
Bab 90.
Berita yang keluar dari berbagai sumber kali ini benar-benar telah menggemparkan dalam negri dan khususnya Metro City.
Ini karena, telah lebih dari dua puluh tahun ini Metro city tidak lagi pernah mengalami kejadian yang melibatkan dua kubu saling berperang sejak Dragon Empire runtuh sekitar 25 tahun yang lalu.
Dapat di bayangkan kejadian di bawah jembatan layang utara Metro City ini begitu tragis. Ada sekitar seratusan lebih korban yang jatuh dan separuh nya terbunuh serta sisanya mengalami luka serius dan terpaksa dilarikan ke Rumah sakit.
Saat ini spekulasi pun bermunculan di kalangan wartawan media, warga net bahkan orang awam pun turut menyebarkan berita-berita yang entah dari mana sumber nya.
Pihak penegak hukum saat ini benar-benar di pusingkan oleh kejadian ini. Ini karena tidak adanya jejak bukti yang dapat dijadikan patokan dalam penyelidikan kasus tersebut.
Jika saat ini Dragon Empire masih berdiri, tentu mereka dapat memulai dari sana untuk menemukan petunjuk.
Sebenarnya Dragon Empire sudah ada sejak kembali nya Drako dari pengasingan nya. Hanya saja mereka masih sembunyi-sembunyi karena tugas utama mereka saat ini adalah sebagai pasukan cadangan bagi membendung kalau-kalau anak buah Robin dari keluarga Patrik berniat untuk bermain secara kasar terhadap keluarga William dan Smith.
*******
"Praaak...."
Terdengar suara meja di pukul.
"Sialaaan...., apa yang terjadi sebenarnya? Setan mana yang berani membantai anak-anak buah ku?"
"Ramsey....! Kau harus menyelidiki masalah ini sampai tuntas?" Kata Seorang lelaki setengah baya yang kelihatan telah dikuasai oleh kemarahan itu.
"Tuan Robin..., aku menduga bahwa pasti ada yang membocorkan rencana anda Tuan. Bagaimana pun, tidak mudah untuk membantai anak buah kita jika memang tidak ada yang berkhianat. Ini karena, tidak sedikit jumlah yang kita kirim untuk membantu orang-orang Dianna." Kata lelaki yang dipanggil dengan nama Ramsey itu.
"Sejak awal aku telah curiga bahwa ada yang telah membocorkan rencana ini. Ramsey..! Diantara para korban, apakah kau melihat Pero ada disana?" Tanya Robin.
"Tidak Tuan. Aku juga mencari-cari kalau-kalau menemukan dirinya. Aku berniat untuk meminta pertanggung jawabannya atas terbantai nya seluruh anak buah yang kita kirim."
"Aku juga curiga. Hubungi anak buah mu dan pergi lihat ke rumah nya! Apakah keluarganya masih disana atau tidak." Kata Robin.
"Anak buah ku sudah kesana Tuan. Dan saat ini Rumah itu sudah kosong dan tampaknya baru saja di tinggalkan dalam keadaan terburu-buru."
"Kurang ajar Pero ini. Pasti dia yang telah mengkhianati kita. Kelak andai bertemu dengannya, aku pastikan bahwa dia akan membayar mahal karena berani bermain dengan ku." Kata Robin sambil mengepalkan tinju nya dan menghempaskan ke arah meja membuat beberapa barang yang berada di atas meja itu berserakan.
__ADS_1
"Ramsey.., sebarkan anak buah mu untuk mencari dimana penghianat itu berada. Dan satu lagi, berangkatkan anak buah pilihan dan kirim mereka ke Starhill. Aku ingin Anak Wilson ini di bun*h sore ini juga begitu dia keluar dari bandara." Kata Robin memberi perintah.
"Tapi Tuan.., mereka ada tiga orang dan aku sendiri tidak tau yang mana anak Wilson ini." Kata Ramsey ragu-ragu.
"Apa yang kau pusingkan? Bun*h saja ketiga nya. Selesai perkara." Kata Robin sambil membentak.
"Baik Tuan. Aku akan mengirim anak buah pilihan untuk membereskan mereka di Starhill sore ini."
"Hmmm..., lakukan dan jangan tunda lagi."
