PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 49 Rinata


__ADS_3

Kadang ia di minta hanya menuangkan minuman untuk Ronal tapi lama - kelamaan ia di minta melayani nya di ranjang. Meri nggak boleh melawan, selain juga merindukan belaian pria, ia juga sebenarnya sudah menempatkan Ronal menggantikan suami nya di hati nya.


"Terserah kamu saja lah. Tapi pastikan pakaian nya lebih tertutup dari itu agar aku bisa tahan". Imbuh Ronal Pasrah.


Gadis yang di maksud hanya bisa menundukkan kepala. Meskipun rambutnya sedikit keribok, tapi wajah nya sangat jelita, tubuh nya juga berbentuk seperti gitar spanyol. Bohai dan membuat semua pria melihatnya akan terpesona hingga terbawa mimpi..


"Baik lah". Sahut Meri setuju. Ia juga takut kalau Ronal malah kepincut dengan kecantikan gadis itu. "Kalau begitu kami pamit dulu. Aky harus memperkenal nya nya dengan Haikal dan menjelaskan apa saja tugas yang harus ia kerjakan". Pamit Meri..


"Pergi lah". Sahut Ronal tanpa melihat ke arah mereka tapi... "Tunggu!". Teriak Ronal dengan sedikit santai.


"Ada apa lagi?". Tanya Meri..


"Siapa nama gadis itu?". Tanya Ronal penasaran. Ia seperti pernah melihat sekilas wajah gadis itu tapi ia bingung di mana.


"Rinata, emang nya kenapa?". Ketus Meri.


"Keluar lah! Kamu makin hari makin lancang padaku". Sahut Ronal kesal. "Mungkin hanya perasaan ku saja. Terlalu sering bertemu wanita cantik sehingga aku lupa di mana pernah ketemu mereka". Batin Ronal.


Sementara itu Meri membawa Rinata bertemu Haikal di ruangan khusus anak itu. Meri tak diam sepanjang perjalanan, bibir nya terus mengoceh menjelaskan apa saja yang perlu Rinata kerjakan.


"Kamu harus melayani setiap keperluan nya. Turuti setiap permintaan nya termasuk harus mengikhlaskan kegadisan mu padanya. Sebisa mungkin ubah sifat nya. Bujuk dia agar mau minum - minuman keras dan menggunakan barang haram. Dan sudah tentu kamu juga harus menggunakan semua barang itu. Kamu mengerti!". Imbuh meri pada Rinata.


"Sa - saya mengerti mami". Sahut Rinata dengan tangan bergetar.


"Ingat! Kalau kamu nggak nurut dengan ku maka keluarga mu akan mati di tangan ku". Ancam Meri dengan nada santai agar tidak menarik perhatian orang lain..

__ADS_1


"Jangan apa - apa kan mereka mami! Aku benar - benar akan menuruti perkataan mami". Lirih Rinata merayu sambil menggenggam tangan Meri kuat.


Jelingan mata tajam Meri membuat Rinata takut dan melepas genggaman tangan nya pada Tangan Meri. "Bagus kalau kamu takut. Dan satu lagi yang perlu kamu ingat, lapor semua yang Haikal lakukan dan cerita kan padamu. Jangan ada yang di tutup - tutupi tentang nya". Imbuh Meri lagi.


"Ba - baik mami". Sahut Rinata pasrah.


"Bagus. Sekarang perbaiki penampilan mu, pasang senyum menggoda kita sudah sampai". Kata Meri menahan langkah Rinata.


Dengan gugup, Rinata dengan cepat memperbaiki penampilan nya dan berusaha tegar dengan memasang senyum tanpa beban.


"Haikal!". Panggil Meri lembut sambil melambaikan tangan ke arah Haikal.


Haikal menoleh dengan malas tapi melihat seseorang yang ada di samping Meri membuat nya mau tidak mau harus mendekat pada dua wanita beda generasi itu..


"Semalam aku sudah janji sama kamu seorang gadis cantik dan masih perawan. Ini dia orang nya. Meskipun rambutnya agak aneh tapi wajah sangat menawan". Imbuh Meri pada Haikal sambil merangkul hangat bahu Rinata.


Haikal tercengang menatap wajah Rinata tapi ia tak berani bertanya lebih banyak pada gadis itu karena posisi mereka saat ini yang tak memungkinkan untuk berbicara hal pribadi.


"Haikal". Sahut Haikal menyambut uluran tangan Rinata.


