
"Senang banget. Maka nya aku berterima kasih sama kamu mas. Tapi kita terlebih dahulu harus memberi tahu pada yang lain tentang kabar gembira ini dan rencana kita seterusnya. Takut mereka menggagalkan rencana kamu mas". Saran Aisyah mengingatkan Zack kalau keluarga mereka belum ada satu pun yang tahu tentang kembali nya Haikal.
"Kamu benar sayang, orang rumah meski kita beri tahu agar mereka bekerja sama dengan kita untuk menguji Haikal. Tapi menurut aku mereka pasti tidak akan melakukan apa pun untuk menguji nya karena setahu kita, mereka semua sangat menyayangi Albar. Semenjak kabar Albar hilang dulu, semua nya seperti kehilangan gairah hidup. Meskipun Mawar telah melahirkan putri nya tapi tetap saja kerinduan mereka pada Albar tidak pernah hilang". Sahut Zack setuju.
"Iya, mas. Meskipun nanti mereka tahu jika Albar sudah kembali, tapi mereka tetap harus menganggap Haikal seperti tamu. Ini demi rencana kamu, mas". Meskipun Aisyah terdengar mendukung rencana Zack. Tapi wajah nya tidak dapat berbohong kalau sebenarnya ia sedikit keberatan dengan semua itu.
"Terima kasih ya, sayang. Kamu sudah mau mendukung ku, ini demi kebaikan putra kita juga. Suatu hari nanti pasti kamu akan bangga pada nya jika terbukti dia layak mewarisi semua harta milik kita. Aku tidak mau nanti harta ini malah mengubah jati diri nya, aku nggak mau kalau harta ini malah membuat nya gelap mata dan cuai akan tanggung jawab nya sebagai pewaris tunggal". Imbuh Zack meyakinkan istri tercinta nya.
Aisyah tak menjawab, hanya senyum yang terus menghiasi wajah nya. Zack memeluk istri nya itu untuk memberikan kekuatan.
*
*
Keesokan hari nya, tepat setelah Haikal melaksankan sholat subuh, ia ingin memulai pekerjaan nya mulai dari mencuci kain. Tapi saat masuk ke kamar mandi, Haikal tersentak saat melihat Karina sedang duduk mencuci kain sambil beberapa kali menguap.
"Kesambet apa pula nih anak, subuh - subuh udah bangun, cuci kain pula? Dia memang Karina atau...". Gumam Haikal sambil mengusap mata nya berpikir ia sedamg salah lihat.
Tapi setelah mengusap matanya, yang ia lihat tetap ada berarti ia sedang tidak salah lihat. Ia kemudian mencubit pipi nya. "Auww, sakit. Berarti bukan mimpi juga". Batin nya lagi.
"Karina?". Sapa Albar pada saudari nya.
Karina menoleh sebentar lalu melanjutkan kerja nya. "Nggak usah tatap aku seperti itu, mulai sekarang aku ingin menjadi adik kamu yang baik". Sahut Karina membuat Haikal tercengang.
Cara bicara Karina tetap seperti biasa, ketus saat berbicara pada nya maupun pada orang lain.
"Kamu nggak lagi sakit, kan? Sana biar aku aja yang cuci, nanti kamu malah ngantuk saat di kelas nanti. Aku nggak mau kalau kamu nggak fokus belajar nanti. Lihat tuh kamu menguap terus dari tadi". Ujar Haikal berusaha mengambil sikat kain dari tangan Katina.
__ADS_1
"Nggak perlu, kamu sana aja kerjakan yang lain. Biar aku aja yang nyuci". Tolak Karina menjauh ka sikat kain dari Haikal.
Haikal tetap ingin merebut sikat kain itu sehingga wajah mereka saling berdekatan dan tiba - tiba....
Waktu seakan terhenti seketika saat bibir kedua nya bersentuhan secara tidak sengaja. Jantung kedua nya berdegup kenjang. Tapi Haikal segera tersadar dan menjauhkan wajah nya dari Karina.
"Ma maaf, aku nggak sengaja. Kalau kamu tetap ngotot ini nyuci, silahkan! Aku akan menyiapkan sarapan dan kerja yang lain nya". Ucap Haikal sedikit gugup.
Setelah mengatakan itu, Haikal memilih ke dapur untuk membuat nasi goreng sebagai sarapan mereka bertiga dan menyiap kan beberaa menu sederhana lain untuk bekal dan makan siang mamah nya.
Sementara Karina menjadi salah tingkah, kantuk nya hilang seketika akibat kejadian tadi yang membuat jantung nya memompa darah dengan kencang sehingga tubuh nya menjadi segar. Karina segera menyelesaikan cucian nya sambil sesekali terbayang kejadian tadi.
