PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Ivan mengadakan pertemuan dengan Lorna


__ADS_3

"Kriiiing...."


"Kriiiing....!"


Suara deringan ponsel mengagetkan seorang pemuda yang sedang tidur sore itu.


Dengan bermalas-malasan pemuda itu meraih ponsel dan langsung menngeser layar untuk menjawab panggilan itu.


"Hallo Lorna.."


"Ivan. Kamu sekarang ada di mana?" Tanya suara seorang wanita penelepon yang ternyata adalah Lorna.


"Aku lagi di kamar hotel. Ada apa Lorna?" Tanya Ivan dengan suara malas.


"Van.., apa kau tidak memiliki rencana untuk mengajak ku jalan-jalan." Tanya Lorna sedikit manja.


"Kemana kita akan jalan-jalan? Starhill ini selain mountain Lotus, sepertinya tidak ada lagi tempat yang bagus. Tidak seperti di Metro City." Kata Ivan dengan nada sedikit kesal.


"Kemana saja asal bersamamu pasti semuanya akan terasa indah." Kata Lorna.


"Baiklah. Aku akan menjemput mu. Tunggu aku selesai mandi." Kata Ivan lalu bergegas bangun dan melempar ponsel nya begitu saja di atas tempat tidur.


Lorna sedikit mengernyitkan kening ketika mendengar suara sesuatu di seberang telepon.


"Ivan ini kebiasaan. Tidak pernah mau mengakhiri panggilan. Pasti ponsel nya di lempar begitu saja." Kata Lorna dalam hati.


...*****...


Bugatti Divo itu kini berhenti di sebuah restoran dan terus saja memasuki area parkir di Mountain Lotus.


Setelah itu kini tampak sepasang muda-mudi yang tampak sangat serasi keluar dari mobil dan langsung saja berjalan menuju bagian depan restoran dimana seorang wanita resepsionis dengan ramah menyambut mereka.


Ivan dan Lorna hanya tersenyum saja kepada wanita muda penyambut tamu tersebut lalu segera memasuku lift untuk naik ke lantai atas.


Sesampainya mereka di atas, Ivan langsung berjalan menuju meja paling pinggir di dekat jendela dengan tujuan agar dapat dengan leluasa melihat-lihat ke-arah luar.


Setelah memesan makanan dan minuman, Ivan kini memulai percakapan sebagai upaya untuk mencairkan suasana yang terasa kaku tersebut.


"Lorna, apakah besok kau akan kembali ke Metro City?" Tanya Ivan membuka percakapan.


"He'em. Besok aku akan pulang ke Metro City. Aku sudah sangat merindukan kakek ku." Kata Lorna dengan suara manja.


"Kau sendiri Van? Apakah kau tidak akan kembali ke Metro City?" Tanya Lorna ingin tau.


"Sebenarnya aku merasa tidak ada gunanya kembali ke Metro City. Ini karena aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di sana semenjak ayahku memenjarakan kakek." Kata Ivan dengan ekspresi mengeluh.


"Maafkan aku Van. Aku telah membuat mu merasa sedih." Kata Lorna sambil menggenggam tangan Ivan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Lorna. Di saat seperti ini lah aku harus bisa membuktikan diri bahwa aku harus bisa membebaskan kakek ku yang disekap oleh ayah." Kata Ivan.


"Maksudmu bagaimana Van?" Tanya Lorna tidak mengerti apa maksud dari perkataan Ivan.


"Lorna.., apakah kau akan menjaga rahasia yang akan aku ceritakan kepadamu?" Tanya Ivan dengan raut wajah penuh selidik namun sangat berharap.


"Ivan..., apa kau tidak percaya kepada ku?" Tanya Lorna sambil terus menggenggam tangan Ivan.


"Sebelum aku menceritakan kepada mu tentang rahasia besar yang aku miliki, apakah kau akan mengungkapkan kepadaku tujuan mu datang ke Starhill ini!?" Tanya Ivan.


"Kau duluan yang bercerita. Setelah itu baru aku akan menjelaskan kepada mu tujuan kakek ku mengirim ku ke Golden University ini." Kata Lorna.


"Baiklah. Aku akan mengatakan rahasia besar yang aku simpan baik-baik selama ini. Bahkan ini adalah misi ku yang sangat berbahaya. Aku percaya padamu Lorna. Jika akhirnya kau mengkhianati aku, maka aku hanya pasrah saja kepada nasib ku." Kata Ivan menatap sayu ke wajah Lorna.


