PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 48


__ADS_3

"Bukan seperti itu, Haikal. Di sini kamu memerlukan seorang pelayan untuk membantu mu melakukan sesuatu. Kamu tenang saja, wanita itu om pastikan selugu kamu agar kamu tak mudah tergoda dengan bujuk rayu nya". Sahut Ronal tetap bersikukuh menempatkan seorang wanita di samping Haikal.


Itu juga merupakan sebuah trik untuk mengetahui sesuatu yang berkemungkinan di sembunyikan oleh anak buah nya.


"Terserah om saja". Ujar Haikal pasrah.


"Gitu dong. Kalau kamu nggak mau gabung dengan kami, lebih baik kamu ikut dengan nya untuk ke arena latihan menembak. Belajar lah dengan nya dari pada bosan nggak ada kerjaan". Saran Ronal sambil menunjukan seorang pria yang baru masuk ke ruangan itu.


"Rudi!". Panggil Ronal pada pria itu.


"Ya saya bos". Sahut Rudi sambil menundukkan kepala memberi hormat.


"Bawa anak ini ke arena menembak, pastikan dalam tiga hari ini ia sudah mahir menggunakan semua jenis senjata api yang kita miliki". Ujar Ronal memberi perintah.


"Baik bos". Rudi kemudian beralih menatap Haikal dengan menjelang malas. "Mari saya hantar". Ajak nya pada Haikal.


Meskipun sedikit tak suka dengan tatapan Rudi tapu Haikal tetap ikut dengan nya dari pada terus di ruangan penuh dosa itu.


"Kau sangat beruntung karena baru datang ke sini langsung di lantik menjadi tangan kanan bos. Aku yang sudah puluhan tahun berkhitmat dengan setia pada nya sama sekali tak di anggap. Hanya di tempatkan pada posisi pelatih yang selalu di anggap remeh oleh semua orang. Padahal aku lah yang menjadikan mereka kuat dan mahir menggunakan senjata api. Tapi setelah berhasil menyelesaikan sebuah misi, mereka dengan bangga nya meremehkan ku yang hanya berada di dalam markas tak pernah di beri tugas".


Sepanjang perjalanan Rudi terus mengoceh mengeluarkan unek - unek nya. Haikal awal nya heran kenapa Rudi tiba - tiba kesal ternyata bukan pada nya melainkan pada orang lain yang pernah menjadi murid nya.


"Jadi kenapa kamu tetap ada di sini?". Tanya Haikal..


"Aku hanya gelandangan yang tak punya tempat tinggal. Tapi aku memiliki kelebihan yaitu selalu tepat dalam melempar sesuatu. Waktu itu tanpa sengaja aku menolong bos Ronal yang sedang di keroyok oleh beberapa orang lelaki. Semenjak itu aku di bawa ke sini. Ia bertanya apa kemahiran ku. Tanpa menjawab aku langsung menunjukkan kemahiran ku". Jelas Rudi tampak sedih bercerita kenangan bersama Ronal.


"Oh...". Hanya itu yang bisa Haikal katakan.

__ADS_1


"Ia bilang aku tak perlu turun tangan melawan musuh saat bertarung, karena bos takut aku kenapa - napa dan tiada yang bisa melatih anak buahnya kemahiran ku ini. Ternyata selama ini aku hanya di manfaat kan". Imbuh Rudi lagi.


"Sudah seharusnya kan. Lagi pula hidup mu di sini pasti lebih senang berbanding di luar sana menjadi gelandang. Di sini sudah tersedia semua yang kamu perlukan, minuman keras, barang haram bahkan wanita cantik sekali pun". Kata Haikal mencoba menenangkan.


"Siapa bilang! Hanya mereka yang berhasil menjalan kan misi dengan sukses yang mendapatkan semua itu. Aku sama sekali tak pernah di tawarkan! Aku kecewa tapi nggak bisa berbuat apa - apa". Ucap Rudi sambil mencengkram bahu Haikal.


"Kamu tenang aja. Aku akan membujuk om Ronal agar lebih menghargai kamu". Kata Haikal.


"Nggak perlu!". Tolak Rudi.


"Terus kamu mau apa?". Tanya Haikal bingung. Barus saja Rudi terlihat kecewa dengan sikap Ronal tapi sekarang ia malah menolak tawaran Haikal yang akan menolong nya.


"Aku hanya ingin hidup bebas di luar sana tanpa di incar oleh mereka lagi". Sahut Rudi dengan suara rendah pada Haikal. Mungkin ia takut kalau ada orang yang mendengar percakapan mereka.


