PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 68 iya Sayang


__ADS_3

"Aku bukan orang bodoh, om. Aku tahu kalau zaman sekarang bisa saja terjadi jika ada uang. Bukan hanya fakta atau identitas yang bisa berubah, kepercayaan bahkan kesetiaan bisa goyah begitu saja. Tapi aku bukan jenis manusia seperti itu, aku nggak akan terpngaruh sedikit pun dengan semua godaan yang bisa memecahkan diri ku". Jawab Haikal meyakinkan Ronal.


Mereka yang mendengarnya pun sontak tersinggung, bahkan Ronal sendiri bagai tersambar petir saat Haikal seperti sedang menyinggung nya. Tidak dapat ia pungkiri kalau selama ini ia juga melakukan kecurangan menggunakan uang untuk mendapatkan tahta dan kepercayaan orang lain.


Tapi walau bagaimana pun jawaban Haikal itu membuat Ronal yakin kalau anak muda itu tidak akan mengkhianati nya.


"Aku akan memikirkan hal ini terlebih dahulu karena resiko nya sangat tinggi apa lagi kamu harus berada dalm lingkungan mereka dan om khawatir mereka malah mencuci otak mu sehingga membuat kita satu keluarga bermusuhan". Ronal terdengar lebih tenang menanggapi Haikal. Ia sebenarnya sudah setuju pada ide Haikal tadi bahkan ia yakin 99% kalau Haikal selalu berada di pihak nya.


Tapi sebagai seorang pemimpin, ia juga harus terlihat bijak.


Haikal malah menatapnya bingung, karena baru saja tadi Ronal berniat ingin membunuh nya tapi sekarang malah berubah lembut lagi seperti sebelumnya. "Pasti ia pikir aku serius ingin membantu nya, dasar nggak tahu diri!". Batin Haikal kesal.


Sedangkan Rinata yang berdiri di samping Haikal sangat penasaran dengan pemikiran pria itu saat ini. Ia takut kalau Haikal benar - benar ingin memecahkan masalah yang sedang di hadapi oleh Ronal dan menghancurkan Naga Merah seperti ide nya tadi. Tapi ia tidak bisa gegabah dengan bertanya pada Haikal, ia takut identitas nya malah terbongkar sebelum waktu nya.


"Baik lah kalau om ingin memikirkan nya dulu. Aku sama sekali tak memaksa om untuk setuju pada ide yang sampai kan tadi. Aku nggak mau sok berkuasa di sini. Aku memang ponakan om tapi aku belum cukup berpengalaman. Banyak orang lain yang lebih banyak pengalaman dalam bidang ini dan sudah tentu otak mereka lebih cerdas dari otak ku". Sahut Haikal menyindir Ijal dan anak buah Ronal yang lain..


"Kamu menyindir kami!". Ijal tampak kesal pada perkataan Haikal. Sesuai keinginan Haikal juga.

__ADS_1


"Maaf, ucapan aku yang mana yang sedang menyindir anda? Malah aku memuji bukan". Jawab Haikal sinis.


"Kamu! Jangan mentang - mentang kamu ponakan bos Ronal, maka kamu bisa seenak nya di sini!". Hardik Ijal kembali melayangkan senjata api ke arah Haikal.


Haikal sama sekali tak takut dengan ancaman Ijal. Ia ingin melihat siapa yang bisa di ajak kerja sama dan mana yang tidak. Tapi di antara mereka semua, sama sekali tiada yang bisa ia ajak kerja sama.


"Cukup! Kalian semua pulang saja. Datang ke sini bukan nya memberi solusi kalian malah hanya menimbulkan keributan". Geram Ronal mengusir semua anak buah nya.


"Tapi bos...". Ijal ingin membela diri tapi Ronal memotong ucapan nya.


"Pergi sekarang atau kalian lah yang akan mati di sini". Ancam Ronal pada Ijal.


"Ini semua gara - gara kehadiran Haikal! Semenjak ia datang, bos Ronal menjadi pelit pada kita tak royal seperti dulu lagi. Bahkan ia tak menganggap kita lagi11. Kalau ada kesempatan, aku akan membunuh anak hingusan itu dengan tangan ku sendiri". Kesal Ijal.