Sukma baru akan bangun saat sarapan bersama putri nya, sedangkan suami nya seperti biasa menghabiskan waktu bersama teman - teman nya mabuk - mabukan dengan uang pemberian Josep waktu itu.
Suasana tiba - tiba canggung, Sukma mencuim sesuatu yang aneh dengan sikap kedua anak nya terutama Karina yang makan dengan wajah yang cerah. "Kalian berdua ini kenapa, mamah kok merasa aneh tapi entah kenapa?". Imbuh Sukma.
"Tumben pula si Karina ini nggak menjawab, biasanya aku cakap satu dia jawab seribu. Pasti ada yang aku nggak tahu". Gumam Sukma menatap putrnya dengan penuh selidik.
Tanpa berbicara sepatah kata pun, Karina mengemas piring nya ke washtafel. Sukma semakin di buat bingung melihat Karina mencuci piring nya sendiri. "Sebenarnya apa yang terjadi pada Karina? Kamu tahu Haikal?". Bisik Sukma pada Haikal.
Haikal menghela nafas berat, ia bingung harus menjawab apa tapi jujur juga tidak mungkin. "Mamah tanya saja pada nya langsung, aku juga sebenarnya terkejut dengan sikap nya yang tiba - tiba berubah". Sahut Haikal.
Haikal tiba - tiba teringat akan tawaran pekerjaan yang ia terima dari Zack. Ia segera menyelesaikan sarapan nya dan mengajak Sukma ngobrol sebentar sebelum ia berangkat sekolah.
"Sebenarnya aku mendapatkan tawaran pekerjaan baru dengan gaji yang jauh lebih tingga berbanding gaji aku sebagai buruh". Imbuh Haikal.
Sukma beralih menatap Haikal dengan mata berbinar. "Berapa gaji yang akan kamu terima?". Tanya Sukma dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Sepuluh juta sebulan". Jawab Haikal jujur.
"10 juta?". Seru Sukma. Haikal mengangguk perlahan.
"Kamu harus terima tawaran itu! Kalau kamu tolak maka aku akan membunuh mu". Ancam Sukma.
"Jadi mamah setuju kalau aku menerima tawaran itu? Tapi ada syarat yang di berikan oleh orang kaya itu, mah dan aku berpikir mamah pasti akan keberatan". Kata Haikal.
"Apa pun syarat nya, mamah nggak akan keberatan asal kan gaji kamu itu kamu berikan pada mamah secara keseluruhan nya. Katakan apa syarat nya?". Sahut Sukma tidak keberatan.
"Syarat nya aku harus tinggal di rumah mereka". Imbuh Haikal masih kepikiran.
"Apa? Tinggal di rumah majikan kamu? Terus siapa yang akan mengerjakan pekerjaan rumah?". Cerca Sukma bingung.
"Maka dari itu, mah. Aku berniat ingin menolak tawaran itu atas alasan itu mah. Jadi menurut mamah bagaimana? Aku harus terima atau menolak nya?". Haikal kembali bertanya.
Sukma terdiam sejenak memikirkan pertanyaan Haikal. Jika ia setuju Haikal bekerja tapi siapa yang akan mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi menolak pekerjaan itu sama saja dengan bodoh, dengan keadaan mereka saat ini uang 10 juta itu sangat besar.
Sementara Karina yang menguping pembicaraan mereka pun memilik solusi atas kebingungan mereka berdua. Meskipun ia belum tentu sanggup melalukan nya sendiri tapi ia akan membuat Haikal bebas dari kekejaman kedua orang tua nya.
"Sudah nggak perlu pusing. Terima saja tawaran pekerjaan itu, masalah rumah dan makan kami berdua kamu nggak perlu pusing. Aku dan mamah akan melalukan nya. Tapi dengan syarat, setia0 bulan aku juga harus mendapatkan bagian dari gaji kamu, nggak banyak kok cukup sejuta saja. Manakala, mamah akan menerima 9 juta nya. Bagaimana, mamah setuju kan?". Imbuh Karina memberi solusi.
Sukma keberatan dengan syarat Karina. Putrinya nya itu sangat pandai mengambil kesempatan. "Tapi 9 juta itu udah lumayan kok". Batin nya berpikir.
"Baik lah, mamah setuju kalau kamu terima pekerjaan itu dan tinggal di sana. Tapi ingat jangan bilang apa pun pada bapak kamu soal total gaji kamu! Kamu mengerti kan?". Imbuh Sukma akhirnya setuju.
"
__ADS_1