
Pagi-pagi sekali Jerry telah mulai berendam di dalam air sambil mengikuti metode latihan yang di berikan kepadanya.
Ketika bibirnya mulai membiru karena menahan kedinginan air tersebut, beruntung baginya Roxana dan Clara memanggilnya untuk. sarapan pagi.
Tanpa menunggu panggilan ke dua kali nya, Jerry langsung mmenyambar handuk dan segera mengeringkan tubuhnya dengan handuk tersebut lalu bergegas naik ke atas menuju gubuk kakek Malik.
Ketika Jerry sampai di gubuk, dia melihat kakek Malik sedang membuat keranjang dari belahan rotan berbentuk bulatan lonjong di bantu oleh Drako dan Clara.
Jerry yang merasa heran langsung bertanya. "Kek, untuk apa keranjang itu?" Tanya Jerry penasaran.
"Kau pergi sarapan dulu. Setelah itu kau minum ramuan obat yang telah aku letakkan di atas meja! Kau akan tau nanti untuk apa keranjang ini kami buat." Kata kakek Malik dengan acuh tak acuh.
Jerry yang masih penasaran segera merasakan perasaan tidak enak di hati nya.Namun dia tidak mau berdebat hanya untuk mencari tau untuk apa keranjang rotan tersebut.
Setelah selesai sarapan, Jerry pun segera meminum obat seperti jamu tersebut.
"Sial. rasanya sungguh sangat pahit." Kata Jerry dalam hati.
"Jerry...?! Apakah kau sudah selesai sarapan?" Teriak kakek Malik dari luar.
"Sudah Kek." Jawab Jerry dari dalam.
"Jika sudah. Kau ku beri waktu 10 menit untuk duduk dengan tenang. Setelah itu, kau harus melanjutkan latihan fisik." Kata kakek Malik.
"Gila. dulu aku sering di suruh mengangkat air atau balok kayu turun naik sungai. Apakah ini berarti aku akan memikul batu dalam keranjang tersebut?" Fikir Jerry yang langsung merasakan kering di tenggorokannya.
"Ah terserah lah. Jika aku di paksa terus-terusan, aku akan lari kembali ke Starhill bersama Clara." Kata Jerry dalam hati sambil tersenyum geli.
"Mengapa kau tersenyum sendiri seperti orang kurang waras, Kak?" Tanya Clara yang heran melihat Jerry tersenyum-senyum sendiri.
"Ah.., tidak apa-apa. Eh Clara. Ayo kita lari saja ke kota. Aku merasakan sesuatu yang tidak enak di hatiku dengan metode latihan ini. Pasti aku akan babak belur lagi seperti sebelumnya." Kata Jerry.
Sebenarnya jika bukan karena Clara, sudah lama dia ingin kabur dari tempat itu.
"Kau ingin kabur Kak? Aku akan mengadukan mu kepada kakek." Kata Clara sambil membuka mulutnya untuk berseru.
"Kek...?!"
"Jangan gitu Clara. Apa kau mau melihat aku di hajar oleh kakek Malik sampai babak belur?" Kata Jerry sambil menyekap mulut Clara dengan tangannya.
"Salah mu mengapa kau mempengaruhi ku untuk ikut lari bersama mu ke kota?!" Kata Clara sambil melenggang pergi meninggalkan Jerry yang terbengong sendiri.
__ADS_1
Sementara itu di balai papan depan gubuk, tampa Drako dan kakek Malik sudah menyelesaikan pekerjaan mereka membuat dua buah bakul keranjang dari rotan.
Ada senyum puas dan senyum jahat di wajah kedua lelaki beda usia tersebut.
"Bgaimana Paman? Apakah keranjang ini sudah bisa di gunakan?" Tanya Drako.
"Drako. Kau temui Roxana. Pinta kepadanya seutas tali belati. Aku akan menjalit tali sandang untuk bakul ini!" Kata kakek Malik.
"Baik Paman." Kata Drako lalu segera memasuki gubuk dan langsung ke dapur untuk menemui Roxana.
Setelah Drako mengatakan apa yang di inginkan oleh lelaki tua itu, Roxana lalu memberikan segulungan tali belati sebesar telunjuk jari tangan kepada Drako.
"Untuk apa Ayah menginginkan tali ini?" Tanya Roxana.
"Ntahlah. Paman hanya berkata bahwa dia ingin membuat tali sandang di bakul yang baru saja siap dibuat." Kata Drako.
"Hatiku jadi tidak enak. Pasti ayah ingin memompa fisik Jerry lagi. Sebenarnya untuk apa semua ini? Jangan jadikan Jerry ini sebagai mesin pembunuh untuk memenuhi ambisi kalian!" Kata Roxana menegur.
"Kau salah sayang. Jerry ini tidak di tempa sebagai mesin pembunuh. Ini semua demi dirinya juga. Ok lah jika Robin dan Ramendra masih bisa di kalahkan hanya dengan kemampuan yang dia miliki saat ini. Tapi apakah kau tau bahwa persaingan bisnis ini tidak akan pernah ada habisnya. Selalu ada musuh di mana-mana. Aku tidak ingin kejadian yang menimpa kak Wilson kembali menimpa diri Jerry." Kata Drako.
