PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 73 Lowongan pekerjaan untuk Rehan


__ADS_3

Selama ini ia tidak mengambil pusing hal itu tapi sekarang bisa meyakinkan diri nya kalau Shita hanya memanfaatkan anak dalam kandungan nya untuk merebut Ronal darinya.


"Setelah anak itu lahir maka kita lihat siapa yang akan membunuh mu. Aku atau Ronal?" Gumam Meri dengan wajah sinis nya.


"Mas Ronal, Mas Ronal. Kamu memang pria yang bodoh, yah. Kenapa om Danish bisa mempercayakan Black Tiger pada pria seperti dia sedangkan dalam otak nya hanya ada wanita dan bersenang - senang. Aku pikir semenjak ada aku yang melayani nya maka ia tak akan lagi berpaling pada wanita lain, tapi ternyata tetap aja sifat nya itu tidak berubah, diam - diam dia melakukan hubungan bersama wanita lain tanpa sepengetahuanku. Pandai di menyembunyikan skandalnya dari ku." Batin ku.


"Maaf, Mami. Apa kah ada hal lain yang ingin Mami sampaikan pada kami?" tanya Rinata yang mulai bosan..


Meri menjeling gadis muda itu dengan tajam. "Budak nih tak boleh suka lihat aku senang sebentar saja." Batin Meri kesal.


"Udah sana kalian semua boleh pergi saja," ketus Meri sambil melambaikan tangan mengusir para ladies.


Sebelum keluar, seorang wanita cantik menghampiri Meri dengan melawan rasa takut nya pada atasan nya itu. "Maaf kan kami, Mami. Kami sama sekali tidak bermaksud menyembunyikan perkara ini dari Mami tapi bos Ronal mengancam kami jadi kami terpaksa bungkam kalau tidak nyawa Mami yang akan menjadi taruhannya." imbuh nya menjelaskan pada Meri mengapa mereka memilih diam tadi.


"Kamu jangan mencari alasan agar aku tidak marah pada kalian semua. Perbuatan kalian sama saja mengkhianati ku dari belakang. Tapi its ok, kali ini aku bisa memaafkan kalian karena mood ku sedang dalam keadaan bahagia," sahut Meri sambil melipat tangan nya di dada.


"Te - terima kasih Mami." ucapnya sebelum pergi bersama rekan - rekannya.


"Dasar penjilat!" maki Meri saat semua sudah pergi meninggalkan nya sendirian di dalam ruangan itu.


*


*


Sementara di markas Naga Merah. Pundas sedang asik mengotak - atik laptopnya sambil menunggu balasan dari Black Tiger tentang pesan terakhir yang ia kirim. Sudah dua hari semenjak pesan itu di kirim tapi sampai sekarang belum ada balasan sama sekali dari pihak Black Tiger.

__ADS_1


"Bagaimana, sudah ada balasan dari mereka?" Dilan menghampiri Pundas sambil membawa dua gelas anggur favoritnya.


Pundas menggeleng kepala malas.


"Mungkin si Ronal nggak nyangka kalau kita akan menggunakan Danish dan istrinya sebagai alat menebus nyawa Den Albar. Ronal jenis orang yang tahu balas budi tapi sayang nya ia sedikit gegabah dalam bertindak sehingga tidak berpikir panjang. Semenjak Black Tiger berada di tangannya, bisnis yang di jalankan klan itu semakin menurun. Bahkan kekuatan mereka semakin nggak terlihat, tiada perlawan sama sekali menurut ku," Imbuh Dilan menerka - nerka apa yang sedang Ronal pikirkan..


"Den Albar pasti sedang memikirkan ide lain untuk menjebak mereka. Maka nya aku nggak setuju saat tuan Zack menyarankan untuk menculik Danish dan istrinya. Tapi sebagai seorang ajudan kita harus menuruti setiap perintah raja kita." keluh Pundas terdengar kesal.


"Hallah, lo kalau ngomong berani nya cuma di belakang. Coba ngomong kayak gitu di depan tuan, kalau lo beneran jantan." tantang Dilan.


Pundas hanya menghembuskan nafas kesal.


Tringggg ...


Sebuah pesan masuk, Pundas dengan semangat langsung membaca pesan itu dengan seksama. Dilan pun tak tinggal diam, ia maju untuk turun membaca pesan itu secara langsung.


"Wih, berani sekali dua bicara seperti itu pada kita. Dia pikir dia siapa, coba." Kesal Dilan.


