
Gadis berbaju merah itu baru saja selesai mencuci pakaian dari sungai ketika satu suara memanggil namanya.
"Clara.., bolehkah kau membantu kakek untuk membeli tembakau di kampung?" Tanya seorang lelaki tua itu sebaik saja gadis itu selesai menjemur kain yang baru saja selesai dia cuci.
"Baik Kek. Sebentar lagi aku akan pergi ke kampung." Kata gadis itu.
"Ajak saja Jerry untuk menemanimu!" Kata orang tua tersebut.
"Benar Clara. Ajak lah Jerry agar sesekali dia bisa melihat dunia luar. Sudah 3 bulan dia berkurung terus di pondok ini." Kata seorang wanita setengah baya menyuruh agar anak gadisnya mau membawa Jerry sekedar berjalan di kampung yang letaknya sekitar satu kilo meter dari gubuk mereka.
"Ayo Kak. Aku akan membawamu keliling kampung mountain slope." Ajak Clara yang di sambut anggukan oleh Jerry.
Tak lama kemudian sepasang muda-mudi itu berjalan kaki di pinggiran sungai karena dari situ lah jalan pintas yang terdekat untuk memasuki perkampungan melalui jalan pinggiran sungai tersebut.
"Clara, apakah kau sering ke kampung itu?" Tanya Jerry.
"Sering Kak. Beberapa bulan yang lalu aku sering keluar masuk kampung itu untuk menjual hasil tanaman sayur dan lainnya. Aku juga pernah mengambil upah untuk menjaga burung agar tidak memakan padi petani apa bila sudah masanya hampir panen." Jawab Clara sambil terus berjalan di sisi Jerry.
"Apakah kau tidak takut berjalan sendirian di pinggir sungai ini?" Tanya Jerry.
"Tidak Kak. Apa yang perlu di takutkan?" Tanya Clara.
"Ya.., siapa tau ada yang mencoba mengganggu mu. Kau kan gadis cantik?!" Kata Jerry sambil menggoda.
"Siapa yang berani mengganggu Clara? Mendengar nama Malik saja mereka sudah ketakutan." Jawab Clara lagi.
"Siapa itu Malik, Clara?" Tanya Jerry.
"Kakek. Namanya adalah Malik." Jawab Clara singkat.
"Oh.., ternyata kakek mu bernama Malik?!" Kata Jerry sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Mengapa Kak? Apakah kau belum tau nama beliau?" Tanya Clara.
"Aku mana berani bertanya siapa namanya." Kata Jerry sambil tersenyum kecut.
"Hahaha.., iya lah. Kau pasti sungkan." Kata Clara sambil tertawa renyah.
Mereka terus saja berjalan di pinggiran sungai tersebut. Sesekali Jerry membantu Clara memegang tangan nya jika melewati jembatan bambu untuk menyeberangi anak sungai.
"Sebenarnya apa pekerjaan mu di kota Kak?" Tanya Clara ingin tau.
"Tidak punya. Aku tidak punya pekerjaan di kota." Jawab Jerry.
__ADS_1
"Lalu, kalau tak kerja, apakah kau pengangguran?" Tanya Clara.
"Emmm..., pengangguran? Tidak. Aku memang tidak bekerja. Tapi tidak juga bisa di katakan pengangguran." Jawab Jerry.
"Aneh sekali kau ini Kak." Kata Clara sambil mencibir.
"Kerja ku di kota hanya menunjuk ini dan itu. Perintah sana perintah sini. Itu lah pekerjaan ku." Jawab Jerry.
"Oh ya Clara?! Apakah kau tidak ingin untuk menyambung pendidikan?" Tanya Jerry.
"Sebenar nya keinginan itu ada Kak. Tapi aku tidak tega meninggalkan ibu dan kakek. Apa lagi kakek. Dia sudah sangat tua." Kata Clara.
"Apakah mereka mau andai aku mengajak mereka untuk pindah ke kota?" Tanya Jerry.
"Aku pernah mendengar bahwa kakek benci dengan kota. Tapi coba saja! Barang kali dia mau." Kata Clara menjawab pertanyaan Jerry.
"Ya aku akan mencoba nya. Sangat di sayangkan jika kau tidak melanjutkan studi mu. Belum terlambat. Kau tau Joanna kan? Dia sudah berangkat ke Starhill untuk melanjutkan studi nya." Kata Jerry.
"Kau mengenal Joanna Kak? Bagaimana kau bisa mengenal keponakan kepala desa itu?" Tanya Clara heran.
"Jujur saja kalau aku sudah pernah ke kampung mountain slope itu sekitar 4 bulan yang lalu." Kata Jerry.
"Benarkah? Lalu apa yang kau lakukan sampai mau dari kota jauh-jauh ke desa ini?" Tanya Clara.
"Ketika itu aku menemani sahabat ku yang bernama Ryan untuk berlibur ke desa ini bersama seorang lagi sahabat. Kebetulan dia anak kepala desa di Mountain slope ini." Kata Jerry menjelaskan kedatangannya ke kampung itu.
"Apakah ada pemuda lain yang datang ke perkampungan itu?" Tanya Jerry.
