
Setelah kelima orang pengeroyok itu berhasil mereka lumpuhkan setelah tiga dari delapan orang itu telah babak belur terlebih dahulu oleh Drako, kini pemuda yang di panggil dengan sebutan tuan muda itu berjalan menghampiri ke delapan orang bayaran yang sudah babak belur itu sambil mencegah Clara agar berhenti menghajar mereka.
"Sudah Clara. Hentikan!" Kata pemuda itu menegur.
"Kak...?!" Kata Clara manja tidak menerima teguran itu.
"Sudah kataku!"
Melihat pemuda itu tidak becanda, Clara segera menghentikan aktivitas nya dan menghampiri pemuda itu dan mulai bergelayut melingkarkan tanganya ke lengan pemuda itu dengan manja.
"Hemmm.., dua ekor anak monyet ini sama sekali tidak merasa sungkan di depan ku." Kata Drako bergumam kepada dirinya sendiri. Namun suara gumaman itu jelas terdengar di telinga semua orang membuat Jeff, Herey, Ryan dan Daniel tersenyum sumbing melihat ke arah Clara dan pemuda itu.
"Kalian tidak apa-apa?" Tanya pemuda itu kepada Ryan dan Daniel.
"Kami tidak apa-apa, Jerry." Kata Ryan menceritakan keadaannya kepada pemuda yang ternyata adalah Jerry itu.
"Syukurlah jika demikian. Jika tidak, aku akan benar-benar memancung kepala orang hari ini." Kata pemuda yang bernama Jerry itu dengan tatapan dingin ke arah tuan Richard.
"Tuan muda. Apa hukuman untuk penghianat ini?" Tanya tuan Syam.
"Aku tidak bisa menghukum terlalu banyak sahabat-sahabat mendiang ayah ku. Ayah ku pasti akan sedih di sana jika aku terlalu perhitungan dengan sahabat-sahabatnya ketika dia masih hidup." Kata Jerry sambil menghampiri tuan Richard dan membantunya untuk kembali berdiri.
Mendengar pernyataan dari Jerry ini, membuat tuan Richard tersedak dalam tangis dan berkata, "Aku hanya memohon agar Tuan muda tidak membunuh ku. Namun aku tidak menolak hukuman dari anda karena aku memang khilaf. Silahkan anda memberi hukuman kepada saya Tuan muda!" Kata tuan Richard.
__ADS_1
"Aku yang akan menghukum mu Richard. Ini karena, kau telah berani mengabaikan kepercayaan ku. Informasi dari ku sengaja kau bocorkan kepada Ramendra. Beruntung Tuan muda dan Drako bergerak cepat. Jika tidak, kau tau apa akibat dari pengkhianatan mu ini, Richard?" Tanya tuan Syam lalu...,
Bugh....?!
Terdengar suara tendangan membuat tuan Richard jatuh terbanting di tanah dengan punggung terhentak di sisa aspal yang keras itu.
"Sudahlah tuan Syam. Jika dia meminta hukuman, maka suruh saja dia ke Mountain slope untuk mengurus proyek di sana." Kata Jerry sambil menatap hiba ke arah tuan Richard dan kembali berkata, " Tuan Richard, berangkatlah ke Mountain slope! Anda tidak boleh keluar dari perkampungan itu selama 5 tahun. Itu adalah hukuman untuk anda." Kata Jerry.
"Di sana ada tuan Isa, tuan Raven dan tuan Rustam. Kalian bisa saling bahu membahu dalam menjalankan proyek pengembangan di sana. Bedanya adalah, jika mereka bertiga bebas kembali ke Metro city dan Starhill, anda tidak. Selama lima tahun ini, anda tidak boleh meninggalkan perkampungan itu. Jika itu anda langgar, maka Tuan Syam, Ayah angkat, Paman Jeff dan Herey bebas melakukan apa saja kepada mu. Aku rasa itu sudah cukup jelas. Segera lah berangkat!" Kata Jerry sambil berjalan ke mobilnya.
"Ryan.., Daniel! Ayo kita pergi. Atau kau masih betah di sini?" Tanya Jerry kepada kedua sahabat nya itu.
"Tid.., tid.., tidak woy. Aku ikut dengan mu Jerry." Kata Daniel buru-buru membuka pintu mobilnya.
