PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 17 Haru


__ADS_3

Zack merangkul bahu istrinya masuk ke pelukan nya. Ia tahu jika perasaan wanita itu sedang khawatir jika sang ibu tidak setuju dan keberatan dengan rencana mereka.


Saat yang di tunggu - tunggu sudah tiba, Josep sudah mengirim pesan jika merek sudah sampai dan sedang di ruang tamu. Aisyah meminta seorang ART untuk mengajak mereka ke ruang makan. Di sini sudah menunggu keluarga besar Purbalingga kecuali Mega. Ia masih enggan untuk keluar kamar meskipun sudah di bujuk oleh semua orang.


Semua nya menatap pintu masuk ke ruang makan, semua nya tidak sabar untuk melihat bagaimana penampilan Albar saat ini setelah belasan tahun menghilang. Saat pintu terbuka semua nya berdiri meskipun belum tahu siapa yang membuka nya..


"Apa Albar sudah datang?". Tanya Mega membuat semua nya tersenyum senang.


"Akhirnya ibu keluar juga. Sini duduk di kursi ibu. Sebentar lagi Albar datang, ia sedang di panggil oleh ART di ruang tamu". Ajak Mawar merangkul bahu Mega menuntun nya untuk duduk di meja makan.


"Nggak, ibu mau jadi orang pertama yang memeluknya saat masuk ke sini". Tolak Mega.


"Baik lah, aku temani ibu berdiri di sini yah". Sahut Mawar sambil memeluk Mega dari samping.


Pintu kembali terbuka memperlihatkan dua orang pria yang tak lain adalah Josep dan Kali. "Selamat sore, maaf kami lambat". Sapa Josep dan Kali sambil menunduk memberi hormat.


Semua mencari keberadaan Albar tapi anak itu sama sekali beluk muncul. "Kalian kok datang berdua saja? Haikal mana?". Tanya Zack kebingungan.


"Haikal? Anak itu pasti sedang takjup dengan suasana di rumah ini sehingga tertinggal di belakang, sebentar saya panggilan kan dulu". Sahut Josep berlalu keluar mencari Haikal.


Sesampai di luar, benar saja anak itu sedang asik menatap lukisan yang terpajang di lorong menuju ruang makan.


"Haikal! Kamu ngapain berdiri di situ, majikan kita sudah menunggu di dalam. Mari masuk kita makan bareng". Tegur Josep menyadarkan Haikal yang takjup pada lukisan di hadapan nya. Lukisan itu seperti nyata.

__ADS_1


"Ah, iya. Maaf". Sahut Haikal mengikuti langkah Josep masuk ke ruang makan.


Sesampai di dalam, Mega langsung memeluknya erat membuat anak itu bingung dan kurang nyaman. Yang membuat ia semakin merasa heran, semua nya meneteskan air mata sambil menatap nya.


"Ini sebenarnya ada apa? Kok semua nya malah menangis saat menatap ku? Apa ada yang salah dengan penampilan ku?". Haikal terus saja membatin dengan sikap keluarga majikan nya.


"Tubuh kamu kenapa kurus begini nak? Kamu pasti makan dengan tidak layak. Oma akan memastikan kamu akan sehat tinggal di sini". Lirih Mega kembali memeluk tubuh kurus Haikal.


"Maaf kalau saya kurang ajar, tapi kalian tidak berhak mengomentari kehidupan saya. Memang kalian semua adalah majikan saya, tapi saya tidak terima jika keluarga saya di rendahkan. Tubuh saya memang seperti ini tapi saya merasa bahagia". Imbuh Haikal keberatan dengan ucapan Mega.


"Sayang! Bukan maksud oma merendahkan keluarga kamu, tapi.... Yah sudah lah, maaf kan oma dengan ucapan oma tadi, sekarang mari duduk kita makan sama - sama. Kamu pasti udah laper kan". Meskipun sedikit menggores hati mendengar perkataan Haikal membela keluarga angkat nya. Tapi Mega sama sekali tidak keberatan.


"Eh, kejap - kejap. Kamu jangan duduk dulu!". Halang Zack dengan ketus.


Aisyah menatap wajah suami nya bingung.


"Tapi tuan, saya hanya pekerja baru di sini. Dengan penampilan ku yang kotor ini, saya rasa nggak pantas berada di antara kalian semua apa lagi bersalaman, saya...". Haikal sedikit merendah diri karena keadaan nya yang tampak kucel berbanding semua yang ada di ruangan ini.


