PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Rencana mengawal R2D ke Metro city


__ADS_3

Berita tentang ketertarikan orang-orang perusahaan Future of Company tentang minat mereka kepada hotel Mega yang akan segera di lelang itu membuat para pengusaha yang lain merasa sedikit minder.


Hal ini karena selain kekuatan finansial, pemilik perusahaan tersebut yaitu Jerry, dikabarkan memiliki ikatan emosional dengan hotel tersebut. Pasalnya, hotel Mega ini di bangun oleh ayahnya sendiri yaitu Wilson William.


Herey, Arslan dan anak buah Jeff terus menghembuskan kabar tersebut di mana saja mereka singgah, sampai akhirnya berita itu kini menjadi buah bibir di kalangan orang-orang Contry home dan Starhill.


Ini semua di perkuat dengan pernyataan Daniel dan Ryan di surat kabar bahwa mereka telah di berikan wewenang oleh Jerry William untuk memenangkan pelelangan tersebut walau berapapun harganya.


Robin Patrik, andalah antara orang yang tidak tenang diam ketika kabar itu sampai ke MegaTown.


Dia ingin memiliki hotel tersebut untuk menjadikannya sebagai sarang mafia, pelacuran, dan surga nya para hidung belang.


Dia beranggapan hanya dengan begini lah dia baru bisa menginjak-injak Wilson yang telah bermati-matian merealisasikan terwujud nya bangunan hotel megah tersebut.


"Ayah. Aku tidak mau tau. Aku akan mengeluarkan berapa pun banyaknya uang untuk memenangkan lelang tersebut. Hotel itu sangat bermakna bagi ku." Kata Robin di sela-sela pertemuannya dengan Ramendra.


"Kau benar Robin. Ini semua adalah demi nama baik dan gengsi yang di miliki oleh Ramendra. Selama ini sangat jarang Ramendra gagal dalam mendapatkan apa yang di inginkan." Kata Ramendra.


"Saat ini Jerry entah mati atau hidup. Namun ketiga anak ingusan itu bisa menjadi duri dalam daging bagi kita. Jelas jika dibiarkan, anak ini akan menjadi batu sandungan bagi kita." Kata Ramendra lagi.


"Jika di izinkan, ingin rasanya aku mengutus orang-orang untuk menyingkirkan ketiga anak ini." Kata Robin.


"Apa kau memiliki rencana?" Tanya Ramendra.


"Aku pernah mendengar bahwa di New Village ada segerombolan pembunuh bayaran yang mau melakukan apa saja demi uang. Kita bisa membayar mereka berapa saja demi nyawa ketiga anak bau kencing ini." Kata Robin.


"Apa kau tau di mana sarang mereka?" Tanya Ramendra mulai tertarik.


"Itu lah yang tidak sempat aku tanyakan kepada Ramsey dan Sendiego. Tapi Simon mungkin mengetahui ini." Kata Robin menyesali kebodohannya karena tidak sempat menanyakan kepada Ramsey tentang sarang kelompok pembunuh bayaran ini.


"Simon saat ini berada di penjara akibat tertangkap saat melakukan unjuk rasa. Jika kau atau aku yang mengunjungi, sudah pasti ini tidak akan baik. Pasti pihak kepolisian menduga bahwa kita memiliki maksud tertentu dengan mengunjunginya di penjara." Kata Ramendra.

__ADS_1


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Robin yang mulai merasakan stres berhadapan dengan ketiga pemuda itu.


"Kita tunggu dulu suasana lebih dingin. Bagaimanapun jika kita bertindak sekarang, semua tuduhan pasti akan di arahkan ke kita. Tetap tenang dan jangan gegabah." Kata Ramendra menasehati.


"Cari saja seseorang petugas yang bisa kita suap. Bagaimanapun, belum tentu mereka itu semuanya jujur." Kata Robin.


"Benar juga. Nanti akan ku coba mencari informasi siapa yang bisa kita suap agar kita bisa menjenguk Simon dan Efander di penjara." Kata Ramendra tampak tersenyum bersemangat.


...*********...


Di Starhill saat ini, Daniel, Riko dan Ryan baru saja mendengar kabar bahwa Ivan sudah mulai sadar. Hanya saja David dan Kevin masih juga belum bangun dari koma.


