PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Riko yang tidak mau mendengar nasehat


__ADS_3

"Wah... Enak ini enak." Kata Daniel sambil mendekatkan piring berisi makanan.


"Coba yang ini Joanna. Kau pasti suka." Kata Jerry sambil meletakkan sesuatu ke piring milik Joanna.


"Terimakasih kak Jerry." Kata Joanna.


"Baju meeerah... baju merah yang baju merah pandang tak jemu pandang tak jemu~" Kata Ryan sambil bernyanyi menyindir Jerry.


"Ini juga sayang. Kau harus makan yang banyak biar cepat besar!" Kata Daniel kepada Hellen membuat Riko terbatuk-batuk.


"Kalau tau seperti ini aku pasti akan mengajak Rina." Kata Riko mengutuk Jerry dan Daniel.


"Apa aku harus menelepon Jenny dan Rina agar mereka datang kemari?" Tanya Jerry sambil berpura-pura mengeluarkan ponsel nya.


"Jangan.., sebaiknya jangan!" Kata Riko menolak.


"Oh ya Kakak ipar. Mengapa kau tidak melanjutkan kuliah mu? Pak Yanken sudah di pecat dari jabatannya. Anton, John dan Zeck juga sudah di keluarkan dari kampus." Kata Daniel.


"Oh ya?! Wah itu berita bagus. Tapi?" Riko tidak melanjutkan kata-katanya.


"Tapi apa Riko?" Tanya Ryan.


"Ah tidak apa-apa. Tidak apa-apa." Kata Riko menggeleng.


"Riko. Kami adalah sahabat mu. Kau tidak akan bisa menyembunyikan sesuatu terlalu lama dari kami. Kami tau masalah yang kau hadapi saat ini." Kata Jerry.


"Joanna.., bawa Hellen dari sini! Kau cari alasan yang tepat. Kami akan membicarakan sesuatu yang penting disini." Kata Ryan berbisik ke telinga Joanna.


"Hellen.., aku ingin ke Toilet. Bisakah kau menemani ku?" Tanya Joanna.


"Ayo Joanna. Aku juga sebenarnya ingin ke toilet." Kata Hellen. Lalu mereka berdua segera meninggalkan keempat sahabat itu.


Setelah Joanna dan Hellen beranjak dari tempat itu, kini Riko menatap lekat-lekat ke arah Jerry.


"Jerry.., apa yang kau ketahui tentang masalah ku?" Tanya Riko dengan tatapan menyelidik.


"Sudah lah Riko. Akui saja! Sampai kapan kau akan berahasia dengan kami? Kami ini adalah sahabat mu." Kata Jerry.


"Apa yang perlu aku rahasiakan dari kalian?" Kata Riko ngotot.


"Kau yakin tidak sedang berahasia dengan kami Riko? Sejak kapan kau tidak jujur dengan sahabatmu?" Tanya Ryan sambil membalas tatapan Riko.


"Apa maksud kalian ini?" Tanya Riko sedikit emosi.


"Riko.., aku tau kau bekerja di bawah Sendiego di Country home. Apakah kau akan memungkiri ini?" Tanya Jerry sambil menatap ke arah Riko.


"Ak.., aku.., aku tid.., tidak. Ah.."


"Aku telah menyelidiki masalah mu ini Riko. Mengapa kau bisa masuk ke dalam perangkap Sendiego?" Tanya Ryan dengan menahan perasaan.


"Aku terpaksa Ryan." Kata Riko.


"Kakak ipar. Setidaknya kau tidak harus berbohong kepada kami. Kau menghilang begitu saja. Nomor ponsel mu di ganti. Akun media sosial semuanya kau tutup. Apakah kau menganggap kami ini tidak berguna bagimu?" Tanya Daniel.

__ADS_1


"Tidak. Sama sekali bukan begitu maksud ku." Kata Riko.


"Aku mendengar kabar bahwa kau akan bertarung dengan orang bernama Hyden. Dan itu akan berlangsung awal bulan ini. Apakah itu benar. Riko?" Tanya Jerry.