Mega kembali merangkul tubuh Haikal. "Kamu sudah menjadi sebagian dari keluarga ini. Seperti yang lain nya, antara majikan dan pekerja tiada beda nya di sini. Meskipun kamu mendapat gaji dari kami, tapi kamu juga manusia sama seperti kami, yang patut di hargai. Sana salam opa, dia dari tadi menatap kamu terus". Ujar Mega sambil menunjuk ke arah Panji, suami nya.


Haikal terharu dengan ucapan Mega. Padahal tadi dia sempat kesal karena keluarga nya di rendahkan oleh wanita tua itu. Ia menurut untuk mendekati Panji dan menyalami pria tua itu dengan taksim. Ia kembali di buat kaget saat pria itu merangkul tubuh kurus nya sambil menangis.


"Salam kenal tuan. Nama saya Haikal Pratama". Sapa Haikal pada Panji.

__ADS_1


"Selamat kembali cu. Jangan panggil tuan, cukup panggil opa aja". Lirih Panji sambil mengusap punggung Haikal lembut.


Meskipun bingung dengan ucapan pria itu, tapi Haikal memilih diam dan tidak banyak bertanya. Setelah lepas dari pelukan pria itu, Haikal beralih pada pasangan suami istri yang pernah ia temui di rumah sakit. "selamat sore tuan, nyonya". Sapa Haikal pada Aisyah dan Zack.


"Selamat masuk ke keluarga besar Purbalingga. Mamah harap kamu betah tinggal di sini". Ujar Aisyah.


Haikal menatap bingung pada wanita itu.


"Seperti opa dan oma, aku juga ingin kamu panggil mamah dan pria dingin di samping saya ini kamu panggil papah. Kamu mau kan?". Imbuh Aisyah pada Haikal.


Haikal tersenyum mendapatkan kehangatan keluarga majikan nya. Meskipun sedikit merasa rendah diri, dia tetap mengangguk setuju. Aisyah memeluk Haikal beberapa saat bari lah ia membiarkan Haikal untuk menghampiri ahli keluarga yang lain.


Setelah selesai menyalami semua orang di dalam ruangan tak terkecuali sesama pekerja di mansion seperti pekerja kebun, ART dan lain nya. Lanjut menyantap hidangan yang tersedia di atas meja makan. Haikal duduk di samping Mega berhadapan dengan Aisyah. Meski pun sedikit gugup karena duduk di meja makan yang sama dengan majikan nya mana kala yang lain duduk di meja yang berbeda. Tapi ia masih bisa menyembunyikan kegusaran hati nya.


Aisyah melayani Haikal seperti ia melayani Zack. Mengambilkan nasi dan lauk yang Haikal suka semasa kecil. Tapi sayang nya semua makana. Itu sudah tidak di sukai oleh Haikal karena nggak pernah ia rasakan semasa tinggal bersama keluarga angkat nya.


"Sudah cukup, nyonya, eh mamah! Nasi dan ikan goreng itu saja sudah cukup". Tolak Haikal mulai menyantap nasi nya.


"Kamu nggak suka gulai ayam ini? Ini enak loh, kamu pasti suka". Tawar Aisyah lagi.


"Nggak perlu, mah. Ini udah lebih dari cukup". Tolak Haikal. Ia tidak bilang kalau ia tidak biasa makan lauk mahal seperti itu. Nasip ada ikan goreng di atas meja kalau tidak dia akan makan nasi tanpa lauk saja.


Hati Aisyah terhiris melihat Haikal hanya makan nasi dengan ikan goreng saja. Ia mengerti, anak nya itu pasti tidak ingin membuat diri nya terbiasa makan makanan mewah seperti yang tersedia di atas meja.

__ADS_1


"Haikal, sayang. Makan lah, ini. Oma akan sedih kalau kamu cuma makan ikan saja sementara kami makan yang lain. Kamu makan ini juga yah?". Mega turut membujuk Haikal untuk makan gulai ayam.


"Saya cuma nggak tega makan makanan enak sementara mamah dan adik di rumah makan hanya dengan tempe dan kecapa saja. Tiada niat membuat oma sedih tapi". Jelas Haikal tertunduk sedih. Biasanya ia rela melakukan apa saja untuk membuat dua wanita penting dalam hidup nya itu makan enak meskipun ia harus berhutang, sekarang ia hanya makan sendiri dan tidak tahu mereka berdua akan makan apa malam ini.


__ADS_2