PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bersembunyi di rumah Abraham


__ADS_3

MegaTown.


Saat ini salah satu stasiun televisi memberitakan tentang kejadian malam ini di hotel Mega-MegaTown.


Dalam siaran tersebut tampak wartawan sedang meliput keadaan aula pertemuan di hotel yang tampak berantakan tersebut.


Tampak juga mayat-mayat yang tumpang tindih dengan wajah disensor serta beberapa bagian genangan darah juga turut di sensor.


Sepasang lelaki dan wanita setengah baya sedang serius menonton acara itu dan tampak sangat terkejut karena mereka tau bahwa itu adalah hotel Mega milik keluarga Ramendra yang sedang merayakan hari peresmiannya malam ini. Sepasang suami istri ini adalah tuan Abraham dan istrinya.


"Oh Tuhan. Lihatlah betapa mengerikan berita malam ini." Kata wanita separuh baya itu sambil menatap tak berkedip ke layar televisi.


"Itu adalah hotel Mega Bu!" Kata tuan Abraham.


"Untung saja kau tidak di undang ke sana Pa. Jika kau berada di sana malam ini, pasti aku akan menjadi janda." Kata nyonya Abraham.


"Siapa yang berani menyerang hotel itu disaat semua orang-orang besar sedang berkumpul di sana?" Tanya wanita itu.


"Ntahlah Bu. Mungkin ini adalah tindakan dari musuh mendiang Ramendra. Atau mungkin juga musuh Robin. Ini karena aku mendengar dari beberapa kenalan bahwa Robin telah bergabung kembali kedalam keluarga itu." Kata tuan Abraham menduga-duga.


"Semoga saja Robin ini terbunuh di hotel itu." Kata nyonya Abraham dengan geram.


Orang seperti Robin ini nyawanya sangat liat. Sangat sulit untuk membunuh nya." Kata tuan Abraham.


"Aku masih saja sangat dendam dengan Robin ini. Aku berdoa siang dan malam agar dia ini mati di depan ku. Bagaimanapun nyawa Via harus ditebus dengan nyawa anjing nya." Kata nyonya Abraham menyumpah.


"Sabar Bu. Dia dibunuh oleh orang pun aku sudah sangat bersyukur. Yang penting dia mati." Kata tuan Abraham pula.


*


Mobil yang di kendarai oleh Robin, Simon dan Efander melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan hotel Mega mencari selamat.


Ketika tiba di jalan yang sepi, Simon yang bertindak sebagai sopir membelokkan mobil tersebut dan berhenti di pinggir jalan.


"Tuan Robin. Kemana tujuan kita saat ini?" Tanya lelaki berbadan tegap itu.


"Entahlah. Aku juga sedang buntu. Kemana kita harus pergi. Simon, apakah kau mempunyai kenalan?" Tanya Robin.


"Tidak Tuan. Kenalan ku hanya orang-orang kita saja. Aku tidak pernah bergaul dengan orang luar." Jawab Simon.

__ADS_1


"Bagaimana dengan mu, Efander?" Tanya Robin lagi.


"Sama seperti Simon. Aku juga tidak pernah bergaul dengan orang luar." Jawaban yang sama keluar dari mulut Efander membuat Robin sangat kecewa.


"Celaka kalau begini." Kata Robin sambil menurut keningnya.


"Kembali ke Villa Patrik tidak mungkin lagi. Itu sama saja dengan bunuh diri. Jika kita melarikan diri dari negara ini, kita membutuhkan satu hari untuk mengurus dokumen palsu." Kata Robin.


"Apakah Tuan tidak memiliki kenalan lagi yang bisa kita tumpangi?" Tanya Simon.


"Tidur di mobil saja Tuan. Atau kita bisa tidur di penginapan." Ajak Efander.


"kau gila Efander? Saat ini mungkin anak buah Jerry sedang menyisir seluruh hotel dan penginapan. Bahkan mungkin bandara juga akan diawasi juga oleh mereka. Celaka kalau kita sampai ketahuan." Kata Robin.


"Coba Tuan ingat-ingat lagi! Mungkin ada satu atau dua yang bisa menampung kita bersembunyi dalam satu atau dua hari ini." Kata Simon.


Lama juga Robin berfikir keras sambil mengurut-urut keningnya sampai pada akhirnya dia sedikit berteriak girang. "Ha..., masih ada satu orang lagi kenalan ku. Dia adalah tuan Abraham. Dulu dia ini adalah mantan bawahan ku sebelum proyek ku bangkrut." Kata Robin dengan wajah berseri-seri. Tampak seberkas harapan baru muncul di wajahnya yang sudah sedikit keriput.


"Ayo Tuan. Anda beritahu alamatnya dan kita akan kesana sebelum anak-anak buah Jerry menemukan keberadaan kita di sini." Kata Simon.


"Baiklah. Kau jalan lurus sampai ke Traffic light dan ambin jalan ke kanan!" Kata Robin.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Simon langsung tancap gas menuju ke arah yang dikatakan oleh Robin tadi.


**


Jerry yang merasa harus berbuat baik kepada wanita setengah baya itu langsung mempersilahkan Syntia untuk turun dari mobil dan memperhatikan saja wanita setengah baya itu melangkah gontai ke arah pintu pagar Villa itu.


