
"Sekarang istirahat lah. Mas pasti capek banget kan". Rinata menutuskan untuk menahan nya saja sementara waktu. Melihat kondisi Haikal saat ini pun membuat nya prihatin.
"Iya, sayang". Sahut Haikal dengan suara kecil hampir tak terdengar oleh telinga Rinata.
Rinata kembali menghampiri Haikal untuk memastikan apa yang ia dengar tadi. "Coba ulang lagi, mas". Pinta Rinata.
"Ulang? Ulang apa?". Tanya Haikal bingung.
"Ulang kembali apa yang mas bilang tadi. Aku kayak nya dengar berbeda gitu tapi entah lah...". Ujar Rinata..
"Emang kamu dengar apa tadi?". Tanya Haikal lagi dengan mengedipkan mata pada Rinata.
"Mas! Aku serius nih, ulang aja lah". Kesal Rinata.
"Tapi ulang apa? Mas nggak ingat terakhir mengatakan apa pada kamu?". Sahut Haikal sambil memainkan bahu nya nggak ingat.
"Ya udah deh, malas berdebat dengan kamu. Sana tidur aja, aku akan keluar dulu ambil makanan di dapur". Imbuh Rinata sedikit kecewa.
Haikal hanya bisa tersenyum kecut melihat Rinata mulai menghilang dari pandangan nya. Sambil menunggu wanita itu, Haikal tertidur karena di serang kantuk dan tubuh nya sangat merasa lelah bahkan nyeri di mana - mana.
*
*
__ADS_1
Sementara di pulau terpencil, Rehan sudah mulai mempaking semua barang yang ingin ia bawa kembali ke kota kelahiran nya. Meskipun mendapat penentangan keras dari sang ibu, tapi ia tetap kukuh untuk pergi. Desi tak peduli lagi dengan suami dan ibu mertua nya. Ia ingin memulai hidup yang baru bersama putri nya di rumah peninggalan kedua orang tua nya.
Wahida kini tinggal berdua dengan Karim di rumah nya. Bu Wahida sudah menganggap Karim seperti anak nya sendiri, jadi ia tidak ingin sahabat anak nya itu tinggal di tempat lain apa lagi masih di desa yang sama.
Sedang kan Hansip untuk sementara waktu akan ikut bersama ibu nya sambil sesekali mengunjungi sang nenek. Setelah menamatkan sekolah nya, Rehan janji akan datang menjemputnya untuk tinggal bersama di kota Makasa.
"Bapak janji yah datang jemput aku kalau sudah tamat sekolah nanti". Seru Hansip saat memasuki kamar Rehan bersama Desi.
"Iya, nak. Bapak janji. Nanti akan bapak usahakan mencari pekerjaan yang bisa menjamin kehidupan kita di sana jadi kamu lebih nyaman tinggal bersama bapak". Sahut Rehan mengiyakan permintaan anak gadis nya..
"Bagus lah kalau kamu sudah mulai sadar dengan tanggung jawab kamu. Ingat kamu bukan hanya perlu membiayai diri kamu sendiri, tapi Hansip juga. Kalau kamu udah nggak peduli sama aku lagi, ya nggak papa, aku bisa hidup dengan kerja keras ku sendiri. Tapi ada satu hal yang ingin aku minta sama kamu sebelum pergi...". Ketus Desi yang juga sedang mengemas barang milik nya masuk ke dalam koper.
"Mak, jangan bicara seperti itu pada bapak. Lagi pula bapak pergi pun atas pemintaan mama kan. Aku nggak mau kalau hal buruk malah terjadi pada keluarga kita, kita tinggal di rumah oma tapi aku tidak ingin kalau kalian malah berpisah". Imbuh Hansip seolah tahu apa yang sedang ingin di bicarakan oleh Desi.
"Tapi kenapa ma? Coba katakan pada ku apa penyebab kalian tidak lagi bisa bersama?". Desak Hansi.
Desi melirik Rehan yang hanya cuek dengan pertanyaan putri nya itu. Beberapa sebelumnya Desi sempat mendengar pembicaraan Rehan bersama Karim di taman belakang. Ia mendengar kalau tujuan utama Rehan kembali ke kota itu adalah untuk merebut kembali kekasih hati nya, istri pertama Rehan yang sudah melahirkan seorang putra untuk nya.
Desi langsung marah saat itu juga maka nya ia memilih mundur dan akan mengurus surat cerai untuk pernikahan mereka berdua. Bu Wahida sudah puas membujuk tapi Desi tetap pada keinginan nya untuk berpisah dari Rehan.
