
"Aku memang menyayangi nya sama seperti aku menyayangi Albar. Tapi sikap ibu nya membuat aku muak. Kebetulan pula aku memiliki hutang yang cukup banyak pada juragan Jarwo, sekalian aku gunakan anak gadis istri ku itu untuk melunasinya supaya dia sakit hati. Tapi aku tak menyangka kalau gadis itu punya keahlian bela diri yang cukup kuat hingga bisa menumbangkan semua pengawal dan berhasil membunuh juragan tamak itu". Jawab Karim menceritakan pada Rehan dengan ekspresi heran..
"Padahal selama ini yang aku tahu dia sama sekali tak punya keahlian itu. Maka nya untuk menyelamatkan diri, aku kabur ke pulau ini dan tinggal bersama kalian". Sambungnya.
"Maksud kamu, anak gadis yang selama ini kamu besarkan memiliki keahlian bela diri yang kuat dan kamu sama sekali tak mengetahui hal itu? Aneh, sih. Tapi kamu yang sebenarnya yang aneh bukan dia. Selama ini kamu kemana aja sampai anak sendiri kamu tak tahu kemampuan nya. Mustahil kan kalau ia tiba - tiba pandai bela diri karena situasi mendesak. Yang ada dia sudah lama lama belajar minuman sebulan dua bulan lah mungkin hanya kamu saja yang kurang perhatian dengan anak gadis mu itu". Sahut Rehan berpendapat.
"Aku sudah bilang kalau dia itu bukan anak ku. Dia hasil dari perselingkuhan istri ku maka nya aku nggak terlalu memperdulikan anak itu. Walau pun terlihat kejam pada Albar tapi aku lebih peduli pada nya berbanding pada anak istri ku itu oleh sebab itu aku juga kaget menyaksikan kejadian malam itu". Bantah Karim.
"Iya aku tahu. Jadi kamu kabur ke pulau ini karena takut mati konyol di tangan gadis kecil itu setelah kamu tega menjadikan nya tebusan untuk membayar hutang - hutang mu?". Tanya Rehan memastikan.
Karim membuang muka karena malu dengan pertanyaan Rehan. Sebagai lelaki ia gengsi juga mengakui ketakutan nya, apa lagi yang ia hadapi hanya gadis kecil yang selama ini ia abaikan tumbesaran nya. Tapi membantah ucapan Rehan pun ia tak berani karena ia tahu sahabatnya itu sudah bisa membaca sifatnya.
"Maka nya jadi orang tua itu jangan pentingkan diri sendiri. Meskipun ia bukan darah daging mu bukan berarti kamu harus menggunakan nya untuk membalas sakit hati mu pada istri mu itu. Kesalahan yang di lakukan sukma bukan berarti kesalahan gadia muda itu. Saran ku lebih baik kamu minta maaf padanya dari pada kamu harus terus lari seperti ini dari nya. Aku ingat kan lagi, di pulau ini pengeluaran sangat banyak tapi pemasukan kurang. Maka nya aku selalu berharap pada kiriman uang dari mu". Saran Rehan mengingatkan Karim.
Karim menatap Rehan lekat. Kini saat nya posisi mereka bertukar, ia berharap Rehan lah yang kembali ke kota itu untuk mengejar masa lalu nya.
"Maka nya aku memintamu untuk ke kota itu lagi. Sudah waktu nya kamu kembali mengejar cinta mu yang tega di rebut oleh orang lain. Bukti kan jika selama ini kamu menyesal telah menyianyiakan wanita itu. Di antara kalian ada seorang anak sedangkan pria itu setahu ku mandul dan tak bisa membahagiakan wanita itu dengan layak. Kehadiran mu pasti akan membuka lembaran lama yang mengingatkan nya pada kebahagiaan". Tawar Karim pada Rehan.
__ADS_1
Rehan terdiam sejenak merenung perkataan sahabatnya. Sudah cukup lama ia lari dari rasa bersalah dari kesalahan yang tak sengaja ia lakukan. Tapi pasti sulit menaklukkan hati mantan istri nya itu, kepergian nya bukan sekejap melainkan belasan tahun lama nya. Tapi rasa cinta nya pada mantan istri masih sangat kuat.
