PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 40 Ragu


__ADS_3

"Be - benar non". Jawab bik Jusma dengan wajah ketakutan. Ia sebenarnya ingin mengatakan kalau Ronal akan datang malam ini tapi jika Jasmin tahu maka rencana Haikal akan gagal.


Ia akan menerima resiko asal bisa membantu Haikal menjalankan rencana


Jasmin yang awalnya tampak curiga berubah sumbringan karena merasa terharu dengan niat baik Haikal. Ia terharu karena Haikal adalah lelaki pertama yang memperlakukan nya dengan baik, bahkan ayah kandungnya sendiri pun tidak sehangat Haikal memperlakukan nya.


"Nggak sabar pula menunggu malam ini tiba. Aku pikir kamu sengaja meninggal kan ku di taman seorang diri karena bosan tapi ternyata kamu sedang merencanakan sesuatu untuk membuat kejutan untuk ku. Kalau begitu aku minta maaf karena sempat fikir macam - macam sama kamu tadi". Imbuh Jasmin sambil menggenggam tangan Haikal erat..


"Ng - nggak papa kok, santai saja. Aku sama sekali nggak meminta kamu untuk menganggap ku baik. Aku hanya ingin kamu merasa nyaman jika berada di dekat ku". Sahut Haikal salah tingkah karena Jasmin bersikap manja tepat di hadapan bik Jusman.


"Aku ke kamar dulu untuk mempersiapkan diri. Tunggu aku datang ke kamar mu, yah". Bisik Jasmin tepat si telinga Haikal lalu berlari meninggalkan pria itu bersama bik Jusman sambil sesekali melompat kegirangan saking senang nya.


Haikal langsung menggosok telinganya dengan sedikit kasar karena ia merinding mendengar bisikan Jasmin tadi. Saat melirik bik Jusma, Haikal hanya bisa mengangkat bahunya menjawab kebingungan yang terpancar dari tatapan wanita itu.


"Tampaknya den Haikal memiliki bakat yang sama dengan tuan Zack. Strategi yang ia jalan kan nggak pernah gagal dan salah sasaran. Sekarang non Jasmin menjadi target misi nya. Semoga ia berhasil dan semoga juga non Jasmin tak sampai gila saat mengetahui niat sebenar den Haikal kepada nya. Dari wajah tadi bisa di pasti kan kalau ia benar - benar jatuh cinta pada anak muda ini". Gumam bik Jusma dalam hati.


Mulan datang menghampiri mereka dengan membawa nampan berisi gorengan lengkap dengan sambel dan minuman hangat untuk Haikal.


"Nah". Mulan meletakkan nampan tersebut dengan kasar di atas meja dengan waja yang cemberut. Dapat di pastikan sepanjang ia memasak penuh dengan omelan karena merasa keberatan dengan permintaan Haikal tadi.


"Jika sudah habis, sila bersihkan sendiri! Aku mau beristirahat". Kerus Mulan dengan senyum sinis nya. Ia kemudian meninggalkan mereka dengan menghentakkan kaki menuju kamarnya.


"Jangan ambil hati. Ia memang seperti itu, hanya pak Ronal yang ia hormati. Jadi den cukup fokus pada rencana den Saja nggak perlu peduli pada perkara lain. Sebisa mungkin bibik akan memberi informasi yang den butuh kan". Imbuh Bik Jusma. .


Haikal hanya menanggapi dengan senyum. Ia sudah cukup dewasa bahkan sebelum usianya remaja. Ia sudah di paksa bersikap dewasa oleh keadaan. Menurutnya sikap Mulan bukan apa - apa bagi nya.


Setelah selesai, Haikal kembali menghampiri bik Jusma untuk mengingatkan wanita itu tentang rencana mereka malam ini. Meskipun tak sepenuhnya ia ceritakan pada bik Jusma, tapi Haikal yakin bik Jusma bisa di percaya dalam menjalan kan misinya berbanding pembantu yang bernama Mulan..


Sebenarnya bik Jusma ingin menyampaikan semua nya secara langsung pada Haikal karena khawatir pada anak muda itu, tapi ia urungkan karena semua ini jua demi mengembangkan jati diri Haikal. Biarkan anak muda itu mencari tahu semua nya sendiri dengan cara nya sendiri. Jika sudah waktunya, ia juga akan mengatakan semuanya sebagai saksi.

__ADS_1


*


*


Tok,, tok,, tok,,


Pintu kamar di ketuk sementara Haikal hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya. "Sebentar!". Teriak Haikal. Ia yakin pembantu judes itu sudah datang membawakan nya makan malam.


