
Bab 102
Malam itu Riko yang baru saja selesai makan hanya duduk-duduk saja bersama para pekerja buruh kasar lainnya di depan teras tempat tinggal mereka.
Dia hanya memperhatikan teman-teman satu kerja yang sangat bahagia bermain gitar dan bernyanyi. Ada yang menari riang dan ada juga yang hanya tertawa-tawa melihat ulah teman-teman mereka sambil menikmati secangkir kopi hangat.
"Hei Riko. Apa yang sedang kau renungkan? Ayo lah gabung bersama kami!" Kata mereka sambil terus bernyanyi dan tertawa.
"Oh.. Iya bang. Saya juga sedang menikmati suara penyanyi yang sangat bagus itu." Kata Riko sekena nya saja.
Lelaki yang bernyanyi itu sedikit kembang cuping hidung nya mendapat pujian itu.
"Hei Riko. Asal kau tau saja ya. Aku ini dulu pernah ikut audisi di salah satu televisi. Dan sempat bertahan sampai 10 besar. Hanya saja nasib tidak berpihak kepadaku hingga harus menjadi kuli bangunan seperti sekarang ini." Kata lelaki itu sambil duduk dengan nafas terengah-engah.
"Kurangi merokok mu bang. Siapa tau kelak kau bisa terpilih sebagai penyanyi profesional." Kata Riko membesarkan hati teman baru nya itu.
"Alah Riko. Umur ku sudah tidak muda lagi. Berbeda dengan kau. Usia mu baru kepala dua. Masa depan mu lebih cerah dari aku. Aku juga heran. Kau masih muda, tampan, terlihat seperti berpendidikan. Tapi mengapa kau mau bekerja menjadi buruh kasar Riko?" Tanya orang itu lagi.
"Ceritanya panjang bang. Lain kali kalau ada kesempatan aku akan bercerita kepada mu." Kata Riko sambil tersenyum pahit.
"Sudah lah Riko. Tak perlu lah kau ceritakan kepada kami. Ada seribu satu masalah dalam hidup ini dan seribu satu alasan untuk bertahan hidup. Tapi kau harus ingat Riko. Jadikan ini sebagai batu loncatan dan jangan jadikan pekerjaan sebagai kuli bangunan ini sebagai batu dudukan. Apa kau mengerti maksud ku?" Kata lelaki itu.
"Saya mengerti bang."
"Nah begitu. Jika perlu, kau harus bisa menjadi minimal lah sebagai mandor disini. Tapi ingat! jangan lupakan kami abang-abang mu ini. Hahahaha..." Kata mereka lalu tertawa.
Riko juga ikut-ikutan tertawa melihat kegembiraan yang mereka ciptakan.
Memang setiap sore sampai malam selepas bekerja, mereka akan selalu bernyanyi dan bermain gitar untuk sekedar menghilangkan kejenuhan setelah seharian bergelut dengan semen, pasir dan kerikil.
Terkadang mereka harus mendapat teguran, menghadapi kemarahan mandor lapangan apa bila terjadi kesalahan dalam pekerjaan mereka dan semua itu hanya bisa mereka telan dengan sabar.
"Bang..., aku akan keluar dulu sebentar. Sekedar mencari angin sambil melihat mobil lalu-lalang." Kata Riko.
"Pergilah. Cepat kembali sebelum pak security menutup pagar. Karena jika kau terlalu malam kembali kesini, kau bisa di sangka maling dan akan di gebuki oleh pihak penjaga area konstruksi ini." Kata lelaki itu.
__ADS_1
"Baik bang. tidak sampai pukul 10 aku sudah pasti kembali." Kata Riko, lalu segera berjalan menyusuri lorong barrak tempat tinggal para pekerja bangunan itu.
***********
Riko saat ini berjalan melewati pos penjaga.
Setelah membuat laporan, dia segera keluar dari area tapak binaan bangunan itu dan terus berjalan menuju pusat kota kecil itu menuju ke-salah satu toko ponsel untuk mengisi pulsa.
Malam ini dia teringat kepada Rina dan akan menelepon nya untuk melepas rindu.
Baru saja Riko keluar dari toko ponsel tersebut, kini di samping nya melaju sebuah mobil Toyota Hardtop.
Riko sedikit terkejut dengan mobil yang tiba-tiba berhenti di samping nya itu.