"Kalau itu aku nggak bisa janji". Sahut Haikal melepas cengkraman tangan Rudi pada bahu nya.


Haikal tak memberi tanggapan lagi. I takut kalau sebenar nya Rudi di tugaskan untuk niat sebenarnya. Lagi pula mereka berdua baru saja bertemu dan ia belum yakin dengan siapa pun di sini. Ia harus berhati - hati dalam bertindak dan berucap. Kalau tidak maka nyawa nya akan melayang sia - sia tanpa menyelesaikan apa pun.


Haikal tidak di ajarkan apa pun oleh Rudi saat sudah berada di arena menembak karena Rudi sedikit kecewa karena keinginan nya tidak di indahkan oleh Haikal.


*


*


Keesokan hari nya seperti janji Ronal pada Haikal. Seorang wanita muda di datangkan oleh Meri sesuai permintaan Ronal. Entah dari mana ia mendapatkan wanita itu dalam waktu semalam saja..


"Mana wanita yang ku minta kemarin, Meri?". Tanya Ronal saat melihat Meri memasuki ruangan pribadinya.

__ADS_1


"Kamu tenang aja sayang. Aku udah mendapatkan perempuan seperti permintaan kamu. Masih perawan, sudah tentu masih lugu dan tapi ia bisa kita pergunakan untuk mengawasi Haikal dalam diam". Sahut Meri sambil berjalan mendekati Ronal dengan langkah lemah gemulai nya.


"Aku perlu lihat bukan hanya omongan". Tegas Ronal.


Prokk, prokk, prokk


Meri langsung menepuk tangan nya tiga kali. Seorang gadis muda masuk dengan menundukkan kepala.


"Dia cantik kan?". Tanya Meri sambil menunjukkan ke arah gadis muda itu.


Ronal yang melihatnya pun sontak menelan slavina karena terpesona dengan wanita itu. Meskipun berpakaian sedikit tertutup tapi wajah nya tidak bisa di pungkiri bahwa cantik alami dan masih segar.


"Dimana kamu mendapatkan gadis ini?". Tanya Ronal tanpa melepaskan pandangan nya dari gadis itu.


"Itu aku nggak perlu bagi tahu karena nggak penting juga kan. Lagi pula apa sih yang nggak boleh aku dapat kan. Yang penting di mendengar kan perkataan kita bukan orang lain". Jawab Meri dengan percaya diri.


"Kamu yakin dia masih gadis?". Tanya Ronal. Ia penasaran jika benar wanita itu masih perawan ia akan lebih dulu mencoba nya. Sayang banget kalau di beri kan pada Haikal begitu saja.


"Sudah tentu, aku tahu kamu pasti meragukan itu. Ini adalah hasil pemeriksaan rumah sakit tentang selaput keperawanan nya. Ia di nyatakan masih perawan. Tapi kamu jangan ada niat yang macam - macam pada nya kalau tidak maka Haikal akan hilang kepercayaan pada kita. Kamu nggak mau kan kalau Haikal berubah pikiran lagi dan tidak mau membalas dendam pada musuh kita". Meri memperingati Ronal.


Ia sudah hafal dengan sifat Ronal. Lelaki itu selalu mendahului dirinya untuk merasakan wanita yang menurut nya menggoda dan masih perawan sebelum menyerahkan pada anak buah nya sebagai hadiah. Tapi kali ini Meri nggak mungkin membiarkan hal itu karena sudah tidak bisa membendung rasa cemburunya.


Ia mencintai Ronal tapi lelaki itu hanya menganggapnya sebagai wanita penghibur seperti yang lain nya. Dulu ia tidak seperti sekarang, tapi semenjak suami nya meninggal saat menyelamatkan Ronal ia berubah menjadi seperti sekarang. Suami nya adalah adik kandung Ronal. Karena merasa bersalah maka nya Meri di letakkan di samping nya untuk menggntikan posisi adik nya tapi perlahan tugas Meri semakin tidak karuan.


Kadang ia di minta hanya menuangkan minuman untuk Ronal tapi lama - kelamaan ia di minta melayani nya di ranjang. Meri nggak boleh melawan, selain juga merindukan belaian pria, ia juga sebenarnya sudah menempatkan Ronal menggantikan suami nya di hati nya.


"Terserah kamu saja lah. Tapi pastikan pakaian nya lebih tertutup dari itu agar aku bisa tahan". Imbuh Ronal Pasrah.

__ADS_1


__ADS_2