
Bab 103
"Prak..."
"Kurang ajar."
Terdengar suara meja di gebrak diikuti oleh makian seorang lelaki setengah baya.
"Bodoh kalian semua. Sia-sia aku memberi kalian makan dan minum. Sia-sia aku memberi kepercayaan kepada kalian jika mengurus bocah ingusan pun kalian tidak becus." Kata seorang lelaki setengah baya memarahi anak buahnya.
"Ampun Tuan Sendiego, anak itu cukup licin. Kami tidak mampu menangkap nya." Kata seorang lelaki yang memiliki badan tegap dan berotot.
"Plak..."
"Sialan kau Rudock. Badan saja yang besar. Tapi otak mu kecil. Aku menugaskan kalian berempat. Tapi, untuk menangkap seorang bocah saja kalian tidak mampu. Benar-benar tidak dapat di harapkan." Kata lelaki setengah baya yang ternyata adalah Sendiego itu.
"Lalu apa yang harus kami lakukan Tuan?" Tanya Rudock ketakutan.
"Cari di mana anak itu berada. Segera tangkap dan bawa kepadaku. Jika tidak, kau akan aku cincang menjadi makanan anjing peliharaan ku."
"Ramond.., bawa orang-orang mu bersama Rudock dan cari anak itu." Kata Sendiego lagi memberi perintah.
"Baik Tuan" Kata Ramond.
"Dan kau Bruno..., pergi ke rumah sakit rakyat Country Home. Jaga orang tua bocah itu. Jangan sampai kabur!"
"Bruno siap menjalankan perintah." Kata lelaki bernama Bruno itu lalu segera bergegas pergi.
"Kalian semua ingat baik-baik! Kali ini saya tidak mau ada lagi kegagalan." Kata Sendiego memperingatkan.
*********
Seorang pemuda membawa tas ransel di punggung nya berjalan cepat dari halte menuju ke kafe bintang di Country Home.
Dia yang saat ini seperti tergesa-gesa berjalan sambil melirik ke kiri dan ke kanan.
Namun belum lagi dia sampai di depan kafe tersebut, 4 orang lelaki menghadang jalannya.
"Mau lari kemana kau Riko?" Kata lelaki itu menegur seorang pemuda yang ternyata adalah Riko adanya.
"Huh.., kau lagi Rudock!? Belum kapok juga kau ternyata." Kata Riko sambil tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Anak muda. Kau sungguh berani meminjam uang tapi tidak mau membayar. Kau bahkan memukuli bawahan ku yang datang untuk menagih." Kata seorang lagi dari ke empat orang itu.
"Aku katakan bahwa aku tidak bermaksud lari dari hutang. Aku hanya meminta waktu satu minggu. Tapi teman mu ini tidak mau berkompromi dengan ku." Kata Riko membela diri.
"Hebat.. Sungguh sangat hebat. Apa kau ingat surat perjanjian yang kau tanda tangani?" Tanya lelaki itu lagi.
"Ya. Aku ingat. Tapi tolong beri aku waktu lagi." Kata Riko memohon.
"Cukup! Sekarang kau mau bayar, silahkan bayar. Jika tidak, ikut kami menghadap tuan Sendiego secara baik-baik atau secara kasar. Terserah kau saja."
"Kalau aku tidak mau?" Tanya Riko menantang.
"Apa kau yakin bocah?"
"Ringkus dia!!!" Kata lelaki itu memerintahkan kepada ketiga orang anak buahnya termasuk Rudock.
"Bug..."
Begitu ketiga lelaki itu ingin meringkus Riko, Riko langsung mengirim tendangan dan tepat mengenai paha salah seorang dari mereka.
Setelah lelaki itu tumbang, Riko yang melihat peluang, segera lari. Namun lelaki yang satu nya lagi berhasil menarik tas yang tersandang di punggung Riko.
Dia dengan kuat merenggut tas tersebut hingga Riko terjajar kebelakang dan jatuh terduduk.
Riko berusaha melawan dan bangkit berdiri. Namun seperti nya lawan tidak memberi kesempatan untuk itu, sampai lah Riko meraba-raba dan menemukan sebongkah kerikil yang agak besar dan melemparkannya tepat ke salah satu tulang kering pengeroyok membuat lelaki itu menjerit kesakitan.
