
Sepasang muda-mudi itu tampak sedang duduk berduaan di pinggir sungai sambil sesekali tampak pemuda itu melemparkan sebutir kerikil ke dalam sungai.
"Sebenarnya apa yang di kerjakan oleh Ayah ku di Kota Kak?" Tanya gadis itu sambil menatap wajah seorang pemuda tampan yang duduk di samping nya.
"Ayah mu bekerja sebagai pengawal pribadi ayah ku. Setelah itu dia mengasuh ku dari umur 8 tahun hingga sampai saat aku berusia sekarang ini." Kata Jerry menceritakan kepada gadis cantik sambil sesekali mencuri pandang kepada nya.
"Lalu, setelah kau dewasa dan menjadi tuan muda yang kaya raya, apa lagi yang dikerjakan oleh ayah ku?" Tanya gadis itu ingin tahu tentang ayah nya.
"Setelah aku dewasa, ayah mu bekerja sebagai pengawal kakek ku di kota." Kata Jerry. Dia sengaja tidak ingin mengatakan bahwa Drako adalah kepala gengster yang sangat ditakuti di Metro city.
"Apakah kehidupan di kota itu menyenangkan Kak?" Tanya Clara ingin tau. Maklum sejak lahir sampai umur 22 tahun dia tidak pernah berpisah dari ibu dan kakek Malik yang memang tinggal di hilir sungai itu menyendiri.
"Tergantung." Kata Jerry menjawab singkat.
"Maksudnya?" Tanya Clara tidak mengerti.
"Tergantung bagaimana kau menjalani nya. Jika kau anggap menyenangkan, maka kota adalah tempat yang banyak menyediakan kesenangan. Namun jangan mencari ketenangan di kota. Kau tidak akan menemukannya." Kata Jerry.
"Apakah kau nanti akan mengajak aku ke kota Kak?" Tanya Clara lagi.
"Ya. Kita akan pindah ke kota. Kau harus kuliah, Clara!" Kata Jerry.
"Apakah hanya karena itu?" Tanya Clara yang mulai cemberut.
"Mengapa? Apakah ada yang lain?" Tanya Jerry sengaja memancing reaksi Clara.
"Huhh...!?" Kata Clara sambil bangkit dari duduk nya.
Jerry langsung menahan Clara agar tidak meninggalkannya dan menarik tangannya membuat Clara terjatuh dan langsung menimpa tubuh Jerry.
"Aw...?!" Kata Clara sambil terpekik.
"Sudah pasti karena aku mencintai mu." Kata Jerry sambil tersenyum.
"Kau memang nakal. Pantas saja selalu di jewer oleh kakek." Kata Clara tersipu malu lalu segera bangkit dan berlari memasuki pondok dengan wajah bersemu merah.
__ADS_1
Jerry yang melihat Clara berlari langsung mengejar dan akhirnya memasuki gubuk dimana Kakek Malik, Roxana, Drako dan Tuan Raven tampak membahas sesuatu dengan wajah serius.
"Ternyata kita memiliki musuh yang sama Paman." Kata Drako begitu mendengar penuturan dari kakek Malik yang menceritakan tentang Ramendra kepada Drako.
"Empat puluh tahun lebih aku memendam dendam ini berharap suatu saat aku mampu membalaskan sakit hatiku kepada Ramendra sebelum Yang Maha Kuasa mencabut nyawa ku." Kata kakek Malik sambil menahan geram. Bagaimanapun, peristiwa puluhan tahun yang lalu kembali menghantui fikirannya saat ini setelah menceritakan kembali kejadian ketika Ramendra memasuki desa kelahirannya dan menjarah kekayaan hasil bumi desa kelahirannya itu.
"Aku merasa tidak mampu untuk melawan kekuatan Ramendra. Ini karena aku telah melihat sendiri dengan mata kepala ku kekuatan yang dia miliki. Aku terpaksa menyingkir ke hilir sungai ini dan mengasingkan diri mencoba untuk merelakan semua yang telah terjadi." Kata kakek Malik.
Jerry yang mendengar dan menyimak pembicaraan mereka segera menyela. " Kakek Malik. Jika Kakek ingin membalaskan sakit hati, aku sebagai ketua tertinggi Dragon empire akan membantumu membalaskan sakit hati mu itu." Kata Jerry membuat Drako setengah mati terkejut mendengar Jerry mengaku sebagai ketua dari kelompok gengster yang dia ketuai.