"Hati-hati Bibi. Anda sebaiknya jangan kemana-mana dulu. Istirahat saja dan jangan fikirkan apa yang terjadi. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa. Bukan salah ku Bi. Aku hanya mempertahankan diri. Jika aku tidak melawan, maka aku yang mati di bunuh oleh adik lelaki mu si Fardy itu." Kata Jerry segera memasuki mobil dan ingin berlalu meninggalkan Villa Ramendra tanpa menunggu jawaban dari Syntia namun tidak jadi karena dia masih ingin memastikan Syntia baik-baik saja sampai masuk ke dalam.


Setelah Syntia memasuki Villa itu, Jerry pun segera masuk ke dalam mobil dan berniat hendak pergi. Namun tiba-tiba dia melihat lampu di lantai dua Villa itu menyeruak keluar. Jerry dapat menduga bahwa bias cahaya yang keluar itu adalah karena jendela di lantai dua itu terbuka sehingga cahaya lampu di dalam ruangan itu menyeruak keluar.


Jerry tidak tau untuk apa Syntia yang baru saja dia antar sampai di Villa membuka jendela tersebut sampai lah satu sosok melompat dengan kepala lebih dulu ke bawah.


Akhirnya Jerry pun mendapat jawaban dari pertanyan dalam hatinya atas tindakan Syntia ini. Ternyata wanita itu nekat bunuh diri dengan cara terjun dari atas dengan kepala terlebih dahulu ke bawah.


"Oh Tuhan. Mengapa mengenaskan sekali nasib mu Bi? Orang yang berbuat, kau turut terkena imbas nya." Kata Jerry dalam hati tanpa dia tau bahwa Syntia juga terlibat dalam rencana ini.


Mungkin terlalu shock atau harapannya telah sirna, wanita setengah baya itu nekat mengakhiri hidupnya sendiri.

__ADS_1


"Rasanya sudah cukup aku membantu mu Bi. Jika aku kesana untuk mengurus mayatmu, sudah pasti aku akan menjadi tersangka oleh pihak polisi. Sebaiknya aku tinggalkan saja. Semoga nanti ada yang melihat mu." Kata Jerry dalam hati lalu segera menyalakan mobilnya dan berlalu meninggalkan Pagar depan Villa Ramendra itu.


***


Saat ini, mobil yang di kendarai oleh Simon dan Efander yang tersisa untuk msngawal Robin sudah memasuki halaman rumah yang tidak terlalu megah. Rumah itu adalah milik tuan Abraham.


Setelah mereka tiba, Simon pun segera memilih tempat parkir yang agak terlindung oleh pohon-pohon cemara dan mereka bertiga langsung keluar dari mobil itu dan segera berjalan menuju kearah pintu rumah tersebut.


Orang yang berada di dalam samar-samar mendengar bel berdering dan satu suara memanggil nama pemilik rumah pun terdengar.


"Abraham..! Apakah kau ada di dalam? Ini aku Robin. Buka lah pintu rumahmu dan izinkan aku untuk penumpang hanya malam ini saja!" Kata Robin dari luar.


"Itu adalah Robin Pa. Apakah kau akan mengizinkan lelaki bangsat itu untuk memasuki rumah kita?"Tanya Nyonya Abraham.


"Hahaha... Berputar roda pedati. Kadang di atas, kadang di bawah. Tidak terlalu lama bagi kita menunggu Robin ini berada pada titik paling rendah dalam hidupnya. Mari kita sambut dia." Kata tuan Abraham.


"Kau...! Apakah kau masih ingin menjilat kepada manusia iblis itu?" Kata. nyonya Abraham dengan suara tercekat.


"Kau akan tau nanti. Bersikaplah yang wajar seperti biasa. Ingat! Aku memiliki rencana. Jangan kacaukan rencanaku dengan kemarahan mu. Kita pasti bisa membalas kematian anak gadis kita." Kata tuan Abraham meyakinkan istrinya.


"Tapi Pa.., bagaimana caranya?"


"Sudah lah. Kau tidak perlu memikirkan itu. Tugasmu adalah bersikap wajar. Jangan tunjukkan kebencian kepada iblis itu." Kata tuan Abraham berpesan.


"Abraham...! Apakah kau ada di dalam?" tanya suara dari luar itu.


"Ada. Sebentar Tuan." Kata tuan Abraham sambil membukakan pintu.


"Eh Tuan Robin. Ada apa kau sangat tergesa-gesa seperti ini?" Tanya tuan Abraham berbasa basi.


"Kacau. Semuanya kacau. Sudah jangan banyak tanya. Aku hanya ingin penumpang menginap di rumahmu malam ini. Besok aku akan berangkat ke luar negri. Apakah boleh?" Tanya Robin sedikit memaksa.


"Oh.., tentu saja boleh Tuan. Kau kan adalah mantan Bos ku. Silahkan Tuan!" Kata tuan Abraham mempersilahkan.


"Hmmmm.., Terimakasih." Kata Robin cuek-cuek saja dan melangkah masuk seperti memasuki rumahnya sendiri saja.


"Abraham. Aku lapar. Apakah istrimu bisa menyediakan makanan untukku?" Tanya Robin.


"Wah Tuan. Makanan kami habis. Sudah selarut ini. Mana ada makanan lagi. bagaimana jika aku keluar sebentar membelikan makanan untuk anda?" Tanya tuan Abraham.

__ADS_1


"Hmmm.., boleh juga. Jangan lama-lama!" Kata Robin.


"Baik Tuan." Jawab tuan Abraham lalu bergegas ke bagasi bersama istrinya untuk pergi mencari restoran membelikan makanan untuk Robin.


__ADS_2