PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Syarat untuk Fardy


__ADS_3

"Tuan besar. Tamu yang anda undang telah tiba."


Tampak seorang lelaki mudah dengan gaya rambut acak-acakan berwajah bengis berbisik ketelinga seorang lelaki tua yang sedang asik menghujani seorang gadis dipangkuannya dengan ciuman.


"Hmmm..."


Hanya itu jawaban lelaki tua itu.


"Manis. Kau pergilah bermain-main! Aku ada urusan." Kata lelaki tua itu menyuruh wanita yang berada di pangkuannya untuk bangkit lalu enak saja dia menampar pantat gadis itu sebelum gadis itu berlalu.


"Aw..." Teriak gadis itu genit sambil diiringi gelak tawa yang menyaksikan adegan itu.


"Bawa orang itu menghadap!" perintah lelaki tua berumur sekitar 70 tahun tersebut.


"Salam untuk anda Tuan Arold Miller." Kata Fardy dan Jimmy sambil membungkuk.


"Hmmm... Kau kah yang bernama Fardy putra Ramendra?" Tanya lelaki yang dipanggil Tuan Arold Miller itu.


"Benar Tuan. Saya adalah putra dari mendiang Ramendra." Jawab Fardy.


"Apa? Tadi kau menyebutkan kata Mendiang. Apakah?"


"Benar Tuan. Ayah ku sudah meninggal dunia akibat kalah bersaing di MegaTown dengan seorang pemuda generasi ketiga penerus keluarga William." Kata Fardy dengan mata berkaca-kaca.


"Bagaimana cara kalian mengumpulkan informasi? Mengapa kalian tidak tau bahwa sahabat ku itu sudah meninggal?" Bentak Tuan Arold Miller dengan wajah garang sambil memandangi beberapa orang yang langsung tunduk ketakutan.


"Maafkan kami Tuan Besar. Kami hanya fokus dengan Tuan Fardy ini di MegaTown dan melaporkan kekalahannya kepada anda. Bukankah begitu pesan anda kepada kami?" Kata salah seorang dari beberapa orang yang tertunduk itu.


"Sialan kalian semuanya. Mendekat karena aku akan memberikan anugrah berupa hukuman kepada kalian!" Bentar lelaki tua itu.


"Ampuni kami Tuan!" Kata mereka sambil mendekat.


"Sialan kalian semua. Tidak becus menjalankan tugas."


Plak...


Plak...


Plak...!

__ADS_1


Terdengar suara tamparan tiga kali berturut-turut membuat lelaki tadi terhuyung-huyung.


"Masih tidak berterimakasih kepada Tuan Besar?" Bentak Tiger.


"Terimakasih karena sudah memberikan tamparan kepada kami Tuan Besar!" Kata mereka serentak.


"Hmmm... Pergi kalian!" Kata Tuan Arold Miller seperti menghalau lalat saja.


"Silahkan mendekat kemari Fardy. Aku mengetahui semua kesulitan mu."


"Terimakasih Tuan Arold." Kata Fardy sambil tertunduk malu-malu.


"Jangan panggil aku Tuan. Kau boleh memanggil ku dengan panggilan Paman! Bagaimanapun, aku dan mendiang ayah mu adalah sahabat dekat. Salah ku karena tidak bisa membantunya. Ini karena aku terlalu sibuk dengan bisnis ku." Kata Tuan Arold.


"Baik pa.., pa.., Paman!" Kata Fardy tergagap.


"Katakan kepada ku mengapa kau bisa kalah melawan generasi ketiga dari keluarga William itu?" Tanya Tuan Arold.


"Itulah kesalahan ku Paman. Aku terlalu memandang enteng kekuatan lawan ku. Ternyata kekuatan generasi ketiga keluarga William itu sangat kuat. Dia bahkan dibantu oleh anggota gengster dan mafia di Metro City. Hal ini lah yang menyebabkan aku kalah telak dengan nya." Kata Fardy beralasan.


"Hmmm... Lalu, apakah kau berencana ingin membalas kekalahan mu itu?" Tanya Tuan Arold.


Kini dalam hatinya timbul harapan baru. Dan harapan itu kini datang dari orang yang sedang duduk dengan kaki berada di atas meja di hadapannya itu.


"Bagus. Aku memang memiliki hutang-piutang dengan empat kekuatan terbesar di Metro city. Dulu aku dan ayah mu juga berhasil dikalahkan oleh mereka berempat. Aku sengaja melarikan diri ke China dan berhasil membangun kekuatan. Saat ini bisnis ku adalah yang terbesar di shanghai. Kau lihat apa ini?" Tanya Tuan Arold sambil menunjukkan butiran seperti garam namun sangat bening laksana pecahan kristal.


Fardy bukannya tidak tau barang yang berada di tangan lelaki tua itu. Itu adalah barang mainan baginya sejak terjun ke dunia mafia di Hongkong. Namun untuk merendah, dia hanya tunduk sambil melirik sesekali.


"Hahahaha... Ini adalah garam syurga. Kita langsung saja ke inti! Aku bisa membantumu untuk mengangkat kembali perusahaan mu yang telah terkubur di Hongkong dan perusahaan milik mendiang ayah mu di MegaTown. Tapi dengan satu syarat." Kata Tuan Arold sambil melempar bungkusan yang dia sebut sebagai garam syurga itu ke atas meja.


"Mohon maaf jika saya lancang Paman. Demi dendam yang terus membara ini, katakan apa syarat nya?!" Tanya Fardy ingin tau.


