PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 14 Rudi nggak pernah puas


__ADS_3

Karina hanya bisa me mendengar tanpa ingin memberi tanggapan. Ia tidak tahu bagaimana nasip sekolah nya nanti setelah Haikal tamat. Selama ini hanya pria itu yang membuatnya semangat berangkat sekolah.


Sesampai di gerbang sekolah, Haikal dan Karina berpisah karena letak kelas mereka bertentangan. Haikal menduduki kelas 3 SMA tahun ini dan hanya tinggal beberapa bulan sebelum hari kelulusan nya, mana kala Karina masih men duduk kelas 2 SMA. Memang bukan hanya mereka berdua yang selalu di bully di sekolah dengan status miskin, tapi sikap hanya karena Haikal tidak pernah menuruti permintaan Rudi maka dia selalu di serang.


"Anak miskin udah datang, hari ini dia bawa bekal apa yah. Coba kami lihat!". Ucap Rudi berusaha mengambil tas lusuh Haikal.


Haikal membuang nafas berat. Ia mencoba menepis tangan Rudi yang mencoba merebut tas nya. "Bukan urusan kalian!". Ucap nya ketus.


"Semakin berani melawan kamu yah! Nggak takut di buang sekolah, aku ingat kan lagi aku bila - bila saja meminta pada bapak ku untuk membuang mu dari sekolah ini. Tapi karena aku baik maka nya kamu masih bisa sekolah di sini. Jadi kamu jangan macam - macam sama aku, atau...". Rudi berniat mengancam Haikal.


Tapi pria itu hanya memutar matanya malas dan melangkah menuju bangku nya.


"Alah, Rud. Itu anak semakin berani aja. Kita beri pelajaran lagi gimana? Seperti biasa di gudang atau di WC...". Salah satu rekam Rudi mengompori amarah Rudi.


Rudi menghampiri meja Haikap dan menghentakkan meja dengan keras. "Gue pastikan lo akan di keluarkan dari sekolah ini! Dasar miskin!". Ancam Rudi di sertai hinaan untuk Haikal.


"Lo sadar nggak, Rud. Loh tuh sebenarnya anak manja bapak lo. Eh, lebih tepat nya anak ketiak bapak lo. Selalu saja mengancam orang lain menggunakan nama bapak lo. Sebenarnya lo itu bukan apa - apa kalau bukan karena lo itu anak orang terkaya di desa ini. Gue mau lihat atau gue mau dengar bagaimana lo bisa menyingkirkan Haikal dengan kemampuan lo sendiri. Olahraga aja nggak pernah menang melawan Haikal apa lagi dalam dalam pelajaran, lo tuh kalah jauh tahu nggak".


Masha datang mempermalukan Rudi. Wanita itu selalu saja menjadi kan diri nya tameng untuk membela Haikal meskipun selalu mendapat penolakan daru Haikal. Pria itu hanya menganggap nya teman seperti yang lain.


Rudi yang mendengar diri nya di rendahkan oleh wanita pujaan hati nya, hanya bisa menahan amarah nya. Ia paling tidak bisa berkelah jika wanita itu yang menjadi lawan bicaranya.

__ADS_1


"Masha, sayang. Kamu kenapa sih selalu saja membela pria itu. Dari dulu kamu mengejarnya, mencari perhatian dari nya tapi pada ujung nya di tolak juga. Lebih baik kamu sama aku aja yang sudah jelas suka sama kamu. Aku akan memperlakukan mu bagai bidadari tidak seperti perlakuan nya yang sama sekali tidak memperlakukan mu istimewa dari yang lain nya". Rudi tetap menjadikan kelemahan Masha agar tidak terlalu terlihat bodoh.


Masha memilih cuek dan duduk di bangku nya sambil menatap Haikal yang sedang fokus membaca buku.


Rudi mendengus kesal, dia selalu saja di cuekin oleh wanita pujaan hati nya. "Kenapa sih dia selalu saja mengejar lelaki miskin itu, gantengan juga gue, kaya kayaan juga gue. Nggak mikir apa kalau hidup dengan ku dia pasti bahagia karena akan mendapatkan semua yang dia ingin kan. Dasar perempuan bodoh". Gumam Rudi sambil melirik Masha.