"Setidaknya dia setuju pada permainan kita, lihat aja bagaimana Den Albar menyelesaikan masalah ini. Dia pasti bepikir sangat keras untuk membujuk pria itu agar memilih kedua orang tua itu berbanding uang yang ia tawarkan pada kita." Balas Pundas bernafas lega.


"Kan aku sudah bilang tadi, Ronal itu jenis orang yang pandai membalas budi pada orang yang telah berjasa besar pada hidup nya. Istri Danish merupakan wanita yang selama ini telah membesarkan si Ronal itu dengan penuh kasih sayang. Lihat sendiri kan reaksi nya saat kita membawa nya pergi dari rumah sakit tempat ia di rawat. Tatapan nya teduh tanpa curiga sama sekali. Aku yang melihatnya pun kayak nggak tega gitu melibatkan wanita sebaik dia dalam masalah kita," tukas Dilan mengingatkan momen saat mereka memindahkan Danish dan istrinya ke rumah sakit yang tidak di ketahui oleh Ronal atau anak buah nya.


"Benar, juga. Aku sempat teringat wajah almarhum ibuku saat menatap wajah teduh nya waktu itu. Tapi mau di apakan lagi, ini semua atas permintaan tuan Zack. Lagi pula ada untung nya juga kita tak perlu bersandiwara mati saat menebus Den Albar dari mereka. Cukup menyerahkan Danish dan istrinya ke tempat nya sepatut nya yaitu ke sisi keluarga tercinta."


Puas berdebat, Dilan dan Pundas bersulang untuk meraikan kesuksesan mereka mengelabuhi Ronal dan anak buah nya. Mereka sama sekali belum menyadari rencana lain yang sedang di rencanakan oleh Ronal untuk menggulingkan mereka melalui Haikal.

__ADS_1


Haikal sendiri juga belum mengetahui hal itu, Ronal sengaja merahasiakan nya sementara waktu dari Haikal karena menunggu waktu yang tepat.


*


*


Sementara di rumah Arya, Rehan sedang rebahan malas di sofa ruang tamu sambil tidur siang. Di rumah ini memang hanya ada dua kamar, satu kamar untuk kedua orang tua Arya dan satu nya lagi untuk adik gadis Arya yang masih kuliah. Arya memang tidur nya di ruang tamu lebih tepat nya depan TV, sekarang Rehan turut menemaninya tidur di ruang tamu itu karena mustahil tidur di kamar.


"Assalamualaikum!" Arya memberi salam dengan suara keras karena bersemangat.


Rehan terperanjat langsung bangun dan memasang kuda - kuda untuk menyerang Arya.


"Hei, Rehan. Lo mau ngapain?" Tanya Arya heran.


"Sori bro, gue kaget dan tanpa sadar tiba - tiba seperti ini. Lo kenapa juga datang - datang teriak bikin orang kaget aja?" keluh Rehan kembali merebahkan tubuh nya di sofa.


"Iya lah gue teriak, gue happy karena di kantor tempat gue kerja kebetulan sedang mencari sebuah pekerja. Gue langsung kepikiran sama elo di rumah jadi meminta izin pulang saat makan siang untuk memberi tahu lo kabar gembira ini." Sahut Arya dengan bersemangat.


"Oh yah. Lowongan menjadi apa?" Rehan pun ikut bersemangat mendengar berita itu.


"Jadi karyawan biasa seperti itu tapi di bagian pemasaran, biasanya kalau berhasil mengerjakan proyek besar maka bagian itu yang lebih cepat di beri kesempatan mendapatkan kenaikan jawatan," Jelas Arya masih bersemangat.


Tapi tidak dengan Rehan, mendengar lowongan kosong itu dia kembali lemas, tapi sebagai orang yang baru memulai karir lagi dari awal, kerja itu sudah lebih baik dari pada nggak kerja sama sekali.


"Oh, aku akan mencoba nya semoga saja berhasil lolos interview kerja di kantor kamu itu. Jadi kita bisa berangkat bareng - bareng nanti." Balas Rehan kurang semangat.

__ADS_1


"Jangan lemas gitu dong Rehan. Aku yakin kalau kamu pasti akan cepat berhasil dimana pun kamu memulainya, karena kamu bukan orang sembarangan, kamu orang yang pernah sukses hingga mempunya perusaahan sendiri yang tak kalah besar dari perusahaan tempat ku bekerja sekarang, otak kamu itu cerdas nggak seperti aku yang hanya bisa jadi jongos aja terus." Arya mencoba memberi suntikan semangat pada Rehan yang tampak lemas karena terpaksa bekerja sebagai karyawan biasa seperti nya.


__ADS_2