
"Bugh..."
"Aduh..."
Terdengar keluhan pendek dari sosok tubuh yang terjatuh dari balai depan gubuk yang sederhana itu.
"Biar saja Clara. Biar pemuda itu berusaha sendiri. Dia perlu menguatkan semangatnya jika ingin kembali normal." Kata seorang lelaki tua mencegah seorang gadis untuk menolong seorang pemuda yang terjatuh.
Pemuda itu kini mulai beringsut mendekati sebatang pohon kayu berukuran sebesar betis orang dewasa dan mulai memeluk batang pohon tersebut agar bisa dijadikan penopang tubuh untuk bangkit.
"Anak muda. Ayo bangun! Kau harus bisa tanpa bantuan siapa pun. Tunjukkan semangat hidup mu yang membuat aku mengagumi mu." Kata lelaki tua itu.
"Sudah lah Ayah. Jangan terlalu memaksa anak itu. Ayo Clara, bantu anak muda itu masuk. Sudah waktunya sarapan!" Kata seorang wanita separuh baya sambil meletakkan makanan untuk sarapan mereka pagi itu.
Clara pun langsung menurut saja perintah ibu nya dan membantu pemuda itu untuk berjalan.
Setelah selesai sarapan, Clara langsung memasuki kamarnya dan menyerahkan sebuah dompet kepada pemuda itu.
"Kak. Ini aku temukan ketika menarik tubuhmu dari sungai." Kata Clara sambil menyerahkan dompet tersebut kepada pemuda itu.
"Anak muda. Aku ingin tau siapa nama mu dan dari mana asalmu?" Tanya lelaki tua itu dengan tatapan serius.
"Nama saya adalah Jerry William Kek."
"Prang...!"
Terdengar suara piring jatuh ke lantai begitu pemuda itu menyebutkan nama belakang nya.
"Ada apa dengan mu Roxana?" Tanya lelaki tua itu.
Roxana tidak menjawab pertanyaan lelaki tua itu. Dia malah menatap Jerry dan langsung bertanya. "Apakah aku tidak salah dengar. Siapa tadi nama belakang mu anak muda?" Tanya Roxana.
"William Bibi. Nama saya Jerry dan William itu adalah nama keluarga." Jawab Jerry dengan sedikit heran dengan respon yang di tunjukkan wanita setengah baya itu.
"Apakah kau dari Metro city?" Tanya Roxana.
"Mengapa Bibi tau Metro city?" Tanya Jerry heran.
"Apa hubungan mu dengan William King?" Tanya Roxana lagi.
"Bibi kenal dengan kakek saya?" Tanya Jerry.
__ADS_1
"Pantas. Pantas saja aku sangat familiar dengan wajah mu itu. Kau sangat mirip dengan tuan muda Wilson." Kata Roxana.
"Wilson William adalah ayah ku." Jawab Jerry.
"Oh Tuhan... Ternyata aku telah di pertemukan dengan anak majikan ku. Maafkan aku Tuan muda." Kata Roxana.
"Majikan? Apakah Bibi pernah bekerja di perusahaan milik kakek saya?" Tanya Jerry.
"Tidak. Tepatnya adalah. Almarhum suami ku ayahnya Clara ini adalah adik angkat ayah mu. Dia tidak bisa dikatakan sebagai bawahan tapi lebih ke pengawal bayangan untuk ayah mu." Kata Roxana.
"Tapi sangat di sayangkan bahwa umurnya tak panjang. Ketika itu telah terjadi bentrok yang melibatkan almarhum suami ku dengan salah satu keluarga kaya paling berpengaruh di Metro city yang berbuntut pada penculikan terhadap diriku. Suamiku ketika itu berusaha untuk membebaskan diriku. Namun dia kalah dan mengalami cedera yang sangat parah."
"Mereka mengira bahwa aku telah mati dan membuang tubuh ku ke dalam sungai dan hanyut terbawa arus. Masih untung Ayah angkat menyelamatkan ku. Ketika itu aku masih hamil Clara 4 bulan." Kata Roxana menuturkan kisah nya.
"Lalu setelah itu apa yang terjadi Bibi?" Tanya Jerry.
"Aku tidak tau apa-apa lagi setelah itu. Yang aku tau dari kabar angin bahwa tuan muda Wilson juga telah di bunuh oleh seorang sniper tanpa identitas di persimpangan lampu merah menuju bukit Metro. Kabar angin juga mengatakan bahwa setelah kejadian itu, anak tuan muda ku juga turut menghilang dari rumah sakit bersalin Metro city."
"Maaf Bibi.., Jika aku boleh tau, siapa nama almarhum suami Bibi itu?" Tanya Jerry ingin tau.
"Almarhum suami ku itu bernama Drako."
"Serrrr..."
"Drako...?"
"Ya Drako." Kata Roxana menegaskan.
"Apakah maksud Bibi Drako ini adalah ketua Dragon empire?" Tanya Jerry.
"Darimana Tuan muda tau Dragon empire. Dragon empire ini sudah terkubur selama 22 tahun. Mungkin Tuan muda Jerry ketika itu belum lahir." Kata Roxana.