"Bagaimana Ryan? Apakah kita harus menjenguk Ivan di rumah sakit?" Tanya Daniel meminta pendapat dari Ryan.


"Aku rasa tidak perlu. Aku tidak berani pergi ke Metro city. Bagaimanapun aku khawatir Ramendra telah mengirim orang-orangnya untuk memantau dan mencelakai kita." Kata Ryan.


"Apa yang perlu di takutkan? Jika memang mati ya di kubur." Kata Riko yang terkenal tidak memiliki rasa takut dan gampang naik darah itu.


"Menurut ku, kita memang harus ke Metro city untuk menunjukkan kepedulian kita kepada Ivan, juga memberi semangat kepada pak Regan. Bagaimanapun David dan Kevin juga sahabat kita." Kata Daniel.


"Begini saja?! Jika memang kalian ingin mengunjungi Ivan, sebaiknya kita meminta pendapat kepada tuan Barry. Jika dia mengizinkan, maka ayo kita berangkat." Kata Ryan.


Mereka bertiga lalu sepakat untuk meminta pendapat sekaligus persetujuan dari tuan Barry.


"Kau telpon saja tuan Barry itu Ryan!" Kata Daniel.


"Baiklah." Kata Ryan sambil mengeluarkan ponselnya dan mulai menelepon ke nomor tuan Barry.


"Hallo...?!" Kata tuan Barry begitu panggilan itu terhubung.


"Selamat malam Tuan Barry." Kata Ryan.

__ADS_1


"Selamat malam juga. Ada apa kau menelepon ku Ryan?" Tanya tuan Barry.


"Tuan Barry.., kami mendengar kabar bahwa Ivan Patrik telah sadarkan diri di rumah sakit Metro. Kami berencana ingin mengunjungi mereka." Kata Ryan menceritakan maksudnya menelepon tuan Barry tersebut.


"Kapan kalian akan berangkat?" Kata tuan Barry menanyakan kapan ketiga pemuda itu akan berangkat ke Metro city.


"Mungkin besok pagi Tuan." Kata Ryan.


"Sebenarnya aku sangat berat untuk melepaskan kalian pergi ke Metro city. Ini karena beberapa mata-mata kita telah memberitahu bahwa kalian bertiga saat ini menjadi sasaran Ramendra. Mereka bahkan berencana akan menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh kalian bertiga." Kata tuan Barry.


"Aku telah mempersiapkan pengawalan yang ketat untuk kalian bertiga. Kau Ryan.., coba kau lihat keluar sekarang!" Kata tuan Barry.


"Ada apa di luar Tuan?" Tanya Ryan penasaran. Namun dia tetap juga melangkah ke arah pintu dan menjengukkan kepalanya ke luar.


Setelah Ryan memperhatikan keadaan di luar, kini dia melihat beberapa kelebat bayangan orang-orang yang bersembunyi di antara tanaman bunga dan beberapa lagi berada di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan.


"Siapa mereka ini Tuan?" Tanya Ryan mendadak pucat.


Mereka itu adalah anak buah Herey dan anak buah Jeff yang aku tugaskan untuk mengawal kalian bertiga. Arslan bahkan ada di sana." Kata tuan Barry menjelaskan.


"Apakah segawat itu keadaan saat ini Tuan?" Tanya Ryan.


"Keadaan bahkan bisa lebih gawat lagi. Ini karena mereka ingin agar kalian tidak menjadi batu sandungan bagi mereka dalam pelelangan nanti." Kata tuan Barry.


"Lalu, bagaimana menurut anda Tuan? Apa yang harus kami lakukan?" Tanya Ryan dengan degup jantung yang berantakan saat ini.


"Kalian bisa saja pergi. Namun kau harus berhati-hati. Usahakan agar kepergian kalian di rahasiakan. Jika tidak, maka aku tidak tau lagi bagaimana harus melindungi kalian." Kata tuan Barry.


"Jika begitu baiklah tuan. Kami akan berangkat besok subuh melalui jalan darat. Beritahu kepada tuan Syam bahwa kami akan berangkat ke Metro city dan kemungkinan akan tiba di sana Sore hari." Kata Ryan.


"Kau hati-hati Ryan. Bawa serta Arslan bersama kalian. Aku akan segera menghubungi tuan Syam sekarang." Kata tuan Barry lalu segera mengakhiri panggilan telepon tersebut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2