
Bandara internasional Kuala lumpur KLIA.
Siang itu Jet pribadi yang membawa Jerry baru saja tiba di bandara internasional Kuala lumpur Malaysia.
Baru saja Jerry keluar dari bandara tersebut, tampak pihak penganjur pertemuan antara para pengusaha muda itu telah menunggu kehadiran para tamu yang akan tiba siang itu.
Tuan Barry melalui koneksi nya di Malaysia telah meminta beberapa kenalannya untuk menunggu Jerry di luar bandara dan langsung membawa nya ke Tune hotel KLIA yang tidak seberapa jauh dari Airport tersebut.
"Selamat datang di Negara kami encik Jerry William. Nama saya Mohd Zamri. Saya adalah pemandu Encik Jerry selama berada di Negara ini" Sapa salah seorang yang bertugas sebagai pemandu perjalanan sekaligus juru bahasa Jerry selama berada di Malaysia ini.
"Terimakasih Mr.Mohd Zamri." Kata Jerry dengan senyum mekar di bibirnya.
"Ah.., Encik Jerry ni nak terus pergi Hotel ke.., atau nak sahaja berjalan-jalan dulu cari angin?" Kata Mr.Zamri dengan logat bahasa Malaysia nya.
"Kita langsung saja ke hotel Mr.Zamri." Kata Jerry yang merasa dimana-mana juga ada angin.
"Mr.Zamri. Apakah angin di hotel berbeda dengan angin di tempat lain?" Tanya Jerry yang tidak mengerti maksud dari tawaran Mr.Zamri tadi.
"Encik Jerry. Yang saya maksud tadi bukan mencari angin yang berhembus tu. Tapi maksud saya ialah sahaja berjalan-jalan menengok tempat-tempat yang bagus dekat Malaysia ni." Kata Mr.Zamri menjelaskan maksud dari perkataan nya tadi.
"Oh.., Ok. Saya rasa tidak perlu Mr.Zamri." Kata Jerry singkat.
"Baiklah Encik Jerry. Mari saya hantar Encik ke hotel untuk berehat." Kata Mr.Zamri sambil mempersilahkan Jerry untuk masuk ke mobil.
Lima menit selepas Jerry meninggalkan bandara, kini tampak seorang gadis memakai baju warna merah jambu berjalan menuju mobil yang memang sengaja menunggu kedatangannya kemudian segera mengarah ke arah di mana Jerry dan Mr.Zamri tadi pergi.
...*...
"Encik Jerry. Saya telah pun mengurus semua keperluan Encik selama berada di Malaysia ini, dan saya akan menghantar Encik menuju bilik No 24. Encik boleh berehat sejenak sebelum petang ni kita akan ada pertemuan di menara berkembar KLCC." Kata Mr.Zamri sambil mempersilahkan Jerry untuk beristirahat setelah perjalanan yang melelahkan tadi.
"Sekali lagi saye nak ucap terimakaseh kepade Mr.Zamri sebap dah tolong saye." Kata Jerry menirukan logat bicara Mr.Zamri sambil tergagap-gagap.
Mendengar bahasa yang sangat kaku dari Jerry, Mr.Zamri hanya bisa mengulum senyum dan segera meminta diri untuk segera meninggalkan Jerry agar dia bisa beristirahat.
"Encik Jerry kalau ada apa-apa keperluan, boleh talipon saya dan saya akan segera datang untuk membantu." Kata Mr.Zamri sebelum pergi meninggalkan Jerry.
Di waktu yang sama, gadis yang tadi berada di bandara juga telah sampai di kamar hotel yang di sediakan oleh pihak yang bertanggung jawab atas segala urusan nya di Malaysia ini.
__ADS_1
Kamar no 23. Gadis itu langsung membuka pintu kamar menggunakan kartu dan tanpa melirik kiri dan kanan langsung saja masuk untuk segera beristirahat.
...*********...
Tepat pukul 3 sore, Jerry telah selesai mandi dan mengganti pakaiannya menggunakan celana hitam, kemeja putih dibalut dengan Jas berwarna hitam.
Yang jadi masalahnya adalah Jerry sama sekali tidak pandai memakai dasi. Dia sudah bolak balik mencoba namun tetap tidak bisa dengan sempurna.
Jerry yang terburu-buru kini segera keluar dari kamar hotel tersebut dengan tujuan agar nanti bisa meminta tolong kepada Mr.Zamri untuk memakaikan dasi nya.
Baru saja Jerry akan melewati kamar no 23 itu, alangkah terkejutnya dia ketika seseorang kini juga keluar dengan terburu-buru dari kamar tersebut.
Entah karena terlalu cepat berjalan, atau karena memang sedang kesal karena tidak pandai memasang dasi dengan benar sehingga tabarakan antara mereka tidak dapat di hindarkan lagi.
