
Mobil Jaguar sport melaju ke arah rumah sakit rakyat Country home.
Setelah memarkir mobil dengan benar, tampak seorang pemuda keluar dan buru-buru melangkah menuju bagian dalam rumah sakit tersebut.
Ketika sampai di salah satu kamar, pemuda itu langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
"Woy Riko. Hahaha... Aku sengaja datang kemari untuk menjemput mu. Apakah kau sudah tidak sabaran untuk keluar dari rumah sakit ini?" Tanya pemuda itu.
"Iya. Ayo kita keluar. Semuanya sudah beres. Oh ya Daniel.., mana Ryan?" Tanya Riko kepada pemuda yang ternyata Daniel itu.
"Ryan ada di kantor besar. Mungkin sebentar lagi dia akan sampai." Jawab Daniel.
Baru saja mereka menyebut nama Ryan, tiba-tiba seorang pemuda yang sebaya dengan mereka berdua kini memasuki kamar di rumah sakit tersebut.
"Sialan kau Daniel. Pergi sendirian tidak mau menunggu ku." Kata pemuda itu merengut.
"Maaf Ryan. Aku terlalu bersemangat." Kata Daniel meminta maaf kepada pemuda yang ternyata adalah Ryan itu.
"Oh ya Riko. Kemana tujuanmu setelah keluar dari rumah sakit ini?" Tanya Ryan.
"Benar Riko. Apakah kau akan pulang me rumah mu, rumah pak Ramos atau kita jalan-jalan dulu mencari udara segar?!" Kata Daniel.
"Aku tidak akan ke tempat yang kau sebutkan tadi. Saat ini aku akan menemui salah satu kenalan. Ada yang harus aku beli di sana." Kata Riko.
"Wah kalau begitu aku akan mengajak Hellen dan Joanna. Atau kita ke Jewel Star saja Riko!" Kata Daniel bersemangat.
"Aku bukan ingin pergi berbelanja. Jangan bawa-bawa wanita. Hanya akan jadi beban saja." Kata Riko keberatan.
"Mengapa kau begitu pelit sekali Riko?" Tanya Daniel.
"Aku buru-buru. Maaf!" Kata Riko langsung berlalu pergi.
"Hey Riko! Kau tidak mengajak kami?" Tanya Ryan.
"Jika kalian mau ikut, ayo ikut. Tapi jangan banyak tanya!" Kata Riko.
Mendengarkan perkataan Riko barusan, Ryan dan Daniel saling bertukar pandang dan sama-sama mengangkat bahu.
__ADS_1
"Huh... Sialan. Aku lupa jika mobil ku berada di rumah pak Ramos." Kata Riko menggerutu.
"Ayo pakai mobil ku saja." Kata Daniel.
"Baiklah. Ayo cepat. Makin cepat lebih baik." Kata Riko sambil menerima kunci mobil dari Daniel.
Ketiga sahabat itu akhirnya berangkat menuju ke arah pinggiran laut di Country home dimana terdapat banyak pengusaha ikan dan pertambakan udang.
Begitu mereka tiba di kawasan nelayan tersebut, riko membelokkan mobil nya ke kanan memasuki sebuah rumah papan yang layaknya seperti gudang.
"Hey Riko... Hahaha... Jagoan ku. Kau ternyata masih hidup." Kata seorang lelaki paruh baya menyapa begitu dia melihat pemuda yang dia kenal.
"Jika aku sudah mati, lalu siapa yang menelepon mu kemarin?" Kata Riko sambil bercanda.
"Pak Norton. Bagaimana dengan pesanan ku. Apakah sudah kau sediakan?" Tanya Riko.
"Oh tentu.., tentu saja sudah. Kau mau sekarang?" Tanya lelaki paruh baya bernama Norton tersebut.
"Ya. Aku menginginkan sekarang. Oh ya., berapa harga yang harus aku bayar?" Tanya Riko.
"Tidak perlu. Kau telah memberiku banyak uang atas kemenangan mu bertarung. Aku tidak akan perhitungan dengan mu." Kata lelaki paruh baya itu sambil membuka sebuah koper.
"Ini adalah pitol model terbaru yang kami import langsung dari rusia secara ilegal melalui jalan laut. Ini adalah jenis pistol semi otomatis dengan kaliber 5,7 dan memuat sebanyak 12 puluru. Sangat cocok untuk bentrok jarak dekat." Kata Norton menjelaskan.
"Selain itu, aku juga telah menyetok 50 butir peluru hidup untuk mu. Apa kau puas?" Tanya lelaki itu lagi.
"Terimakasih Pak Norton. Ini sudah cukup." Kata Riko sambil menimang-nimang senjata api tersebut.
"Hmmm.., aku cukup puas pak." Kata Riko.
