PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Ivan menyetujui kerjasama dengan R2D


__ADS_3

"Hey Ryan, Daniel dan kau Riko. Tumben kalian datang ke pondok ku ini?"


Tampak seorang pemuda tampan berambut lurus, berkulit putih dan memiliki sepasang mata yang sangat bening menyapa ketiga pemuda yang sedang asyik ngobrol di samping satu unit mobil super sport Lamborghini yang terparkir di samping Villa mewah itu.


"Sialan. Villa mewah seperti ini dikatakan pondok. Lalu bagaimana dengan rumah sederhana kita di Starhousing?" Kata Daniel sambil melongo menatap pemuda yang bertanya tadi.


"Hahaha. Kalian jangan terlalu serius. Aku hanya becanda. Ayo kita masuk ke dalam. Tuan Besar ku sedang menunggu kalian. Katanya rindu melihat kalian bertiga." Kata Pemuda itu lagi.


"Sebenarnya kami kemari karena ada yang ingin kami bahas dengan mu Ivan. Tapi ya sudah lah. Berhubung kedatangan kami sudah diketahui oleh Tuan besar, maka tidak ada salahnya kalau kami menghadap terlebih dahulu." Kata Ryan sambil mengajak Daniel dan Riko untuk memasuki Villa mewah tersebut.


"Bagaimana kabar kalian bertiga? Apakah baik-baik saja?" Tanya Ivan sambil merangkul pundak Ryan.


"Kabar kami selalu baik Van." Jawab Ryan singkat.


"Apakah kalian ada mendengar kabar tentang Jerry?" Tanya Ivan lagi.


"Tidak Van. Kami sama sekali tidak mendengar kabar tentang Jerry dan Clara. Bahkan Paman Jeff, Paman Regan, Paman Drako dan Tuan Syam juga turut menghilang. Entahlah. Mereka ini sangat berbakat main petak umpet." Kata Ryan sambil menarik nafas berat.


"Ya sudah. Biarkan mereka tenang dengan jalan kehidupan yang mereka pilih. Tinggal kalian saja yang meneruskan sesuatu yang sudah mereka rintis. Kalian tidak sendiri. Ada aku dan Lorna yang siap membantu kalian." Kata Ivan.


"Nah... Begini yang kami maksud. Berarti kami berada di jalan yang benar ketika kami berniat mengunjungi Villa mu ini." Kata Daniel sambil nyengir kuda.


"Aku kenal dengan cengiran ini. Kalau kau sudah seperti ini, pasti ada maunya." Kata Ivan sambil meninju bahu Daniel.


"Hahaha... Kita sudah bukan orang lain. Mana ada rahasia diantara kita." Kata Ryan pula.


Karena terlalu asyik ngobrol, keempat pemuda itu tidak menyadari bahwa mereka sudah melewati ruang tamu yang luas di dalam Villa itu.


Hal ini membuat seorang lelaki tua yang duduk di sofa ruang tamu itu merasa heran karena keempat pemuda itu terus saja melangkah tanpa memperdulikan dirinya.


"Ehem... Ehem... Ehem!" Kata lelaki tua itu membuat keempat pemuda itu setengah mati menahan kaget.


"Mati kita Van. Keasyikan ngobrol sampai-sampai kita kebablalasan." Kata Riko sambil tersurut mundur.

__ADS_1


"Mana?" Tanya Daniel sambil celingukan.


"Lihat di belakang mu itu!" Kata Riko.


"Oh Tuhan. Dosa apa yang telah kita lakukan ini?" Tanya Ryan sambil membalikkan badannya dan dengan ragu-ragu berjalan ke arah lelaki tua itu dengan diikuti oleh Ivan, Daniel dan Riko.


"Salam hormat untuk anda dari saya Tuan Besar!" Kata Ryan sambil membungkuk hormat.


"Hmmm... Anak-anak muda sekarang terlalu sibuk dengan urusan sampai-sampai orang tua seperti aku ini di abaikan." Tegur Tuan Patrik.


"Oh Tuan Besar. Tolong maafkan kami. Kami tidak bermaksud seperti itu. Ini semua salah Ivan." Kata Daniel sambil menunjuk hidung Ivan. Tapi karena telunjuk itu mengenai tepat di hidung Ivan, maka dengan salah tingkah, Daniel segera menarik tangannya.


"Maaf kek. Riko yang menghalangi pandangan ku." Kata Ivan melemparkan kesalahan kepada Riko.


"Mengapa harus aku?" Tanya Riko sambil menoleh ke samping kanan dan kiri.


"Kalian ini. Bukannya cepat memberi hormat, malah sibuk saling menyalahkan." Kata Ryan sambil mendelik kan matanya.


"Ayo-ayo!" Kata Daniel sambil melangkah ke depan lalu membungkuk hormat diikuti oleh Riko dan Ivan.


