
...Rumah sakit metro, Metro City....
...***...
Setelah membahas segala sesuatu mengenai langkah-langkah yang akan di ambil untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi bersama dua anak muda terpelajar yang datang dari Starhill, maka mereka semua memutuskan untuk menjenguk Ivan, David dan Kevin yang masih kritis di rumah sakit.
Daniel dan Ryan sendiri memilih untuk tidak mengikuti mereka ke rumah sakit. Ini mereka lakukan semata-mata agar wajah mereka tidak di kenali oleh orang-orang yang juga sama sekali belum mereka kenal seperti apa. Mereka hanya tau nama dan seluk beluk sepak terjang lawan, tanpa tau seperti apa wajah mereka.
Dengan ini Daniel dan Ryan memutuskan untuk segera kembali ke Starhill hari itu juga untuk mempersiapkan diri menghadapi lawan yang berat kali ini.
Sementara di rumah sakit Metro, tampak tuan Lenard masih berada di depan pintu kamar di mana putranya Kevin sedang di rawat.
Kelihatan mata lelaki yang berusia hampir enam puluhan itu sembab karena terlalu banyak menangis.
Saat itu dari ujung lorong tampak Regan setengah berlari menghampiri dirinya meninggalkan rombongan tuan Syam, Drako, dan ke empat naga ompong.
Tiba di depan pintu kamar putra nya David yang terbaring dalam keadaan koma, Regan langsung tersandar ke dinding. Tidak ada sepatah kata pun terucap dari mulut nya.
"Kau menyesal Regan? Maafkan aku karena telah merekomendasikan putra mu untuk menjadi pengawal Jerry di Starhill. Jika bukan karena aku, putramu tentu tidak akan terbaring di rumah sakit ini." Kata Drako dengan wajah penuh penyesalan.
"Kau bicara apa Ketua? Dengan cara apa aku harus membalas kebaikan mendiang tuan Wilson? Andai tuan muda celaka dan aku mendapati David dalam keadaan tak kurang satu apapun, dengan kedua tangan ini aku akan mencabut nyawanya." Kata Regan sambil mengangkat tangannya dalam keadaan terkepal.
"Aku seharusnya bangga. Hanya saja, sebagai seorang ayah, memang aku merasa sangat sedih melihat putra ku terbaring di ruangan itu. Dan aku rasa itu sangat manusiawi." Kata Regan lagi.
"Tabahkan hati mu Regan." Kata Drako menguatkan hati anak buahnya itu.
"Bagaimana dengan tuan muda? Mengapa kalian di sini? Mengapa tidak kalian cari?" Tanya Regan sambil memandang kesemua orang yang berada di ruangan itu.
"Kami sudah mencarinya kemana-mana namun kami gagal. Saat ini lebih dua ribu orang masih melakukan pencarian secara bergilir." Jawab Drako.
__ADS_1
"Anak ku sudah jelas nasibnya. Dan aku tidak bisa merubah keadaan dengan hanya bersedih. Namun keadaan tuan muda masih menjadi tanda tanya. Terlalu bodoh tenggelam dalam kesedihan tanpa mau terjun langsung untuk mencari nya. Aku akan pergi sekarang. Biarkan Dokter dan perawat yang menjaga anak ku. Mereka lebih faham daripada aku." Kata Regan lalu segera pergi meninggalkan mereka yang berada di tempat itu.
Merasa tersindir, Lenard juga segera berkata, "Aku ikut. Aku juga akan turun langsung untuk mencari dimana keberadaan tuan muda." Kata Lenarda juga melangkah keluar dari ruangan itu.
...*********...
...Kembali ke beberapa jam yang lalu....
...Rumah gubuk di pinggir sungai bagian hilir Mountain slope....
Seorang gadis yang sedang mencuci tiba-tiba melihat sesosok tubuh yang hanyut dibawa arus sungai.
Dengan cekatan gadis tersebut menarik lengan baju sosok tubuh yang hanyut itu ke pinggiran sungai dan segera berlari ke arah ladang untuk memberitahu kepada lelaki tua yang sedang mencangkul di belakang gubuk tempat tinggal mereka.
"Kakek..."
"Kek.., aku menemukan ada orang yang hanyut di sungai." Kata gadis itu sambil terengah-engah.
"Baiklah. Ayo kita lihat kesana!" Kata orang tua itu sambil meletakkan cangkulnya dan bergegas mengikuti gadis itu untuk melihat ke pinggiran sungai.
