
Villa Smith Bukit Metro.
Saat ini di Villa Smith sedang berlangsung pertemuan antara empat sahabat lama yang dulu bersahabat, berkelahi dan bersaing antara mereka.
Keempat sahabat ini memang tidak pernah akur ketika bertemu. Namun jika berjauhan, mereka akan saling rindu. Hal ini terus berlangsung selama kurang lebih 70 tahun.
Mr. Brylee, selaku pemegang kuasa hukum Smith group, William Group dimana ke dua perusahaan ini telah dilebur menjadi satu menjadi Future of Company segera bangkit dari kursinya di iringi tatapan semua orang.
"Tuan muda.., Saat itu anda pernah menitipkan sepucuk surat wasiat dari Tuan besar Smith. Sekarang Tuan besar Smith meminta ku untuk membacakan isi dari surat wasiat tersebut. Apakah anda menyetujui?" Kata Mr.Brylee bertanya kepada Jerry.
"Sebelumnya kita tidak tau apa isi surat wasiat itu walaupun aku tau surat itu adalah titipan seseorang kepada Kakek ku. Namun aku rasa tidak ada salahnya jika kita mengetahui apa isi dari surat itu agar semua tetua di ruangan ini sama-sama mengetahuinya." Kata Jerry dengan berbasa basi. Sebenarnya dia tau siapa yang menitipkan surat itu kepada tuan Smith.
"Bagaimana menurut Kakek?" Tanya Jerry kepada tuan William dan tuan Smith.
Tuan Smith dan tuan William tidak menjawab melainkan hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Mr.Brylee.., Silahkan!" Kata Jerry mempersilahkan kepada Mr.Brylee untuk membacakan isi surat tersebut.
Semua yang berada di ruangan itu kecuali tuan Smith dan tuan Patrik tampak saling pandang dengan perasaan penasaran yang kuat.
Begitu Mr.Brylee meletakkan kopernya di atas meja, dia segera membuka koper itu dan mengambil sepucuk surat dan meletakkannya di atas koper sambil menatap satu per satu kepada semua yang ada di ruangan itu.
"Bagaimana menurut Tuan-tuan sekalian?! Apakah saya boleh memulai dari sekarang?" Tanya Mr.Brylee.
"Ya. Sebaiknya silahkan!" Kata tuan Smith.
"Baik. Saya akan membuka dan membacakan isi surat ini dihadapan kita semua." Kata Mr.Brylee sambil menyobek sampul kertas tersebut.
Ketegangan sangat jelas tampak di raut wajah Jerry, Ivan dan Lorna saat ini. Mereka sudah tidak sabar.
__ADS_1
Jika itu bukan Mr.Brylee, sudah pasti mereka akan merampas dan membaca isi dari surat wasiat tersebut.
"Saya yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa.., setelah menimbang secara seksama, demi untuk kebaikan dan keutuhan keluarga serta dengan harapan agar yang bersangkutan mampu membawa kejayaan bagi keluarga dan dapat menjamin masadepan yang lebih baik, maka saya.., Aaron Patrik menyatakan bahwa cucu tertua dari keluarga ini yaitu Ivan Patrik sebagai pewaris yang sah dari seluruh aset keluarga Patrik meliputi, seluruh proyek yang di jalankan, investasi minyak mentah di timur tengah, pertambangan batu permata di afrika, dan beberapa hotel serta masih banyak lagi properti lainnya."
"Dengan ini saya berharap agar Ivan Patrik mampu membawa kejayaan bagi keluarga ke arah yang lebih tinggi lagi dan mampu bersaingan dan bertahan dalam ketatnya persaingan bisnis global."
"Demikianlah isi surat wasiat ini saya tulis dan di tandatangangi dengan keadaan sesadar-sadarnya tanpa ada unsur ancaman dan paksaan dari pihak manapun."
"Surat wasiat ini adalah sah tanpa bisa di ganggu gugat."
"Aaron Patrik"
Dag dig dug rasa jantung Ivan saat ini begitu namanya di sebut dalam surat wasiat tersebut.
Ivan hanya bisa memandang semua orang di sekelilingnya dengan tatapan tak percaya.
