
POV Haikal.
Untuk pertama kali nya aku bolos sekolah setelah mendengar perkataan Rudi yang mengatakan Karina tidak akan sekolah lagi. Perasaan ku semakin khawatir jika bapak berhasil membawa nya pergi dari rumah dan membawa nya rumah juragan Jarwo untuk di nikah kan dengan pria beristri empat itu.
Aku berlari keluar sekolah tapi saat di jalan aku melihat mama juga sedang berlari menuju ke arah sekolah. "Mama mau kemana? Karina mana mah?". Tanya ku pada mamah dengan nafas yang sesak sehabis lari.
"Karina, Haikal. Karina! Tolong adik kamu Haikal". Sahut mamah tampak cemas sambil menunjuk ke arah rumah.
"Emang Karina kenapa, mah?". Tanya ku.
"Lelaki sialan itu berhasil membawa Karina pergi. Karina udah nggak ada di rumah". Jawab mama.
Aku berlari menuju rumah untuk memastikan keberadaan Karina. Benar saja, Sesampai di rumah, keadaan tampak berantakan seperti sudah terjadi pertengkaran hebat sebelum nya.
Aku harus mencari keberadaan mereka sekarang.
"Mama tahu di mana rumah juragan Jarwo itu?". Tanya ku pada mama yang baru saja sampai.
"Mama nggak kenal dengan juragan itu, Kal. Tapi menurut mama juragan itu tinggal di desa lain, karena setahu mama nggak ada nama Jarwo di desa ini". Meskipun nafas nya masih ngos - ngosan tapi mama masih berusaha menjawab pertanyaan ku.
Aku menghela nafas berat, bingung harus mencari keberadaan Karina saat ini di mana. "Mama akan bunuh lelaki brengsek itu kalau dia masih berani muncul di rumah ini. Mama nggak terima jika benar Karina menikah dengan juragan beristri banyak itu". Seru mamah dengan penuh dendam.
"Bagaimana bisa bapak berhasil membawa Karina pergi, mah? Bukan kah mama menjaga nya dengan sangat ketat. Mustahil mama kalah tenaga dengan bapak". Kata ku sambil berpikir keras.
"Semalam mama kebelet pipis, tapi saat ingin kembali ke kamar Karina, bapak kamu berhasil membekap Karina dan mengancam mama kalau mama menghalangi jalan mereka maka pisau yang ia pegang akan menembus perut Karina. Mama terpaksa membiarkan bapak kamu membawa Karina pergi". Jelas mama terlihat merasa bersalah.
"Jadi tiada perlawanan antara mama dan bapak? Tapi kenapa keadaan rumah berantakan seperti ini?". Tanya ku.
__ADS_1
"Itu mama kurang pasti kenapa, dari pipis semalam terus berantakan seperti itu. Mungkin bapak kamu sengaja ingin mnglabuhi mama supaya mama pikir ada penculik datang membawa Karina pergi, padahal mama sempat memergoki aksi nya itu". Jawab mama lagi.
Aku menghela nafas berat sambil berpikir keras hingga aku teringat seseorang yang mungkin bisa membantu ku menemukan keberadaan Karina saat ini. Aku yakin dia bisa membantuku. Dengan cepat meninggalkan mama sendirian di rumah. Teriakan nya yang memanggil nama ku, ku abaikan karena ingin bergegas menemui bang Jo.
Berbekal kan uang simpanan perberian mama Aisyah setiap pagi, ku gunakan untuk membayar ojek. Sesampai di depan gerbang, pak Satpam tampak kebingungan tapi tetap membuka kan aku pintu dengan segera.
Dengan cepat mencari keberadaan bang Jo tapi tidak ketemu.
"Eh, den Al udah pulang. Bolos sekolah yah". Goda nek Laras saat melihat ku masuk ke dapur.
"Ada urusan penting, nek. Jadi terpaksa bolos sekolah dulu. Lihat bang Jo nggak, nek?". Tanya ku pda nek Saras.
"Pasti penting banget ya sampai kamu terlihat panik gitu. Josep tadi pergi hantar non Aisyah entah kemana. Emang nya ada apa den Al?". Balas nek Saras penasaran.
"Aku mau minta tolong cari adik saya nek". Sahut ku lalu meninggalkan nek Saras begitu saja. Aku tahu ini tak sopan tapi saat ini aku sangat cemas dengan keadaan Karina.
Aku memutuskan untuk mencari nya sendiri, jika menunggu bang Jo datang pasti nggak akan keburu. Aku takut Karina di paksa menikah dengan juragan Jarwo hari ini juga.
Kembali keluar gerbang mencari panggkalan ojek terdekat. Beruntung uang pemberian mama Aisyah nggak pernah gunakan dan saat ini adalah saat yang tepat menggunakan yang itu. Bertanya pada bang ojek tentang identitas juragan Jarwo tapi tiada satu orang pun yang tahu tentang nya. Aku mengajak salah satu bang ojek untuk keliling mencari tahu siapa juragan Jarwo itu.