Setelah mereka berdua sampai di pinggiran sungai di mana gadis itu tadi menemukan sosok tubuh yang hanyut, sang kakek pun langsung memeriksa hidung orang itu. Dia juga meraba dengut nadi dan detak jantung.
"Masih hidup. Clara.., segera beritahu ibumu untuk merebus air!. Kakek akan membawa orang ini ke gubuk kita." Kata lelaki tua namun masih tampak sangat kokoh dan bertenaga itu.
"Baik Kek." Kata gadis yang bernama Clara itu lalu bergegas naik untuk menemui ibu nya di pondok mereka.
Bagai mengangkat sekarung kapas saja. Lelaki tua itu sama sekali tidak merasa kesulitan mengangkat sosok lelaki yang di temukan hanyut terbawa arus itu menaiki tangga sungai menuju ke arah gubuk mereka.
Setelah sampai di depan gubuk, lelaki tua itu meletakkan tubuh yang ternyata seorang lelaki yang masih muda itu di atas balai yang terbuat dari belahan papan kayu sambil memeriksa keadaan pemuda tersebut.
__ADS_1
"Hmmm.., benar-benar sulit di percaya. Seorang yang menderita begitu banyak luka dan memar ini masih tetap bertahan hidup. Benar-benar satu mukjizad dari yang MAHA KUASA." Kata lelaki tua itu dalam hati.
"Bagaimana keadaannya Ayah?" Tanya seorang wanita setengah baya yang baru saja keluar dari dalam gubuk.
"Masih hidup. Hanya saja keadaannya sangat memprihatinkan. Aku akan segera merendam tubuh anak ini kedalam air yang telah di campur ramuan. Bantu aku menyediakannya, Roxana!" Kata lelaki tua itu kepada wanita setengah baya tadi.
"Baik Ayah..." Kata wanita setengah baya yang bernama Roxana itu.
Begitu semuanya ramuan obat yang terdiri dari akar kayu, dedaunan dan berberapa jenis bunga dan biji-bijian tercampur menjadi satu ke dalam sebuah bak besar, lelaki tua itu menurunkan tubuh pemuda itu kedalam rebusan air bercampur ramuan herbal tersebut setelah suhu air itu hangat-hangat kuku.
"Bagaimana menurut mu, Ayah? Apakah masih bisa di tolong?" Kata Roxana bertanya.
"Hmmm.., kondisi nya lebih parah ketika aku menemukan mu 22 tahun yang lalu. Tapi daya tahan tubuh anak ini benar-benar membuat ku kagum. Belum pernah aku menemukan seseorang dengan susunan tulang, bentuk fisik serta daya tahan tubuh seperti ini. Aku dapat merasakan semangat yang tinggi untuk bertahan hidup pada diri anak ini." Kata lelaki tua itu.
"Syukurlah jika masih ada harapan baginya untuk hidup. Dia masih sangat muda. Tentu masa depannya masih sangat cerah." Kata Roxana.
Entah mengapa jauh di lubuk hatinya dia sepertinya sangat menyayangi pemuda yang sekarat ini.
"Aku merasa seperti telah lama mengenal anak muda ini. Tapi entah di mana. Rasanya wajah ini seperti tidak asing bagiku." Kata Roxana sambil berusaha mengingat-ingat sesuatu.
"Kau bisa bertanya kepada anak ini jika dia sudah sadar. Tapi aku juga tidak pasti kapan dia akan siuman." Kata lelaki tua itu sambil mengangkat tubuh pemuda itu.
"Kau keluar lah dulu Roxana. Carilah pelepah keladi. Aku akan membalut tubuh anak ini bersama dengan pelepah keladi tersebut." Kata lelaki tua itu.
"Segera akan saja lakukan, Ayah." Kata Roxana.
"Kau Clara.., Ambilkan kain panjang di lemari. Aku akan menggunakannya untuk membalut seluruh tubuh anak ini." Perintah orang tua itu kepada cucunya.
Setelah semua sudah tersedia, orang tua itu segera meletakkan pelepah keladi ke atas tungku api dan melumasi pelepah itu dengan bermacam serbuk obat serta minyak yang juga terbuat dari ekstrak tumbuh-tumbuhan. Setelah pelepah keladi itu layu, dia segera meletakkan di tangan pemuda itu yang patah di beberapa bagian lalu membalutnya dengan kain putih.
__ADS_1
Kini tubuh pemuda itu persis seperti mumi yang di awetkan setelah seluruh tubuhnya terbalut kain putih. Kini yang tersisa hanya mata, mulut dan hidung saja yang bebas dari lilitan kain tersebut.
Bersambung...