
"Dokter... Tolong dok...!
Tampak seorang pemuda baru saja keluar dari mobil sambil berteriak dengan panik membuat petugas rumah sakit juga ikut panik.
Tak lama kemudian para staf medis berdatangan dan langsung membawa seorang pemuda yang dalam keadaan pingsan dan berlumuran darah menuju langsung ke unit gawat darurat.
"Tolong beri jalan.!"
"Ayo cepat..!"
Begitu mereka sampai di depan pintu Unit gawat darurat, para staf medis itu segera menghentikan lelaki yang berteriak tadi bersama dengan seorang lelaki berusia sekitar lima puluhan untuk tidak ikut serta masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Maaf Tuan. Anda tidak boleh ikut ke dalam." Kata seorang staf wanita.
"Baik buk. Tolong lakukan yang terbaik untuk sahabat saya." Kata pemuda itu.
"Bagaimana ini Arslan?" Kata lelaki sekitar lima puluhan tersebut dengan panik.
"Kita hanya bisa menunggu disini Pak Ramos. Mari kita sama-sama berdoa agar Riko baik-baik saja." Kata pemuda yang ternyata adalah Arslan tersebut.
"Lama sekali mereka Arslan.." Kata pak Ramos dengan wajah gelisah.
"Sabar lah Pak. Mungkin saat ini dokter sedang berjibaku untuk menyelamatkan Riko. Ini karena walau bagaimanapun cedera yang di derita oleh Riko cukup serius." Kata Arslan.
"Benar juga. Benar katamu. Pintar kau Arslan."Kata orang tua itu sambil menepuk pundak Arslan membuat Arslan hanya bisa menggeleng lemah melihat ulah orang tua ini.
...*...
Metro city.
Penyerbuan yang di ketuai oleh Drako dan tuan Syam telah berhasil memporak porandakan anak buah Robin yang berjaga di Villa tersebut.
Saat ini semua anak buah Robin telah habis di bantai oleh orang-orang dari Dragon empire.
Kejadian ini persis seperti 22 tahun yang lalu di mana anak buah Robin dibantu oleh Ramsey dan Sendiego membumi hanguskan Dragon empire dan memaksa Drako untuk melarikan diri ke Hongkong dengan bantuan Wilson William.
Jika di tanya soal motivasi, maka jawabannya adalah dendam lama. Itu lah sebabnya mengapa mereka begitu bersemangat menumpas anak buah Robin ini.
Ivan yang telah jauh hari kembali ke Metro city atas inisiatif dari Jerry juga berhasil menyusup ke dalam Villa.
Berkat bantuan dari kepala pelayan James, Ivan berhasil membawa kabur tuan besar Aaron melalui lorong rahasia dan membawanya ke Villa Smith sesuai dengan perintah Jerry.
Tepat pukul 10 malam Villa Patrik sepenuhnya telah di bersihkan oleh anak buah Drako di bantu oleh tuan Syam dan juga anak buahnya.
Simon, anak buah Robin yang bertugas mengepalai para pengawal di Villa itu cukup tanggap dalam membaca keadaan. Hal ini lah yang membuatnya berhasil kabur bersama istri Robin saat peperangan berkecamuk.
Begitu dia merasa bahwa pelarian mereka aman, dia segera mengirim pesan kepada Robin agar jangan kembali ke Villa. Ini karena Villa tersebut sudah di segel oleh pihak kepolisian.
"Syam. Apakah kau sudah mendapat kabar dari Country home?" Tanya Drako.
__ADS_1
"Herey baru saja mengirim ku pesan bahwa Jerry telah membakar markas Sendiego. Sendiego sendiri terbunuh. Namun Robin berhasil melarikan diri." Kata tuan Syam sedikit mengeluh.
"Celaka jika sampai Robin melarikan diri. Ini karena aku juga tidak menemukan dimana istri nya. Kemungkinan besar adalah salah satu pengawal nya berhasil meloloskan diri dari kita." Kata Drako mengemukakan kekhawatirannya.
"Jika benar Robin melarikan diri. Maka tujuannya tidak lain adalah MegaTown. Ini karena mertua nya ada di sana." Kata tuan Syam.
"Maksudmu Ramendra?"
"Benar Drako. Walau pun Ramendra ini tampak cukup tenang, namun sepak terjang nya sangat sulit di prediksi. Dia ini sengaja menyembunyikan kekuatannya dan lebih suka menggunakan tangan orang lain. Walau pun selama ini dia tidak memasukkan dirinya dalam daftar orang terkaya di negara ini, namun kekayaan Ramendra ini tidak kalah dari 4 keluarga besar." Kata tuan Syam.
"Sangat berbahaya jika sudah begini urusannya. Ini sama sekali berbeda dengan Robin." Kata Drako.
"Benar. Ramendra ini cukup berbahaya. Dia adalah bapak nya iblis. Bahaya yang menanti Jerry adalah dia saat ini masih buta dengan kekuatan lawan." Kata tuan Syam.
"Menurutmu apakah kita harus meninggalkan Metro city ini dan pinda ke Starhill untuk membantu Jerry?" Tanya Drako.
"Hahaha... Kita lihat dulu perkembangannya Drako. Untuk apa bintang tua ini harus turun gunung? Di sana sudah ada Herey, Jeff dan Regan. Apa kita masih di butuhkan?" Tanya tuan Syam sambil tertawa.
"Walaupun sudah tua begini aku masih mampu menghajar 5 orang anak muda sekaligus." Kata Drako sambil menepuk dadanya.
