PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 22 Ada apa dengan Karina?


__ADS_3

POV Haikal


Aku nggak pernah menyangka akan bertemu dengan majikan yang sangat baik, bahkan menganggap ku seperti keluarga mereka sendiri. Meskipun bukan aku saja yang di istimewa kan di rumah besar ini tapi aku tetap merasa beruntung sama seperti yang di rasakan olelh pekerja yang lain.


Setiap hari aku tidak pernah mau duduk bermalas - malasan. Sama waktu tinggal di rumah mama dan bapak di desa, tapi beda nya sekarang, aku cuma mengerjaan perkerjaan yang ringan - ringan sambil terus belajar nyetir bersama bang Josep. Setiap berangkat ke sekolah, aku yang sering nyetir dan bang Josep yang duduk di samping kemudi sambil memberi tunjuk ajar.


Meskipun awal nya aku ragu karena belum memiliki sim izin memandu, tapi bang Josep berhasil meyakinkan diri ini jika kami pasti akan aman - aman saja sampai ke sekolah. Dan terbukti meskipun di jalan ada polisi yang sedang berpatroli tapi mereka sekali pun nggak pernah di tahan seperti yang lain nya.


Setiap kali aku bertanya pada bang Josep, ia hanya menjawab mungkin karena kita beruntung. Tapi aku sedikit nggak percaya, tak kan setiap hari nasip kami seberuntung itu. Kadang aku berpikir, mungkin sebab mobil yang mereka bawa merupakan mobil mewah dan milik seorang konglomerat jadi mustahil jika yang membawanya adalah seseorang yang tidak memiliki sim memandu.


Hari ini sesampai di sekolah, seperti biasa aku mencari keberadaan Karina untuk memberikan nya bekal yang ku bawa dari rumah majikan ku. Dari kejauhan aku melihat di kembar Mika dan Mila, teman dekat Karina.


"Assalamualaikum, Mila, Mika". Sapa Haikal.


"Waalaikumsalam kak Haikal. Tumben negur kami?". Sahut Mika sewot.


Bukan apa nya Mika mengatakan seperti itu, karena selama ini aku memang sangat jarang bertegur sapa dengan orang lain selain Karina. Bahkan mereka sebagai teman dekat Karina pun bisa di hitung menggunakan satu tangan berapa kali aku berbicara dengan mereka.


"Aku cuma mau nanyak, kalian ada lihat Karina nggak di mana?". Tanya ku berusaha cuek dengan ucapan Mika.


"Kamu ini gimana sih kak? Harus nya kami yang nanya ke kakak, Karina kok belum datang bahkan nggak berangkat bareng kakak ke sekolah?". Tanya Mila bingung.


Mendengar pertanyaan Mila sudah menjawab teka - teki dalam benak Haikal. Karina belum datang padahal biasanya dia datang lambat seperti hari ini. Aku meninggal kan si kembar tanpa menjawab pertanyaan Mila. Aku bingung harus menjawab apa sebab aku nggak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada mereka jika aku tidak lagi tinggal di rumah.


Lima menit lagi waktu masuk kelas tapi Karina belum juga muncul. Aku memutuskan untuk masuk kelas. "Mungkin dia sedang tidak enak badan hari ini maka nya nggak bisa masuk sekolah". Saat aku ingin memutar tubuh dari kejauhan terlihat seseorang berlari masuk ke gerbang sekolah yang sedikit lagi di tutup rapat oleh satpam.

__ADS_1


"Itu kan Karina". Gumam ku. Aku memutuskan untuk menunggu nya sebentar untuk memastikan keadaan nya. Tapi dia malah terlihat....


"Kenapa kamu telat?". Tanya ku saat Karina sudah dekat. Dia terlihat menunduk seperti menyembunyikan sesuatu di wajah nya.


"Aku telat bangun, aku masuk kelas dulu, yah". Karina berlari menuju kelas nya. Aku nggak menghalanginya karena memang sekarang sudah waktunya masuk kelas. Aku pun nggak mau terlambat dan masuk ke kelas juga yang memiliki lakuin yang bertentangan dengan kelas Karina.


Beruntung di kelas belum ada guru, jadi aku belum terlambat.


"Jam istirahat nanti aku akan ke kelas nya memberikan bekal ini dan memastikan keadaan nya. Aku sedikit curiga ada yang di sembunyikan dari ku". Gumam ku sambil menatap bekal makanan yang ku bawa.


