PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 63 Cemas


__ADS_3

Keesokan hari nya. Seperti yang telah di rencana kan. Haikal di ikat kedua tangan nya dengan rantai besi, begitu pula dengan kedua kakinya dalam keadaan berdiri seperti bintang..


Ia sengaja di lumuri dengan cairan warna merah sebagai ganti darah..


"Apa kamu sudah siap?". Tanya Ronal sambil mengarahkan kamera ke arah Haikal..


"Siap om". Sahut Haikal. Ia kemudian beralih pada tiga orang anak buah Ronal yang di tugas kan untuk memukul nya selama video di rekam. "Kalian juga nggak perlu segan mengeluarkan kekuatan kalian saat memukul ku. Sebisa mungkin terlihat alami!". Tegas Haikal pada mereka.


"Sudah tentu, aku akan pastikan kamu benar - benar pingsan selepas ini". Batin salah satu dari mereka yang tidak suka dengan Haikal.


"Sok benar ini anak. Dia pikir kami akan segan pada nya. Kalau di izinkan akan ku bunuh saja di langsung, merepotkan saja". Gumam yang lain nya juga tak suka pada Haikal..


"Tapi kalau nanti ada apa - apa jangan salah kan kami". Yang lain nya malah memberanikan diri untuk bersuara.


"Sudah tentu. Kalian memang di tugaskan untuk menyakiti ku. Lagi pula aku tak akan mati hanya dengan pukulan kalian". Sahut Haikal dengan percaya diri membuat ketiga anak buah nya mencibir kesal.


"Kita lihat saja nanti kalau kamu tak hanya tinggal nama maka masuk ke rumah sakit untuk melakukan operasi perbaikan organ itu pun kalau masih bisa di perbaiki". Batin salah satu dari mereka.


"Kalau begitu kalian bisa mulai sekarang! Jangan tunda -tunda lagi supaya rekaman ini cepat sampai kepada mereka". Imbuh Ronal..


Mereka bertiga pun mulai memukul Haikal dengan membabi buta, sementara Ronal menyalakan kamera untuk merakam aksi mereka.


Setelah beberapa saat, Ronal pun ikut masuk ke dalam rekaman video.

__ADS_1


"Lihat siapa yang sedang kami siksa ini. Pasti kalian semua sedang mencari nya bukan. Jangan khawatir dia hidup enak bersama ku, tempat tinggal di sediakan, makan gratis bahkan ku sediakan wanita cantik yang setia berada di sisi nya. Tapi dia harus bersedekah darah untuk bersenang - senang. Lihat lah keadaan nya begitu indah di mata ku, rintihan nya begitu merdu di telingaku". Kata Ronal sambil membelai pipi Haikal yang sudah lemah akibat pukulan ketiga anak buahnya.


"Katakan apa yang ingin kau sampai kan pada mereka. Cepat!". Hardik Ronal pada Haikal sambil mencengkram dagu anak itu dengan kuat.


"Tolong aku mah, pah. Tolong selamat kan aku dari pria brengsek ini, ukhh, ukhh, ukhh..". Lirih Haikal dengan tatapan penuh permohonan.


Darah bercucuran keluar dari mulut dan hidung nya. Melihat keadaan Haikal yang mulai sekarat tidak menghentikan aksi ketig anak buah Ronal. Mereka tetap memukul Haikal dengan membabi buta tanpa memperdulikan jika anak itu sudah lemas tak berdaya.


Ronal menghempas kan muka Haikal dengan kasar lalu melanjutkan bicara nya. "Kalian lihat sendiri kan bagaimana terhibur nya kami dengan kehadiran nya. Tapi kalau terus seperti ini kayaknya dia akan segera tinggal nama. Sediakan uang sebanyak 100 M untuk menebus nyawa nya dan aku tak mau orang lain yang mengantar uang itu apa lagi di transfer. Aku hany ingin Zack yang membawanya pada ku. Jangan coba - coba lapor polisi karena itu percuma. Ha ha ha ". Ronal tertawa nyaring di akhir video.


Setelah itu Ronal segera mematikan rekaman dan menghampiri Haikal. "Cukup!". Titah nya pada ketiga anak buah nya.


