
Tanpa terasa sudah beberapa bulan Jerry, Clara serta Drako dan Syam sekeluarga berada di Garden Hill.
Kehidupan perkampungan yang damai, jauh dari hiruk-pikuk suasana perkotaan membuat mereka benar-benar betah berada di Garden Hill ini.
Namun pagi itu, ketenangan mereka terganggu dengan suara Clara yang mulai muntah-muntah.
Diketahui bahwa sudah sejak beberapa hari yang lalu, Clara tidak selera makan, malas untuk bergerak dan tidak mau membantu pekerjaan Jerry di kafe.
Hal ini membuat Jerry terpaksa mempekerjakan beberapa orang di kafe dan restoran mini milik mereka.
Pagi ini, ketika Jerry sedang sibuk melihat bursa saham di perusahaan yang mayoritas saham terbesar di perusahaan itu adalah milik nya, dia dikejutkan dengan suara Clara yang muntah.
Kejadian ini spontan membuat seisi rumah menjadi gempar.
Drako mengira bahwa Clara sedang masuk angin. Sedangkan Tuan Syam pula mengatakan kalau Clara terlalu capai bekerja sehingga dia menjadi sakit.
Tidak ada yang tau pasti apa penyebabnya sampai lah pada Clara meminta Jerry untuk mencarikan buah mangga.
"Wah. Sebentar lagi kita akan punya cucu." Kata Drako kepada Roxana istrinya.
"Iya. Aku juga mengira begitu." Jawab Roxana.
"Tidak di sangka burung nya Jerry top juga." Kata Drako sambil berjingkrak riang.
"Bicara apa kau ini Drako. Malu lah kalau di dengar anak-anak nanti." Tegur Tuan Syam.
"Hehehe. Maklum lah. Ini yang pertama. Dan aku sangat antusias untuk ini." Jawab Drako cengengesan.
Tak lama setelah itu, Jerry pun kembali dengan sepeda motor bututnya sambil membawa buah mangga yang baru dia beli dari pasar.
Begitu Clara melihat mangga yang sudah masak itu, dia pun langsung membuang mangga tersebut.
"Aku tidak mau mangga yang ini. Aku mau mangga yang masih muda dan di panjat langsung dari pohon nya." Kata Clara merajuk.
"Waduh. Nasib mu Jerry." Kata Tuan Syam.
"Di mana aku akan menemukan pohon mangga yang sedang berbuah?" Tanya Jerry sambil garuk-garuk kepala.
"Mangga pak Albert kan ada. Mengapa tidak kesana saja?" Kata Drako.
"Oh iya. Aku akan ke sana untuk meminta buah mangga nya barang beberapa biji." Kata Jerry sambil bergegas keluar.
__ADS_1
"Temani anak itu! Kasihan dia sendirian. Ini kan cucu kita juga." Kata Roxana kepada Drako.
"Tunggu Jerry! Aku ikut. Kau Syam mau ikut atau tidak?" Tanya Drako.
"Iya sudah. Aku ikut juga kalau begitu." Kata Tuan Syam.
Kedua lelaki setengah baya itu lalu berjalan saling berangkulan menyusul Jerry yang sudah berjalan duluan di depan.
Roxana hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kedua lelaki tua yang lupa usia itu.
Wanita setengah baya itu lalu berjalan menuju kamar di mana Clara sedang terbaring lesu.
"Bagaimana perasaan mu Clara? Apakah masih sakit?" Tanya Roxana kepada putrinya itu.
"Aku tidak sakit Bu. Hanya lemas saja." Jawab Clara.
"Sebentar lagi kita akan memeriksa kondisi mu di klinik. Kita tunggu Jerry, Ayah mu dan Tuan Syam kembali dari mencari buah mangga untuk mu." Kata Roxana sambil membelai lembut rambut putri semata wayang nya itu.
"Terimakasih Bu. Sebenarnya aku ini kenapa Bu?" Tanya Clara yang memang tidak tau apa-apa.
"Nanti saja. Kau juga akan tau nanti setelah kita periksa ke dokter." Kata Roxana.
*********
Jerry yang seumur hidupnya sangat jarang memanjat mau tak mau harus berdamai dengan keadaan.
"Bagaimana aku memanjat pohon ini Ayah. Mana pohon nya besar pula." Kata Jerry mengeluh.