"Bapak... Tolong lah bujuk mama, hanya bapak yang bisa meluluhkan hati nya". Mohon Hansi pada Rehan.
"Bapak akan usaha kan yang terbaik untuk kalian semua. Tapi kalau mama sudah bulat pada keputusan nya maka kita harus menghargai nya. Kebahagiaan kita hanya diri kita sendiri yang tahu. Sama seperti keputusan orang lain termasuk kamu dan bapak. Meskipun nenek menentang keras tapi bapak tetap akan pergi karena kebahagiaan bapak ada di sana. Kamu paham kan?". Imbuh Rehan menjelaskan pada Hansi.
__ADS_1
"Tapi, pak...". Hansi mulai meneteskan air mata sedih mendengar kedua orang tua nya tetap ingin berpisah.
"Yang perlu kamu tahu kalau kami berdua tetap menyayangi mu, kamu tetap anak gadis kecil bapak dan juga mama. Selama nya nggak akan berubah. Kamu jangan sedih lagi yah". Bujuk Rehan sambil merangkul Hansi dalam pelukan nya.
Desi sangat ingin bergabung tapi mengingat perkataan Rehan yang masih mencintai mantan istri nya sedangkan dia hanya istri tanpa cinta ia menjadi kesal bercampur sedih.
"Kamu masuk ke kamar istirahat. Bapak dan mama harus menyelesaikan semua ini karena besok bapak akan berangkat". Ucap Rehan pada Hansi yang mulai tenang dari tangis nya.
"Baik lah pak, mah. Selamat malam". Lirih Hansi meninggalkan kedua orang tua nya.
"Bagaimana dengan permintaan ku tadi. Aku mau dengar sekarang supaya tiada lagi tentukan untuk ku di rumah ini". Desi kembali mengingatkan Rehan dengan permintaan nya tadi.
"Kamu bisa sabar nggak, sih! Tolong jaga juga perasaan Hansi. Kamu nggak lihat tadi dia tampak terpukul karena kita. Aku tetap akan menuruti permintaan mu tapi kamu jangan meminta nya saat ada orang lain apa lagi ada Hansi seperti tadi. Tapi kamu sama sekali tidak memperdulikan perasaan nya!". Bentak Rehan dengan wajah yang merah menahan emosi..
"Apa kamu bilang, mas? Sabar? Kamu meminta ku sabar. Selama ini aku sudah sabar banget layanin kamu mas. Merawat mu yang dulu nya koma, cacat, lupa ingatan dan sampai sekarang setelah belasan tahun lama nya kamu tetap meminta ku sabar? Coba ngaca pada diri kamu, mas". Desi balik membentak karen sudah mati rasa pada Rehan.
Selama ini ia sudah cukup bersabar sebagai seorang istri tapi nggak ada satu pun yang menghargai pengorbanan nya itu. Bahkan tujuan utama Rehan kembali ke kota kelahiran nya bukan untuk dirinya atau bahkan untuk sang buah hati melain kan untuk mendapatkan kembali hati mantan istri nya.
Rehan hanya bisa terdiam mendengar perkataan Desi. Ia tahi betul bagaimana istri nya itu merawat nya hingga sembuh seperti sekarang, tapi ia benar - benar tidak lagi bisa mencintai Desi karena teringat kesalahan pada masa lalu. Karena ia lupa ingatan, Rehan juga bingung kenapa saat ia sadar malah yang menjadi istri ku ya adalah Desi padahal seingatnya wanita lain lah yang menjadi istri nya pada terakhir ingatan nya. Ternyata ingatan nya hilang dan terhenti beberapa tahun sebelum kecelakaan.
"Kamu kenapa diam aja? Jawab pertanyaan ku mas. Kamu yang nggak menghargai aku, pengorbanan ku tak di anggap selama ini. Jadi untuk apa aku bersabar lagi padahal sudah jelas kenyataan nya bagaimana?". Seru Desi mengguncang bahu Rehan dengan deraian air mata.
Istri mana yang tak sakit hati kalau sama sekali tak di hargai. Suami yang selama ini ia rawat dengan penuh ketulusan malah masih mencintai mantan istri nya. Ia hanya di anggap seperti perawat pribadi yang menawarkan diri khitmat plus untuk majikan nya.
__ADS_1
"Kalau aku tahu jadi seperti ini, aku lebih rela menjadi perawat pribadi kamu, mas. Dapat gaji yang mahal dan aku juga nggak perlu repot - repot makan hati seperti ini". Desi mengeluarkan semua unek - unek yang sedang menghimpit batin nya pada Rehan.