PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Pertemuan sahabat.


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Jerry, Ryan, Riko, Daniel, Ivan, Arslan dan Herey telah berkumpul di depan hotel mutiara.


Sesuai dengan janji yang telah mereka sepakati bersama, bahwa pagi ini mereka akan kembali ke Starhill setelah lebih setengah tahun Ivan dan Jerry tidak pernah lagi menginjakkan kaki nya di kota sejuta kenangan itu. Ini terutama bagi Jerry.


Starhill bukan hanya kota markas terbesar bagi perusahaan Future of Company. Kota itu juga saksi bisu jatuh bangun nya seorang Jerry William sang mahasiswa miskin sekarat nan melarat hingga menjadi konglomerat.


Starhill juga adalah kota di mana Jerry pertama kali mengenal arti di cintai dan mencintai walau akhirnya harus kandas karena beberapa ketidak sefahaman.


Tak lama setelah mereka berkumpul, sebuah mobil Rolls Royce meluncur dengan kecepatan sedang, menghampiri mereka.


Begitu mobil itu berhenti, tampak seorang gadis berambut panjang dengan mata bening yang indah keluar dari dalam mobil dan langsung menubruk tubuh Ivan dengan manja.


Kejadian ini kontan saja membuat semua yang berada di tempat itu tertawa terbahak-bahak melihat tingkah sepasang kekasih ini.


"Lorna, kau sendirian? Mana Adelle?" Tanya Ivan.


"Adelle tidak mau ikut. Ini karena David belum sadarkan diri. Dia tidak mau hanya menjadi penjaga nyamuk untuk kita. Aku hanya meminta pengawal ku untuk mengantar ku ke sini" Kata Lorna sedikit cemberut.


"Ya sudah tidak apa-apa. Ada aku yang akan selalu melindungi dirimu." Kata Ivan sambil menyibakkan rambut panjang Lorna yang tergerai di tiup angin.


"Wooooy.... Apa kau kira kami ini tungguuuuul?" Teriak Daniel dan Ryan menggoda mereka.


"Ah. Kalian selalu saja begitu." Kata Ivan cemberut. Namun tak lama kemudian dia juga tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Ryan dan Daniel yang melongo.


"Eh Jerry. Siapa lagi yang kita tunggu." Tanya Lorna.


"Ada. Nanti akan aku kenalkan kepada kalian." Jawab Jerry sambil tersenyum.


Tak lama setelah itu, dari hotel mutiara keluar seorang gadis yang memiliki kecantikan alami tanpa bedak tanpa lipstik dengan pakaian juga sederhana melangkah dengan anggun menghampiri mereka.


Ivan, Herey, Lorna Arslan dan juga Riko seakan tidak berkedip melihat sosok gadis imut itu berjalan ke arah Jerry.


"Kak. Apakah kita jadi berangkat ke apa tadi namanya?" Tanya gadis yang baru saja tiba itu.


"Starhill. Nama kota nya adalah Starhill, Clara." Kata Jerry menjawab pertanyaan Clara.


"Oh ya... Perkenalkan! Ini adalah Clara. Dan Clara, ini adalah sahabat- sahabat ku." Kata Jerry memperkenalkan sahabat-sahabatnya kepada Clara.


Selain Ryan dan Daniel, yang lain memang belum mengenal Clara. Ini karena Clara hanya berada di hotel saja sepanjang waktu kecuali ketika mereka menangkap basah tuan Richard yang berhianat bersama anak buah nya.


Dengan senyum yang sangat manis Clara menyalami satu per satu antara mereka yang berada di tempat itu.


Setelah itu Clara langsung bertanya kepada Jerry. "Kak.., Kita ke Starhill naik apa?" Tanya Clara dengan polos.


"Naik mobil, sayang. Ini karena kita ingin menikmati perjalanan dan sesekali touring bersama."


"Bukankah kita sangat jarang touring bersama ya kan?" Tanya Jerry kepada sahabat-sahabat nya.


"Benar Jerry. Ini adalah kesempatan kita untuk menikmati perjalanan setelah perjalanan kemarin kami hampir mati." Kata Riko dengan tersenyum kecut.

