PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Permintaan maaf dari Robin


__ADS_3

Pagi itu di Villa Patrik seorang lelaki setengah baya berwajah sangat kusut dengan pakaian dekil diam mematung di depan pintu sambil berteriak memanggil nama tuan Aaron Patrik dengan sebutan Ayah.


Teriakan keras itu membuat Ivan, yaitu tuan muda keluarga Patrik terbangun dari tidur nya dan segera membuka pintu.


Begitu pintu terbuka, pemuda itu terkejut setengah mati melihat siapa lelaki dekil yang berlutut di depan pintu Villa tersebut.


"Ayah. Ada apa dengan mu? Mengapa keadaan mu sungguh menyedihkan seperti ini?" Tanya Ivan Patrik dengan tatapan penuh iba.


"Anak ku. Tolong lah Ayah mu ini. Ayah sudah tidak punya tempat tinggal lagi. Tolong kasihani ayah mu ini nak." Kata lelaki setengah baya itu.


"Apa yang terjadi dengan Ayah. Bukankah Ayah baik-baik saja bersama dengan Ramensra?" Tanya Ivan.


"Tadinya baik-baik saja. Ini semua karena kebodohan lelaki tua itu yang tidak mau mendengar nasehat. Dia tidak tau siapa yang telah sia provokasi." Kata lelaki yang di sebut ayah oleh Ivan tersebut.


"Apakah maksud maksud Ayah pemilik perusahaan Future of Company?" Tanya Ivan.


"Bukan. Bagaimana orang tua itu bisa memprovokasi orang yang sudah mati." Kata Robin lalu melanjutkan, "Apakah kau ingat acara pelelangan itu? Berawal dari acara pelelangan itu lah Ramendra sekarang bangkrut dan seluruh aset milik nya telah di sita oleh pihak bank. Aku sudah memperingatkan agar dia tidak terus-terusan menaikkan Bid pada pelelangan itu. Sudah berkali-kali dia dikalahkan oleh Daniel dan Ryan. Tapi dia tidak pernah mau jera." Kata lelaki setengah baya itu.


"Tunggu dulu Ayah! Tadi kau mengatakan bahwa pemilik perusahaan Future of Company telah mati. Bagaimana kau tau dia susah mati? Jawab aku dengan jujur Ayah! Apakah kau pelaku dari semua ini?" Tanya Ivan dengan tatapan penuh selidik.


Sebenarnya Ivan tau bahwa pemilik perusahaan Future of Company yaitu Jerry William masih hidup. Dia sengaja menanyakan hal tadi hanya ingin memastikan apakah benar ayahnya terlibat dalam tragedi pengeroyokan di atas jembatan setengah tahun yang lalu.


"Itu.., itu. Ah...?!" Kata lelaki itu tergagap.

__ADS_1


"Hanya ada aku dan kau di sini. Jujur saja lah. Apakah Ayah terlibat dalam peristiwa di atas jembatan yang membuat aku, David dan Kevin koma di rumah sakit? Apakah Ayah juga terlibat atas menghilangnya Jerry William?" Tanya Ivan mendesak.


"Anak ku. Maafkan ayahmu ini. Ayah terpaksa melakukan ini semua atas desakan dari Ramendra. Maafkan atas kesalahan ayah mu ini akakku. Ayah berjanji selamanya tidak akan melakukan kejahatan lagi." Kata lelaki itu masih tetap berlutut.


"Siapa yang sedang berbicara dengan mu Ivan?" Tanya satu suara dari dalam.


"Kakek. Ini Kek.., Ayah telah kembali." Kata Ivan kepada lelaki tua itu.


"Ayah? Apakan anak durhaka itu?" Tanya lelaki tua itu lalu segera menjengukkan kepalanya ke luar.


Begitu dia melihat siapa yang sedang berlutut di depan pintu itu, dia segera berteriak membentak. "Untuk apa kau kembali ke Villa ini Robin? Apakah Ramendra sudah bangkrut makanya kau datang ke Villa ini untuk menjilat putra mu?" Tanya lelaki tua itu dengan sengit.


"Maafkan anak mu ini Ayah. Aku mengaku salah dan bertaubat. Saat ini aku sudah tidak tahu lagi akan ke mana. Harap Ayah sudi memaafkan perlakuanku selama ini kepada mu?!" Kata lelaki setengah baya yang ternyata adalah Robin itu penuh penghibaan.


"Apakah aku tidak mendapatkan kesempatan untuk bertaubat? Apakah aku tidak diberi kesempatan untuk menebus semua kesalahanku pada kalian? Jika begitu maka aku memilih untuk mati di depan kalian berdua supaya kalian puas dengan kematian ku." Kata Robin lalu membenturkan kepalanya ke lantai berulang kali hingga kening nya saat ini sudah mulai berlumuran darah.


"Kakek. Tolong ampuni Ayah ku Kek. Jika tidak dia akan mati." Kata Ivan meratap di depan tuan besar Patrik.


