
Lelaki berumur 50 tahunan itu tampak seperti di kejar-kejar oleh setan menuju ke sebuah ruangan di mana Sendiego menjadikan ruangan yang cukup besar itu sebagai ruangan kerja nya.
Begitu lelaki berusia sekitar lima puluhan itu sampai, dia segera mendorong pintu dan berteriak dengan marah. "Apa maksudmu dengan semua ini Sendiego?" Tanya lelaki itu dengan tatapan berapi-api.
"Ramos... Kau bisa mengetuk dulu sebelum memasuki ruangan ku ini." Tegur Sendiego.
"Dengan setan seperti mu aku tidak perlu berlaku sopan santun Sendiego." Bentak lelaki yang ternyata adalah Ramos yang di kenal sebagai pelatih Riko.
"Hahaha... Tenangkan dulu dirimu Ramos. Silahkan duduk!" Kata Sendiego menawarkan Ramos untuk duduk.
"Setan...! Bagaimana aku bisa tenang jika anak dan istri ku kau sandra?!" Bentak Ramos dengan gusar.
"Anak istri mu tidak akan di apa-apakan asalkan kau mau memberikan kerja sama untukku." Kata Sendiego.
"Kau ini benar-benar ular yang suka membelit. Rencana kotor apa lagi yang ada dalam otak mu Sendiego?" Tanya Ramos.
"Mendekat lah!" Kata Sendiego kepada Ramos.
Setelah Ramos mendekat, Sendiego kini membisikkan apa yang telah dia rencanakan dengan Robin ke telinga Ramos.
"Kau Sendiego!" Kata Ramos sambil menunjuk ke arah wajah Sendiego lalu melanjutkan, "Kau..! Benar-benar licik. Aku tidak bisa melakukan itu." Kata Ramos menolak rencana Sendiego.
"Mau tidak mau jawabannya harus mau. Kau tidak berhak memilih. Aku yang menentukan. Atau kau lebih sayang kepada Riko dari pada istrimu?"
"Ku bunuh kau Sendiego....!" Teriak Ramos sambil mencekik leher Sendiego.
"Selangkah lagi kau bergerak, cucu mu akan jadi mayat." Kata satu suara yang keluar dari pintu ruangan lain yang terdapat di dalam ruangan kerja Sendiego.
"Kau Ramond. Lepaskan cucuku! Jika tidak.."
"Jika tidak apa? Lepaskan Tuan ku atau seluruh keluarga mu akan kami bantai." Kata lelaki berbadan tegap yang ternyata Ramond itu.
"Sekarang keluar dari ruangan ku ini." Bentak Sendiego sambil merapikan kerah baju nya.
__ADS_1
"Sialan kau Sendiego!"
"Keluar kataku! Dan awas kalau sampai Riko mengetahui semua rencana ini. Jika kau masih sayang dengan keluarga mu, ikuti saja aturan yang telah aku tetap kan!" Kata Sendiego memberikan ancaman.
Tidak ada pilihan bagi Ramos. Dia dengan kesal segera melangkah ke luar ruangan itu dengan membanting pintu sekuat tenaga.
...*********...
Star Hill.
Kejadian demi kejadian saat ini bagai wabah penyakit menimpa Golden university. Dalam 7 hari terakhir, telah ada dua orang mahasiswa yang nekat bunuh diri terjun dari lantai atas asrama.
Selama puluhan tahun semenjak kampus itu didirikan, baru kali ini terjadi hal yang menyangkut soal mahasiswa yang mati bunuh diri.
Hal ini jelas sangat memusingkan bagi Pak Robert selaku kepala yayasan.
Pak Robert yang ingin mengetahui apa penyebab dari semua ini segera membentuk team yang terdiri dari beberapa kelompok untuk melakukan penyelidikan.
Group pertama di isi oleh Ryan, Jerry dan Daniel.
Mereka mulai melakukan penyelidikan tentang kasus yang menimpa sebagian besar mahasiswa yang akhir-akhir ini seperti di landa kemurungan, tidak semangat untuk belajar dan hal-hal aneh lainnya.
Namun, sekuat apa pun mereka berusaha untuk mencari tahu penyebab dari masalah ini, tidak ada di antara mereka yang mau memberikan kerja sama. Ini yang membuat penyelidikan mereka mentok dan tidak menemukan titik terang.
"Bagaimana Ivan? Apakah kau telah menemukan penyebab dari permasalahan ini?" Tanya Jerry.