__ADS_1


"Ya sudah. Ayo kita berangkat!" Kata Jerry sambil berjalan menuju ke arah mobil Aston Martin Vantage miliknya.


"Huhh... Aku pikir kau adalah orang yang sangat kaya dan memiliki mobil yang besar. Ternyata kau sangat miskin." Kata Clara sambil bersungut-sungut.


Jerry yang membukakan pintu untuk Clara jadi tercengang mendengar perkataan Clara ini.


Bukan hanya Jerry yang terbengong. Yang lain juga ikut melongo mendengar seorang pemuda yang kaya raya dikatain seperti itu oleh Clara.


"Ada apa sayang? Mengapa kau cemberut?" Tanya Jerry yang tidak mengerti.


"Ayah ku yang tidak mengaku kaya pun memiliki mobil yang besar dan ada empat pintu. Kau yang katanya kaya mengapa mobil mu hanya memiliki dua pintu dan hanya ada dua kursi saja?" Tanya Clara dengan lugu nya.


Mereka semua saling pandang dan menyembunyikan senyum kecut ketika mendengar Clara menghina mobil Aston Martin yang mahal milik Jerry.


"Kak.., kemana mobil yang kita kendarai waktu kita berangkat dari mountain slope itu?" Tanya Clara.


"Clara.., itu kan mobil milik tuan Raven. Ini adalah mobil milik ku. Walau pun jelek, apakah kau tidak sudi?" Tanya Jerry dengan lembut.


"Baiklah. Ayo kita berangkat!" Kata Clara mengalah.


Tak lama setelah perdebatan ringan itu berlangsung, masing-masing mereka kini mulai memasuki kendaraan mereka lalu di pimpin oleh Ivan, rombongan itu mulai bergerak menuju ke jalan yang melalui jembatan penghubung Metro city-MegaTown lalu berbelok ke kanan menuju ke Hillstreet hingga akhirnya mereka sampai di Starhill.


Di sepanjang perjalanan, Jerry tidak henti-hentinya menjelaskan nama-nama tempat yang mereka lalui kepada Clara. Ini supaya suatu saat Clara bisa mengenali tempat-tempat yang mereka lalui agar tidak nyasar.


Bagi Clara itu sama sekali tidak berguna. Bagaimana mungkin dia bisa nyasar? Nyetir mobil pun dia tidak bisa.


Begitu rombongan itu hampir sampai di kafe depan kampus Golden university, Ivan mulai memperlambat laju kendaraan nya dan mulai berbelok memasuki kawasan halaman depan kafe yang tidak seberapa luas itu dan memarkir mobil nya lalu keluar karena di kafe tersebut sudah ada beberapa sahabat yang menunggu kedatangan mereka sesuai dengan janji mereka kemarin.


"Woy Jerry.., Riko... Hahaha... kalian baru sampai." Tanya seorang pemuda sebaya dengan mereka.


"Hey Herman. Bagaimana dengan keadaan mu?" Tanya Ryan.


"Lumayan baik sekarang. Ah aku terlalu rindu dengan kalian." Kata Herman sambil memeluk Rindy.


"Hal konyol kembali terjadi." Rutuk Ryan begitu melihat Herman bukan memeluk mereka malah memeluk Rindy.


"Kalian bayangkan saja. Selama aku berada di tempat rehabilitasi, aku nyaris terputus hubungan dengan dunia luar." Kata Herman masih tetap merangkul Rindy yang sedikit malu-malu ketika melirik ke arah Daniel.


Sementara Itu Rina dan Jenny juga tersipu malu-malu melihat sang pujaan hati mereka juga berada tepat di depan mereka saat ini.


"Woy... Ayo dekati!" Kata Ryan sambil menyikut perut Riko.


"Kau saja duluan!" Kata Riko dengan wajah bersemu merah.


"Wah bodoh nya kau ini. Berantem saja jago. Sama wanita kau mendadak bacul." Kata Ryan dengan geram.


"Apakah kau berani mendahului?" Tanya Riko.


"Iya tidak." Jawab Ryan sekena nya saja.