Satu peluang lagi yang dia dapat kali ini membuat Riko segera berdiri dan langsung melarikan diri.
"Wuzzzz...."
"Bugggh..."
Malang bagi Riko. Belum jauh dia bisa berlari, sebatang bat stick di lempar oleh orang lain dari arah samping dan tepat menghantam betis nya membuat Riko tersungkur.
"Bergerak, aku lobangi kepala mu.!" Kata seorang lelaki berbadan besar sambil mengacungkan pistol tepat di kening Riko.
Tidak ada pilihan lagi selain menyerah.
Tak lama kemudian, sebuah mobil land cruiser dengan kecepatan tinggi berhenti secara mendadak tepat di depan mereka.
Seorang lelaki keluar dari mobil yang di ikuti oleh beberapa orang yang mengikuti dibelakang nya.
__ADS_1
"Riko.. Riko.. Riko..."
"Kau sungguh berani mempermainkan aku. Hahaha..., hebat.. Sungguh sangat hebat." Kata lelaki yang baru turun dari mobil itu sambil bertepuk tangan.
"Tu-- Tuan Sendiego. Lepas kan aku!" Bentak Riko dengan berang.
"Lepaskan? Heh bocah. Aku telah berbaik hati telah memberikan mu pinjaman. Tapi kau bukan saja tidak membayar, malah berani memukuli anak buah Sendiego. Kau sungguh bosan hidup Riko." Kata Sendiego sambil tersenyum sinis.
"Aku akan membayar. Tapi tolong beri aku waktu!"
"Waktu? Apa tadi katamu.., Waktu?"
"Dalam prinsip ku, tidak ada istilah memberi tempoh kepada peminjam untuk menunggak hutangnya." Kata Sendiego sambil membungkuk dan menampar-nampar pipi Riko.
"Lalu dengan apa aku harus membayar jika tidak punya uang?" Kata Riko bertanya.
"Hahaha..., kau punya nyali. Pandai bertarung. Kau akan menjadi petarung untuk membayar hutang mu." Kata Sendiego.
"Aku tidak mau. Bangsat lepas kan aku. Aku lebih baik mati dari pada menjadi ayam lagaan bagi mu." Teriak Riko.
"Apa kau yakin ingin menolak tawaran ku?" Tanya Sendiego tersenyum lalu mengeluarkan ponsel nya.
Setelah ponsel berada di genggamannya, dia lalu membuat panggilan video ke salah satu anak buah nya.
Setelah panggilan terhubung, Kini tampak wajah sangar seorang lelaki di layar ponsel.
"Tuan Sendiego. Tugas yang anda berikan telah saya kerjakan dengan baik." Kata lelaki dalam telepon itu.
"Bagus Bruno..., hahaha. Bagus." Kata Sendiego sambil menunjukkan layar ponsel dimana panggilan video itu sedang berlangsung kepada Riko.
Kini Riko dapat melihat dengan jelas beberapa orang lelaki sedang duduk di samping ranjang pasien di Rumah sakit.
Di atas ranjang itu terbaring seorang wanita setengah baya dengan lemah.
"Kau-- Kau Sendiego. Bajingan kau Sendiego... Lepaskan Ibuku!!!" Kata Riko berteriak marah.
"Apa yang harus di lepaskan? Apakah kau melihat anak buah ku menangkap ibu mu? Mereka hanya membesuk ibu mu di rumah sakit. Jangan khawatir Riko! Mereka tidak akan kasar kepada ibumu. Hahahaha." Kata Sendiego sambil tertawa.
"Kau-- kau bener-benar ular sawah Sendiego." Kata Riko menggeram.
"Sekarang pilihan ada di tangan mu. Besok datang ke kantor Arsend dan lunasi hutang mu sebanyak 200 ribu Dollar dan bunga nya 25 ribu Dollar. Atau kau harus bertarung dan memastikan kemenangan untuk taruhan ku. Jika tidak, aku akan membunuh mu juga keluarga mu. Kau mengerti?" Kata Sendiego sambil menjambak rambut Riko.
__ADS_1
Lalu mereka menghajar Riko hingga setengah pingsan dan meninggalkan nya begitu saja di pinggir jalan tanpa ada siapa pun yang berani menolong.
Bersambung...