"Apa yang kau katakan Van? Apakah kau tidak melihat ketulusan dari diriku kepada mu?" Tanya Lorna dengan tatapan penuh kasih sayang.


"Aku dapat merasakan itu Lorna. Oleh sebab itu lah aku mempercayaimu."


"Begini.., sebenarnya tujuanku datang ke Starhill ini atas perintah dari ayahku untuk menyelidiki dan mencari tau siapa pemilik Future of Company. Karena dari mata-mata yang di kirim oleh ayahku mengatakan bahwa, pemilik dari perusahaan itu adalah salah satu mahasiswa di Golden University." Kata Ivan.


"Lalu?" Tanya Lorna ingin tau kelanjutannya.


"Aku tau kalau niat ayah ku tidak lah baik terhadap pemilik perusahaan itu. Ini karena, dia mendengar isu bahwa pemilik Future of Company itu bernama Jerry William. Jerry William ini adalah anak dari Wilson William musuh bebuyutan ayahku." Kata Ivan sambil menarik nafas sejenak.


"Kau tau Lorna, walau pun aku meng-iyakan apa yang dikatakan oleh ayahku, namun aku memiliki misi ku sendiri. Andai aku bertemu dengan Jerry William ini, maka aku pasti akan meminta bantuannya untuk menolong ku membebaskan kakek dari cengkraman ayah." Kata Ivan.


"Maksud mu?" Tanya Ivan.


"Tujuanku datang ke Starhill ini juga dalam misi mencari keterangan tentang pemilik perusahaan Future of Company itu. Seperti yang kamu katakan tadi, bahwa informasi yang di dapat oleh kakek ku mengatakan bahwa orang itu bernama Jerry William. Tapi aku sangat kecewa karena yang ada bukan Jerry William. Tapi Jerry Yosep." Kata Lorna dengan kesal.


Mendengar nada suara jengkel dari Lorna yang mengatakan bahwa dia tidak bertemu dengan Jerry William, tapi malah bertemu dengan Jerry Yosep membuat Ivan setengah mati menahan tawa yang hampir meledak.


Namun dia segera sadar bahwa tujuan mereka saat ini hampir sama. Hanya saja bedanya mungkin keluarga Walker tidak berniat untuk mencelakai Jerry.


Namun begitu, tetap saja Ivan merasa lega karena kata-kata yang hampir saja dia ucapkan di potong oleh Lorna.


"Lorna. Andai kau mendapatkan informasi yang kau cari. Ini andai-andai saja. Apa yang akan kau lakukan seandainya kau bertemu dengan Jerry William itu?" Tanya Ivan memancing tanggapan Lorna.


"Aku ingin menjadi pacar nya. Hahaha..." Jawab Lorna sambil becanda.


"Jika begitu ayo kita sudahi saja pertemuan ini!" Kata Ivan pura-pura merajuk dan buru-buru bangkit dari kursinya.


"Kau marah Ivan? Apa kau cemburu?" Tanya Lorna yang berubah ekspresi wajahnya.


"Jelas aku merasa kalah dengan Jerry itu. Bagaimana pun, dia adalah pemilik sebuah perusahaan besar dan juga masih muda. Apa aku bisa bersaing dengan nya?" Kata Ivan yang mulai mengeluarkan beberapa lembar uang dan ingin menaruh di atas meja.


"Ivaaan..., kau jangan marah! Aku hanya becanda dan ingin menggoda mu saja." Kata Lorna berusaha membujuk Ivan.

__ADS_1


"Sebenarnya tujuan kakek mengirim ku ke sini adalah untuk mencari informasi tentang Jerry William ini dengan tujuan, andai dia di serang oleh keluarga Patrik, keluarga Walker ku setidak nya harus memberi bantuan kepadanya. Bagaimanapun kakek ku beranggapan bahwa hanya Jerry ini lah satu-satunya dinding penghalang bagi keluarga Patrik mu untuk mengusik keluarga ku." Kata Lorna sambil berusaha menenangkan Ivan yang pura-pura merajuk.


Setelah Ivan kembali duduk di kursinya, Lorna kembali melanjutkan kata-katanya.


"Kakek ku tau betapa ayah mu sungguh sangat serakah, licik dan rela melakukan apa saja demi mencapai tujuannya. Tujuan ayah mu adalah ingin menguasai industri bisnis di Metro City. Ini terbukti dengan hancurnya keluarga William dan Smith. Kakek ku juga berkata bahwa Wilson, tuan muda dari keluarga William juga di bun*h oleh ayah mu. Dia bahkan memerintahkan anak buah nya untuk mencari jejak anak Wilson ini di seluruh pelosok negara dengan tujuan memutus keturunan keluarga William dan Smith." Kata Lorna lagi.


