
"Aku tahu kok, karena aku yang sebenarnya yang meminta bibik untuk menaruh sesuatu di setiap minuman kamu agar....". Jasmin langsung menutup mulutnya karena hampir saja keceplosan..
"Menaruh sesuatu di minuman ku? Jadi selama ini kamu berniat buruk pada ku?". Pancing Haikal, ia ingin Jasmin jujur sendiri dengan perbuatan nya.
"Bu - bukan begitu maksud ku. Aku hanya asal bicara tadi supaya kamu nggak merasa bersalah lagi. Kamu serius kan setuju untuk membalas dendam kami pada keluarga Purbalingga?". Tanya Jasmin mengalihkan pembicaraan.
"Ini kan dendam keluargaku sudah seharusnya aku membalasnya. Enak aja mereka hidup senang setelah membunuh kedua orang tua ku dan membuat keluargaku menderita". Sahut Haikal mengiyakan pertanyaan Jasmin.
Jasmin memeluk Haikal dari samping saking senang nya karena Haikal mau menuruti keinginan nya.
"Kalau boleh tahu kenapa kamu tiba - tiba berubah pikiran? Kata Ronal kamu awal sama sekali tidak berminat pada dendam keluarga ini". Jasmin penasaran.
Haikal akan mengeluarkan jurus merayu nya lagi untuk mengelabuhi Jasmin agar semakin berlutut pada nya dan tidak akan lagi berniat untuk mengekangnya di rumah ini.
"Itu berkat kamu juga. Kamu berhasil membuat ku sadar kalau yang kalian lakukan selama ini pada adalah yang terbaik. Dan sudah saat nya aku membalas jasa kamu dan om Ronal dengan membalas dendam kalian pada orang yang telah berani mengusik kehidupan keluarga kita". Ujar Haikal sambil menggenggam tangan Jasmin lembut.
"Tapi aku bingung harus memulai dari mana. Aku masih perlu tunjuk ajar dari orang - orang yang lebih dewasa dan kuat". Sambung nya dengan wajah sedih.
"Kamu tenang saja, aku akan memperkenalkan kamu dengan seseorang yang sangat berpengalaman dalam bertarung dan memiliki anak buah yang cukup banyak. Dia sering di percayaan Ronal untuk menjalankan misi. Ronal pasti setuju kalau kamu belajar segala hal dari nya". Sahut Jasmin menenangkan kegundaaan Haikal.
Jasmin pamit ke kamar pada Haikal karena mereka badannya masih cukup lelah dan nyeri di mana - mana. Ia ingin istirahat dan mencoba melupakan kenyataan kalau Ronal sudah mencicipi tubuhnya tanpa sepengetahuan darinya. Sebelum nya ia sendiri yang mengemis pada Ronal untuk di sentuh tapi pria paruh baya itu sangat cuek padanya. Entah kenapa semalam ia tiba - tiba melakukannya pada Jasmin saat wanita itu tidak sadar kan diri.
"Aneh nya lagi, Ronal langsung berubah bersikap lembut padaku, apa dia akhirnya menyadari kalau tubuh ini masih segar dan masih tak kalah nikmat dengan milik gadis - gadis di luar sana? Maka nya jangan cuek - cuek bebek pada ku, setelah menikmatinya kamu langsung luluh padaku kan". Gumam Jasmin sepanjang perjalanan menuju kamarnya, ia berjalan tertatih - tatih karena merasa nyeri di bahagian intim nya.
"Sebesar apa sih miliknya sampai membuat anu mu nyeri begini?". Jasmin tampak kesal sambil memegang alat intimnya perlahan.
__ADS_1
Sesampai di kamar, ia langsung berbaring untuk menghilangkan sedikit rasa nyeri di tubuhnya.
Sementara Haikal juga masuk ke dalam kamar nya memeriksa apa yang tertulis di kertas yang ia ambil dari kamar Jasmin semalam. Ia mengunci pintu dari dalam supaya nggak ada yang masuk saat ia sedang tidak ingin di ganggu.
"Sebenarnya ini foto siapa?". Bingung Haikal sambil memerhatikan dengan seksama wajah wanita dan pria yang ada di foto itu.
"Ini seperti foto papa Zack saat muda. Tapi ekspresinya wajahnya sama sekali tak bahagia saat dekat dengan wanita itu, berbanding terbalik dengan wanita itu, ia menatap papa Zack dengan penuh Cinta. Bahkan tidak peduli kalau papa Zack menatap nya dengan jijik". Gumam Haikal saat memastikan kalau pria itu adalah Zack saat masih muda.
