
"Terima kasih, kamu juga baik kok. Selain baik kamu itu cantik banget. Cantik alami dari hati". Puji Haikal membuat Jasmin berbunga - bunga.
"Kamu bisa aja. Kalau nanti malam aku datang ke kamar kamu ngobrol kamu mau kan?". Tanya Jasmin sengaja mengedipkan matanya menggoda Haikal.
"Hah, nanti malam?". Sahut Haikal kaget.
"Kenapa? Kamu merasa terganggu ya?". Tanya Jasmin dengan sok merajuk nya.
"Bu - bukan begitu. Aku cuma nggak mau kalau ada yang berpikir negatif tetang kita. Lagi pula kalau om Ronal tahu pasti kita berdua akan mati di tangan nya". Jelas Haikal beralasan padahal ia hanya ingin memastikan sesuatu saja.
"Kamu tenang aja, sayang. Tua bangka itu nggak bakalan tahu kok, percaya deh". Imbuh Jasmin meyakinkan.
"Bagaimana kamu bisa semakin itu?". Tanya Haikal.
"Mesti laku yakin. Kamera di kamar kamu sudah aku minta seseorang untuk merusak semua nya. Tiada siapa pun yang akan melihat apa yang akan kita lakukan di dalam kamar itu berdua". Jawab Jasmin meyakinkan.
Haikal tersenyum senang karena yang ia rencana nya satu - persatu akan berhasil. Ternyata Jasmin sangat mudah di percaya dan di manfaatkan. Kekurangan nya itu merupakan keuntungan besar bagi Haikal. Meski pun harus berakting dengan menahan jijik..
"Kalau om Ronal tiba - tiba datang atau keluarga lain melihat kita bagaimana? Jujur sebenarnya aku suka dekat dengan kamu tapi aku was - was karen takut semua nya akan marah dengan kedekatan kita berdua". Ucap Haikal tertundul sedih.
"Kamu tenang saja ya, sayang. Sebenarnya di rumah ini nggak ada orang lain yang menempati selain kita bertiga dan puluhan anak buah Ronal. Aku , kamu dan Ronal adalah satu - satu nya majikan di sini. Tapi tenang saja, Ronal hany pulang pada malam minggu kecuali ada hal darurat yang mengharuskan nya pulang". Jelas Jasmin sambil menggenggam erat tangan Haikal agar pria itu percaya dengan ucapan nya..
"Benar kah? Berarti hanya kamu dan om Ronal yang merupakan keluarga ku. Benar begitu?". Tanya Haikal menjebak Jasmin.
Wanita itu benar - benar sudah lupa pada rencana nya untuk mempengaruhi Haikal untuk balas dendam pada keluarga Purbalingga. Ia kini hanya fokus ingin merayu Haikap hingga benar - benar mendapatkan hati dan raga anak itu..
"Se - sebenarnya masih ada cuma mereka tinggal berjauhan dengan kita semua. Yang tinggal di rumah ini ya hanya kami berdua saja keluarga kamu". Ujar Jasmin gugup.
"Oh, jadi mereka nggak tahu kalau aku udah kembali. Sayang banget padahal aku sangat ingin ketemu mereka semua". Kata Haikal sedikit kecewa.
Haikal terpaksa menebalkan telinganya mendengar Jasmin terus mengoceh bercerita tentang kehidupan nya yang dia juga kurang pasti apakah wanita itu bercerita jujur atau sekedar ingin mengambil perhatian nya.
__ADS_1
Mereka berdua menghabiskan waktu bersama di taman sambil menikmati pemandangan indah di sekitar bunga - bunga yang indah dan segar. Saat masuk waktu magrib, Haikal pamit untuk membersihkan diri karena ia sengaja menumpahkan minumannya ke baju nya sendiri. Hal itu ia lakukan untuk meninggalkan Jasmin yang terlihat semangat bercerita tanpa lelah..
"Kamu kok ceroboh banget, sih sayang. Kan baju kamu jadi kotor sekarang padahal aku masih mau berdua dengan mu". Ucap Jasmin dengan wajah cemberutnya.
"Aku ke kamar dulu yah, bersihkan diri. Rasa nya agak mengggau gitu kalau memakai baju basah begini". Pamit Haikal tidak mengindahkan wajah Jasmin yang cemberut.
Ia sudah melawati batas kesabarannya meladeni wanita genit ini. Telinga nya sudah panas dan ia juga ngerasa cukup gerah berdekatan dengan nya terus dalam waktu lama.
"Ya udah deh. Tapi ingat malam ini yah". Sahut Jasmin pasrah tapi masih sempat mengingatkan Haikal tentang malam ini.
