PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Mereka gagal lagi


__ADS_3

"Setaaaan.....!"


"Plak...."


"Palaaak..."


Suara tamparan berulang kali memenuhi ruangan itu.


Tampak lelaki setengah baya terlihat sangat marah kepada beberapa orang lelaki berbadan tegap yang berdiri dengan menundukkan kepala mereka masing-masing.


"Sialan kalian semua. Sia-sia aku memberi kalian makan. Kalian seperti gajah bunting yang hanya tau makan tidur makan dan tidur. Hanya tubuh kalian yang besar. Otak kecil kalian itu sudah tertutup oleh lemak."


"Plak..."


"Plaaak....!"


Kembali terdengar suara tamparan yang membuat beberapa lelaki berbadan tegap itu mulai mengalirkan darah di sudut bibir mereka.


"Ampun Tuan besar!" Kata mereka serempak sambil mengusap-usap pipi mereka yang kini telah memerah. Ada cap lima jari terlihat di sana.


"Bodoh kalian semua. Aku memberikan tugas mudah kepada kalian. Hanya memata-matai pertemuan itu dan mengambil foto pemilik perusahaan Future of Company. Itu pun tidak mampu kalian lakukan dengan baik." Kata lelaki setengah baya itu sambil mondar mandir dihadapan beberapa orang lelaki berbadan besar tersebut.


"Kami telah melakukan seperti yang anda perintahkan Tuan besar. Namun kami tidak berhasil karena memang tidak ada orang yang mengaku menjadi pemilik perusahaan itu. Di sana hanya ada tuan Jackson, Barry, Ricard, Ronald, Austin dan beberapa orang lainnya. Kami tidak melihat seorang anak muda yang menjadi tuan muda di keluarga William seperti yang anda katakan kemarin." Kata salah seorang yang ditugaskan untuk memata-matai pertemuan itu.


Sebenarnya wajar jika mereka tidak berhasil menemukan siapa pemilik perusahaan itu. Ini karena pada waktu itu Jerry terpaksa harus menjadi pelayan. Dari awal pertemuan sampai pertemuan itu selesai, mereka tidak melihat adanya tanda-tanda bahwa Boss besar berada di tempat.


Sepertinya keberuntungan lagi-lagi berpihak kepada Jerry. Dapat di bayangkan andai dia tidak bertemu dengan Manager Tom, sudah dapat dipastikan bahwa orang-orang suruhan dari keluarga Patrik dan Walker dengan sangat mudah dapat mengenali nya.


"Keluar kalian semua dari ruangan ini. Jangan lupa untuk terus menyirap kabar tentang menghilang nya Ramsey. Kalian harus dapat mencari kabar dimana Ramsey berada. Jika tidak, kalian jangan kembali!" Kata lelaki setengah baya itu memperingatkan kepada mereka.


"Baik Tuan besar. Perintah anda akan kami laksanakan." Kata mereka serempak sambil membungkuk dan segera berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Beberapa saat setelah beberapa orang berbadan tegap itu meninggalkan ruangan tersebut, lelaki setengah baya itu tampak mondar-mandir. Jelas kegelisahan terpancar di wajahnya saat ini.

__ADS_1


"Sialan. Satu pun rencana tidak berjalan dengan baik. Barang dari Hillstreet tak kunjung sampai. Ramsey juga menghilang entah kemana. Proyek di MegaTown terhenti. Anak buah bodoh semua yang hanya bisa makan tidur. Ivan juga sama sekali tidak ada kabar dari Starhill. Setan alas. Jika begini terus, aku pasti akan bangkrut." Kata lelaki setengah baya itu dalam hati.


...*********...


Sama hal nya dengan keluarga Walker.


Saat ini tuan besar di keluarga itu tampak sedang mondar mandir di ruangannya.


Di depan nya kini tampak Samson dan Lorna hanya bisa diam membisu memperhatikan kepala keluarga itu dengan ekspresi yang sulit untuk di artikan.


"Anak Wilson ini. Mengapa dia begitu licin sekali. Sebenarnya siapa dia ini? Sudah berapa kali aku mengirim orang-orang suruhan untuk menyirap informasi tentang anak ini. Namun selalu mentah di tengah jalan. Apakah anak Wilson ini kepintarannya melampaui ayahnya?" Gumam tuan Jasson seperti berbicara kepada dirinya sendiri.


"Kakek. Sebenarnya aku juga penasaran seperti apa sosok tuan muda dari keluarga William ini. Mengapa begitu sulit untuk mendapatkan informasi? Apakah orang ini benar-benar ada atau hanya sekedar sosok yang tidak pernah ada yang sengaja di gembar-gemburkan untuk mengelirukan semua orang." Kata Lorna sambil terus menatap kearah kakeknya.