"Sejak kapan kau menjadi ketua gengster?" Tanya Drako sambil mendelikkan mata nya.
"Mulai besok Ayah angkat bisa menikmati hari-hari yang tenang bersama Bibi Roxana. Urusan Dragon empire akan aku ambil alih bersama Arslan. Nikmatilah masa tua kalian dengan bepergian keliling dunia." Kata Jerry dengan serius.
"Kau...?!"
Drako tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya karena Clara memandang ke arah nya dengan ekspresi tanda tanya.
"Aku selalu berharap ada kekuatan yang besar yang mampu membantuku untuk membalas Ramendra ini. Akhirnya Tuhan mengabulkan doa ku siang dan malam." Kata kakek Malik.
"Kekuatan yang di miliki oleh Ramendra ini sebenarnya tidak ada seberapa di banding dengan kekuatan yang aku miliki. Hanya saja dia berhasil bergerak dengan cepat di saat aku lengah. Dia akan mendapatkannya Kek. Ramendra pasti akan mendapakannya." Kata Jerry sambil mengepalkan tinju nya.
"Aku sengaja menunda dulu nafsu membunuh ku kepada Ramendra ini. Bagaimanapun aku harus mempersiapkan Jerry ini terlebih dahulu. Jika separuh jalan, maka sama saja aku gagal." Kata kakek Malik.
"Kau yang telah membuat pekerjaan ku menjadi lebih berat, Drako!" Kata kakek Malik membuat Drako membuang muka karena malu.
Tuk....?!
"Aduh....?!"
"Itu semua karena kebandelan mu. Coba dulu kau menurut. Pasti kau tidak mudah di keroyok oleh anak buah Robin dan mertua nya itu." Kata Drako sambil menjitak kening Jerry.
"Besok Kita akan melakukan pemanasan untuk melatih fisik dan pernafasan mu." Kata kakek Malik.
"Sudah hampir malam. Paman, aku akan mengantar Tuan Raven dulu untuk kembali ke desa. Mungkin masih banyak yang harus dia lakukan besok." Kata Drako.
__ADS_1
"Aku ikut...!" Kata Roxana.
"Kan.., kan.., kan. Hahahaha." Kata Jerry sambil tertawa.
"Kan.., kan apa?" Kata Drako sambil melotot.
"Aku juga ikut Bu." Kata Clara.
"Aish... Kau jangan jadi pengganggu, Clara!" Kata Jerry.
"Kau tau apa anak ingusan?!" Kata Drako jengkel melihat tingkah Jerry.
Jerry hanya menutup mulutnya sambil terbungkuk-bungkuk menahan tawa.
"Kau Jerry. Jangan hanya tertawa saja. Kau harus berendam selama 2 jam di dalam air ramuan. Setelah itu 2 jam di bawah air terjun untuk melatih pernafasan mu." Kata Kakek Malik membuat Jerry mendadak pucat.
"Kemarin kan 1 jam Kek. Mengapa hari ini menjadi 2 jam?" Tanya Jerry.
"Apakah kau mau tawar menawar dengan ku Jerry?" Tanya kakek Malik sambil mendelikkan matanya.
"Dua jam terlalu lama Kek. Apakah bisa 30 menit saja?" Kata Jerry sambil tersenyum kecut.
"Sudah jangan banyak membantah. Kau harus menurut. Apakah kau mau menjadi bulan-bulanan musuh lagi?" Tanya kakek Malik.
"Sebenarnya setelah berlatih apakah aku bisa menang melawan keroyokan 10 orang?" Tanya Jerry.
"Bisa..." Kata kakek Malik dengan mantap.
"Bagaimana caranya Kek?" Tanya Jerry.
"Kau harus menyerang mereka dengan memfokuskan kepada titik sensitif di tubuh lawan." Kata Kakek Malik menjelaskan.
"Jika lawan ku 20 orang?" Tanya Jerry.
"Jika lawan mu mencapai 20 atau 30 orang, maka jurus terbaik adalah lari." Kata kakek Malik berusaha untuk serius.
__ADS_1
"Lari?" Kata Jerry sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Bersambung...