*


*


"Terburu - buru banget, Kal. Kamu mau kemana?". Tanya Masha saat melihat ku keluar kelas.


Bukan hanya aku yang yang selalu menerima ancaman dari Rudi, tapi Masha juga. Keselamatan keluarga perempuan itu bergantung pada nya. Tapi dia sama sekali tidak peduli dan tetap berusaha mendekati ku.


"Bukan urusan kamu. Lebih baik jangan dekat - dekat dengan ku lagi, lihat di sana! Rudi sedang menatap tajam ke arah kita". Ucap ku sambil melirik ke arah Rudi.


"Tapi aku suka dekat dengan kamu, Kal. Terserah Rudi suka atau tidak. Dia bukan siapa - siapa aku sehingga aku harus takut pada nya. Kamu juga selama ini nggak peduli dengan nya kan tapi sekarang kenapa kamu malah semakin menghindari aku?". Masha masih menahan lengan ku agar tidak pergi.


Aku menghela nafas berat dengan sikap Masha. "Aku cuma nggak mau terjadi apa - apa sama kamu dan keluarga kamu ulah Rudi_ _". Sahut ku memberi penjelasan.


"Jadi kamu khawatir sama aku maka nya menghindar?". Bukan nya melepas lengan ku, Masha malah semakin mengeratkan pegangan nya bahkan menyandarkan kepalanya di bahu ku.

__ADS_1


Aku berusaha melepaskan pegangan nya dari lengan ku, tiba - tiba...


"Si miskin memang nggak pernah tahu diri ya. Aku mau beri tahu kamu berapa kali untuk tidak mendekati wanita ku? Jadi orang itu harusnya sedari diri dong. Kamu itu orang miskin, nggak pantas untuk Masha yang cantik jelita ini". Rudi menarik tangan Masha kasar dan mencoba memeluk pinggang nya.


"Kamu apa - apaan sih, Rudi? Lepas kan tangan ku". Masha mencoba memberontak.


"Diam! Atau kamu memang mau ayah kamu hilang pekerjaan dan hidup kamu akan sama dengan si miskin ini". Bentak Rudi dengan ancaman nya.


Tangan ku sudah gatal ingin memukuo wajah lelaki sok berkuasai itu. Tapi aku masih memikirkan nasip sekolahku yang sebentar lagi akan tamat. Aku nggak mau bertindak gegabah sehingga merugikan diriku sendiri. Masalah Masha, aku yakin dia akan baik - baik saja.


"Jangan berbuat kasar pada nya. Aku akan pergi dan tidak akan mendekati nya lagi. Dan kamu Masha, demi ketentraman keluarga kamu lebih baik jangan membantah ucapan Rudi". Setelah mengatakan itu, aku meninggalkan mereka dengan meneteng bekal menuju kelas Karina.


Sesampai di kelas Karina. Seperti biasa, di kelas itu hanya tinggal beberapa orang karena yang lain lebih suka makan di kantin sekolah.


"Assalamualaikum". Sapa ku pada Karina dan kedua teman dekat nya.


"Waalaikumsalam". Jawab Mika dan Mila terdengar kesal. Sementara Karina membuang muka tidak ingin menatap ku. Apa yang terjadi pada nya?


"Kamu ini memang kakak yang nggak becus jagain adik, yah. Apa yang sudah kamu lakukan pada Karina sehingga wajah nya seperti itu, hah?". Mika terdengar sangat marah sambil menunjuk tepat ke wajah ku.


"Apa maksud kamu? Kenapa dengan wajah Karina?". Aku benar - benar bingung dan penasaran dengan yang di ucapkan Mika. Aku mendekati Karina untuk memastikan ucapan Mika. Tapi kedua teman dekat nya itu menghalangi jalan ku.


"Kamu jangan pura - pura bodoh kak! Sekarang keluar! Karina sedang nggak mau ngomong. Lebih baik kamu pergi sebelum kami habis kesabaran". Sekarang giliran Mila yang menunjukan kekesalan nya pada ku.


Aku semakin khawatir dengan keadaan Karina. Tidak peduli dengan ucapan dua saudara kembar itu yang mengusir ku. Aku mencoba mendekati Karina lagi tapi sekarang malah dia yang mengusirku.

__ADS_1


"Pergi lah, Kal! Aku nggak mau ngomong sama kamu dulu". Ucap Karina tanpa menoleh pada ku.


__ADS_2