"Sama lah. Kami juga mana pernah memanjat begini. Membunuh orang kami tau. Itu jauh lebih mudah daripada memetik buah mangga yang di dahan sana itu." Kata Drako sambil menunjuk setangkai buah mangga di salah satu cabang dahan.
"Begini saja Jerry. Kau bisa menginjak bahu ku. Aku akan berdiri. Kau pegang dahan yang paling rendah itu sebagai tumpuan untuk naik ke atas. Bagaimana?" Tanya Tuan Syam menawarkan bantuan.
"Boleh. Tapi sebelumnya aku mohon maaf kalau nantinya aku tidak sopan." Kata Jerry merasa tidak enak.
Terus terang saja bahwa Jerry, walaupun ketua di organisasi, walaupun dia juga adalah Tuan muda yang mempekerjakan Tuan Syam sebagai bawahan, namun dia tidak pernah berlaku tidak sopan kepada lelaki gaek tersebut.
"Tidak apa-apa Jerry. Keadaan memang mendesak. Mari aku bantu." Kata Tuan Syam sambil jongkok agar Jerry bisa naik ke atas pundak nya.
Dengan berat hati, Jerry pun mulai naik ke atas pundak Tuan Syam.
Berkat bantuan lelaki setengah baya itu, akhirnya Jerry mampu juga naik ke atas pohon mangga itu.
__ADS_1
Setelah sampai di atas, awalnya aman-aman saja. Namun, setelah beberapa saat, Jerry tiba-tiba menggelinjang di atas pohon karena sekelompok semut merah yang membuat sarang di atas pohon itu mulai menyerang dirinya.
Beruntung bahwa Jerry sudah sempat mengambil beberapa buah mangga muda itu.
"Aduh sialan. Auuuuh...." Pekik Jerry di atas.
"Woy Jerry. Kau kenapa?" Tanya Drako heran melihat Jerry seperti kesakitan.
"Banyak semut nya Ayah. Aku sudah tidak kuat menahan gigitannya. Aku akan lompat ke bawah. Awas kalian di bawah!" Kata Jerry mulai gelisah di atas.
"Kau jangan lompat dulu Jerry. Kalau kau lompat sekarang, kami bisa tertimpa."
Belum selesai Drako dengan ucapannya, tiba-tiba sesosok tubuh melayang dari atas dan tepat menimpa tubuhnya yang tidak sempat melarikan diri.
Grusaaak..!
Brugh....!
"Adaaaw... Patah pinggang ku!" Pekik Drako begitu dia jatuh tertelungkup akibat di timpa oleh tubuh Jerry yang terjun bebas dari pohon mangga tersebut.
"Hahaha menantu dan Ayah mertua sama-sama goblok nya." Kata Tuan Syam sambil terpingkal-pingkal tertawa melihat adegan yang tersaji dihadapan nya itu.
"Patah pinggang ku Syam. Tolong aku." Kata Drako sambil menggapai sesuatu untuk berusaha bangkit.
Sementara itu Jerry sudah sibuk membuka baju nya karena semut yang menyerang nya sudah masuk ke dalam baju. Bahkan c*lana d*l*m nya pun tidak selamat dari dimasuki oleh semut merah tersebut.
"Kau Jerry. Bagaimana?" Tanya Tuan Syam.
"Senjata rahasia warisan leluhur ku babak belur dihajar semut." Jawab Jerry seadanya.
"Hahaha. Ini yang dikatakan perjuangan. Jangan tau enak nya saja." Kata Tuan Syam.
"Lalu bagaimana dengan ku? Dia yang berbuat, masa aku ikut menanggung sakit nya." Kata Drako sambil duduk menjelepok di tanah.
"Maafkan aku Ayah. Bagaimana dengan pinggang mu?" Tanya Jerry.
"Untung pinggang ku ini ciptaan Tuhan. Kalau pinggang ku ini ciptaan Jepang, aku rasa sudah tidak layak pakai lagi." Jawab Drako yang sekali lagi di sambut gelak tawa oleh Tuan Syam.
"Sudahlah. Ayo kita pulang. Mana buah mangga yang kau kumpulkan tadi?" Tanya Drako kepada Tuan Syam.
"Aman. Ayo!" Ajak Tuan Syam sambil menenteng tas plastik berisi beberapa buah mangga yang tadi dia pungut di bawah.
__ADS_1
Ketiga orang itu pun segera menemui pak Albert untuk mengucapkan terimakasih lalu berjalan untuk pulang ke rumah dengan tampang yang sangat memprihatinkan.