
setelah mendengar perkataan majikan mereka, bagai mendapat keberuntungan di tengah malam. Mereka masuk ke dalam kamar Jasmin secara serentak. Dari dulu mereka memang terpesona pada tubuh Jasmin, tapi mereka di sini haya anak buah, tidak berani berbuat apa - apa di luar batas.
Malam ini menjadi malam yang begitu mengerikan untuk Jasmin. Jika ia dalam keadaan sadar sudah dapat di pastikan ia gila pada saat itu juga karena di gilir oleh beberapa orang dalam keadaan tidak rela.
Setelah puas, ketiga pengawal itu membersihkan tempat kejadian agar tidak meninggalkan bukti jika mereka sudah menikmati tu6uh nona mereka itu pada malam ini. Senyum puas terbit di sudut bibir ketiga nya saat keluar dari kamar Jasmin.
"Semoga benih ku tak menjadi di dalam rahim wanita tua itu karena di antara kami tak ada satu pun yang memakai pengaman saat melakukan nya". Batin salah satu dari mereka.
"Semoga saja nona Jasmin udah menopos dan tak bisa hamil". Batin yang satu nya lagi dengan penuh harap.
"Semoga benih bos Ronal yang berhasil memenangkan pertarungan dalam rahim nona Jasmin, karena benih bos Ronal yang paling unggul di antara kami berempat, semoga saja". Gumam yang lain.
Keesokan harinya, Jasmin merasa pusing yang teramat sangat. Badan nya juga sakit di mana - mana seperti telah di hentam benda yang begitu berat. Apa lagi di bagian intim nya, ia merasa begitu nyeri padahal ia sama sekali tidak ingat kalau pernah melakukan hubungan semalam. Ia pernah merakan hal yang sama saat dulu waktu ia masih muda pernah membayar dua orang pria untuk melayaninya di kasur sekali gus. Tapi sayang nya ia yang tumbang dan malah tak sanggup memenuhi hasrat dua pria itu.
"Kenapa aku merasa sakit di bagian pusaka ku, yah? Seingat ku semalam terakhir kali di kamar Haikal aku tertidur karena merasa ngantuk banget. Apa kah ini perbuatan Haikal?". Jasmin berandai - andai membayangkan semalam ia dan Haikal menghabiskan malam bersama.
"Tapi sayang banget aku kok nggak ingat apa - apa yah? Dan kenapa aku sekarang ada di kamar ku sendiri, siapa yang membawaku ke sini?". Bingung Jasmin..
Pakaian nya kini sudah lengkap terpakai. Sama sekali tidak meninggalkan jejak jika semalam telah melewati malam yang panjang bersama pria mana pun kecuali nyeri yang di rasakan nya di bahagian bawah dan lelah yang menimpa tubuhnya sebagai bukti.
"Aku akan bertanya pada Haikal nanti apa yang terjadi semalam di antara kami. Kalau dugaan ku benar, maka aku akan memintanya mengulang kembali dalam keadaan aku sadar". Senyum Jasmin terbit di wajah nya saking tak sabar memastikan semua nya. Ia sangat berharap kalau dugaan nya tak meleset.
__ADS_1
Selesai membersihkan diri. Jasmin menuju ruang makan Untuk mengisi perut yang sudah melilit dari tadi. Tapi saat berada di ambang pintu, betapa terkejutnya dia melihat Ronal duduk di sana bersama Haikal menikmati sarapan mereka.
"Bi - bila kamu pulang, mas?". Tanya Jasmin gugup.
Ronal menatap nya tajam tapi dengan cepat tersenyum menyambut Jasmin. "Udah dari semalam sayang. Kamu pasti lelah maka nya lambat bangun. Sini duduk di samping ku, maaf kalau nggak bisa nunggu kamu makan soal nya aku dan Haikal udah laper banget". Sahut Ronal membuat Jasmin tercengang.
"Ke - kenapa dia bilang aku pasti lelah? Jangan - jangan???". Tubuh Jasmin bergetar saat melihat Ronal tersenyum dan tiba - tiba bersikap baik pada nya.
Jasmin tampak menurut meskipun ia sedang berperang dengan pikirannya sendiri. "Makan yang banyak makanan bergizi ya sayang. Supaya kamu sehat dan tetap ketat". Bisik Ronal di telinga Jasmin.