"I - iya. Aku pasti ingat kok. Bahkan aku akan sangat bersemangat menunggu mu datang". Ujar Haikal meyakinkan.
Ia kemudian berlari meninggalkan Jasmin sendiri di kursi taman yang masih betah menghirup udara segae tanpa ingin menoleh kebelakang sekali pun.
"Aku seperti akan mati kalau lebih lama tinggal di sini. Kalau bukan karena ingin mengetahui informasi tentang keluarga kandung ku maka ogah aku meladeni wanita jadi - jadian itu". Gumam Haikal sepanjang jalan menuju kamar nya.
Tapi Haikal teringat pada bibik baik hati di rumah ini. Ia memutuskan ke dapur terlebih dahulu untuk memastikan keadaan pembantu itu baik - baik saja.
"Maaf, mbak. Boleh saya tanya ke mana yah bibik yang membawakan makan malam untuk ku semalam?". Tanya Haikal.
"Oh, mbak Jusma. Ia baru sempat solat asar karena begitu banyak pekerjaan. Ia masih di kamar nya". Jawab Mulan.
"Ternyata nama nya bik Jusma. Boleh saya meminta untuk di buatkan gorengan?". Pinta Haikal.
Mulan tampak keberatan tapi masih bisa bersikap baik pada Haikal. "Boleh tapi kenapa den malah ke sini, bukan nya den nggak di benarkan keluar kamar?". Bingung Mulan..
"Saya baru saja dari taman menemani tante Jasmin hirup udara segar. Tapi saat saya ingin ke kamar, perut saya rasa lapar pula. Mbak boleh buatkan saya cemilan segera kan? Soalnya saya udah sangat lapar". Pinta Haikal dengan wajah dingin..
Ia sebenarnya ingin menunggu bik Jusma selesai sholat tapi melihat sikap Mulan yang sedikit kurang menyambut keberadaan nya di dapur ini, ia iseng aja merepotkan pembantu itu.
"Den sedang apa di sini?". Bik Jusma datang menghampiri Haikal sambil sesekali celingukan melirik ke kiri dan ke kanan seperti orang ketakutan.
__ADS_1
"Saya lapar bik, tapi teman bibi sudah membuat cemilan untuk ku kok". Jawab Haikal santai..
"Tapi kenapa kamu bisa ada di sini? Kalau non Jasmin tahu kamu pasti...". Cemas Bi Jusma.
"Bibik tenang saja, dia pasti tidak akan marah kok". Sahut Haikal meyakinkan.
"Tapi kamu nggak boleh lama - lama di luar kamar, tadi tuan Ronal beri tahu kalau malam ini ia akan pulang karena ada masalah yang harus di selesaikan di lantai bawah". Bisik bik Jusma tapi matanya tidak diam, ia melirik ke kiri - ke kanan berjaga - jaga kalau tiba - tiba ada yang datang.
"Terima kasih bik, tapi bibik boleh tolong saya kan". Bisik Haikal juga.
"Tolong apa den?". Tanya bik Jusma.
"Nanti makan malam tante Jusma bawa ke kamar ku saja, kami akan makan malam bersama di kamar". Bisik Haikal membuat bik Jusma membulatkan mata tak percaya dengan permintaan Haikal.
"Tapi untuk apa den?". Bik Jusma penasaran.
"Nanti bibik juga akan tahu tapi minuman saya tetap beri obat seperti biasa dan minuman ku dan tante Jasmin sama kan saja". Sahut Haikal..
Bik Jusma mengangguk setuju. Sebenarnya penasaran dengan rencana Haikal tapi ia lebih baik menunggu saja hasil nya bagaimana.
"Kalian sedang ngobrol apa?". Tiba - tiba Jasmin datang mengagetkan mereka.
Haikal mau pun Bim Jusma sama - sama salah tingkah tapi dengan cepat Haikal menggapai dengan sikap menggoda.
"Nggak papa kok, aku cuma ingin meminta Bik Jusma untuk menyediakan makan malam untuk kita berdua dan membawa nya ke kamar ku". Ujar Haikal jujur.
"Benar begitu bik?". Tanya Jasmin pada Bik Jusma yang terlihat ketakutan.
"Be - benar non". Jawab bik Jusma dengan wajah ketakutan. Ia sebenarnya ingin mengatakan kalau Ronal akan datang malam ini tapi jika Jasmin tahu maka rencana Haikal akan gagal.
Ia akan menerima resiko asal bisa membantu Haikal menjalankan rencana.
__ADS_1