"Maaf Bibi. Jika Drako ini yang anda maksud, Maka kabar baiknya adalah dia masih hidup. Dia adalah ayah angkat ku yang telah merawat ku selama 14 tahun ini." Kata Jerry.
"Ba.., bagaimana mungkin?" Tanya Roxana tergagap.
"Begini ceritanya Bibi."
"Setelah peristiwa bentrokan antara ayah angkat dengan Robin Patrik, Ayahku telah menolong ayah angkat dan menyelamatkan nyawa nya yang sekarat. Ayah angkat juga mengira bahwa anda telah terbunuh dalam kejadian itu. Beliau juga mencari anda kesana kemari. Namun tetap tidak menemukan hasil. Dengan putus asa beliau menemui ayah ku dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk menjadi pengawal bayangan. Sampai lah ketika aku lahir."
"Lalu setelah kelahiranku, ayah ku mencium adanya gelagat bahwa dirinya dan diriku sedang menjadi incaran musuh bisnis nya. Beliau lalu memerintahkan kepada ayah angkat untuk melindungiku dan menyuruh agar pembantu keluarga kami agar membawa aku lari dari rumah sakit jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepadanya." Kata Jerry.
__ADS_1
"Ketika ayah angkat menjaga ku di rumah sakit, musuh telah memanfaatkan ini lalu terjadilah peristiwa berdarah itu." Kata Jerry menjelaskan panjang lebar.
"Lalu Ibu mu Nona muda Ellena?" Tanya Roxana.
"Ibu ku meninggal ketika melahirkan ku." Kata Jerry sambil tertunduk sedih.
"Jika demikian, maka di mana ayah angkat mu sekarang ini? Apakah dia baik-baik saja? Apakah Robin Patrik tidak memburu nya?" Tanya Roxana.
"Ketika aku di temukan oleh kakek sebelah ibu, keadaan ayah baik-baik saja. Dia juga berteman baik dengan tuan Syam. Kedua kakek ku telah merekrut ayah angkat untuk menjadi pelindung ku dan dia juga telah mengumpulkan sisa anak buahnya lalu bersama-sama mendirikan kembali Dragon empire." Kata Jerry.
"Apakah Robin Patrik tidak lagi mengancam untuk mencelakai ayah angkat mu, Tuan muda?" Tanya Roxana dengan nada khawatir.
"Kekuatan Robin telah runtuh. Aku dan orang-orang ku di bantu oleh tuan Syam dan ayah angkat telah menyerang Robin Patrik ini. Aku bahkan berhasil membunuh anak lelaki nya. Namun sangat di sayangkan bahwa Robin berhasil kabur dan meminta perlindungan kepada ayah mertuanya di MegaTown." Kata Jerry.
Begitu mendengar Jerry menyebut nama Kota tersebut, kini giliran lelaki tua itu yang gelisah.
Darahnya mulai berdesir ketika membayangkan beberapa puluh tahun yang lalu seorang pengusaha muda yang kaya raya telah merusak hutan di kampung halamannya yaitu Mountain slope.
"Robin itu sangat berbahaya. Dia akan melakukan apa saja asal tujuannya tercapai." Kata Roxana.
"Benar Bi. Aku sampai ketempat ini dengan keadaan hampir mati juga adalah karena ulah Robin dan ayah mertua nya Ramendra." Kata Jerry.
"Siapa? Apakah itu Ramendra dari MegaTown?" Tanya lelaki tua itu sambil membelalakkan matanya.
"Benar Kek. Bagaimana anda bisa mengenal Ramendra ini?" Tanya Jerry.
"Praaak....!"
Tampak lelaki tua itu sangat marah dan tanpa sadar meninju lantai papan ranjang tempat Jerry berbaring selama sakit sampai hancur berantakan.
"Sudah lama sekali. Sangat lama sekali aku memendam dendam ini. Kau Ramendra..!tunggu lah Aku." Kata lelaki tua itu lalu menceritakan awal mula silang sengketa antara dirinya dengan Ramendra kepada Jerry.
"Aku tidak mampu membalaskan dendam sakit hati ini karena aku berfikir secara realistis. Tidak mungkin aku seorang mampu melawan ribuan anak buah Ramendra ini." Kata lalaki tua itu.
"Itu bukan masalah besar Kek. Tapi jujur saja aku juga masih buta dengan kekuatan lawan. Saking buta nya sampai-sampai aku celaka dan hampir mati oleh Ramendra ini." Kata Jerry mengakui kecerobohannya.
"Kau Jerry. Kuatkan semangat mu. Kau harus mampu kembali berjalan dan aku akan membantumu dengan ramuan herbal. Sore nanti kau harus berendam dalam ramuan yang aku buat sampai larut tengah malam. Ini akan sangat berkhasiat untuk menyembuhkan luka dalam yang kau derita."
"Luka mu itu tidak nampak dari luar. Namun di dalam, tulang, otot dan urat-urat mu semuanya berantakan. Ini karena kau berkali-kali di hantam dengan benda tumpul." Kata lelaki tua itu.
"Terimakasih Kek. Aku akan menuruti semua keinginanmu." Kata Jerry.
__ADS_1
Bersambung...