"Hahahaa... Bagus. Aku suka kepada lelaki yang tidak sabaran dan agresif seperti dirimu. Kemarilah mendekat!" Kata Tuan Arold.


Mendengar perintah itu, Fardy pun semakin mendekat kepada Tuan Arold sembari menunggu dengan harap-harap cemas apa yang akan dikatakan oleh lelaki tua itu.


"Begini Fardy. Aku bisa membantu mu dari segi keuangan jika kau mau menjadi kurir pengiriman barang ke Brazil."


"Maksud anda paman?" Tanya Fardy yang tidak mengerti.

__ADS_1


"Maksudku adalah, aku ingin agar kau menjadi kurir pengiriman barang ke Amerika latin yaitu Brazil. Saat ini di laut China, ada sebuah kapal kargo yang akan mengirim banyak barang ke sana termasuk para wanita yang akan dijadikan pekerja **** di sana. Aku tidak menginginkan uang. Aku hanya akan menukar barang itu dengan Opium. Jika kau berhasil dalam misi mu, maka aku akan menawarkan bantuan dan mengangkat perusahaan mu menjadi anak perusahaan Holding milik ku. Bagaimana?" Tanya Lelaki tua itu dengan senyum yang sangat jelek.


"Maaf paman. Sebelumnya saya ingin bertanya. Bukankah paman memiliki banyak anak buah. Tapi mengapa anda memilih saya?" Tanya Fardy.


Saat ini dia memang sangat mengharap bantuan dari sahabat mendiang ayah nya itu. Namun, untuk bertindak bodoh, tentu saja dia harus berfikir ribuan kali.


Ini bukan pekerjaan mudah. Jika tertangkap, bukan balas dendam yang dapat dilaksanakan, tetapi dia akan berulat di dalam tahanan dan bukan mustahil dia akan dikenakan hukuman mati dengan duduk di kursi listrik.


"Mengapa? Kau takut? Hahaha... Kau jangan menganggap aku ingin menjerumuskan mu ke dalam masalah. Ya. benar katamu bahwa aku memiliki ramai orang yang bisa melakukan pekerjaan ini. Namun wajah mereka sudah sangat sering terlihat. Aku menginginkan sesuatu yang baru. wajah baru. Masalah keamanan jangan khawatir. Siapa yang tidak kenal dengan Arold? Kau hanya perlu mengikuti instruksi dari ku. Dan semuanya akan baik-baik saja." Kata Tuan Arold meyakinkan.


"Tapi jika kau ragu, tidak apa-apa. Aku akan tetap dengan tujuan ku yaitu melakukan pengiriman barang-barang pesanan ini. Dan kau...! Selamanya kau tidak akan bisa membalas dendam atas kematian orang tua mu. Sekarang usia mu tidak bisa dikatakan muda. Harus sampai berapa puluh tahun kau bisa bangkit dari keterpurukan? Dengan ku, kau hanya butuh waktu sebulan pergi dan sebulan kembali. Maka, satu milyar Dollar America akan menjadi milik mu. Bagaimana?"


"Tawaran dari paman ini memang sangat menggiurkan. Baiklah. Aku setuju. Aku yakin sebagai sahabat mendiang ayah ku, Paman tentu tidak akan mencelakai ku." Kata Fardy.


"Puih...! Apa kau fikir hanya kau saja yang memiliki dendam kepada keluarga William? Aku, Arold Miller juga memiliki dendam lama kepada William King. Dan kau..! Kau harus bisa membuat keluarga itu bangkrut. Mengerti?!"


"Mengerti Paman."


"Sekarang kau beristirahat. Tidak ada yang boleh meninggalkan hotel ini sampai kalian semua berangkat ke laut lepas dengan speed boat. Di sana orang-orang ku telah menunggu dengan persenjataan lengkap."


"Tiger! Antar Fardy ke kamarnya."


"Baik Tuan Besar!" Jawab Tiger sambil membungkuk hormat.


"Silahkan lewat sini Tuan Fardy!"


"Terimakasih." Kata Fardy lalu mengikuti pemuda bernama Tiger itu bersama dengan Jimmy.


"Hahaha... Ayo silahkan kembali menikmati pesta ini." Kata Tuan Arold kepada para tamu nya.


"Tuan. Apakah anda yakin dengan orang yang bernama Fardy itu?" Tanya salah seorang lelaki setengah baya.


"Sebenarnya aku jauh lebih yakin dari keyakinan ku sendiri. Anak itu. aku faham betul dengan sifat nya. Dia tidak jauh berbeda dengan mendiang ayah nya. Barang itu tidak penting bagiku. Karena tujuan ku bukan uang. Tapi menguji kesetiaan nya. Jika dia bisa melaksanakan ujian yang aku berikan ini, maka selamanya dia akan hidup enak. Tapi jika membelot, tubuhnya akan menjadi seperti sarang lebah di terjang peluru senjataku ini." Kata Tuan Arold Miller sambil mengangkat senjata laras pendek berwarna keemasan milik nya.


"Kami yakin dengan kampuan anda menilai watak seseorang." Kata mereka memuji.


"Hahaha. Jika tidak seperti ini, sudah lama aku bangkrut dan terkubur. perusahaan ku hanyalah sebuah kedok untuk menutupi aktifitas ilegal yang aku lakukan di balik layar. Hahahaha..."


Suara tawa semakin menggema di ruangan itu ketika yang lainnya juga ikut tertawa.

__ADS_1


__ADS_2