*


*


Josep dan Kali sudah berada di depan rumah Haikal untuk menanyakan keputusan anak itu mengenai keputusan nya. Mereka berdua selalu mengawasi Haikal di mana saja dia pergi. Semua yang terjadi pada anak remaja itu selalu mereka ketahui termasuk perlakuan teman - teman nya di sekolah.


Josep dan Kali saling pandang, mereka merasa sedikit risih dengan sikap Sukma tapi mereka tetap duduk di kursi yang di sediakan oleh sukma. Setelah memastikan kedua pria itu duduk, Sukma bergegas masuk untuk mengambil minuman yang sudah ia sediakan dari tadi. Minuman yang seharusnya di minum hangat sekarang sudah menjadi dingin.


Beberapa saat kemudian Sukma kembali menemui mereka dengan meneteng nampan berisi dua cangkir teh dingin. "Silakan di minum bang...". Imbuh Sukma mempersilahkan Josep dan Kali untuk minum.


Saat mereka meminum teh itu, Sukma terus saja mengoceh mengajak mereka ngobrol. "Saya sebenarnya keberatan kalau Haikal pergi kerja dan harus tinggal di rumah majikan nya. Karena saya takut tinggal di rumah ini kalau tidak ada pria untuk menjaga saya dan anak gadis saya. Tapi setelah saya tahu kalau abang berdua tinggal di depan sana saja, saya jadi lega. Saya yakin abang berdua akan selalu menjaga kami". Imbuh Sukma dengan lembut sambil sesekali mengedipkan mata pada Josep dan Kali.


"Emang suami tante kemana?". Tanya Josep membuat Sukma malu karena di panggilan tante.


"Kamu jangan panggil saya Tante dong. Panggil adek saja. Saya memang mamah nya Haikal tapi usia saya masih muda kok. ..". Tawar Sukma menahan malu.

__ADS_1


"Suami saya itu pria brengsek! Sama sekali nggak guna jadi lakik. Saya hanya jadi istri pajangan, dia sama sekali tidak pernah becus memberi saya nafkah. Jangan kan untuk diri saya sendiri, uang untuk makan kami sekeluarga pun hanya Haikal yang menanggung nya. Saya kesihan pada anak lelaki saya itu, dia selalu saja bekerja keras untuk saya dan adik nya...". Sambung Sukma dengan nada sedih.


Karina yang berada dalam kamar nya mendengar ucapan mamah nya hanya bisa mendengus kesal. Sukma sangat pandai mencari simpati orang lain. Dia selalu menunjukkan kalau dia kesihan pada Haikal tapi pada hakikatnya dia juga sama saja dengan suami nya, Karim. Sepasang suami istri yang selalu memperbudak Haikal.


Karina malas mendengar ocehan mamah nya diluar bersama dua orang pria itu. Ia memutuskan ke kamar Haikal untuk membantu pria itu mengemas baju.


"Nak aku tolong tak?". Tawar Karina duduk di samping Haikal.


Haikal tersenyum pada Karina. "Nggak perlu, baju aku cuma segini aja mau di bantu apa nya. Lebih baik kamu istirahat, kamu bangun awal tadi mengerjakannya pekerjaan rumah juga. Kamu pasti capek". Sahut Haikal.


"Maaf, yah. Mulai besok kamu yang harus mengerjakan semua nya sediri. Kuku kamu pasti akan rusak". Sambung Haikal menggoda adik nya.


"Kamu meremehkan aku? Aku memang saudara yang nggak becus, yah. Nggak pernah sekali pun berniat menolong mu selama ini. Tapi aku janji kok, setelah ini aku akan berubah". Imbuh Karina dengan sedikit malu.


"Aku sebenarnya sampai sekarang masih penasaran, kenapa kamu bisa tiba - tiba berubah. Kamu bukan arwah penunggu pohon mangga di depan kan?". Goda Haikal mendapat pukulan dari Karina.


Aksi wanita itu kembali membuat waktu berhenti seketika untuk mereka berdua. Mata mereka kembali saling bertembung sehingga menimbulkan getaran di hati masing - masing.


"Semua nya karena aku takut kehilangan kamu, Kal". Batin Karina.


"Aku sama sekali nggak pernah keberatan dengan sikap kamu dulu, Rina. Karena cukup kamu fokus belajar dan mengejar impian kamu, aku sudah bersyukur banget. Tapi dengan perubahan kamu ini aku tambah senang, semoga kamu bisa mengubah hidup keluarga kita". Batin Haikal.

__ADS_1


__ADS_2