"Hahaha... Kau harus lihat-lihat juga siapa anak muda nya. Jika itu Jerry, Herey dan David, Kau bisa babak belur" Kata tuan Syam mencibir.
"Hahaha... Ah sudahlah. Ayo kita tinggalkan tempat ini!" Kata Drako.
Kemudian kedua bintang tua itu segera berjalan beriringan menuju ke mobil masing-masing.
Country home.
Iring-iringan mobil mewah Rolls Royce bergerak berombongan dari kantor besar Future of Company Country home menuju ke rumah sakit rakyat.
Ketika rombongan itu sampai, tampak beberapa pengawal berlarian dan membukakan pintu untuk mobil yang paling tengah.
Tampak seorang pemuda tampan keluar dari mobil dan di sambut oleh tuan Barry, tuan Obery, Ronald dan Austin yang telah terlebih dahulu keluar dari mobil.
"Apakah di penjara putih ini Riko dibawa oleh Arslan dan pak Ramos?" Kata pemuda itu bertanya.
"Benar Tuan muda. Sebelumnya Arslan sudah memberi tahu bahwa mereka membawa Riko kemari." Jawab tuan Barry.
"Hmmm.., ayo kita masuk!" Ajak Jerry.
Jerry melangkah mendahului menuju ke ruang administrasi.
Begitu tiba di sana, Jerry langsung menyapa seorang wanita yang bertugas sebagai administrasi.
"Hallo Nona petugas uang. Kita bertemu lagi." Kata Jerry menyapa sambil tersenyum.
"Kau? Untuk apa lagi kau datang kemari?" Tanya wanita itu langsung menunjuk ke arah wajah Jerry karena merasa jengkel disebut sebagai petugas uang.
"Jaga sikap mu Nona! Kau tidak tau siapa orang yang kau tunjuk itu." Kata tuan Barry menegur petugas administrasi tersebut.
__ADS_1
"Tu.. Tuan. Bukankah anda adalah Tuan Barry yang terhormat itu? Presiden dari perusahaan Future of Company?" Tanya wanita itu.
"Benar. Aku adalah Barry Morisson presiden dari Future of Company. Dan pemuda yang kau tunjuk itu adalah pemilik dari perusahaan tersebut." Kata tuan Barry.
"Apa?" Mendengar tuan Barry menyebutkan siapa Jerry ini sebenernya, membuat wanita itu langsung merasa lemas.
"Kartu Blackgold itu. Pantas saja dia memegang kartu itu. Ternyata. Oh Tuhan... Apa yang sudah aku lakukan." Kata wanita itu dalan hati.
"Sudah lah. Aku kemari untuk menanyakan di kamar mana sahabatku yang bernama Riko Obery di rawat?" Tanya Jerry.
"Riko Obery. Maaf Tuan. Saat ini pasien bernama Riko Obery tidak dapat di kunjungi. Ini karena saat ini pasien sedang dalam masa kritis dan masih berada di ruangan unit gawat darurat." Kata staf administrasi itu.
"Terimakasih nona petugas uang." Kata Jerry.
"Tuan Barry.., ayo kita temui Arslan dan pak Ramos." Kata Jerry lalu berjalan mendahului mereka.
Begitu Jerry tiba, Arslan langsung menghampiri dan mengatakan situasinya saat ini.
"Dokter tidak mengizinkan kami untuk masuk Jerry." Kata Arslan.
"Tidak apa-apa Kak. Sebaiknya kita tunggu saja." Kata Jerry.
Cukup lama juga Jerry dan yang lain menunggu dengan gelisah. Ini terutama adalah tuan Obery. Beliau begitu mendapat kabar bahwa Riko putranya mengalami musibah, langsung mengikuti rombongan Jerry ke rumah sakit.
Jerry yang sejak tadi hanya mondar mandir seperti strika menarik nafas legah begitu melihat ke arah pintu yang mulai terbuka.
Tampak seorang dokter bersama beberapa staf kaluar dari ruangan itu dan langsung di sambut oleh Jerry dengan pertanyaan.
"Dokter.., bagaimana dengan sahabat saya?" Tanya Jerry.
"Maaf sebelumnya dengan siapa saya berbicara dan apa hubungan anda dengan pasien?" Tanya dokter tersebut.
"Nama saya adalah Jerry William dan pasien adalah sahabat saya. Oh ya.., Tuan ini adalah Ayah dari pasien" Kata Jerry sambil menunjuk ke arah tuan Obery.
"Begini Tuan Jerry. Saat ini pasien memang sudah melalui tahap kritis. Namun kami harus segera menjalankan operasi. Ini karena pasien mengalami pendarahan di otak, geger otak akibat benturan dan banyak pembuluh darah yang tersumbat. Jika tidak segera menjalani operasi, maka dikhawatirkan pasien bisa meninggal atau paling tidak bisa terkena amnesia." Kata Dokter menjelaskan.
"Baik dokter. Anda lakukan lah yang terbaik. Saya akan mengurus semua pembayaran kepada staf administrasi." Kata Jerry.
"Baiklah Tuan Jerry. Jika demikian, maka izinkan saya meminta diri untuk melakukan persiapan." Kata Dokter tersebut.
"Silahkan Pak dokter!" Kata Jerry dengan hormat.
"Ingat lah untuk tidak mengunjungi pasien. Ini demi kebaikan pasien itu sendiri." Kata dokter tersebut.
"Anda tidak perlu khawatir pak dokter." Kata Jerry.
Setelah mengatakan begitu, dokter mulai meninggalkan mereka untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menjalankan oprasi.
Bersambung...
__ADS_1