"Hotel mutiara. Kita akan berada di sana selama seminggu sebelum kembali ke Starhill. Aku akan menelepon tuan Barry untuk menghubungi pak Rektor agar bisa mengatur kuliah kalian secara online." Kata Jerry lalu tanpa bicara apa-apa lagi membukakan pintu untuk Clara dan setelah mereka memasuki mobil masing-masing, semuanya berangkat meninggalkan tuan Richard yang masih terduduk menjelepok di tanah.
*********
Sementara itu di rumah sakit MegaTown, Ramendra terus saja mengigau menyebut-nyebut tentang harta nya dan berulang kali berteriak mengatakan 'tidak' membuat petugas rumah sakit berkali-kali menenangkan orang tua yang malang itu.
"Harta ku.., perusahaan dan seluruh aset milik ku habis hanya karena dua ekor anak beruk itu..." Kata Ramendra berteriak.
Para perawat yang menangani orang tua ini di rumah sakit terpaksa beberapa kali berkonsultasi kepada dokter bagaimana cara menangani kuda tua yang semakin liar ini.
__ADS_1
"Bagaimana ini dokter. Tidak mungkin kita harus menyuntikkan obat penenang lagi kepada pasien. Ini bisa berakibat buruk untuk nya." Kata seorang juru rawat mengadukan hal ini kepada dokter.
Sang dokter tidak mampu lagi berkata apa-apa selain hanya berusaha menenangkan Ramendra dengan beberapa patah kata untuk menghibur lelaki tua itu.
"Dokter. Aku tidak sakit. Kondisi ku baik-baik saja. Saat ini aku memerlukan ponsel ku. Aku ingin menelepon anak ku yang berada di Hongkong." Kata Ramendra.
Setelah mempertimbangkan segala sesuatu nya, akhirnya dokter pun mengizinkan Ramendra untuk menelepon anak nya yang berada di luar negri. Ini dia lakukan agar lelaki tua itu tidak menimbulkan keonaran yang bisa mengganggu pasien lain di rumah sakit itu.
Setelah pak dokter mengembalikan ponsel Ramendra, dia segera menelepon anaknya yang berada di Hongkong untuk mengadukan semua kejadian hari ini kepada anaknya.
"Hallo Ayah. Bagaimana dengan acara pelelangan itu? Apakah Ayah berhasil memenangkan pelelangan hotel Mega itu?" Tanya Fardy melalui sambungan telepon.
Ramendra pun segera menceritakan segala kejadian di acara pelelangan itu. Dia juga tidak lupa mengadukan perbuatan pengecut Robin yang melarikan diri mengabaikan dirinya yang jatuh pingsan kala itu di gedung dewan beberapa detik setelah dirinya diumumkan sebagai pemenang dalam acara lelang tersebut.
"Robin ini adalah ular berkepala dua. Aku tidak menyangka bahwa dia sepengecut ini. Menyesal aku menikahkan kakak perempuan mu kepada nya 22 tahun yang lalu." Kata Ramendra sambil mengertakkan giginya.
"Saat ini perusahaan terancam bangkrut. Pihak bank akan menyita seluruh aset dan perusahaan. Bahkan Villa tempat kediaman kita pun tidak akan selamat. Hutang gaji, hutang perusahaan dan hutang akibat pelelangan itu saat ini sangat membengkak. Aku sudah tidak tau lagi. Kemungkinan terbesar adalah pihak bank akan melelang seluruh aset properti milik Ramendra Group. Jika harga yang di dapat dari pelelangan itu tidak mampu menutupi hutang, maka kau akan mendapati ayah mu ini di dalam penjara." Kata Ramendra sambil mengeluh.
"Ayah. Saat ini bertahan lah. Aku akan membantu mu sekuat tenaga. Yang terpenting kali ini adalah mengurus Robin ini. Dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan. Aku lebih baik melihat kakak perempuan ku menjadi janda dari pada melihat manusia pengecut itu tetap hidup. Hidup pun hanya menjadi sampah, lebih baik dia mati saja." Kata Fardy sambil menggeram.
"Kau urus lah masalah ini terlebih dahulu. Aku masih bisa bertahan. Cepat urus penjualan aset mu di Hongkong dan segera kembali ke MegaTown! Kau lah harapan ku satu-satunya yang tersisa untuk membalas kekalahan ini." Kata Ramendra.
"Jangan khawatir Ayah. Aku akan mengurus sampah ini terlebih dahulu." Mata Fardy sambil mematikan telepon.
__ADS_1
Bersambung...