"Baik Tuan." Kata Ramsey lalu segera meninggalkan Robin yang masih diliputi kemarahan.
******
Sementara itu di Villa Smith saat ini Tuan William yang baru bertemu dengan Jerry tampak sangat gembira sekali.
Dia tidak henti-hentinya meneteskan air mata bahagia dengan pertemuan itu.
Semua beban yang selama ini mengganjal di dalam hatinya seketika hilang berkat pertemuan itu.
Dengan kebahagiaan yang sangat meluap-luap, tuan William kini segera bertanya kepada tuan Smith.
"Leon..., lihat lah cucu kita ini! Menurut mu dia lebih mirip dengan siapa?" Tanya tuan William kepada besan nya itu.
"Hmmm.., mata dan hidung nya mirip Ellena. Juga wajah nya dan bibir nya dan hidung nya dan"
"Dan.., dan.., dan. Jika semua mirip putri mu lalu apa yang tersisa untuk putra ku?" Tanya tuan William dengan sewot.
"Hehehe... Kau terlalu pencenburu King. Coba kau perhatikan lagi! Itu jelas milik Ellena putri ku." Kata tuan Smith membela diri.
"Tidak.., menurut ku tidak. Hidung nya jelas bukan hidung Elena. Itu adalah hidung Wilson. Juga bibir nya. Sangat mirip dengan Wilson." Kata tuan William tetap kukuh pada pandangan nya.
"Oh tidak bisa begitu." Kata tuan Smith dengan sengit.
"Hidung nya tetap milik Ellena. Kau hanya kebagian telinga saja." Kata tuan Smith lagi.
"Kau.., kau Leon. Huh... kau dari dulu memang brengsek. Jelas-jelas bahwa dia lebih mirip dengan Wilson."
__ADS_1
"Oh tidak bisa. Dia lebih mirip Elena."
"Mirip Wilson!"
"Tidak. Dia lebih mirip Ellena."
"Kau!"
Tuan William kini berdiri dengan wajah merah padam. Dia segera mengangkat tongkat nya.
Tuan Smith juga tidak tinggal diam. Dia juga segera berdiri dan bersiap untuk menangkis serangan.
Semua yang ada di ruangan itu kini benar-benar merasa lucu melihat dua tokoh tua bangka ini seperti berebut harta karun. Dan celaka nya lagi tidak ada di antara mereka yang mau mengalah.
Ryan dan Daniel kini saling pandang dan mereka sama-sama memandang ke-arah Jerry yang tampak seperti orang linglung saat ini.
Drako, Syam, Regan serta Pero saat ini seperti melupakan kejadian tadi pagi akibat ulah tuan William dan tuan Smith ini.
"Jerry.., segera cegah kedua kakek mu itu. Jika tidak, mereka pasti akan berkelahi." Kata Daniel sambil mencolek pinggang Jerry.
"Apa yang harus aku lakukan? Bisa-bisa aku yang kena damprat nanti." Kata Jerry.
"Tuan besar.., maaf jika saya lancang. Mirip siapa pun Jerry ini, dia tetap lah cucu kalian berdua." Kata Drako menengahi.
"Kau anak bandel. Diam kau!" Kata tuan William membaut Drako menutup mulutnya dengan tangan.
"Hehehe..., benar kata Drako. Lebih mirip siapa, itu tidak penting. Bukan kah dia adalah cucu kita berdua? Yang akan mewarisi ke agungan keluarga kita. King, jangan membuang waktu dengan pertengkaran yang dari dulu tidak pernah usai." Kata tuan Smith berusaha membujuk.
"Kau bocah suci. Baiklah. mari kita bahas hal-hal yang penting." Kata tuan William mulai mereda amarah nya.
"Ketahuilah King. Bahwa kedatangan cucu kita kali ini adalah untuk menyelamatkan keluarga William dari mala petaka."
"Malapetaka? Apa maksud mu Leon?"
"Hmmm.., kau tanya saja sendiri kepada cucu kita ini. Ini karena dia lebih tau apa yang akan di sampaikan oleh nya." Kata tuan Smith sambil menunjuk ke-arah Jerry.
Kini semua mata memandang ke-arah Jerry seperti meminta penjelasan.
__ADS_1