"Entah lah Jerry. Aku benar-benar buntu. Dari sekian banyak mahasiswa yang aku selidiki, tidak ada di antara mereka yang bertindak mencurigakan. Mereka sepertinya sangat merahasiakan hal ini." Jawab Ivan.
"Sama Van. Kami juga mengalami kebuntuan." Kata Daniel.
"Aku curiga jangan-jangan mereka ini telah mengkonsumsi sesuatu yang terlarang." Kata Ryan.
"Apa maksudmu Ryan?" Tanya Jerry yang tidak mengerti.
__ADS_1
"Aku pernah membaca sebuah artikel tentang dampak atau pengaruh dari penyalah gunaan obat-obat terlarang. Dan saat ini sepertinya dari cara dan tindakan mereka, aku menduga bahwa kampus kita ini telah di masuki oleh gembong narkoba. Lihat saja sebagian dari mereka ada yang seperti terserang demam, Menggigil, berkeringat dingin serta gejala lainnya. Aku menduga bahwa ini adalah akibat dari penyalah gunaan barang haram tersebut." Kata Ryan.
"Kita masih belum tau apakah itu benar atau tidak. Saat ini kita belum bisa menarik kesimpulan. Tapi yang jelas, kita harus lebih meningkatkan lagi usaha kita dalam mengorek keterangan tentang masalah ini." Kata Ivan.
"Ingat lah bahwa kita tidak boleh membocorkan masalah ini sampai keluar. Jika tidak, nama universitas kita ini akan tercemar." Kata Daniel.
"Masalah bunuh diri itu telah menjadi buah bibir di kalangan masyarakat. Apa lagi yang bisa kita lakukan untuk membendung isu ini? Semua sudah tau." Kata Ivan.
"Van.., bagaimanapun, apa yang aku katakan tadi hanya dugaan ku saja. Benar atau tidaknya adalah setelah kita menemukan jawabannya. Saat ini yang tersebar di luar sana hanya tentang kasus bunuh diri. Sedangkan untuk penyebab nya, balum ada satu pun yang tau." Kata Ryan.
"Aku hanya ingin kita semua meningkatkan usaha untuk mencari tau penyebab dari semua ini. Usahakan untuk tidak membocorkannya kepada pihak luar. Jika ada di antara kita yang mendapatkan informasi, segera atur pertemuan dan kita akan membahas lebih lanjut langkah apa yang harus kita ambil." Kata Jerry.
"Huhh... Aku sangat mengkhawatirkan andai dugaan ku tadi benar, maka dapat di bayangkan bahwa Golden university ini akan menjadi sarang bagi generasi penerus yang penyakitan." Kata Ryan sambil mengeluh.
"Jika benar apa yang kau khawatirkan, maka aku tidak akan melepaskan sindikat ini. Aku pastikan akan memburu mereka sampai ke dalam lobang semut sekali pun." Kata Jerry dengan geram.
"Aku mencurigai sesuatu, Jerry!" Kata Daniel..
"Ada apa Daniel? Apakah ada sesuatu yang kau curigai yang bisa membawa kita menemukan titik terang dalam masalah yang sedang kita hadapi ini?" Tanya Jerry.
"Benar. Aku bertanya kepada kalian. Apakah kalian tidak merasa ada yang aneh pada Herman akhir-akhir ini?" Tanya Daniel.
"Maksud mu Daniel?" Tanya Jerry.
"Coba kalian perhatikan! Herman akhir-akhiri ini sepertinya selalu menghindar dari kita. Dia lebih sering menyendiri dan sering kedapatan mengurung diri di dalam kelas. Apa menurut mu itu wajar, mengingat selama ini dia begitu akrab dengan kita?" Kata Daniel.
"Bodoh nya aku yang hanya fokus kepada masalah ini tanpa memperhatikan orang-orang yang terdekat dengan ku." Kata Jerry menyalahkan dirinya sendiri.
"Kita bisa memulai dari yang terdekat Jerry! Ingat lah untuk bersikap wajar dan tidak terlalu memaksa dalam mengorek keterangan. Aku khawatir jika kita terlalu memaksakan, Jangan kan informasi, Herman mungkin akan mencurigai kita." Kata Ryan.
"Hmmm..., aku mengerti maksud mu. Sekarang ayo kita bubar dan melakukan penyelidikan lagi." Kata Jerry segera membubarkan diri di ikuti oleh Ryan dan Daniel.
Tak lama setelah itu, Ivan, David dan Kevin juga segera berlalu meninggalkan tempat pertemuan dab kembali menuju ke kelas.
__ADS_1
Bersambung....