"Bugh..."
"Owh..."
"Aduh....!
Jerry yang merasa bersalah segera memberi bantuan kepada gadis itu dan berkata, "Oh maaf Nona, saya tid---"
"Jerry...? Mengapa bisa berada di sini?" Tanya gadis itu sebaik saja dia mendongak melihat ke arah pemuda yang sedang berusaha untuk membantunya berdiri.
"Lorna..? Kau juga berada di sini?" Tanya Jerry yang jadi salah tingkah.
"Iya. Aku kesini karena akan ada pertemuan para pengusaha muda. Kau sendiri?" Tanya Lorna yang kini mulai curiga.
"Ak.., aku. Aku juga akan menghadiri pertemuan itu." Jawab Jerry dengan gugup.
"Jerry. Apakah..., apakah kau?"
"Benar Lorna. Aku adalah Jerry William. Maafkan aku yang selama ini telah berbohong kepada mu tentang identitas ku." Kata Jerry.
"Sialan. Pantas saja aku tidak berhasil menemukan di mana Jerry William itu. Ternyata kau sengaja berbohong kepadaku." Kata Lorna dengan jengkel.
"Aku sengaja menyembunyikan identitas ku kepada kalian bukan bermaksud ingin membohongi mu. Ini semua aku lakukan karena keluarga ku mempunyai musuh yang selalu ingin mengincar ku. Aku khawatir jika identitas ku terlalu cepat terbongkar, maka semuanya pasti akan sia-sia." Kata Jerry menjelaskan tujuannya menyembunyikan identitas nya.
__ADS_1
"Apa bedanya? Toh lambat laun musuh keluarga mu akan tau juga siapa kau sebenarnya." Kata Lorna.
"Jelas berbeda. Jika aku mengungkap identitas ku terlalu awal, maka mereka pasti akan mengerahkan kekuatan penuh untuk memburu ku. Tapi jika aku mampu mengikis kekuatan lawan ku terlebih dahulu kemudian menebarkan pengaruh ku di kalangan pebisnis, itu akan dapat mengurangi resiko selain menambah kekuatan dan mempelajari kekuatan lawan" Kata Jerry lagi menjelaskan kepada Lorna.
"Keluarga ku tidak bermaksud untuk mencelakai mu Jerry." Kata Lorna.
"Aku tau. Tapi mulut orang siapa yang bisa menutupnya Lorna? Apakah kau bisa menjamin bahwa salah satu dari kalian tidak akan terlepas ucapan? Itu bisa membahayakan keselamatan ku. Apa kau tau itu?" Tanya Jerry.
"Baiklah. Aku mengerti sekarang." Kata Lorna menyerah.
"Lorna, bisakah kau membantu ku memasang dasi ini?" Tanya Jerry sambil malu-malu.
Tanpa banyak bicara lagi Lorna langsung menyambar dasi yang berada di tangan Jerry dan membantu Jerry mengenakan dasi tersebut.
Hampir saja darah muda Jerry berhenti mengalir ketika dia merasakan hembusan nafas Lorna menerpa kulit wajah nya.
Mereka berdua begitu dekat saat ini. Dapat di bayangkan seorang wanita cantik dan pemuda yang tampan jika sudah terlalu dekat seperti itu. Adalah satu kebohongan besar jika tidak ada perasaan aneh sama sekali.
"Nah sudah. Coba kau lihat! Apakah sudah rapi?" Tanya Lorna sambil tersenyum menatap ke wajah Jerry.
"Aku percaya kau akan melakukan yang terbaik agar aku terlihat rapi di depan orang-orang itu nanti. Terimakasih Lorna." Kata Jerry sambil membalas tatapan Lorna.
Lorna segera menundukkan pandangan nya karena tidak sanggup menentang tatapan mata Jerry.
"Eheem.., Ay.. Ah. Ayo kit.., ayo kita turun. Sebentar lagi pertemuan akan di mulai." Kata Lorna tergagap.
"Apakah kau nyaman berjalan sendiri atau aku akan menemani mu?" Tanya Jerry.
"Menurut mu?" Tanya Lorna singkat.
"Aku sangat menghargai persahabatan ku dengan Ivan. Jangan sampai aku mengambil kesempatan kepada Lorna ketika dia tidak ada. Itu sama sekali bukan perbuatan terpuji sebagai seorang sahabat." Kata Jerry dalam hati.
"Mengapa kau melamun Jerry?" Tanya Lorna heran melihat Jerry tiba-tiba diam.
"Oh. Ah.., tidak apa-apa. Ayo kita turun." Ajak Jerry sambil melangkah duluan.
Bersambung...
__ADS_1