
Mobil Mercedes hitam dari MegaTown itu tampak melaju dengan kecepatan penuh meninggalkan Villa milik mendiang Ramendra menuju Metro City.
Tampak seorang lelaki berusia 30-an sedang fokus mengemudi. Sementara di kursi penumpang tampak sepasang lelaki dan wanita muda dengan kulit kuning Langsat dan bermata sipit.
Sepintas tampak wajah kedua orang yang berbeda jenis kelamin itu sangat mirip satu sama lain.
Dua orang yang duduk di kursi penumpang itu tidak lain adalah Jimmy dan Jessica. Sementara itu, lelaki yang kelihatan sedang fokus mengemudi kendaraan itu bernama Leo.
Mereka bertiga ini mendapat tugas dari Fardy untuk berangkat ke Metro City guna memberikan bantuan kepada Tuan Holmes sekaligus melacak kemana anggota mereka yang kata Tuan Holmes tidak berada di Metro City.
Perjalanan ketiga orang dari MegaTown ini awalnya aman-aman saja tanpa sesuatu yang mencurigakan.
Namun, ketika mereka mulai melewati perbatasan antara MegaTown dan Metro City, keanehan mulai dapat mereka rasakan.
Ini tidak lain karena di setiap satu kilometer, mereka seperti di hadang oleh serombongan mobil-mobil BMW yang sepertinya mempersilahkan mereka untuk mendahului.
Berjarak satu kilometer lagi, hal yang sama juga mereka rasakan dan itu terus berlanjut sampai ke jalan yang menuju jembatan.
"Leo. Apakah kau merasakan keanehan?" Tanya Jimmy.
"Maksud mu keanehan apa Jimmy?" Kata Leo balik bertanya.
"Apakah kau tidak merasakan bahwa kita sedang di buntuti?"
"Ya. Aku juga merasakannya. Tapi siapa yang membuntuti kita? Kita tidak pernah membuat silang sengketa dengan siapapun sampai saat ini." Kata Leo.
"Entahlah. Firasat ku merasakan sesuatu." Kata Jimmy.
"Tenanglah kawan. Sebentar lagi kita akan tiba di pinggiran kota Metro." Kata Leo.
"Bisakah kau mempercepat laju kendaraan ini Leo? Aku merasa kau sepertinya semakin mengurangi kecepatan." Kata Jimmy yang mulai gelisah.
"Tenang Jimmy. Jangan karena kegelisahan mu itu membuat kita nanti mengalami kecelakaan lalu lintas." Kata Leo yang semakin memperlambat laju kendaraan.
"Apa maksudmu ini Leo? Kau malah memperlambat laju kendaraan." Tegur Jimmy yang semakin gelisah.
"Hahahaha...."
"Apa yang lucu Leo? Kau jangan bertindak yang aneh-aneh!" Bentak Jimmy.
"Tidak ada yang aneh. Keanehan itu sebentar lagi terjadi." Jawab Leo semakin memperlambat laju mobil yang mereka tumpangi itu.
Benar saja. Tidak sampai satu menit, kini puluhan mobil di belang mereka mulai menyalib mobil mereka lalu setelah konvoi mobil itu berada di depan, mereka langsung menginjak rem membuat Leo pun terpaksa menghentikan kendaraannya.
Kini dari dalam kendaraan yang menghadang mereka tadi mulai berkeluaran para lelaki sangar berbadan tegap dan langsung memukul kaca di bagian penumpang membuat Jimmy dan Jessica terpaksa menunduk.
__ADS_1
"Keluar kalian secara baik-baik atau akan aku paksa dengan kekerasan!" Kata para penghadang itu dengan memegang tongkat karet seperti pentungan satpam.
"Keluar kataku atau aku akan membakar mobil ini dan kalian akan menjadi daging panggang didalamnya!" Bentak mereka lagi.
Leo, yang memang berkomplot dengan penghadang ini berpura-pura keluar dari mobil sambil mengangkat tangannya.
Begitu Leo keluar, salah satu dari lelaki berbadan besar itu langsung meringkusnya dan menyeret Leo menemui ketua mereka.
"Bagus Leo. Kau berhasil membawa korban dengan baik."
"Hahaha. Bagaimana dengan acting ku kak Arslan?" Tanya Leo.
"Bagus. Tapi tugas mu beracting belumlah selesai. Kau masih harus beracting lagi nanti di depan Tuan Holmes."
"Maksudnya kak?" Tanya Leo.
"Temui Tuan Holmes. Katakan kepadanya bahwa Fardy mengingkari perjanjian. Kau harus bisa mengadu-domba mereka berdua. Dengan begitu, Tuan Holmes akan marah. Kemarahannya ini lah yang kita inginkan." Kata Arslan.
"Kak Arslan. Mereka sudah berhasil kami ringkus. Selanjutnya bagaimana?" Tanya anak buah Arslan.
"Tutup mata mereka dan masukkan kedalam mobil. Salah satu dari kalian harus membawa mobil milik mereka. Kita akan memotong-motong mobil itu nanti di markas dan jadikan cacahan besi." Kata Arslan.