"Tidak, eh. Tidak tau juga." Jawab Clara sedikit gugup.
...***...
Saat ini tanpa terasa Jerry dan Clara telah memasuki pinggiran perkampungan.
Di sepanjang jalan itu Jerry terus-menerus menundukkan kepalanya karena khawatir kalau bakalan ada yang akan mengenalnya.
"Ayo berjalan yang benar!" Kata Clara menegur Jerry yang seperti seorang maling ketakutan.
Akhirnya Jerry terpaksa juga menuruti kemauan Clara, namun masih tetap menunduk di belakang gadis itu.
Ketika mereka sampai di sebuah kedai yang menjual lumayan lengkap barang-barang keperluan sehari-hari, Jerry melihat banyak alat berat dan para pekerja membangun sebuah pabrik dan juga pelebaran jalan aspal yang sudah mulai hampir 20% tahap pengerjaannya.
"Hmmm.., Mengapa pekerjaan ini lama sekali? Susah 3 bulan namun sepertinya baru 2 bulan saja jika di ukur dari jumlah alat dan tenaga kerja. Apakah mereka sengaja melambat-lambatkan proyek ini?" Fikir Jerry dalam hati.
__ADS_1
"Apa yang kau lamunkan Kak?" Tanya Clara.
"Tidak ada. Aku hanya heran mengapa mereka begitu lambat mengerjakan pekerjaan yang seharusnya sudah hampir selesai untuk pelebaran jalan." Jawab Jerry.
"Bapak. Boleh kah saya bertanya?" Kata Jerry menyapa pemilik kedai tersebut.
"Oh.., silahkan anak muda. Apa yang ingin kau tanyakan?!" Kata pemilik kedai tersebut dengan ramah.
"Para pekerja di proyek tersebut pak. Sudah berapa bulan mereka di sini?" Tanya Jerry.
"Oh itu. Mereka di sini sudah lebih dari 3 bulan. Namun baru sekitar 15 hari mereka di sini, lalu ada kejadian yang menimpa pemilik perusahaan. Semua tenaga kerja di tarik ke Metro city selama 1 bulan." Jawab pemilik kedai tersebut.
"Apakah kau tertarik untuk melamar bekerja di proyek itu anak muda?" Tanya pemilik kedai tersebut. "Banyak yang sudah melamar bekerja di sana sebagai buruh kasar dan mendapat gaji yang lumayan." Kata pemilik kedai itu lagi.
Jerry buru-buru menggelengkan kepalanya dan berkata, " Ak tidak Pak. Saya hanya bertanya saja." Jawab Jerry sambil tersenyum malu-malu.
"Apa salahnya jika kau melamar pekerjaan di sana? Kau masih muda. Tentunya kau sangat kuat. Lumayan untuk membantu kebutuhan keluarga." Kata pemilik kedai itu menasehati.
Jerry hanya diam saja dan tidak menjawab sedikit pun. Bagaimana dia bisa bekerja sebagai kuli bangunan di perusahaan milik nya sendiri.
"Benar kata Bapak itu Kak. Mengapa kau tidak mencoba saja melamar bekerja di proyek itu. Lumayan untuk melatih tubuh mu agar menjadi lebih kuat." Kata Clara berbisik.
"Aku lebih baik membantu kakek mencangkul di ladang dari pada harus bekerja di proyek itu." Jawab Jerry juga sambil berbisik.
"Mengapa Kak?" Tanya Clara tidak mengerti.
"Percaya atau tidak itu terserah padamu Clara. Proyek itu adalah milik ku. Apa mungkin aku harus bekerja di sana sebagai kuli kasar?" Tanya Jerry.
"Jadi., kau adalah."
"Sssstttt....?! Jangan di bahas lagi. Aku tidak ingin mereka mengenali ku nanti." Kata Jerry melarang Clara untuk memperpanjang pembicaraan.
"Mengapa Kak? Apakah kau tidak ingin mereka melihatmu di sini?" Tanya Clara.
"Benar. Jika mereka mengenali ku dan melihat aku ada di sini, pasti kakek dan orang-orang ku akan menjemput ku di kampung ini. Sedangkan aku tidak di izinkan oleh kakek mu untuk meninggalkan pondok sampai 3 bulan ke depan." Jawab Jerry.
Kini Clara baru tau mengapa tindak tanduk Jerry tadi persis seperti maling takut tertangkap.
"Apakah setelah tiga bulan ini selesai, kau akan meninggalkan aku Kak?" Tanya Clara dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Tidak. Aku akan membawa mu ke kota. Apakah kau tidak ingin bertemu dengan ayah mu?" Tanya Jerry.
"Aku mau Kak. Tapi apakah ayah akan mengakui aku sebagai putri nya?" Tanya Clara sambil menangis.
__ADS_1
"Sudah.., sudah.., sudah. Hati ku hancur kalau melihat kau menangis. Ayah angkat pasti akan sangat bahagia jika mengetahui bahwa istri dan anak nya masih hidup." Kata Jerry sambil meraih Clara kedalam pelukannya.
Bersambung...