Ia sengaja berlambat - lambat supaya pembantu itu kembali kesal. Ia memakai baju yang sudah ia persiapkan sebelum nya, menyemprot kan parfum pemberian Jasmin, tetapi sengaja membiarkan rambutnya acak - acakan agar terlihat lebih seksi.


Ia kemudian sengaja berjalan lambat menuju pintu, terdengar samar - samar, Mulan mengomel di luar pintu. Haikal merasa itu adalah hiburan tersendiri untuk nya. "Siapa suruh judes banget jadi orang. Orang baik - baik malah di sambut dingin". Ujar Haikal.


"Silakan masuk". Ujar Haikal saat pintu sudah terbuka.


Mulan menjelang Haikal malas. Wajah nya sama sekali tak ada manis - manis nya untuk di pandang. Ia me dorong troli makanan masuk ke dalam kamar dan menatanya di atas meja. Setelah selesai, Mulan langsung keluar tanpa mengatakan sepatah katapun pada Haikal.


Cek lek...


Pintu di buka dari luar tanpa diketuk terlebih dahulu.


"Maaf. Kamu pasti lama ya nunggunya". Ujar Jasmin saat memasuki kamar. Tak lupa ia menutup kembali pintu dan menguncinya dari dalam.


Haikal tak lepas menatap Jasmin, bukan karena terpesona pada penampilan wanita itu, tapi ia ingin tahu di mana kunci kamarnya di simpan jadi ia nggak perlu lagi mencari nanti.


"Kamu kok tatap aku seperti itu? Aku nggak cantik yah?". Tanya Jasmin dengan tatapan genit khusus miliknya.


"Kamu cantik sekali". Puji Haikal meskipun harus menahan mual.


Jasmin tersipu malu. Dengan baju seksi sebatas paha dengan memperlihatkan sebagian dadanya ia berjalan dengan yakin mendekati Haikal. Ia dengan percaya diri duduk menyilangkan kaki menghadap Haikal.

__ADS_1


"Semoga aku bisa melewati malam ini dengan aman". Batin Haikal penuh Harap.


"Ternyata selera berpakaian kamu keren juga, yah. Kamu tampak maco dengan rambut yang acak - acakan seperti itu". Puji Jasmin tak lepas menatap Haikal dari hujung rambut ke hujung kaki.


"Oh, maaf. Aku belum sempat merapikan rambut tadi". Kata Haikal sambil memperbaiki tatanan rambutnya.


"Eh, nggak perlu! Aku suka lihat rambut kamu". Halang Jasmin.


"Tapi...". Ucap Haikal.


"Nggak ada tapi - tapian! Sini duduk!". Panggil Jasmin dengan menggerakkan jari telunjuk nya manju mundur.


Haikal menurut dengan sesekali membalas tatapan Jasmin tak kalah nakal.


"Aduh, pendingin di kamar kamu rusak, ya? Kok sekarang rasa nya panas banget, sih". Ujar Jasmin sambil mengibas - ngibaskan tangan ke wajah.


"Hah, nggak kok. Mungkin perasaan kamu saja. Itu ada jus dingin, minum saja pasti akan membuat tubuh mu sedikit mendingan". Saran Haikal. Ia sengaja meningkatkan suhu di kamar ini agar Jasmin merasa gerah sedangkan ia sudah terbiasa dengan cuaca panas.


Jasmin tampak menatap jus di atas meja dengan ragu. Ia khawatir kalau di salah satu gelas itu terdapat obat yang biasa di berikan untuk Haikal.


"Kenapa di lihat aja jus nya? Minum lah". Tawar Haikal menyodorkan segelas jus padanya.


"I - itu jus untuk kamu atau memang khusus untuk ku?". Tanya Jasmin memastikan, ia tidak mau senjata yang ia gunakan mala balik menyerangnya.


"Tadi bibik bilang kalau gelas ini aku punya dan yang nih kamu punya". Jawab Haikal asal.


"Benar kah?". Jasmin tampak masih ragu.


"Kamu kok ragu gitu sih? Ini kan cuma jus saja. Kamu takut aku meletakkan obat tidur di minuman kamu? Tenang aja aku nggak meletakkan apa - apa kok. Kalau kamu nggak percaya minum punya aku aja". Haikal sebenarnya menyindir Jasmin tapi entah lah, ia terasa atau tidak..

__ADS_1


__ADS_2