"Siap Kak!" Jawab anak buah itu.
"Nah Leo. Kau silahkan pergi. Di depan sana ada sebuah mobil terparkir. Kau bawa itu ke tempat Tuan Holmes. Setelah itu, jangan lagi kembali ke MegaTown. Langsung saja ke Villa Klasik! Aku harus menelepon ketua untuk memberitahu bahwa dua ekor orang asing itu telah di Tawan." Kata Arslan.
Begitu Leo berlalu meninggalkan Arslan, Arslan pun langsung mengeluarkan ponselnya lalu menelepon Jerry.
*********
Sementara itu, pergelutan antara Jerry melawan Ryan, Riko dan Daniel masih terus berlangsung sebelum ponsel milik Jerry berdering menandakan ada yang menelepon.
"Woy ponsel ku berdering. Sudah dulu. Lepaskan baju ku ini!" Kata Jerry kepada Daniel.
"Siapa yang menelepon mu?" Tanya Ryan.
"Mana aku tau. Makanya diam dulu kalian." Kata Jerry lagi sambil mengeluarkan ponselnya.
"Kak Arslan." Bisik Jerry lalu menjawab panggilan itu.
"Hallo Kak!"
"Jerry. Target sudah dijinakkan. Bagaimana selanjutnya?" Tanya Arslan.
"Bawa kedua pengkhianat itu ke Villa Klasik kak! Waktunya aku melepaskan geram kepada dua tikus itu." Kata Jerry.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Kami sekarang akan bergerak kembali ke Villa Klasik." Kata Arslan lalu mengakhiri panggilan.
"Siapa Jerry? Sepertinya sangat penting." Tanya Riko.
"Kak Arslan. Dia berhasil menangkap Jimmy dan Jessica." Jawab Jerry.
"Bagus. Aku juga ingin melihat wajah penghianat itu." Kata Riko pula.
"Mereka pikir dunia ini terlalu luas untuk bisa menghindar dari Jerry William. Mereka salah besar jika bermain api dengan ku." Kata Jerry.
Baru saja Jerry bangkit, teleponnya kembali berdering.
"Siapa lagi itu?" Tanya Ryan.
"Sssst...! Ini paman Jeff." Jawab Jerry sambil menyuruh mereka untuk diam.
"Halo Paman Jeff!" Kata Jerry begitu panggilan telepon itu terhubung.
"Ketua. Saat ini kami berada di pantai Country home bersama dengan Tigor. Orang yang Ketua suruh untuk kami jemput."
"Bagus Paman. Aku akan menyuruh Tuan Syam untuk menghubungi Tuan Barry. Kalian akan segera dijemput menggunakan Helikopter." Kata Jerry.
"Terimakasih Ketua." Kata Jeff.
Setelah panggilan itu berakhir, Jerry pun segera mengirim pesan suara kepada Tuan Syam untuk menghubungi Tuan Barry dan menyuruhnya untuk menjemput Jeff dan Tigor yang saat ini sedang berada di perkampungan pinggir pantai yang masih termasuk wilayah Country home itu.
"Semua rencana berjalan dengan mulus. Tidak satupun yang bisa selamat ketika aku sudah mengincarnya. Lari lah sejauh mungkin. Perangkap tidak akan melupakan sasarannya. Sasaran lah yang selalu melupakan perangkap." Kata Jerry.
"Ayo bangun kalian. Waktunya serius. Persiapkan diri kalian bertiga. Kita akan melakukan penyiksaan terhadap dua ekor manusia penghianat itu. Karena mereka pantas mendapatkannya." Kata Jerry.
"Iya. Ayo serius!" Kata Daniel pula.
Namun, seserius apa pun wajah Daniel ini, tetap saja membuat Jerry, Ryan dan Riko kembali tertawa terpingkal-pingkal.
"Alah... setan kalian semuanya. Aku mau mandi dulu! Suruh anak buah mu membelikan kami pakaian baru. Yang mahal. Ingat Jerry! Harus yang mahal!" Kata Daniel sambil melenggang ke belakang.
"Dasar sialan. Enak saja. Kemana semua pakaian mu?" Tanya Jerry.
"Tinggal di Indonesia dan Starhill. Atau jika kau terlalu pelit, kau bisa menjemput pakaian kami ke Starhill menggunakan jet pribadi." Kata Daniel yang sudah jauh ke bagian belakang Villa itu.
"Apa kalian juga sama?" Tanya Jerry kepada Ryan dan Riko.
"Sama lah. Apa kau kira hanya Daniel saja yang tidak memiliki pakaian ganti." Jawab Ryan yang kembali bertanya.
"Haduh.. setahun lagi aku berteman dengan kalian. Bisa rontok semua rambut di kepala ku." Kata Jerry.
__ADS_1
"Apa tidak sebaiknya saja semua bulu yang ada di tubuh mu ikut rontok." Kata Ryan sambil menarik Riko untuk berlalu pergi dari tempat itu.
Kini tinggallah Jerry sendirian terbengong karena aksi dari ketiga sahabatnya itu.