Meskipun ia sudah punya istri yang menemani nya selama di pulau ini tapi ia sama sekali tidak pernah menyentuh istri nya itu dalam keadaan ikhlas. Selalu ada rasa bersalah karena saat ia melakukan hubungan bersama istri nya hanya wajah mantan istri nya yang terbayang di matanya.
Mereka memiliki sekarang ana gadis yang cantik tapi ia sama sekali tak mengingat bila anak itu lahir tapi saat ia melakukan tes DNA secara diam - diam dan tak di ketahui oleh istri dan ibunya, ternyata anak gadis itu terbukti adalah anak kandung nya. Ia tak ada alasan untuk tidak mengakui anak gadis itu.
"Aku akan pikir kan lagi juga harus bincang dengan keluarga ku dulu. Lagi pula selama ini mereka tidak tahu kalau ingatan ku sudah kembali entar itu sudah sempurna atau masih sebagian. Selama ini yang mereka pikir aku masih lupa ingatan dan tak ingat sama sekali tentang kota itu. Itu semua agar mereka tak lagi meminta ku meminum obat yang menghalang ingatan ku kembali". Imbuh Rehan.
"Apa? Jadi selama ini mereka sengaja memberi mu obat agat kamu tetap lupa ingatan? Kamu sama sekali nggak marah pada mereka?". Cerca Karim kaget mendengar ucapan Rehan.
"Terserah mu saja, Rehan. Kalau aku sih udah lama aku ngamuk - ngamuk memarahi orang yang telah tega menyakiti ku meskipun itu ibu ku sendiri. Aku nggak mau terlalu dikit campur. Tapi saran ku lebih baik kamu kembali ke kota itu karena aku yakin pasti mantan istri mu sedang mencari mu. Apa lagi Albar harus tahu siapa ayah kandung nya. Jangan sampai ia tak menerima kehadiran mu karena termakan hasutan papa tiri nya". Saran Karim. Berlalu meninggalkan Rehan yang asik memancing di tepi sungai.
Rehan tak memiliki pekerjaan tetap, ia hanya mengandalkan uang dari kiriman Karim untuk bertahan hidup dan uang ibu nya dari hasil kebun teh yang mereka memiliki. Ia seperti menjadi benalu untuk sahabat dan ibu nya sendiri.
"Aku nggak boleh begini terus, Karim tak akan lagi memberi ku uang seperti sebelumnya, malahan ia yang sekarang harus aku beri uang karena ia selama ini sudah mau menolong ku dalam banyak hal. Kami berdua juga nggak mungkin hidup hanya dengan hasil kebun ibu, itu pasti tidak akan cukup. Biaya di pulau ini cukup besar". Gumam Rehan berpikir.
"Pak!!". Seorang gadis muda datang menghampiri Rehan yang sedang termenung jauh.
__ADS_1
"Eh, kamu Hansi. Kenapa kamu datang ke sini nak?". Tanya Rehan pada anak gadis nya.
Wajah Hansi hanya mirip dengan ibu nya maka nya Rehan sempat ragu dengan anak nya itu. Tapi setelah melakukan tes DNA, Rehan menjadi yakin sepenuhnya apa lagi anak nya itu punya banyak kesamaan dengan nya.
"Nenek meminta bapak pulang, ini udah magrib bahkan om Karim pun udah pulang dari tadi". Sahut Hansi pada Rehan.
"Ya udah. Kamu tolong bapak bawa hasil pancing ini yah". Kata Rehan..
"Bapak seharian duduk memancing di sini tapi hanya mendapatkan seekor ikan kecil ini. Apa bapak nggak bosan setiap hari seperti ini?". Tanya Hansi setelah melihat hasil pancing Rehan..
"Dari pada tinggal di rumah nggak ada kegiatan sama sekali, lebih baik mancing di sini. Kamu juga, kamu nggak bosan kalau setiap hari menjahit?". Tanya Rehan menguji Hansi.
"Ya enggak lah pak. Itu kan hobi aku". Sahut Hansi.
"Sama. Bapak juga hobi memancing maka nya nggak bosan melakukan nya setiap hari". Jelas Rehan menjawab pertanyaan anak nya tadi..
"Ya beda la, pak. Hansi menjahit terliht hasil nya setiap Hansi menjahit la bapak nggak ada tuh. Seekor ikan kecil ini jeh...". Bantah Hansi tak sependapat dengan Rehan..
__ADS_1