
"Sudah terbiasa di rumah, nek. Saya juga heran dengan penghuni di rumah ini, kenapa memanggil saya den Al. Nyonya besar, nyonya muda tuan besar dan tuan Zack malah memanggil saya Al. Nama saya kan Haikal nek, bukan Al". Cerca Haikal bingung.
"Kan nggak salah. Haikal, Kal, Al. Kami suka dengan panggilan itu, lebih singkat aja". Imbuh bik Saras beralasan.
"Oh. Tapi tentang panggilan den itu kenapa pula? Saya di sini pekerja biasa seperti yang lain nya nek. Kalau di panggil dengam embel - embel den kalau aku majikan di mansion ini aja". Kata Haikal.
"Itu permintaan nyonya besar den Al. Kami nurut aja, nyonya besar bilang kalau den Al keberatan maka gaji den Al akan di potong". Balas Sinta menahan tawa nya saat Haikal membuang nafas pasrah..
"Ya udah deh. Ada yang bisa saya bantu nggak, suntuk nih". Haikal malah menawarkan diri untuk mambantu.
"Sini, ini bawang nya banyak banget yang ingin di kupas. Pekerjaan berat bagi semua orang, kamu mau nggak". Tawar bik Saras sebenarnya hanya bercanda.
"Kupas bawang aja pekerjaan berat, sini biar saya tolong nek". Haikal mulai mengupas bawang dengan lincah.
Waktu ia usia dua belas tahun, pernah bekerja di sebuah restoran, banyak pekerjaan yang ia lakukan, contoh nya mengupas bawang dan menyediakan bahan masakan lain nya, bahkan jika kerja nya cepat selesai ia juga menawarkan diri untuk cuci piring. Meskipun usia nya masih muda, tapi ia cekatan saat menyerjaan sesuatu. Tak jarang pemilik restoran memuji nya dan memberi bonus pada nya.
Bik Saras dan Sinta sampai tercengang, persediaan bawang selama tiga hari sudah siap Haikal kupas dan potong - potong dalam waktu lima belas menit. Pe sediakan bawang selama tiga hari itu sebanyak sepuluh kilo, karena di mansion menyiapkan makanan untuk seluruh penghuni rumah termasukpekerja yang berjumlah tiga puluh orang.
"Wah, den Al hebat. Bawang sebanyak itu udah selesai di potong tanpa mengeluarkan air mata setetes pun". Sinta kagum sambil mengusap pipi nya yang basah akibat bawang..
"He he he, biasa aja bik. Kok malah kalian sih yang nangis, ha ha ha". Haikal tertawa terbahak - bahak melihat wajah bik Saras dan Sinta udah merah.
"Makanya nenek bilang kupas bawang ini pekerjaan berat, ya sebab ini perih di mata buat kami semua nangis saat mengupas dan memotong nya". Imbuh Bik Saras.
"Kalau begitu setiap pagi kerjaan saya di dapur juga deh, tolong nenek kupas bawang atau bahan lain nya yang ingin di masak hari ini. Dari pada suntuk nggak ada kerjaan kan lebih baik saya tolong kalian kan". Tawar Haikal dengan senang hati. Mulai sekarang rutinitas pagi hari adalah menolong di dapur sebelum sarapan dan berangkat sekolah.
"Tapi apa nggak merepotkan den Al. Lebih baik den belajar aja di kamar, sebentar lagi kan ujian, lagian banyak kok pembantu di rumah ini yang bisa tolong di dapur. Den Al fokus sekolah aja". Tolak bik Saras.
"Iya juga sih, tapi saya udah terbiasa buat kerja rumah nek. Rasanya ada yang kurang gitu kalau setiap hari cuma belajar aja, kadang merasa bosan juga". Imbuh Haikal.
"Nanti juga kamu akan terbiasa, lagi pula sepulang sekolah kan kamu harus belajar nyetir sama Josep, jadi kamu nggak akan bosen". Aisyah tiba - tiba gabung bersama mereka. Setiap pagi Zack ingin di buat kan teh jahe buatan istri tercinta.
__ADS_1
"Eh, mamah. Selamat pagi mah". Sapa Haikal.
"Pagi sayang". Balas Aisyah sambil mengecup kening Haikal.
Haikal sebenarnya sedikit keberatan dengan sikap Aisyah pada nya. Di panggil sayang bahkan di cium. "Kalau nyonya bersikap seperti ini terus, bisa - bisa tuan cemburu dan malah menganggap aku ini selingkuhan istrinya". Batin Haikal.
"Tapi bagaimana aku harus menegur nyonya? Aku takut gaji aku malah di potong lagi oleh nya". Batin nya lagi semakin bingung.