"Kau tau apa tentang sifat licik iblis berwujud manusia ini? Dia melakukan itu karena saat ini dia sudah tidak memiliki tempat untuk bernanung. Jika kau memaafkan nya dengan mudah, lihatlah suatu hari nanti kau akan merasakan seperti menolong anjing terjepit. Setelah di tolong dia malah menggigit." Kata tuan Aaron Patrik.


Ivan menyadari sepenuhnya bahwa perkataan kakeknya ini 100% Benar adanya. Namun naluri seorang anak tidak akan bisa berdusta bahwa dia benar-benar tidak tega melihat ayah nya seperti itu walaupun selama ini dia tidak pernah di anggap sebagai anak oleh Robin.


Melihat Robin saat ini benar-benar telah mandi darah akibat terus-terusan membenturkan kepalanya ke lantai, Ivan yang sudah tidak tahan kemudian berlutut dan ikut-ikutan membenturkan kepalanya ke lantai membuat tuan besar Patrik bukan main terkejut dengan kenekadan Ivan tersebut.

__ADS_1


Lelaki tua ini akhirnya memilih mengalah lalu mencegah kedua anak dan cucu nya itu agar berhenti melakukan tindakan bodoh seperti itu.


"Berhentilah kalian melakukan tindakan bodoh itu! Baiklah. Kali ini aku mengalah. Namun jika aku ternyata seperti menolong anjing tersepit, maka aku tidak akan bertoleransi lagi kepada mu Robin." Kata lelaki tua itu.


Mendengar bahwa dia kini telah mendapatkan maaf dan pengampunan dari tuan besar Patrik, Robin segera menghentikan tindakannya dan bersimpuh di depan kaki lelaki tua itu.


"Robin Patrik bersumpah demi Tuhan yang telah memberikan kehidupan kepada Robin bahwa Robin tidak akan mengkhianati Ayah. Jika itu terjadi, maka biarkan aku di sambar oleh petir." Kata Robin bersungguh-sungguh.


"Aku memaafkan dirimu bukan tanpa syarat, anak durhaka. Kau bukan hanya memiliki kesalahan yang berat kepadaku. Kau bahkan memiliki musuh yang sangat banyak di luar sana. Dan salah satu musuh di mana kau berhutang sangat banyak adalah kepada Jerry William. Kau telah menanam bibit permusuhan semenjak mendiang ayahnya masih hidup. Aku dan Ivan terhutang budi kepada Jerry William ini. Aku memaafkan mu jika dia memaafkan mu dan akan ikhlas jika dia menginginkan nyawa mu."


"Kau tau bahwa ketika kau membelot dan memberontak kepada ku dan mengabaikan Ivan, siapa yang telah memberikan bantuan tanpa pamrih kepada kami? Itu tidak lain adalah Jerry ini. Andai ketika kekacauan itu terjadi dan dia merampas seluruh aset milik keluarga kita, maka tidak ada yang mampu mencegah nya melakukan itu. Tapi musuh mu tidak berhati iblis sama dengan mu. Jika dia menganut sekuku hitam saja kelicikan yang kau miliki, maka jangan harap kau dan Ramendra masih mampu melihat matahari terbit sampai saat ini." Kata tuan Besar Patrik dengan nada kekecewaan kepada Robin.


"Ayah.., tolong bantu aku untuk meminta maaf dan pengampunan kepada Jerry William ini. Aku akan berlutut sepanjang malam di depan rumah nya pun aku mau. Saat ini aku benar-benar ingin bertaubat. Aku ingin memulai kehidupan yang baru dan ingin memberikan kasih sayang ku kepada Ivan."


"Maafkan Ayah mu ini nak. Ayah mu terlambat untuk memberikan kehangatan cinta yang di butuhkan oleh seorang anak terhadap ayah nya. Semoga saja belum terlambat untuk ku dalam mencurahkan kasih sayang ku kepada mu." Kata Robin dengan berlinangan air mata.


"Sudahlah Ayah. Aku tidak pernah membenci mu. Benar atau salah perbuatan mu, bagi ku kau tetap adalah Ayah ku. Itu adalah Darma ku." Kata Ivan.


"Oh Tuhan ku yang maha bijak sana. Mengapa baru kali ini Engkau menyadarkan hamba-Mu ini? Aku bertaubat Tuhan..." Kata Robin Patrik dengan bersungguh-sungguh.


"Sudah lah. Mari masuk ke dalam. Bersihkan dirimu, lalu obati luka mu itu. Setelah beberapa hari nanti, kita akan menemui Jerry. Aku dan Ivan akan berlutut di hadapan nya nanti untuk memohon maaf atas nama mu." Kata tuan besar Patrik.


"Terimakasih Ayah. Aku anak yang tidak berbakti merasa di berkati di sepanjang hidupku karena memiliki Ayah dan Anak yang berhati mulia. Mati pun Robin Patrik tidak akan menyesal." Kata Robin lalu segera bangkit dibantu oleh Ivan dan mereka kemudian memasuki Villa itu. Villa dimana dia pernah memberontak dan menjebloskan tuan besar Patrik kedalam tahanan bawah tanah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2