"Terserah kalian saja lah para lelaki ini. Tapi pesan ku, jangan terlalu memaksa Jerry untuk melakukan sesuatu di luar batas kemampuannya! Atau kalian akan merasakan tindak balas dari anak itu. Sebenarnya dia punya seribu satu cara untuk menjahili kalian. Lihat saja nanti jika tak percaya." Kata Roxana memperingati.
"Kau tenang saja lah. Jika anak itu berani macam-macam. Aku akan mencabut telinga nya." Kata Drako.
"Baik lah." Kata Drako lalu..,
"Cup.., cup.., cup..?!"
"Aw...?!" Pekik Roxana ketika tiba-tiba saja sebelum pergi, Drako menyambar pipinya dengan ciuman.
"Awas nanti di lihat anak-anak!" Kata Roxana dengan senyum malu-malu.
"Ya sudah. Aku ke depan dulu." Kata Drako tersenyum-senyum.
"Ayah. Akhir-akhir ini kau seperti kembali mengalami masa puber. Apakah kau sudah memasuki masa puber tahap ke dua?" Tanya Jerry sambil menggoda ayah angkat nya itu.
"Diam kau! Kau tidak tau apa-apa." Kata Drako sambil mendelikkan matanya.
"Makanya ajari supaya aku tau." Kata Jerry semakin menggoda Drako.
"Kau minta di libas dengan tali belati ini kan?" Tanya Drako sambil memutar-mutar ujung tali tersebut membuat Jerry seperti terbang keluar dari gubuk itu mencari selamat.
__ADS_1
"Kemana kau Jerry? Tunggu di situ!" Kata kakek Malik membuat Jerry tidak lagi berani main-main.
Ketika Drako telah keluar membawa segulung tali belati tersebut dan memberikannya kepada kakek Malik, orang tua itu segera menyambar tali tersebut dan dengan cekatan mengikat bagian-bagian penting diantara sela-sela anyaman rotan tersebut.
Setelah semua selesai di ikat, kakek Malik lalu memanggil Jerry dan menyetel apakah bakul tersebut sudah pas atau belum di punggung Jerry.
"Untuk apa ini Kek? Apakah kau akan menyuruhku ke pasar untuk berbelanja?" Tanya Jerry.
"Diam kau! Sekarang kau harus memikul ku turun naik sungai sebanyak dua puluh putaran!" Kata kakek Malik lalu segera memasukkan tubuh nya kedalam bakul dan menyuruh Jerry untuk menyandang bakul tersebut.
"Mati aku." Kata Jerry sambil menggendong bakul berisi kakek Malik tersebut dan berlari turun naik sungai sebanyak 20 kali putaran.
Sontak saja adegan ini membuat Drako, Roxana dan Clara tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah Jerry dan kakek Malik tersebut.
"Sudah.., sudah.., sudah! sepertinya ini terlalu ringan bagi mu. Sekarang kau harus memikul dua bakul sekaligus. Aku dan Drako akan naik masuk ke dalam masing-masing bakul" Kata kakek Malik membuat Jerry langsung merinding.
"Apakah kalian ingin membuat nafas ku putus?" Kata Jerry protes.
"Diam saja dan lakukan apa yang aku perintahkan!" Kata kakek Malik sambil mengambil sebatang bambu dan memasukkan diantara tali kedua bakul tersebut.
"Clara. Maafkan jika aku tidak bisa menikahi mu karena sepertinya nyawa ku akan putus hari ini juga." Kata Jerry membuat Clara tertawa setengah mati.
Jerry dengan pasrah akhirnya memikul kayu yang melintang diantara kedua bakul tersebut dan mulai memikulnya berjalan menuruni tangga sungai lalu naik lagi.
"Kalian dua tua bangka tak tau diri ini harus di. beri lalajaran." Kata Jerry dalam hati.
Dia terus memikul Drako dan kakek Malik untuk putaran ke dua.
Setelah sampai di bawah, Jerry mulai memutar tubuhnya berniat hendak mendaki kembali ke atas. Namun baru dua langkah dia berjalan, tiba-tiba kakinya terpeleset dan....,
"Woy Jerry...?!"
"Jerry apa yang kau lakukan?" Kata kedua lelaki itu dengan panik.
Tak lama kemudian...,
Byur......?!
Byur.....?!
"Setan kau Jerry.....?!" Kata Drako dan kakek Malik secara bersamaan. Mereka kini terjun bebas ke salam sungai bersamaan dengan bakul yang terbuat dari rotan itu sekalian.
__ADS_1
"Maaf Kek, Ayah. Aku terpeleset." Kata Jerry berusaha membuat mimik wajah merasa bersalah dan penuh penyesalan. Padahal perutnya sudah sakit menahan tawa yang hampir meledak.
Bersambung...