
"Bangun kan dia! Kami ingin memastikan dia benar - benar masih ada di sini". Robert menarik kerah baju Karim sehingga pria kurus itu sedikit melayang di udara.
"Ba baik pak. Saya akan pa panggil kan". Kata Karim dengan nafas tersengal.
Tubuh Karim di lepas sehingga tersungkur di tanah. Karim bergegas masuk ke dalam rumah berniat memanggil Haikal di kamar nya. Tapi saat pintu kamar terbuka dia baru teringat jika anak itu sekarang tidak tinggal di sini lagi.
"Aku baru ingat kalau Haikal sudah tidak tinggal di sini dan mulai malam ini tinggal di rumah majikan nya. Kalau mereka berdua tahu hal ini, bisa mati aku". Gumam Karim ketakutan.
Sukma yang mendengar maksud kedatangan mereka pun semakin ketakutan. "Kenapa aku baru ingat syarat dari mereka? Sekarang harus bagaimana menghadapi mereka? Ini semua gara - gara anak itu yang selalu saja menyusahkan hidup ku, nggak ada guna - guna nya di pelihara!". Kata Sukma sambil memainkan jari jemari nya..
"Mereka mencari Haikal, mah. Biar aku katakan pada mereka hal sebenar, bapak pasti lupa kalau hari ini Haikal akan tinggal di rumah majikan nya". Tawar Karina.
"Jangan keluar kalau kamu nggak mau mati di tangan mereka berdua". Ancam Sukma tidak mau anak nya dalam bahaya.
Karim kembali menemui kedua pria itu sambil memikirkan alasan apa yang akan ia berikan pada mereka. "Semoga mereka nggak marah lagi". Batin Karim penuh harap..
"Mana anak itu?". Tanya Robert dengan nada dingin membunuh.
"Sa saya baru ingat, Haikal tadi pamit ke rumah teman nya untuk menyelesaikan tugas sekolah. Tahun ini tahun terakhir ia menduduki bangku SMA". Jawab Karim terbata - bata.
"Ke rumah teman nya? Kamu jangan coba - coba bohong sama aku kalau tidak nyawa keluarga mu yang akan menjadi taruhan nya!". Ancam Robert kembali menarik kerah baju Karim.
"Ti tidak pak. Sa saya tidak bohong". Sahut Karim dengan nafas yang tersengal - sengal.
"Ha, ha,". Karim menarik nafas dalam - dalam setelah tubuh nya di lepaskan oleh Robert.
"Kalian meminta saya untuk selalu menekannta dalam pendidikan, maka nya saya tidak melarang nya untuk melakukan kerja kumpulan bersama rekan nya. Saya tidak pernah ingkar dengan ucapan saya, sekarang Haikal sudah menjadi anak genius di sekolah nya itu semua berkat saya. Jika kalian mencari nya sekarang sementara ia ada di rumah teman nya belajar, maka jangan salah kan saya dong. Saya hanya menjalan kan perintah kalian". Imbuh Karim mencari simpati.
__ADS_1
"Dia tampak nya berkata jujur". Bisik Ronal pada Robert.
"Baik kalau begitu lanjutkan tugas kamu. Kami datang ke sini untuk memastikan keadaan nya saja sebelum kami berangkat ke Singapura. Aku akan kembali lagi menjemputnya tepat di hari kelulusan nya. Kamu harus mempersiapkan dia untuk menjadi anak genius dan kuat". Setelah mengatakan itu Robert dan Ronal meninggalkan Karim yang masih tersungkur di tanah.
Karim membuang nafas lega setelah melihat mobil mereka menghilang dari pandangan. "Nasip baik mereka percaya dengan kata - kata ku". Gumam Karim.
Sukma pun keluar dari kamar anak nya menemui suami nya. "Kita beruntung mereka percaya dengan kata - kata kamu". Cerca Sukma.
"Ini semua gara - gara kamu mengizinkan Haikal tinggal di rumah majikan nya! Hampir saja nyawa kita melayang". Sahut Karim kesal.
"Hei, kamu jangan asal nuduh aku! Jika mereka tahu yang sebenar bagaimana kamu membesarkan Haikal, maka kamu orang pertama yang akan di bunuh. Kamu memanfaatkan anak itu untuk membayar gaji kamu dengan ancaman dia akan berhenti sekolah kalau nggak mau membayar nya. Padahal setiap bulan nya mereka selalu mengirim uang banyak untuk biaya hidup anak itu, tapi kamu malah menghabis kan nya sendiri dengan mabuk -mabukan dan judi". Sahut Sukma juga kesal.