"Tidak Van. Apa perlu aku menampar mu agar kau bisa yakin bahwa ini bukan mimpi?!" Kata Jerry sambil mengangkat tangannya.
"Jangan.., jangan.., jangan. Itu pasti sakit." Kata Ivan sambil menggesar sedikit untuk menjauh dari Jerry.
"Selamat ya Kak Ivan. Akhirnya kau menjadi kepala keluarga Patrik. Lorna pasti akan sangat senang." Bisik Adelle di dekat telinga Ivan.
Mendengar bisikan dari Adelle, Ivan segera melirik ke arah Lorna yang juga tampak melirik ke arahnya sambil tersenyum senang.
Siapa yang menyangka bahwa Ivan, seorang anak haram yang lahir atas dosa Robin dan ibu nya kini menjadi pewaris keluarga kaya raya.
Dia terbayang 15 tahun yang lalu ketika ibunya meninggal, dia di antar oleh kenalan ibunya ke keluarga Patrik dan mengaku sebagai anak dari Robin.
Awalnya Robin mati-matian menolak mengakui bahwa Ivan adalah anaknya. Namun atas desakan dari tuan Aaron, akhirnya dilakukan lah test DNA yang membuktikan bahwa Ivan benar-benar anak Robin. Dari sini lah neraka bagi Ivan tercipta di Villa Patrik.
__ADS_1
Ketika itu usia Ivan menginjak 10 dan harus terbiasa menerima penghinaan, didera dan di siksa oleh ibu tirinya yaitu ibu kandung Hyden.
Perlakuan kasar dan berat sebelah kerap dia dapatkan dari Robin yang sangat mencintai Hyden.
Beruntung bagi Ivan karena tuan Aaron tidak menutup mata. Melihat Ivan selalu teraniaya di Villa Patrik, tuan Aaron akhirnya membeli sebuah rumah di salah satu Condominium di Metro city untuk menjadi tempat tinggal Ivan.
Tuan Aaron Patrik juga membekali Ivan dengan sejumlah besar uang dan membelikannya satu unit mobil super sport Bugatti DIVO agar Ivan tidak Jauh tertinggal dari adik tirinya yaitu Hyden.
Sejak saat itu Ivan tidak pernah bergaul dengan anak-anak generasi kaya di Metro city.
Dia hanya tau bekerja, lalu pulang ke Condo. Begitu lah setiap hari. Ini karena semua orang hanya memandang Ivan sebagai anak haram.
Sampailah pada suatu hari kakek nya digulingkan oleh Robin dan di jebloskan kedalam tahanan bawah tanah. Lalu dia di utus ke Starhill untuk memata-matai serta mencari. informasi tentang pemilik Future of Company yang di duga adalah anak dari musuh bebuyutan Robin yaitu Wilson William.
Di Golden university Starhill ini lah Ivan bertemu dengan Jerry, Daniel, Ryan, Riko, Herman, serta gadis-gadis kembang kampus seperti Rindy, Rina, Jenny, Lisa serta Via. Baru lah dia merasakan seperti apa kehangatan persahabatan itu.
Di Starhill pula dia menemukan kebahagiaan setelah dirinya dan Lorna pacaran. Maka semakin lengkaplah kebahagiaan Ivan setelah kurang lebih 25 tahun dalam penderitaan.
"Ivan.., kemarilah cucu ku!" Kata tuan Aaron Patrik membuat lamunan Ivan buyar seketika.
"Iy.., iya Kek." Kata Ivan sambil bangkit dan melangkah terseret-seret.
"Apakah kau sudah siap dengan memikul tanggung jawab besar ini?" Tanya tuan Patrik.
Ivan sangat gugup ketika ini. Dia tidak berani menjawab malah melirik ke arah Jerry.
Begitu dia melihat Jerry mengangguk menyemangatinya, Ivan pun lalu mengangguk dan berkata, "Aku siap Kek. Jika Jerry mampu menjalankan perusahaan Future of Company miliknya, mengapa aku tidak mampu mengelola perusahaan Patrik Group?" Kata Ivan dengan semangat.
Semua yang ada di ruangan itu bertepuk tangan sambil memberi kata-kata penyemangat untuk Ivan.
__ADS_1