"Dari mana kau tau semua ini Jerry?" Tanya Riko heran.


"Aku memiliki sahabat baru bernama Arslan. Dia dulu adalah petarung yang dipelihara oleh Sendiego. Dari dia lah aku mendapat kabar bahwa kau akan di jebak oleh Sendiego." Kata Jerry menjelaskan.


"Arslan? Bukanlah itu orangnya yang di usir seperti pemgemis oleh Sendiego?" Kata Riko dalam hati.


"Riko. Aku sarankan agar kau jangan kembali ke Country home. Kau jangan masuk ke dalam perangkap Sendiego!" Kata Jerry lagi.


"Itu tidak mungkin Jerry. Aku tidak bisa memenuhi keinginan mu."


"Mengapa Riko? Apakah begitu sulitkah bagimu untuk menolak tantangan itu?" Tanya Ryan.


Tidak sulit. Sama sekali tidak sulit. Hanya saja, sebagai seorang lelaki aku tidak boleh lari ketika seseorang telah melayangkan tantangan tepat di depan hidung ku." Kata Riko.


"Apa kau tau Riko bahwa kau saat ini seperti alat bagi mereka untuk mengeruk keuntungan? Kau hanya di jadikan sapi perahan oleh mereka. Mengapa kau begitu bodoh Riko?" Kata Jerry.


"Aku tau semua itu Jerry. Tapi di saat susah dulu, Sendiego lah yang telah meminjamkan aku uang untuk membantu membiayai perawatan ibu ku yang terbaring di rumah sakit ketika itu." Kata Riko.


"Lagi pula ini adalah jalan pilihan ku. Kalian tidak berhak melarang ku. Kita memiliki kehidupan kita masing-masing. mengapa kalian begitu repot mengurus hal pribadi ku? Aku telah memulai dan aku akan mengakhiri nya." Kata Riko tetap dengan pendirian nya.


"Kau lupa bahwa kita talah lama bersahabat Riko. Kau bertindak sendiri tanpa mau merundingkan hal ini kepada kami terlebih dahulu. Kau bahkan nekat meminjam uang berbunga kepada Sendiego dan akhirnya sekarang kau masuk dalam perangkap yang telah di rancang oleh Sendiego." Kata Jerry.


"Sudah Jerry! Aku melakukan semua itu karena aku tidak tahan melihat penderitaan yang di alami oleh ibu ku yang terbaring di rumah sakit. Anak mana yang tahan melihat air mata setiap hari membasahi pipi keluarga nya? Kau bisa berkata begitu karena kau tidak memiliki ibu. Kau tidak memiliki ayah bahkan keluarga pun kau tak punya."


"Cukup Riko! Kau sudah keterlaluan menghina ku. Padahal niat ku baik demi sahabat. Jika kau tidak bisa sedikit pun menghargai niat orang, pergi saja mati!" Kata Jerry dengan marah sambil membanting gelas ke atas meja membuat gelas kaca tersebut pecah berderai.


"Oh Tuhan... Apa yang sudah aku ucapkan?" Kata Riko sambil mendongak memegang kening nya sendiri.


"Maafkan aku Jerry! Aku benar-benar meminta maaf padamu." Kata Riko sambil mendekati Jerry.


"Jerry... sssst...." Kata Ryan sambil mengerlingkan ekor matanya ke arah tempat parkir.


Melihat sedikit ke bawah, Jerry dapat melihat dengan jelas cahaya ponsel dalam sebuah mobil yang terparkir dengan nomor plat Country home.


"Pegi Riko!" Kata Jerry.


"Maafkan aku Jerry! Aku tidak sengaja mengucapkan kata-kata yang telah menyinggung perasaanmu." Kata Riko yang belum tau apa-apa.


"Di bawah Riko. Kau di buntuti oleh orang-orang Sendiego." Kata Jerry berbisik.


"Pergi kau Riko..! Kata Jerry mulai beracting dengan meninju Riko sehingga seolah-olah telah terjadi perkelahian antara Jerry dan Riko dalam restoran tersebut.