"Siapa bilang aku guna uang itu sendiri, aku juga memberi kan kamu sebahagian dan kamu malah menggunakan nya untuk mentraktir brondong kamu sehingga tak tersisa setiap bulan nya. Kamu jangan menyalahkan aku seorang tentang ke mana uang itu semua! Sana malas bicara sama kamu yang nggak tahu di untung". Karim meninggalkan Sukma di ruang tamu.
Karina di dalam kamar tercengang mendengar kenyataan baru yang ia dengar dari perdebatan kedua orang tua nya tadi. "Jadi selama ini Haikal hanya di titip kan di rumah ini untuk di besarkan oleh bapak dan mama. Setiap bulan di kirim kan uang tapi Haikal tetap saja di suruh kerja untuk membayar hutang bapak dan biaya makan kami sekeluarga. Mereka berdua memang sangat kejam pada Haikal". Gumam Karina.
Karina memilih diam saja untuk sementara waktu.
*
*
Keesokan hari nya, Haikal sudah bangun pada jam 4 subuh seperti biasa. Mandi, membersihkan kamar nya yang terlihat seperti kamar anak - anak, sholat kemudian ia melirik jam di dinding.
"Baru jam lima lewat sepuluh menit, masih lama lagi untuk ke sekolah. Aku harus ngapain sekarang, cuci baju sudah, lebih baik aky tanya bibik di mana menjemur nya?". Haikal keluar kamar dengan setelah sekolah sambil meneteng pakaian yang sudah ia cuci di dalam baldi kecil.
"Masih sepi. Semua pada belum bangun balik". Gumam Haikal saat mendapati rumah masih sunyi tiada pergerakan sama sekali.
__ADS_1
Berbekalkan ingatan nya semalam, ia terus berjalan menuju ruang makan yang terhubung langsung ke dapur. "Sama, di dapur juga masih sepi. Sebenarnya di sini bangun jam berapa, sih?". Gumam Haikal bingung.
Haikal terus berjalan sehingga ia menemukan pintu keluar dari rumah. "Aku jemur di sini aja deh". Haikal menjemur pakaian nya di atar kursi kayu yang ada di taman belakang.
Setelah menjemur pakaian nya, Haikal kembali masuk ke dapur dan mendapati bik Saras dan beberapa ART sudah berada di dapur menyiapkan sarapan.
"Den Al dari mana?". Tanya bik Saras.
"Dari belakang nek, he he he. Maaf saa lancang buka pintu dapur nya". Ujar Haikal.
"Jangan minta maaf den. Ngapain den Al ke taman belakang? Lagi cari udara segar yah". God bik Saras.
"Nggak kok nek. Saya tadi ingin jemur baju, tapi setelah keliling taman nggak tali jemuran maka nya saya jemur aja di kursi taman, nggak papa kan nek?". Sahut Haikal.
"Den Al jemur kain di kursi taman? Ha ha ha". Bik Saras tergelak di ikuti ART di samping nya.
"Ada - ada saja tingkat den Al ini. Di sini pakaian akan di cuci di ruangan khusus den dan akan di jemur juga di atas sana. Kalau jemur di taman mah akan mencemarkan pemandangan taman dong". Imbuh bik Saras.
"Oh, begitu yah. Saya akan mengambil nya kembali". Seru Haikal malu.
"Eh, eh, nggak perlu den. Nanti bibik aja yang ambil kan dan cuci ulang. Setahu saya di kamar mandi den nggak ada sabun untuk cuci baju, pasti den hanya mengucek baju itu dengan sabun cair". Sahut ART bernama Sinta.
Haikal tertunduk sambil menggaruk tengkuk nya yang nggak gatal sama sekali.
"Den Al kenapa malah berdiri di situ? Sana duduk, sebentar lagi sarapan siap. Tapi saya heran kenapa den Ayo udah rapi gini padahal masih subuh loh ini?". Tanya Bi Saras.
"Sudah terbiasa di rumah, nek. Saya juga heran dengan penghuni di rumah ini, kenapa memanggil saya den Al. Nyonya besar, nyonya muda tuan besar dan tuan Zack malah memanggil saya Al. Nama saya kan Haikal nek, bukan Al". Cerca Haikal bingung.
__ADS_1
"Kan nggak salah. Haikal, Kal, Al. Kami suka dengan panggilan itu, lebih singkat aja". Imbuh bik Saras beralasan.