"Oh ya Riko. Masih ada satu lagi. Aku hampir saja lupa." Kata lelaki itu sambil menyerahkan kartu bank Blackgold palsu kepada Riko.
Riko menerima kartu bank tersebut, mengamati nya sesaat lalu memberikannya kepada Daniel.
"Bagaimana Daniel? Apakah seperti ini yang kau mau?" Tanya Riko.
"Persis. Coba kau lihat Ryan! Bukankah milik Jerry seperti ini?" Kata Daniel sambil menunjukkan kartu tersebut kepada Ryan.
__ADS_1
"Hmmm.., iya benar. Sangat mirip." Jawab Ryan.
"Jika sudah begini. Permainan akan di mulai." Kata Daniel sambil memasukkan kartu bank palsu itu ke dalam saku nya.
"Baik lah. Ayo kita kembali ke Country home!" Ajak Riko.
Setelah berbasa-basi sedikit dengan Norton, ketiga pemuda itu langsung keluar meninggalkan gudang tersebut dan langsung menuju ke mobil mereka.
"Riko tunggu!" Kata Ryan.
"Untuk apa kau memiliki pistol. Itu sangat berbahaya. Jika pihak penegak hukum tau, kau bisa di penjara." Kata Ryan.
"Benar Riko. Aku sangat ketakutan saat ini." Kata Daniel.
"Apa kalian mendadak menjadi bodoh setelah Jerry menitipkan perusahaan kepada kalian? Apa kalian tau seperti apa musuh kita ini?"
"Kau fikir ini seperti di dalam film atau dalam cerita novel yang jagoannya bisa mengalahkan musuh-musuhnya hanya dengan hal-hal yang tidak masuk akal?!. Preet...! Asal kau tau saja. Lawan yang akan kita hadapi ini kuat. Aku tidak akan bisa melindungi nyawa kalian dan nyawa ku jika aku tidak memiliki senjata. Andai tidak membunuh, setidaknya aku bisa menggertak musuh." Kata Riko.
"Kalian memiliki kemampuan yang tidak aku miliki. Begitu juga dengan aku. Kalian tidak memiliki kemampuan yang aku miliki. Apa kau mau harus setiap hari di kawal terus menerus oleh Herey dan anak buahnya? Ayo lah kawan. Jangan menjadi bodoh seperti itu." Kata Riko lagi.
"Baiklah. Aku mengerti. Sekarang ayo cepat tinggalkan tempat ini. Nyawaku rasanya mau putus berada di sarang harimau ini." Kata Ryan merinding.
"Oh ya Daniel. Untuk apa kau menyimpan kartu bank ekslusif palsu itu?" Tanya Ryan.
"Sama seperti Riko. Dia tidak memiliki kemampuan yang aku miliki. Begitu juga sebaliknya. Jika dia memiliki senjata pistol, aku memiliki kartu bank palsu ini untuk menipu Ramendra." Kata Daniel.
"Semua sudah ku atur. Manager Tom dan aku akan bekerja sama untuk membuat sandiwara agar Ramendra ini percaya bahwa aku adalah orang paling kanan di perusahaan. Biarkan dia mentransfer sejumlah uang terlebih dahulu. Lalu aku akan memberikan kepadanya saham hanya 1%. Tidak lebih, kurang boleh." Kata Daniel sambil tertawa.
"Lalu apa hubungannya dengan kartu itu?" Tanya Ryan.
"Jika dia menuntut bahwa aku telah menipu dirinya, Maka akan aku katakan bahwa dia juga telah menipu aku dengan memberikan kartu palsu ini kepadaku sebagai jaminan. Aku akan berpura-pura membayar makan minum kami menggunakan kartu ini. Lalu aku akan menjatuhkan kartu ini tepat di depan Ramendra. Sudah pasti dia akan membantu ku untuk mengambil kartu ini bukan? Ketika adegan itu terjadi, Herey sudah siap mengambil rekaman video. Tinggal edit, jadi lah." Kata Daniel.
"Otak menipu mu. Ternyata kau berbakat sekali Daniel." Kata Ryan.
"Kau ahli strategi. Aku ahli negosiasi. Riko ahli berkelahi. Sudahlah! Tuhan itu maha adil. Tidak ada manusia yang super serba bisa. Manusia yang lain akan saling bergantung kepada manusia lainnya. Itu sudah kepastian.
"Ayo Riko. Kita kembali ke rumah pak Ramos. Aku ingin kita mematangkan rencana ini. Walau bagaimana pun, musuh juga pasti memiliki rencana licik. Kita kandaskan rencana mereka." Kata Daniel.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, dua mobil sport itupun menderu dengan kelajuan tinggi meninggalkan kawasan pinggir laut tersebut.
Bersambung...