Meri yang melihat ekspresi Haikal merasa senang karena gadis yang ia sediakan untuk Haikal bisa membuat anak muda itu terpesona saat pandangan pertama lagi. Ia pun meminta Haikal mengajak Rinata duduk ngobrol.


"Ya sudah, tampak nya kalian berdua akan mudah akrap. Bawa dia duduk, Haikal. Rinata baru aja sampai dari kampung nya yang jauh, dia pasti lelah jika berdiri terus". Ujar Meri mendorong Rinata hingga menabrak tubuh Haikal.


Haikal sama sekali tidak menolak, ia menahan tubuh Rinata agar tidak menjauh dari nya. "Kamu nggak papa kan?". Tanya Haikal penuh perhatian.

__ADS_1


"Alolo, sweet nya. Kalau begitu aku pamit dulu yah. Selamat menikmati masa kalian berdua". Pamit Meri sambil menahan tawa melihat tingkah dua anak muda itu.


"Kali ini pilihan ku pasti tidak salah. Rinata pasti bisa mengubah sifat Haikal. Dengan itu Mas Ronal pasti semakin tidak bisa berkutik padaku. Aku selalu membantunya dalam banyak hal. Aku yakin dia pasti tidak akan pernah membuang ku bahkan akan mempertahankan ku selamanya". Batin Meri dengan sangat yakin.


Setelah kepergian Meri, Haikal mengajak Rinata duduk di sofa ruangan itu. Ia bingung harus memulai obrolan dari mana. Ia tidak boleh gegabah sekarang dalam melontarkan perkataan. Ini tempat baru untuknya, belum tahu pasti kalau di ruangan ini ada kamera pengintai atau perekam suara. Jadi ia harus tetap hati - hati.


Haikal menatap lekat ke wajah Rinata tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Rinata yang di perhatian seperti itu pun hanya bisa tertunduk malu.


"Dari mana asal mu?". Tanya Haikal ketus. Wajah nya tampak dingin karena wajah wanita di hadapannya sangat mirip dengan orang yang ia kenal selama ini.


"A - aku berasal dari desa yang cukup jauh dari kota ini". Jawab Rinata gugup.


"Iya aku tahu itu, di mana?". Haikal masih mendesak agar Rinata jujur dengan tempat asal nya.


Rinata menghela nafas lalu menatap Haikal lekat. Mereka seolah berbicara dari hati - ke hati.


"Aku berasal dari desa yang terletak di pinggir kota. Rumah ku luas tapi hanya terbuat dari kayu yang sudah rapuh. Aku memiliki papa yang kuat minum 4lkohol, berjudi dan punya banyak hutang di beberapa tempat karena kebiasaan buruk nya itu. Aku juga punya mama yang sama sekali tak memperdulikan ku, ia hanya mementingkan diri nya sendiri. Tiada yang mengurusku kecuali seorang kakak angkat yang baik hati. Dari kecil ia bekerja keras untuk menghidupi kamu bertiga bahkan dengan rela menjadi tulang punggung keluarga kami dari usia yang masih muda. Bukan itu saja, ia juga bertanggung jawab mencicil hutang papa setiap bulan nya dengan gaji yang ia dapatkan...". Rinata menghapus air matanya yang tiba - tiba menetes.


Ia ternyata cukup merindukan kakak nya itu hingga tanpa di paksakan sekali pun air mata nya mengalir dengan sendiri nya.


Haikal hanya diam menyimak apa yang ingin di sampai kan oleh Rinata.


"Dia juga kakak yang sangat baik, meskipun lelah sepulang kerja, ia tetap menyempatkan diri menyediakan makan malam untuk ku dan mama. Sedangkan aku dan mama hanya duduk bersantai merawat kulit kami. Tapi dia tak pernah mengeluh sekali pun dengan sikap acuh kami malah ia dengan suka rela melakukan semua nya sendiri". Sambung Rinata masih menatap Haikal dengan deraian air mata.


"Kini kami berpisah, aku baru sadar kalau aku sangat merindukan nya. Selalu berdoa agar ia di lindungi di mana pun ia berada". Lirih Rinata.

__ADS_1


Haikal sedikit sebanyak memahami apa yang ingin di sampai kan oleh Rinata. Kecurigaan nya mengenai wanita itu terjawab sudah. Meskipun tidak di katakan secara langsung tapi cerita nya tadi sudah cukup membuktikan kan semua nya.


"Kamu juga harus tetap bahagia agar kakak mu itu tenang". Sahut Haikal. Ia berdiri meninggal Rinata yang tercengang dengan ucapan nya.


__ADS_2