"Apa yang kau ucapkan itu Daniel?" Tanya Riko.


"Sikat saja lah. Aku terlalu gugup." Kata Daniel sambil bersembunyi di balik punggung Riko.


"Tolong dimaafkan kesalahan ketiga sahabat ku ini Kek!" Kata Ivan sambil melangkah mendekati orang tua itu lalu duduk di sampingnya dengan manja.


"Aku sudah tidak heran. Jika itu sahabat Jerry, sedikit banyaknya pasti tertular penyakit Jerry juga termasuk kau ini." Kata Tuan Besar Patrik sambil menunjuk ke arah cucunya Ivan.


"Hehehe... Maaf Kek. Tapi aku tetap cucu mu kan?" Tanya Ivan sambil cengengesan.


"Sudah sudah sudah! Apakah kalian sudah makan siang? Jika belum, maka kita bisa makan bersama siang ini." Kata Tuan Besar Patrik.


"Kebetulan kami memang mengharapkan makan siang gratis Tuan." Jawab Daniel tanpa malu-malu.

__ADS_1


"Ya kan Ryan?" Tanya Daniel pula sambil meminta pendapat sahabat nya itu.


"Gila. Kau saja. Aku tidak." Jawab Ryan.


"Aku perhatikan, kedatangan kalian ini seperti membawa suatu maksud. Coba katakan ada hal penting apa yang ingin kalian sampaikan?!" Kata Tuan Patrik.


"Begini Kek. Seorang bernama Tigor, (untuk jelasnya tentang Tigor ini, silahkan baca novel karya Edane Sintink berjudul Black Cat) kami ada membaca satu berita bahwa di kota Kemuning Sumatra Utara Indonesia, sedang mengadakan tender bagi proyek untuk membangun sekolah, panti jompo dan panti asuhan serta rumah sakit. Kami berniat untuk mengajukan proposal bagi mengikuti acara tender proyek ini. Tapi seperti yang kita ketahui bahwa kami ini sangat minim pengalaman dalam bidang ini. Oleh karena itu, kami ingin mengajak Ivan untuk bekerja sama dalam proyek ini." Kata Daniel menjelaskan maksud kedatangan nya kali ini ke Villa Patrik.


"Untuk masalah itu, kalian bisa mendiskusikan langsung kepada cucuku yang hampir kurang waras ini. Aku akan menemui James dulu untuk mengurus makan siang kita hari ini." Kata Tuan Patrik sambil bangkit berdiri.


Memang semenjak dirinya menyerahkan segala urusan perusahaan kepada Ivan, Tuan Patrik secara bertahap mulai mengundurkan diri dari dunia bisnis.


Dia membiarkan segala urusan di Perusahaan ditangani oleh Ivan tanpa ikut campur dalam urusan itu kecuali jika di minta.


"Bagaimana Van?" Tanya Daniel.


"Aku sih setuju saja." Jawab Ivan ringkas.


"Ok. Jika begitu, kita bagi 50-50 ya! Untuk Patrik Group 50% dan untuk R2D MegaTown, 50% bagaimana?" Tanya Daniel lagi.


"Alah... Kita ini adalah sahabat. Mengapa terlalu perhitungan? Kita menangkan dulu tender itu. Kemudian kita bekerja sama dengan baik. Masalah hasil, kita bagi rata empat orang. Lagi pula ini hanya sebuah proyek kecil. Jika bukan karena kalian, aku pun malas untuk memandang proyek seperti ini." Kata Ivan tanpa maksud menyombongkan diri.


"Kami juga berfikir sama seperti mu Van. Namun untuk melebarkan wawasan dan pengalaman, kita harus mengambil sekecil apapun peluang yang ada. Jika tidak ada yang kecil, maka tidak ada yang besar." Kata Daniel yang memang sangat ahli dalam berdiplomasi itu.


"Ya. Sekaligus menambah kenalan. Kemungkinan Tigor ini bisa menjadi sahabat kita." Kata Riko pula.


"Benar itu. Aku mendengar bahwa Tigor ini adalah orang nomor dua di dalam organisasi geng mafia bernama kucing hitam. Itu bagus untuk Dragon empire." Kata Daniel.


"Kau hebat Daniel. Sesibuk apapun itu, kau masih sempat membaca gosip." Puji Ivan yang tidak ikhlas.


"Weeee... Aku serius ini. Makanya aku juga sangat antusias untuk mengikuti tender ini."


"Semuanya aku serahkan kepada mu Daniel. Kau harus memenangkan tender ini!" Kata Ivan.

__ADS_1


"Kau tenang saja Van! Aku tau apa yang harus aku lakukan." Kata Daniel sambil tersenyum penuh makna.


__ADS_2