"Tidak anak setan. Anak Wilson itu bukan seperti yang kau katakan. Dia benar-benar ada. Hanya saja sepertinya anak ini di lindungi oleh berbagai keberuntungan. Robin tidak mungkin akan menguras isi kepalanya tanpa hal yang pasti. Aku kenal betul sepak terjang manusia berhati iblis itu." Kata tuan besar Jasson sambil memain-mainkan kepala tongkatnya.


"Lalu kek, jika dia benar-benar ada, apa lagi yang harus kita lakukan untuk mengorek informasi tentang identitas orang ini? Aku berkali-kali mencari informasi tentang orang ini di internet. Namun hasil pencarian selalu tidak merekomendasikan sosok Jerry William itu." Kata Lorna sambil menggosok-gosok kening nya.


"Kita tidak boleh patah semangat. Kau harus tetap berada di Starhill sampai kau bisa menemukan siapa orang yang bernama Jerry William ini. Sekembalinya kau nanti dari Malaysia, Singapura dan Thailand, kau tidak boleh menunda lagi. Kau harus segera kembali ke Starhill. Apa kau mengerti Anak setan?" Kata tuan Jasson.


"tuk...."


Terdengar suara ujung tongkat di ketuk kearah ubun-ubun Lorna. membuat gadis itu menyengir sambil menahan tawa.


"Bagaimana aku bisa pintar kalau kepalaku setiap saat jadi sasaran ujung tongkat mu kek?" Kata Lorna bersungut-sungut merajuk lalu keluar meninggalkan ruangan itu.


"Itu lah anak setan. Kerja mu hanya mempermainkan orang tua saja. Merajuk dan merajuk. Hanya itu yang bisa kau lakukan." Teriak tuan Jasson.


Lorna tidak lagi memperdulikan teriakan kakek nya. Begitu dia bisa keluar dari ruangan itu, dia segera merasa lega.


"Lama kelamaan aku bisa botak di ruangan seperti penjara itu. Setiap kali berada disana, aku seperti di paksa harus memeras otak untuk berfikir. Ini semua adalah karena si brengsek Jerry William ini. Huhh.., sangat menyebalkan. Siapa sih sebenarnya Jerry William ini. Apakah dia juga anak setan?" Fikir Lorna dalam hati.


Sesampainya di kamar, Lorna langsung menghempaskan tubuh nya di ranjang lalu segera mengeluarkan ponsel.

__ADS_1


Beberapa hari ini dia tidak mendengar kabar Ivan. Lelaki yang sangat dia rindukan selama berada di Metro City ini.


Sambil tersenyum-senyum sendiri, Lorna lalu mendail nomor Ivan.


Dia menunggu sejenak sampai panggilan itu terhubung.


Tak lama kemudian terdengar satu suara menyapanya di seberang telepon. "Lorna sayang. Mengapa kau menelepon ku terlalu pagi?" Tanya Ivan di seberang sana.


"Ivan. Kau begitu pemalas. Mengapa sudah jam segini kau belum juga bangun?" Tanya Lorna dengan manja.


"Aku tidak punya kegiatan. Untuk apa aku cepat-cepat bangun?"


"Huhh dasar pemalas. Mengapa kau tidak pergi saja jalan-jalan keluar?" Tanya Lorna.


"Aku bukannya tidak mau keluar sekedar jalan-jalan. Hanya saja aku takut kalau hatiku tidak kuat melihat begitu banyaknya gadis-gadis di luar sana."


"Berani macam-macam lihat saja. Aku akan mencakar wajah mu." Ancam Lorna.


"Mengapa kau mendadak berubah menjadi seperti Via, Lorna?" Tanya Ivan sedikit merinding mendengar Lorna akan mencakar wajahnya.


"Huhh..., pokoknya kalau kau macam-macam disana, tunggu saja aku kembali. Aku pasti akan membuat perhitungan dengan mu." Kata Lorna masih terus mengancam.


"Oh ya Van.., bagaimana kabar teman-teman kita disana?" Tanya Lorna.


"Semuanya baik-baik saja kecuali 3 orang." Jawab Ivan singkat.


"Kecuali 3 orang? Apa maksudmu Van? Apakah ada diantara mereka yang tertimpa musibah?" Tanya Lorna buru-buru.


"Aku rasa lebih dari musibah." Jawab Ivan sambil menceritakan tentang Jerry bekerja sebagai staf magang sampai kepada dia dijebak oleh Anton dan kawan-kawannya.


"Begitulah ceritanya Lorna. Aku sangat prihatin dengan Jerry. Dia orang baik. Namun selalu ada saja yang tidak menyukai dirinya." Kata Ivan sambil mendesah panjang.


"Yah aku juga sangat menyesalkan apa yang telah menimpa Jerry. Semoga dia tetap kuat." Kata Lorna yang juga sangat prihatin kepada Jerry.

__ADS_1


Namun ada hal-hal yang belum diketahui oleh Ivan bahwa Jerry telah membersihkan namanya dihadapan Lisa dan Megan kecuali Via.


Bersambung.....


__ADS_2