"Kalau papa Zack benar - benar papa kandung ku, kenapa wajah kami sama sekali tak ada mirip - miripnya walau sedikit pun? Bahkan wajah kami berdua sangat jauh berbeda seperti tiada pertalian darah". Pikir Haikal.
Sudah puas memindai wajah mereka. Haikal beralih pada kertas yang bertuliskan dengan tintah merah.
'Kamu selama nya akan menjadi milik ku! Tiada siapa pun yang bisa mendapatkan mu kecuali diri ku. Aku akan membuat hidup wanita yang kau cintai menderita hingga merasa hidup segan mati tak mau. Lihat saja kalian tak akan pernah hidup bahagia atas penderitaan ku'. CLEO
Ia kemudian melihat kertas dari klinik kecantikan, wanita yang bernama Cleo itu pernah melakukan operasi plastik untuk mengubah keseluruhan wajah nya. Di surat klinik itu juga di selitkan sebuah foto berukuran kecil.
"Ini kan foto tante Jasmin? Tapi kok agak berbeda yah? Bukan hanya terlihat lebih muda dan tak memakai polesan tapi wajah di foto ini sedikit menyejukkan jiwa yang melihatnya, senyuman nya tampak sangat tulus dan memancarkan hati yang baik daru senyuman nya. Tidak seperti tante Jasmin yang sekarang, sangat berbanding terbalik dengan yang ada di foto ini". Gumam Haikal.
Seketika ia menyadari sesuatu. "Atau jangan - jangan wanita bernama Cleo ini menukar wajah nya menjadi seperti wanita yang ada di foto ini. Tapi untuk apa?". Haikal semakin di buat bingung dengan teka - teki Jasmin.
Ia semakin penasaran dengan semua kertas yang ada di dalam brangkas kamar Jasmin. Sisa kertas yang tertinggal pasti menjawab semua teka - teki yang bermain di pikirannya saat ini. Ia memutuskan untuk merencanakan sesuatu agar bisa masuk ke kamar wanita itu lagi tanpa di curigai.
*
*
__ADS_1
Di tempat yang berbeda, Karina sedang berlatih dengan bersungguh - sungguh dengan peralatan yang disediakan dengan tunjuk ajar Seorang pria yang cukup berpengalaman dalam bidang menembak.
Saat Karina kembali ingin meluncurkan peluru untuk kesekian kali nya, Ambil tiba - tiba datang mengagetkan sehingga ia salah sasaran dan peluru meleset.
" Dorrr". Ambil sengaja mengagetkan Karina.
"S14LLL!!". Maki Karina kesal.
"Ha ha ha". Ambil tertawa terbahak - bahak karena Karina lagi - lagi gagal menembak dengan benar.
"Lo bisa nggak tidak ganggu gue sehari aja. Aku jadi tidak fokus berlatih". Kesal Karina.
"Halah, biar gue nggak datang pun lo tetap nggak bakalan menembak tepat sasaran. Lihat! Dari tadi kamu hanya menembak di angka kecil saja. Payah! Ha ha ha. .". Ambil kembali terbahak menertawakan Karina yang nggak becus berlatih.
"Lo kalau mau datang menertawakan gue, lebih baik pergi aja deh! Gue enek lihat muka lo". Usir Karina.
Bukan nya pergi karena di usir, Ambil malah semakin mendekati Karina dan berdiri di belakang wanita itu. "Sini aku ajarkan agar kamu lebih tepat menembaknya". Ujar Ambil dengan suara parau nya.
Karina terdiam di tempat karena Ambil tiba - tiba sangat dekat dengan nya dan menggenggam tangan nya untuk mengambil ancang - ancang menembak. "Pejam kan sebelah mata kamu, dan budak peluru di tengah - tengah. Tarik nafas dulu agar kamu lebih santai". Abil memberi instruksi pada Karina.
Karina nurut walau pun sekarang hatinya tiba - tiba menghangat. "Dorrr". Satu tembakan berhasil meluncur tepat sasaran.
"Yeh,, akhirnya aku bisa!". Teriak Karina tanpa sadar memeluk Abil dan melompat - lompat riang.
"Ada orang senang nih. Padahal tadi mengusir". Sindir Abil.
__ADS_1