"Kau Jerry. Aku pasti akan membalas mu." Kata Riko pura-pura mengancam Jerry dan segera keluar dari ruangan itu menuju lift dan segera berlari ke arah mobilnya.


Begitu Riko memecut laju mobil nya, tiba-tiba mobil yang tampak di tempat parkir tadi segera berlalu pergi membuntuti mobil Riko.


Namun tak lama kemudian tampak dari belakang sebuah mobil sport Lamborghini SIAN melesat bagai peluru mengejar mobil yang membuntuti mobil Riko tersebut di ikuti oleh dua mobil toyota sport dari belakang sehingga acara kejar-kejaran tersebut terjadi di jalan Starhill.


"Ayo kita kejar mereka!" Kata Jerry bergegas berlari. Namun dia berhenti ketika ingat tentang Joanna dan Hellen.

__ADS_1


"Daniel.., suruh Joanna dan Hellen cepat menyusul ke bawah!" Kata Jerry.


Setelah mereka semua sudah perkumpul di bawah, mereka lalu berdesak-desakan di dalam mobil volvo butut itu sehingga semakin lengkap lah penderitaan mobil tua tersebut.


Di lain pihak, kini tampak mobil Lamborghini SIAN itu telah berhasil memotong mobil penguntit tersebut dan segera memblokir jalan.


"Keluar kalian!" Kata salah seorang dari pengendara mobil Lamborghini tersebut.


Kini tampak empat orang keluar dari mobil penguntit itu dan bersiap-siap untuk melakukan pertarungan.


Belum lagi mereka melakukan perkelahian, dari belakang muncul dua mobil toyota sport dan langsung memblokir jalan di belakang dan di samping mobil yang membuntuti Riko tadi.


Kini pas jumlah mereka satu lawan satu.


"Sana gunung di sini gunung. di tengah-tengah..."


"Hentikan pantun sialan mu itu. Aku tidak sudi mendengarkan nya." Kata seorang lagi.


"Sialan kau David. Aku baru saja mau memulai pemanasan.


"Hei kau gorila-gorila tak berekor. Apa kau fikir semudah itu keluar masuk Starhill sesuka hati mu?" Kata David sambil menatap tajam kearah empat orang dari Country home tersebut.


"Bangsat.. Ayo kita bereskan mereka. Setelah itu kita laporkan kepada Sendiego bahwa Riko telah mencari bantuan di Starhill ini." Kata salah seorang dari mereka.


Tak lama setelah itu perkelahian pun pecah di bahu jalan Starhill.


Tampak dua orang yang mengendarai mobil Lamborghini itu tidak mengalami kesulitan sama sekali menumbangkan lawan-lawannya.


David juga tampak sudah selesai membekuk lawannya hingga tersungkur di jalan. Kini tinggal Kevin yang tampak masih senang bermain-main. Namun ketika dia melihat teman-temannya sudah berhasil melumpuhkan lawan mereka, Kevin pun mulai serius dan akhirnya...,


"Bugh..."


"Aw.."


"Hiaaat.., Beegh..."


"Modar kau!" Kata Kevin ketika melihat lawannya jatuh tersungkur mencium aspal.


"Beres." Kata Kevin sambil tertawa.


Sementara di kejauhan tampak mobil Volvo butut terseok-seok seakan roda nya ingin tanggal.


Belum lagi mobil itu sampai di tempat kejadian, mendadak mobil tua itu terbatuk-batuk lalu. mogok.


"Dasar mobil sialan. Tidak bisa di ajak kompromi." Kata Jerry sambil membanting stir mobil dengan tangannya.


"Ayo jalan saja. Sudah dekat itu." Kata Jerry sambil keluar dari mobil di ikuti oleh Ryan dan yang lainnya.


"Tuan muda. Mau kita apakan orang-orang ini?" Tanya salah satu lelaki besar berpakaian hitam ketika melihat Jerry sudah tiba di tempat kejadian.


"Orang-orang ini tidak bisa di kasih ampun. Bereskan saja mereka. Aku terlalu malas melihat wajah-wajah iblis seperti ini." Kata Jerry.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2