
"Kumpulkan mereka semua jadi satu di pojok sana dan bawa kemari para warga yang berdekatan langsung dengan lokasi proyek!" Kata Tuan Barry memerintahkan kepada Jeff dan Austin.
Setelah mereka semua dipisahkan antara demonstran dan wartawan bayaran tersebut, tuan Obery dan Mr.Brylee mulai mempersilahkan penduduk Country home juga ikut memasuki halaman depan kantor besar Future of Company itu.
"Apakah kamera sudah siap? Jika semua sudah siap, paksa mereka untuk menunjukkan kartu identitas mereka. Letakkan di depan dada. Ini untuk memudahkan wartawan menangkap gambar para pengacau ini dan kami dari pihak perusahaan akan menseponsori langsung pemberitaan yang akan di muat oleh televisi dan media-media massa. Aku ingin berita ini di tayangkan selama seminggu agar nama baik perusahaan bisa pulih seperti sedia kala." Kata tuan Barry lagi.
Selesai berkata demikian, Pihak kepolisian di dampingi oleh wartawan dan di saksikan oleh pemerintah setempat mulai mengintrogasi satu persatu di antara mereka.
Para wartawan yang berdatangan juga mulai melakukan siaran langsung dan beberapa di antaranya mulai berbicara di depan kamera sambil menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
Dikatakan juga dalam siaran langsung itu bahwa pihak pemerintah setempat sangat menyesali kejadian ini dan secara terbuka menyatakan dukungan mereka terhadap perusahaan Future of Company.
Namun pernyataan berbeda dari pihak kepolisian mengatakan bahwa mereka akan mengusut tuntas masalah ini dan mulai mengaitkan dengan kecelakaan yang menimpa pemilik perusahaan beberapa bulan yang lalu.
Andai pihak tersangka dari MegaTown terbukti melakukan kesalahan, maka hukuman berat akan menanti mereka.
Pihak kepolisian dari Country home juga meminta bantuan kepada pihak kepolisian dari Metro city untuk menjaga saksi yang saat ini masih koma di rumah sakit Metro city.
Sedangkan tuan Barry selaku presiden perusahaan juga menuntut agar pihak tersangka yang telah mencoba mencemarkan nama baik perusahaan segera merilis pernyataan permintaan maaf di depan publik. Andai ini tidak di lakukan, maka tuan Barry selaku pimpinan staf tertinggi perusahaan akan menuntut tersangka melalui jalur hukum dan menyeret mereka ke meja pengadilan.
Berita siang yang telah di siarkan secara langsung melakui berbagai stasiun televisi membuat Ramendra mulai kalang kabut.
Berbagai masalah kini mulai menghantui fikirannya. Nama baik serta kehormatan yang dia pupuk selama ini akan layu dan mati.
Dia tidak pernah membayangkan akan berada di depan kamera para wartawan dalam konferensi pers dan merilis pernyataan dengan muka badak yang tebal bahwa dia meminta maaf karena dengan sengaja telah mengakibatkan kekacauan dengan motif menjatuhkan nama baik sebuah perusahaan demi persaingan bisnis.
Ini belum lagi masalah susulan yang bakalan menjerat lehernya.
Dia juga menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pihak kepolisian akan mengusut tuntas masalah kecelakaan yang menimpa pemilik perusahaan yaitu Jerry William.
__ADS_1
Kuncinya ada pada David dan Kevin yang saat ini masih terbaring koma di rumah sakit.
Andai salah satu dari mereka bisa sadar dan memberikan kesaksian, maka dia dan Robin sudah jelas akan meringkuk di dalam penjara.
"Tidak.....?!"
"Aku tidak mau di penjara...!?"
"Tolong aku..! Tolooooong.....!!!" Kata Ramendra berteriak sambil memegangi lehernya.
Teriakan itu membuat seisi Villa menjadi gempar.
Mereka berlarian menuju ruang tengah dan melihat Ramendra kini seperti terserang penyakit ayan sambil kejang-kejang memegangi leher nya.
"Ayah... Apa yang terjadi dengan mu?" Kata Robin sambil berusaha melepaskan tangan lelaki tua itu dari lehernya sendiri.
"Panggil Dokter pribadi Ayah! Cepat panggil!" Teriak Robin kepada semua yang ada di ruangan itu.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Dokter lalu memberikan obat penenang lalu segera menulis resep obat untuk segera mereka tebus di rumah sakit.