"Jangan terlalu di pikir kan. Mamah kamu memang seperti itu pada anak seusia kamu, apa lagi sekarang kamu adalah bagian keluarga ini juga. Jadi kamu harus membiasakan diri dengan perlakukan istimewa ini". Mega juga muncul dan duduk di samping Haikal.
"Eh, oma. Selamat pagi oma". Sapa Haikal. "Bagaimana oma tahu apa yang sedang aku pikir kan?". Batin Haikal.
Haikal memilih diam, ia baru semalam tinggal di sini dan rasa nya tidak pantas jika ia sudah menyuarakan ketidaksukaan nya pada perlakuan semua orang pada nya. Jika bersama bik Saras dan Sinta ia sudah akrap karena status mereka di rumah ini sama, sama - sama bawahan. Tapi dengan Mega, Panji, Aisyah apa lagi Zack ia masih sedikit segan dan takut. Gaji nya tergantung pada mereka.
Selepas sarapan Haikal berangkat sekolah di hantar Josep. Aisyah juga ingin ikut menghantar Haikal untuk melihat sekolah yang di tempati anak itu menuntut ilmu.
"Ini adalah sekolah kamu?". Tanya Aisyah. Menurut nya sekolah itu kurang layak untuk putra nya tapi meminta Haikal pindah pun percuma, hanya tersisa beberapa bulan untuk dia menuntut ilmu di sekolah itu.
"Belajar yang baik yah. Ini jajan untuk kamu". Aisyah memberikan dua lembar uang merah pada Haikal.
Haikal tercengang, "Nggak perlu, mah. Uang sebanyak itu mau jajan apa? Saya nggak biasa jajan mah, lagi pula saya membawa bekal di rumah dan juga air minum". Tolak Haikal.
"Kalau kamu nggak jajan kan kamu boleh tabung. Mamah harap kamu nggak nolak pemberian mamah". Bujuk Aisyah.
Tiba - tiba Haikal melihat Karina melewati mobil yang ia tumpangi. Ia tidak ingin berdebat lebih lama dengan Aisyah, dengan terpaksa ia mengambil uang itu lalu menyalami tangan Aisyah sesuai permintaan Aisyah sebelum berangkat tadi. Haikal harus menyalami semua orang ketika hentak keluar rumah.
"Saya akan menabung uang ini. Mamah hati - hati pulang. Saya masuk dulu". Haikal keluar mobil dan mengejar Karina yang sudah jauh.
"Siapa cewek yang ia kejar itu?". Tanya Aisyah pada Josep.
"Itu adalah anak perempuan dari pasangan yang telah membesarkan den Albar". Sahut Josep.
__ADS_1
"Kamu sudah menyelidiki tentang keluarga itu?". Tanya Aisyah penasaran.
"Menurut cerita yang saya dapatkan dari tetangga mereka. Haikal di temukan oleh mereka di pinggir jalan sedang menangis, mereka yang tidak memiliki anak lelaki pun membawa den Albar pulang ke rumah mereka". Jelas Josep.
"Kamu sudah memastikan ke benaran cerita itu?". Tanya Aisyah lagi.
"Sudah nyonya. Semua tetangga menceritakan hal yang sama". Sahut Josep dnegan yakin..
"Baik lah, terus mata - matai keluarga itu. Aku bingung harus bagaimana dengan keluarga itu. Satu sisi mereka udah baik membesarkan Albar tapi di sisi lain aku kesal karena mereka menyiksa anak ku". Kata Aisyah..
"Baik nyonya, Kali sentiasa standby di sana me mata - matai keluarga itu". Balas Josep.
*
*
Sementara itu, Haikal mengejar Karina untuk menyerahkan bekal makanan yang ia bawa. "Karina tunggu!". Panggil Haikal.
Karina menoleh dengan cepat dan mengukir senyum senang bisa melihat wajah Haikal di pagi hari.
"Kamu baru datang?". Tanya Karina.
"Iya. Ini aku ada bawakan bekal makanan untuk kamu". Haikal menyerahkan bekal makanan nya pada Karina.
"Tapi aku juga bawa dari rumah, Kal. Kamu makan aja bekalan kamu itu". Tolak Karina.
"Kita tukaran. Kamu makan aku punya, aku makan kamu punya". Tawar Haikal.
"Boleh juga. Nah". Karina menyerahkan bekalan nya pada Haikal dan mengambil bekalan milik Haikal.
"Jangan lupa makan yah. Aku ke kelas dulu". Pamit Haikal melambaikan tangan nya pada Karina.
__ADS_1