"Kau jangan tersinggung Ivan. Ini adalah kebenaran yang semua orang tau. Saat ini kakek ku beranggapan bahwa hanya Jerry William ini lah perisai terakhir keluarga Walker. Jika Jerry William ini tumbang, maka sasaran selanjutnya adalah keluarga Walker ku. Jika itu terjadi, maka kita akan menjadi musuh Van." Kata Lorna dengan mata berkaca-kaca.


"Aku dapat memaklumi kekhawatiran kakek mu. Memang tidak dapat di pungkiri bahwa ayah ku memang sangat berbahaya. Jika dengan kakek ku saja dia sanggup menggulingkan nya, apa lah arti keluarga Walker, William dan Smith di mata nya?" Kata Ivan sambil tertunduk malu.


"Jika kau memiliki misi mu sendiri dalam melacak informasi tentang keberadaan Jerry ini, aku sangat mendukung mu. Tapi jika tujuanmu adalah untuk membuatnya celaka, maka kau akan berhadapan dengan keluarga Walker. Demi kepentingan keluarga, aku tidak bisa membela mu Van. Ini karena, ayah mu begitu kejam terhadap lawan bisnis nya." Kata Lorna.


"Aku tidak akan menyalahkanmu dengan pemikiranmu itu. Terus terang saja, aku sangat beruntung memiliki mu. Andai aku bisa bertemu dengan Jerry William ini, maka lengkap lah sudah kekuatan yang akan menopang langkahku untuk membebaskan kakek ku." Kata Ivan penuh harap.


"Aku juga akan meminta kakek ku agar bisa mengulurkan bantuan untuk mu Van." Kata Lorna.


"Setelah kembali ke Metro City, apakah kau akan datang lagi ke Starhill ini untuk melanjutkan studi mu Lorna?" Tanya Ivan.


"Tadinya aku tidak ingin kembali lagi kesini. Ini karena orang yang aku cari tidak berhasil aku temukan. Namun karena disini aku merasakan hangatnya persahabatan dan sikap ramah mereka kepada kita, maka aku putuskan untuk kembali lagi ke sini." Kata Lorna.


"Walau pun kau kecewa dengan Jerry Yosep?" Kata Ivan yang mulai berani melepas tawa yang sejak tadi dia tahan.


"Jerry Yosep juga sahabat baik mu kan? Aku melihat ada sikap jantan dan rasa setia kawan dari sorot matanya." Kata Lorna.


"Benar katamu Lorna. Cara mereka bersahabat, cara mereka menyikapi masalah, dan rasa saling memiliki dan melengkapi di antara mereka membuat aku merasa iri. Aku bersyukur mengenal mereka dan mengakrabkan diri dengan mereka. Setidaknya, aku merasakan kehangatan yang tidak pernah aku dapatkan di dalam keluarga Patrik." Kata Ivan.


"Benar katamu Van. Aku juga merasakan bersahabat dengan mereka seperti lebih dari sekedar hubungan kekeluargaan. Ini yang membuat ku betah di Starhill ini."


"Lalu mengapa harus kembali ke Metro City? Tetaplah di sini bersama ku Lorna!" Kata Ivan penuh harap.


"Aku tidak bisa untuk tidak kembali ke Metro City Van. Ini karena beberapa anak perusahaan adalah atas nama ku sebagai cucu tertua dari keluarga Walker. Walau pun hanya atas nama saja, tetapi ada satu pertemuan yang akan berlangsung di tiga negara Asean tidak lama lagi. Dan kakek menyuruh ku untuk ikut berpartisipasi dalam pertemuan itu untuk sekedar menambah wawasan." Kata Lorna dengan wajah meminta pengertian dari Ivan.


"Aku berjanji kepada mu sayang, setelah kembali dari Thailand, sehari aku di Metro City, aku akan segera menemui mu di Starhill ini. Tapi kau harus janji kepadaku!" Kata Lorna lagi.


"Janji apa? Andai aku mampu, aku pasti akan menunaikannya." Kata Ivan.


"Berjanji lah bahwa ketika aku jauh darimu, kau jangan nakal!" Kata Lorna dengan senyuman yang sangat manis.


"Aku berjanji kepadamu bahwa aku akan menunggu mu kembali ke Starhill ini." Kata Ivan.


"Janji!?"


"Ya..., aku berjanji."


Lalu mereka mengaitkan jari kelingking mereka sebagai simbol bahwa mereka telah berjanji dan tidak akan mengingkari.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2