__ADS_1


"Terus saja kalian bertengkar sampai tumbuh jamur." Kata Ivan menegur kedua anak muda itu.


"Huhh.., tau begini aku malas menunggu di sini dari tadi." Kata Rina sewot.


"Benar Rina. Ayo kita pulang saja!" Kata Jenny sambil menarik lengan Rina agar segera berlalu dari tempat itu.


Sebenarnya mereka tidak benar-benar ingin pergi. Ini mereka lakukan adalah untuk memancing reaksi dari Riko dan Ryan. Karena walau bagaimanapun, bagi mereka tidak baik wanita yang mendahului. Apa kata dunia nanti?


Melihat Rina dan Jenny sudah hampir akan meninggalkan kafe tersebut membuat Ryan dan Riko berteriak bersamaan. " Jangaaan!!!" Kata mereka.


"Itu lah kau." Kata Ryan sambil menjauhi Riko dan menghampiri Jenny.


"Em.., ap.., apa kabar sayang?" Tanya Ryan salah tingkah.


"Kabar baik namun suasana hati mendadak buruk." Jawab Jenny dengan ketus.


"Kau kalau ketus begitu, kau sangat mirip dengan mendiang nenek ku ketika masih gadis." Kata Ryan sesukanya saja.


Suasana mendadak pecah dengan gelak tawa begitu mereka mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Ryan dengan gaya canggung dan kaku tersebut.


"Apa tidak ada kata-kata yang lebih romantis dari pada itu?" Tanya Riko menahan tawa.


"Kau juga sama." Kata Rina sambil menjewer telinga Riko membuat Riko mengadu kesakitan.


"Ampun sayang ku.., bulan ku.., bintang ku.., matahari ku.., Apa lagi Jerry?" Tanya Riko.


"Pluto ku.., Mars ku.., Jupiter ku..." Kata Jerry di iringi gelak tawa mereka yang ada di tempat itu.


Lalu Jerry dengan serius kembali berkata, "Oh ya teman-teman. Untuk merayakan pertemuan kita ini, dan juga merayakan kesyukuran karena Herman telah kembali kepada kita, aku ingin mengajak kalian makan malam, malam ini di Lotus mansion. Bagaimana menurut kalian?" Tanya Jerry.


"Wah... Apakah itu di kamar platinum seperti tempat Rindy merayakan ulang tahun nya dulu?" Tanya Rina.


"Hehehe... Kita bahkan akan makan malam di Kamar Diamond." Kata Jerry tanpa bermaksud menyombongkan diri.


"Ok. Sekarang kita bubar dulu dan sampai ketemu lagi nanti malam. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Hellen." Kata Daniel yang sejak tadi diam saja.


"Kau Daniel...?!" Kata Riko sambil mengacungkan tinju nya.


"Hahaha.., demi cintaku kepada Hellen, tinju Mike tyson sang legenda pun tidak akan membuat ku mundur." Kata Daniel sambil buru-buru menghampiri mobil nya.


"Kak Arslan dan Herey. Karena kalian telah banyak membantu ku, aku ingin memberikan hadiah untuk kalian. Ayo ikuti aku!" Kata Jerry.


"Hadiah apa Jerry?" Tanya Arslan penasaran.


"Apakah Kak Arslan tidak bosan naik motor terus? Sore ini kita berangkat ke Jewel Star untuk melihat-lihat mobil di sana. Potong gaji 4 tahun." Kata Jerry tertawa terbahak-bahak di ikuti dengan senyuman masam dari Ryan dan Daniel.


"Apakah kita langsung bubar Jerry? Kau bahkan belum memperkenalkan nona yang berada di samping mu itu kepada kami?" Kata Herman.


"Oh iya benar. Ayo sayang perkenakan! Yang ini Herman. Yang ini Rindy. Ini Jenny dan yang ini Rina." Kata Jerry.

__ADS_1


Clara dengan senyuman yang manis mulai menyalami mereka satu persatu sebelum akhirnya mereka berpisah untuk bertemu lagi dalam acara makan malam di Lotus mansion malam ini.


Bersambung...


__ADS_2