"Kalian ini tampak nya mendalami banget akting kalian. Sampai nggak memperdulikan keadaan Haikal. Lihat! Dia seperti nya pingsan ulah kalian bertiga. Kalau dia mati bagaimana? Bisa gagal rencana kita". Sambung nya emosi pada ketiga anak buah nya.


"Lepaskan rantai nya cepat dan bawa ke kamar nya. Suruh Rinata membersihkan tubuh nya lalu panggilan dokter untuk merawat nya". Tungkas Ronal dengan wajah kesal tapi ia benar - benar merasa terhibur dengan keadaan Haikal sekarang. Secara tidak langsung bisa membalaskan dendam nya pada Zack yang sudah tega membunuh adik kesayangan nya.


"Baik tuan". Sahut mereka serentak..


Rantai besi yang menjerat tangan dan kaki Haikal di lepas. Tubuh nya di bopong keluar ruangan menuju kamar pribadi nya. Di sana sudah ada Rinata yang setia menunggu dengan harap - harap cemas.


Saat pintu kamar di buka, wajah Rinata tampak syok melihat keadaan Haikal yang pingsan dalam keadaan berlumuran darah di sekujur tubuh nya.


"Kalian apa kan dia sampai pingsan seperti ini? Bukan kah semua nya hanya akting tapi kenapa kalian tega memukul nya sampai seperti ini. Kalian kejam!". Lirih Rinata tidak bisa membendung kesedihan dan ketakutan nya melihat kondisi Haikal yang saat ini sangat mengenaskan.

__ADS_1


"Hallah, kamu jangan lebai begitu. Dia nya saja yang lemah. Kami bahkan nggak mengeluarkan kekuatan penuh saat memukul nya tapi dia tetap saja pingsan. Dasar dia saja yang lemah". Sahut Salah satu dari mereka. Mereka tampak tidak prihatin pada kondisi Haikal.


"Keluar kalian sebelum aku yang membuat kalian pingsan di sini!". Ancam Rinata dengan sorot mata tajam.


Bukan nya takut, mereka bertiga malah tertawa terbahak - bahak mendengar ancaman Rinata. "Gadis cantik seperti kamu mau menumbangkan kami, dengan suka rela kami akan tumbang di tangan mu saat di kasur. Panggil kami saja ya kalau kamu memerlukan lawan main dengan senang hati kami datang pada mu sayang". Goda yang lain nya.


Rinata tak terima dengan penghinaan mereka. Dengan cepat Rinata menendang pusaka mereka satu persatu sehingga mereka tersungkur menahan sakit di bagian pangkal paha.


"Dasar perempuan murahan! Aduh sakit senjata ku..". Lirih mereka sambail meringis kesakitan.


"Keluar sebelum aku benar - benar membuat alat kalian itu nggak berfungsi lagi". Usir Rinata penuh amarah..


"Awas aja kau perempuan. Akan aku pastikan nanti kau akan memohon ampun di bawa kaki ku". Batin salah satu dari mereka menaruh dendam. Begitu pula dengan rekan nya, mereka tak habis menggerutu memaki Rinata dalam hati.


Setelah mereka bertiga keluar dengan tertatih - tatih. Rinata segera menghampiri Hailal yang terbaring lemas di atas sofa.


"Aku sudah bilang jangan lakukan, kamu tetap mau melakukan nya. Lihat sekarang, aku sama sekali nggak ngerti cara ngobatin kamu mas". Lirih Rinata sedih. Ia tak peduli kalau tubuh nya juga ikut berlumuran darah saat memeluk Haikal.


"Bangun lah, jangan buat aku takut seperti ini. Katakan yang mana yang sakit, ku mohon mas bangun lah". Tangan Haikal ia peluk sesekali mencium nya agar Haikal sadar.


Rinata kini tersedu - sedu saking sedih nya. Dari pada menangis aja, Rinata memutuskan membuka baju Haikal dan membersihkan tubuh pria itu agar ia bisa melihat bagian mana saja yang memerlukan perawatan.


Kancing baju Haikal di buka semua sehingga memperlihatkan tubuh Haikal yang tak lagi kurus seperti dulu. Kini tubuh nya penuh dengan otot dan perut nya berbentuk sixpack. Tapi baru saja ia ingin membuka kancing celana yang di gunakan Haikal. Tiba - tiba....

__ADS_1


"Kalau kamu berani membuka nya maka kamu juga harus berani pada benda yang ada di dalam nya".


__ADS_2