Sudah hampir tiga jam keliling tapi belum bisa menemukan pertunjuk apa pun tentang juragan Jarwo. Saat berhenti karena lampu merah, tak sengaja aku melihat salah seorang pria yang datang ke rumah waktu itu memukul bapak.
"Ikuti motor itu, bang!". Titah ku pada bang ojek.
"Baik, bang". Sahut nya.
Aku nggak boleh gegabah dengan mencekal nya di tengah jalan seperti ini. Aku yakin sekarang sedang menuju rumah juragan Jarwo. Aku harus menggagalkan niat mereka. Masa depan Karina nggak boleh di hancurkan oleh bapak begitu saja karena sikap tidak bertanggung jawab nya ini.
__ADS_1
Tapi pria itu berhenti di sebuah rumah yang sangat jauh dari prediksi ku, bukan sebuah pesta pernikahan yang terjadi tapi sebuah acara pemakaman. Sudah ramai orang di depan rumah itu bersiap untuk membawa jenazah ke liang lahat. Dari kejauhan terlihat beberapa orang wanita yang menangis kencang, meratapi kepergian keranda itu.
Ku beranikan diri menghampiri mereka untuk bertanya tentang siapa yang telah meninggal itu.
"Maaf bu, sebenarnya yang meninggal itu siapa yah?". Tanya ku pada seorang ibu - ibu yang baru ingin masuk melawat.
"Oh itu juragan Jarwo, maksud saya almarhum juragan Jarwo. Baru aja semalam meninggal akibat di tikam oleh seorang wanita muda yang niat nya ingin di jadi kan istri kelima oleh almarhum". Sahut ibu itu menerangkan tanpa aku bertanya terlebih dulu.
"Wanita muda? Sekarang wanita itu ada di mana buk?". Tanya ku lagi.
"Kalau itu saya kurang tahu, mas. Saya pamit dulu yah ingin melihat kondisi keluarga yang di tinggal sambil ikut mendoakan. Saya baru sempat datang soal nya cucu saya sedang sakit". Pamit ibu itu.
Aku kurang yakin jika Karina yang telah membunuh pria itu, selama ini aku mengenal Karina yang tidak pernah melakukan kekerasan jadi mustahil jika ia bisa membunuh pria itu sedangkan pasti pria itu banyak pengawal yang melindungi nya. Tapi ibu tadi bilang jika wanita itu berniat akan di jadikan istri kelima dan setahu aku Karina yang akan di jadikan istri ke lima oleh juragan itu.
Aku me mutuskan untuk ikut masuk ke dalam rumah almarhum juragan Jarwo untuk memastikan kejadian yang telah terjadi sehingga menimbulkan korban. Beruntung saat di rumah tadi aku sudah bertukar pakaian yang ku sisa kan di lemari pakaian. Saat masuk semua orang tidak terlalu memperdulikan keberadaan ku, seorang pria hanya mengajak ku ikut masuk tanpa curiga. Aku duduk bersila bersama yang lain dan ikut membaca kitab suci alquran.
Samar - samat terdengar beberapa orang ibu yang sedang berbisik menceritakan kejadian yang entah betul atau tidak. Tapi aku jadi penasaran.
"Iya mbak. Semalam itu aku dengar ribut - ribut gitu berasal dari rumah ini. Aku paksa lah suami saya untuk datang melihat tapi sayang nya cukup banyak preman yang menjaga di depan. Suami saya memutuskan pulang aja deh. Tapi aku kan penasaran banget nih buk. Aku lewat pintu belakang dan mengintip di balik jendela yang terbuka di sana itu...". Bisik ibu itu pada teman nya sambil menunjukkan jendela yang ia maksud.
"Terus apa yang terjadi mbak Lisa?". Sahut teman nya yang sangat antusias mendengar cerita dari ibu tadi.
"Rupanya wanita muda yang sebelum nya saya lihat ayu dan terlihat lemah ternyata bisa menumbangkan beberapa orang preman dengan gampang nya. Saat saya masih mengintip semua preman yang berjaga di depan rumah ikut masuk menolong, aku lihat sendiri dia melawan pria berbadan besar yang berjumlah lima orang". Sambung ibu itu.
"Kamu jangan ngarang deh, mbah Lisa! Mustahil tahu wanita yang masih muda bisa melawan lelaki berbadan besar, banyak pula tuh". Imbuh teman nya nggak percaya.
"Aku sudah agak kamu nggak akan percaya, suami saya sendiri pun nggak percaya tapi ini lah kenyataan nya mbak". Ibu itu terlihat menyakinkan.
__ADS_1
"Apa kah wanita yang di maksud itu Karina?". Gumam ku.