Jasmin membulatkan mata nya tak percaya dengan apa yang di katakan Ronal. Ia semakin yakin kalau yang membuat alat intim nya sakit bukan Haikal melainkan Ronal. Ia kemudian melirik Haikal yang tetap fokus menghabiskan sarapannya. Ia ingin bertanya pada anak itu apa yang terjadi tapi Haikal tampak nya bersikap cuek padanya dan hanya menanggapi Ronal saja..
Haikal menatap Ronal dan Jasmin bergantian, ia sudah menduga kalau kedua orang ini akan mendesak nya untuk membuat keluarga nya sendiri menderita.
"Iya om. Aku sudah tahu semua nya. Aku berubah pikiran. Aku akan membalas dendam kedua orang tua ku pada keluarga yang sudah membuat hidup mereka sengsara. Aku akan pastikan keluarga itu hancur - se hancur hancurnya. Aku akan membuat mereka hidup segan mati tak mau di dunia ini". Sahut Haikal dengan raut wajah serius.
Ronal tersenyum senang melihat Haikal berubah pikiran. Ia juga menggenggam tangan Jasmin dengan lembut. "Terima kasih ya sayang. Kamu berhasil membuat Haikal berubah pikiran dan mau membantu kita membalas dendam pada keluarga itu". Ucap Ronal pada Jasmin.
Jasmin pun tak menyangka jika Haikal berhasil masuk ke dalam perangkap mereka padahal ia sama sekali tak terlalu memperdulikan masalah itu akhir - akhir ini.
"Tapi aku penasaran apa saja yang kamu lakukan sampai Haikal bisa berubah pikiran dalam waktu dekat ini?". Tanya Ronal sambil menatap Jasmin lekat.
__ADS_1
"Ukkhhh,,ukhhh". Jasmin tersedak mendapat pertanyaan semacam itu dari Ronal. Ia khawatir kalau selama ink ia sibuk membuat pendekatan dengan Haikal maka nya Haikal dengan mudah nurut pada keinginan nya.
"Kamu nggak papa kan? Ini minum". Ronal menuangkan segelas air lalu memberi kan nya pada Jasmin.
Selesai makan, Ronal meninggalkan Jasmin berdua dengan Haikal di meja makan. "Kalian sarapan aja yah. Om ada urusan yang harus di selesaikan di luar". Ronal beralih menatap Jasmin. "Jangan lupa angkat panggilan dari ku, yah". Sambungnya pada Jasmin..
"I - iya mas". Sahut Jasmin gelagapan..
Setelah Ronal pergi. Jasmin menghampiri Haikal.
"Kamu bisa jelaskan pada ku apa yang sudah terjadi semalam? Jujur aku sebenarnya bingung sekaligus penasaran". Tanya Jasmin pada Haikal.
Sebelum menjawab pertanyaan Jasmin, Haikal minum terlebih dahulu sambil berpikir apa yang harus ia katakan pada wanita itu. Jujur ia juga sebenarnya bingung harus jujur tentang perbuatan Ronal semalam atau tidak. Karena saat Ronal mengizinkan tiga pengawal nya masuk ke kamar Jasmin ia kebetulan mengintip di sela - sela pintu kamar nya.
"Saya juga nggak tahu apa yang terjadi pada mu semalam. Keluar dari kamar mandi aja kamu udah tertidur pulas di sofa. Menepuk - nepuk pipi tapi kamu tetap nggak merespon seperti orang pingsan gitu. Saat ingin mengangkat kamu ke ranjang tiba - tiba om Ronal datang. Aku berasalan saja ingin membawa kamu ke kamar tapi om malah menawarkan diri untuk mengangkat kamu. Setelah itu aku juga nggak tahu apa lagi yang terjadi...". Ujar Haikal berusaha memasang wajah polos nya.
"Tapi aku berani bersumpah, kalau aku sama sekali nggak menaruh apa - apa di minuman yang kamu minum. Aku takut kamu malah buruk sangka pada ku". Sambungnya saat Jasmin hanya diam saja.
"Aku tahu kok, karena aku yang sebenarnya yang meminta bibik untuk menaruh sesuatu di setiap minuman kamu agar....". Jasmin langsung menutup mulutnya karena hampir saja keceplosan..
"Menaruh sesuatu di minuman ku? Jadi selama ini kamu berniat buruk pada ku?". Pancing Haikal, ia ingin Jasmin jujur sendiri dengan perbuatan nya.
__ADS_1