Tak terlalu lama memperhatikan, kini dari dalam mobil itu, keluarlah 4 orang berbadan tegap menghampiri Riko.
Riko kenal salah seorang dari ke-empat orang tersebut adalah Rodock. Lelaki yang pernah menemuinya di kafe bintang dekat traffic light Country home.
Sebaik saja ke-empat lelaki itu sampai di depan Riko, salah seorang dari mereka langsung menegur Riko.
"Riko.., bagaimana kabar mu? Aku mengira bahwa kau telah melupakan apa yang telah kau janjikan kepada ku bahwa kau akan membayar hutang mu tepat waktu." Kata lelaki itu dengan wajah garang.
"Pak Rudock. Bisakah anda memberi ku kelonggaran seminggu lagi!? Aku benar-benar tidak memiliki uang saat ini untuk membayar hutang ku kepada perusahaan Arsend." Kata Riko sedikit memelas.
"Apa katamu? Memberikan mu waktu? Heh.. Riko. Ingat ya! Sudah berapa hari kau tertunggak untuk melakukan pembayaran? Kau sengaja lari 'kan, agar kami tidak dapat menemukan mu? Hahaha..., dunia ini terlalu sempit untuk mu Riko." Kata Rudock tertawa mengejek.
"Sekarang katakan! Kau akan bayar hutang mu atau tidak?" Tanya Rudock sambil membentak.
"Aku tidak punya uang. Lalu dengan apa aku harus membayar?" Tanya Riko dengan nafas memburu.
"Baik.., baik. Jika begitu, kau harus ikut dengan kami untuk bertemu dengan Sendiego dan jelaskan padannya mengapa kau sampai terlambat membayar hutang mu." Kata Rudock.
"Aku mohon beri aku waktu seminggu lagi Rudock!" Kata Riko memohon.
"Kurang ajar. Ikut dengan cara baik-baik atau kau akan kami paksa!?" Kata Rudock lalu segera memerintahkan anak buah nya untuk menyergap Riko.
__ADS_1
Tidak ada pilihan lain bagi Riko selain melawan.
Begitu salah seorang anak buah Rudock berhasil menangkap tangan Riko, Riko pun segera mamberi perlawanan dan menendang orang itu hingga jatuh terjungkang.
Lepas dari cengkraman itu membuat Riko tidak lagi membuang waktu. Dia segera berlari sekuat tenaga menuju sisi gelap antara pagar Seng area bangunan dan lorong jalan rumah penduduk.
"Kurang ajar. Kejar dia!" Kata Rudock lalu segera berlari menyeberangi jalan dan mengejar Riko yang sudah hilang di balik kegelapan.
"Terus cari! Jika ketemu, patahkan kaki nya.!" Kata Rudock dengan geram.
Belum lagi jauh memasuki lorong gelap itu, tiba-tiba dari arah depan terdengar jerit kesakitan dari anak buah nya.
Rudock segera menghidupkan lampu senter di ponsel nya untuk melihat.
Alangkah terkejut nya dia melihat anak buah nya telah pingsan dengan kepala berdarah.
"Setaaaan.......!!!" Teriak Rudock.
Namun belum hilang gema teriakannya, lalu--,
"Buuug..."
"Akkhg...."
"Buggg..."
"Aduuuh..."
Tampak anak buah Rudock yang sedang celingukan tiba-tiba tumbang dengan kepala berdarah.
Rudock kini mendelik melihat seorang pemuda sedang memegang sepotong beroti 2x3 di tangannya yang ujung kayu beroti itu telah menjadi merah akibat darah dari anak buah nya.
"Kau-- kau--- kau. Bangs*t... kau akan menyesal karena berani bertindak bodoh terhadap anak buah Sendiego. Lihat saja nanti!" Kata Rudock kemudian lari terbirit-birit di lorong gelap itu dengan melanggar apa saja yang ada di depan nya.
Selesai manghajar 3 orang anak buah Rudock, Riko langsung membuang potongan beroti yang ada di tangannya dan bergegas melangkah pergi menuju barrak tempat tinggal nya.
__ADS_1
"Aku harus segera pergi melarikan diri dari sini." Kata Riko dalam hati lalu terus berjalan cepat melewati pos security dan menghilang di balik lorong barrak para pekerja bangunan itu.
Bersambung...