehem.., ehem? Hellen mau kau kemanakan? Awas kalau sampai Riko tau. Bisa patah-patah tulang mu dihajar oleh Riko." Kata Ryan.
Mendengar Ryan menyebut nama Hellen, Daniel hanya bisa menelan ludahnya.
"Bagiku Hellen lebih cantik daripada siapa pun." Kata Daniel.
__ADS_1
"Kau harus bisa menjaga Hellen, Daniel! Aku rasa untuk kedepannya, itu akan lebih sulit." Kata Ryan memperingatkan.
"Iya. Aku juga merasa bahwa Riko saat ini pasti dalam masalah besar." Kata Jerry.
"Riko ini. Menghilang tanpa jejak. Akun sosial media milik nya semua di tutup. Nomor ponsel nya juga tidak dapat dihubungi. Menurut mu Jerry, apakah dia saat ini baik-baik saja?" Tanya Daniel khawatir.
"Entahlah Daniel. Anak buah tuan Syam gagal melacak keberadaan Riko. Aku malah curiga dengan perusahaan pinjaman uang Arsend. Nanti saja setelah kita kembali, aku akan lebih meningkatkan lagi usaha untuk mencari keberadaan Riko." Kata Jerry.
"Ya. Harus Jerry! Dengan tenaga dan sumber daya yang kau miliki, mustahil sangat sulit bagimu melacak keberadaan Riko." Kata Ryan.
"Buktinya sampai sekarang kita tidak menemukan dimana keberadaan Riko. Bukannya kita tanpa usaha?!" Kata Jerry sambil menatap keluar melalui kaca bus.
"Mungkin belum waktunya kita bertemu dengan Riko. Aku hanya mengingatkan kepada mu Daniel! Jika sewaktu-waktu ada apa-apa dengan Riko, kau harus siap melindungi Hellen dengan apa sekalipun!" Kata Ryan.
"Selain berbakti kepada orang tua, aku juga akan menjaga Hellen walau dengan nyawa ku sendiri." Kata Daniel bertekat penuh semangat sambil mengepalkan tinju nya.
"Sudah. Ayo kita istirahat saja. Perjalanan masih sekitar 4 jam lagi. Mungkin hampir senja kita baru akan sampai ke kampung halaman ku." Kata Ryan lalu segera memejamkan matanya.
Bus yang ditumpangi oleh Jerry, Ryan, Daniel serta penumpang yang lainnya terus saja melaju melewati tanjakan dan turunan menuju ke kampung halaman Ryan.
...Mountan Slope......
Tepat pukul 5 sore akhirnya rombongan Ryan, Daniel dan Jerry sampai juga ketempat tujuan yaitu kampung halaman Ryan.
Begitu mereka turun dari bus, Daniel dan Jerry tampak sangat terpukau dengan keindahan kampung halaman Ryan tersebut.
"Waaaah... Kampung halaman mu cantik sekali Ryan. Aku merasa seperti berada di depan lukisan.". Kata Daniel sambil memperhatikan kampung yang tidak begitu besar tersebut.
Jerry juga memandang ke sekeliling dimana dia melihat sungai yang cukup besar berair jernih mengalir tenang di mana di sebelah sungai tersebut terdapat sawah padi yang luas dan kini sedang menguning bak hamparan emas berkilauan tertimpa sinar matahari di sore itu.
"Mungkin kehidupan seperti ini lah yang di impikan oleh ayah angkat ketika mendiang istrinya masih hidup. Benar-benar sangat tenang dan damai." Fikir Jerry dalam hati.
"Hey...! Kalian mengapa hanya diam. Apakah kalian menyesal datang ke kampung halaman ku?" Kata Ryan bertanya.
"Tidak Ryan. Kampung mu ini benar-benar sangat indah." Kata Daniel membantah anggapan Ryan.
__ADS_1
"Aku harus mengambil beberapa foro matahari yang akan terbenam." Kata Jerry mengeluarkan kameranya dan mulai memotret pemandangan indah di kala sore itu.
Sedang asyik memotret beberapa, tiba-tiba Jerry melihat di layar kamera nya bahwa dia sedang menangkap sosok seorang gadis di kejauhan sana. Jerry berhenti sejenak. Dia kini memperhatikan ke depan dimana sosok wanita tadi berada. Namun aneh. Tiada siapa-siapa di sana.
"Ada apa Jerry? Kau seperti sedang kebingungan." Tanya Daniel.
"Lihat ini Daniel! Kamera ku menangkap sosok seorang gadis. Tapi setelah aku perhatikan, gadis itu seperti menghilang. Lihat di sana! Bukankan yang aku tunjuk itu sama persis yang ada dalam foto ini?" Tanya Jerry.
Daniel kini juga memperhatikan lalu berkata, "Benar Jerry. Kau harus menanyakan siapa gadis berbaju merah ini kepada Ryan." Kata Daniel memberi saran.
"Jangan Daniel. Itu tidak mengasyikkan. Ini justru tantangan bagi ku. Aku penasaran siapa gadis itu." Kata Jerry sambil mengerutkan kening nya.
"Ayo kita jalan Jerry! Ayo Daniel! Orang tua ku pasti sudah menunggu kita di rumah." Kata Ryan sambil menyandang tas nya dan segera berjalan di depan diikuti oleh Daniel dan Jerry.
Begitu ketiga anak muda itu telah sampai di tengah-tengah kampung, terlihat kini para tetangga dan anak-anak kecil mengerubungi Ryan, Daniel dan Jerry dengan suka cita nya.
"Morgan... Keluarlah! Lihat anak mu calon sarjana telah kembali. Dimana kau Morgan?" Teriak salah satu tetangga dengan semangat.
Melihat anak-anak mengerubungi mereka, Ryan, Daniel dan Jerry segera membuka tas mereka dan segera membagi-bagikan permen dan biskuit yang mereka bawa dari Starhill.
"Benar kan kataku. Untung saja aku mengingatkan kalian untuk membeli jajanan dalam jumlah banyak. Jika tidak, kasihan mereka pasti akan kecewa. Jauh-jauh dari kota tanpa oleh-oleh." Kata Daniel yang tersenyum senang melihat keriangan anak-anak itu menerima pemberian dari mereka.
"Iya. Kau tentunya lebih arif tentang ini Daniel. Ini karena kau dan Ryan memiliki kampung yang indah untuk di kunjungi. Aku? Jangan kan kampung. Orang tua pun aku tidak punya." Kata Jerry.
"Orang tua kami ya orang tua mu juga." Kata Ryan.
Jerry hanya tersenyum saja lalu segera memalingkan pandangannya ketika saat ini tampak seorang lelaki setengah baya keluar dari dalam rumah dengan senyum bangga mengembang di bibir nya lalu dengan tangan terbuka segera memeluk Ryan.
"Anak ku sudah kembali. Bagaimana dengan perjalanan mu?" Tanya lelaki setengah baya yang ternyata adalah ayah Ryan.
"Perjalanan kami lancar-lancar saja Ayah." Kata Ryan.
"Oh ya.., ini adalah sahabat-sahabat ku dari Starhill. Yang ini bernama Jerry dan yang satu lagi bernama Daniel." Kata Ryan memperkenalkan kedua sahabat nya itu kepada ayahnya.
"Oh.., senang berjumpa dengan kalian anak-anak muda. Perkenalan! Nama bapak adalah Morgan." Katanya sambil mengulurkan tangan yang langsung di sambut oleh Daniel dan Jerry.
__ADS_1
Bersambung...