"Bagaimana Dokter? Apa yang terjadi dengan Ayah saya?" Tanya Robin dengan ekspresi wajah yang sangat khawatir.
"Tuan Robson, Ayah anda terlalu banyak beban fikiran menyebabkan denyut jantung nya melebihi yang semestinya. Tapi tidak perlu khawatir. Setelah meminum obat yang telah saya resepkan, dengan beristirahat sehari juga akan sembuh seperti sedia kala." Kata Dokter tersebut membuat Robin merasa legah.
"Terimakasih Dokter. Mari saya antar keluar." Kata Robin sambil mempersilahkan.
...*********...
Sementara itu di kawasan yang tidak terlalu jauh dari kantor besar Future of Company, tampak tuan Syam dan Drako berdiri tegak sambil melipat tangan di depan dada.
__ADS_1
"Riko ini sama seperti mu Drako. Main sradak-sruduk saja. Untung kita berhasil membersihkan para pengintai di sekitar kawasan ini. Jika tidak, perusahaan pasti akan di cap sebagai sarang mafia dan melakukan tindak kekerasan untuk mengancam masyarakat." Kata tuan Syam sambil tersenyum.
"Hehehe... Kau jangan menghina ku Syam! Kau lihat dia masih muda. Masih banyak yang bisa dia pelajari di masa yang akan datang. Kau tau setiap mereka itu saling melengkapi. Berbeda dengan aku dulu. Aku, Jeff dan Regan sama-sama satu pemikiran satu kepala. Itu yang membuat kami tetap akur sampai saat ini." Kata Drako.
"Ya akur. Tapi karena akur itu lah yang menyebabkan Dragon empire milik mu mati suri selama 23 tahun." Kata tuan Syam mencibir.
"Aku percaya ketika 4 atau 5 tahun lagi, kita akan bisa beristirahat dengan tenang. Pergi mengelilingi dunia dengan bebas. Saat mereka matang kelak, tenaga kita sudah tak di butuhkan lagi." Kata tuan Syam.
"Kau benar Syam. Aku juga ingin menikmati masa tua ku. Tapi aku tidak bisa jauh-jauh dari anak buah ku. Mereka adalah keluarga bagiku setelah istriku di bunuh oleh orang-orang si keparat Robin itu." Kata Drako dengan wajah sedih.
"Mengapa kau tidak menikah lagi Drako? Aku lihat kau masih bisa memiliki keturunan andai kau mencari istri lagi." Kata tuan Syam.
"Gila kau Syam. Mana mungkin untuk usia ku ini mau mencari gadis lagi. Aku sudah memutuskan ketika almarhum istriku di bunuh tanpa aku tau di mana kuburannya, sejak itu aku putuskan untuk mengabdi kepada mendiang kak Wilson. Setelah dia juga tewas, aku memutuskan untuk menjaga putranya dan mendidiknya untuk menjadi lelaki sejati yang mampu melindungi dirinya." Kata Drako.
"Ya. Tapi setelah dia berhasil bertemu dengan keluarga nya, kita malah gagal menjamin keselamatan nya." Kata tuan Syam.
"Itu salah ku. Aku terlalu percaya diri dengan kemampuan yang dia miliki." Kata Drako.
"Setelah ini apa rencana mu?" Tanya tuan Syam.
"Sore ini aku akan ke Mountain Slope. Aku ingin menyusiri sungai itu untuk mencari keterangan kalau-kalau ada yang melihat manusia yang hanyaut terbawa arus sungai." Kata Drako berbohong.
"Baiklah. Kau harus cepat kembali. Keadaan akan semakin kacau. Setelah Ramendra berkali-kali di sakiti oleh ketiga anak muda itu, aku yakin kali ini target mereka adalah mereka bertiga." Kata tuan Syam.
"Kau jangan lupa dengan David dan Kevin yang berada di rumah sakit. Aku khawatir mereka juga akan jadi target mereka." Kata Drako.
"Benar. Aku akan mengatur anak buah ku yang terbaik untuk menyelinap di rumah sakit untuk menjaga kedua pemuda itu." Kata tuan Syam.
"Sudahlah. Ayo kita pergi dari tempat ini. Kita sudah tidak di butuhkan lagi di sini." Kata Drako sambil tertawa di ikuti oleh tuan Syam. Lalu mereka beriringan menuju ke mobil di ikuti oleh puluhan orang yang tiba-tiba saja berkeluaran entah dari mana datang nya.
__ADS_1
Bersambung...