"Kamu benar, Jal. Aku lihat anak itu sok banget di hadapan bos. Bos pun sama juga, ia lebih percaya pada anak ingusan itu berbanding dengan kita yang telah lama berjuang bersama nya semenjak tuan Danish menyerahkan kepemimpinan pada nya. Memang awal nya keberatan tapi kita hanya jongos yang harus patuh pada atasan tanpa bisa membantah sedikit pun. Tapi sekarang aku malah semakin yakin kalau pilihan tuan Danish salah". Sahut yang lain nya.


"Sudah. Lebih baik kita ke tempat biasa untuk menghibur diri. Stres mikirin bos Ronal buat apa yang penting uang tetap mengalir deras ke rekening kita". Tungkas yang lain tidak ingin mengambil pusing masalah ini.

__ADS_1


Sementara di markas, Rinata membawa Haikal kembali ke dalam kamar setelah berpamitan pada Ronal. Ronal pun masuk ke dalam kamar nya untuk mendiskusikan masalah ini pada Meri dan juga meminta pendapat wanita itu tentang ide Haikal tadi.


"Menurutku kamu percayakan saja pada Haikal semua nya. Dengar cerita kamu ini aku yakin banget kalau Haikal benar - benar benci pada keluarga Purbalingga. Aku juga yakin dia tidak sebodoh itu bisa langsung percaya begitu saja dengan perkataan mereka sama seperti pertama kali kalian bertemu. Dia tidak serta merta percaya kan tapi karena kamu pintar membolak - balikkan fakta maka ia bisa seyakin sekarang". Imbuh Meri setelah mendengar cerita Ronal.


"Bagaimana kalau dia juga akan percaya dengan perkataan mereka setelah menunjukkan segala bukti pada Haikal? Bukti yang mereka miliki tidak seperti yang kita miliki sekarang, bukti mereka lebih meyakinkan sedangkan kita hanya merekayasa cerita". Ronal masih bimbang memutuskan sama ada akan melakukan rencana Haikal atau tidak setelah memikirkan resiko nya lagi.


"Itu terserah kamu saja. Kalau menurut aku, sih lebih baik kamu percayakan saja semua nya pada Haikal. Tapi tetap waspada, kita letakkan mata - mata yang akan selalu berada di samping nya yang bisa melaporkan semua pada kita. Jadi kalau terjadi apa - apa kita bisa bergerak selangkah ke hadapan mendahului mereka. Lagi pula nggak ada rugi nya bagi kita kalau Haikal benar - benar berpihak pada mereka...". Ujar Meri berpendapat..


"Apa maksud mu tak rugi? Aku rugi besar tahu nggak, selama belasan tahun aku membiayai hidup nya. Operasi plastik menghilangkan tanda lahir nya pun aku yang membiayai nya. Jadi aku nggak mau kalau sampai hal itu terjadi. Haikal harus mengembalikan semua uang yang ku gunakan untuk nya bahkan lebih. Aku nggak mau rugi!". Bentak Ronal tidak setuju dengan pendapat Meri. Ronal mencekik wanita itu lagi dengan kuat hingga Meri sesak nafas.


"Ma - maaf". Rintih Meri sambil menahan tangan Ronal agar tidak mencekik nya sampai mati.


Ronal menghempaskan wajah Meri ke lantai sehingga wanita itu hampir saja mencium lantai seperti sebelum nya. Tatapan nya teduh pada Ronal karena takut pada pria itu yang semakin hari semakin sering menyakiti fisik nya. Tapi dalam hati Meri, dendam untuk pria itu semakin besar dan menggebu.


"Aku akan pastikan kau menyesal telah memperlakukan ku seperti sekarang". Gumam Meri dalam hati.


Sementara di kamar lain, Haikal sedang menghadapi tatapan mencekam dari Rinata. Begitu banyak pertanyaan yang bermain di benak wanita itu saat ini. Tapi ia tak bisa gegabah melontarkan pertanyaan pada Haikal begitu saja karena keadaan dan posisi mereka saat ini kurang tepat.

__ADS_1


"Sekarang istirahat lah. Mas pasti capek banget kan". Rinata menutuskan untuk menahan nya saja sementara waktu. Melihat kondisi Haikal saat ini pun membuat nya prihatin.


"Iya, sayang". Sahut Haikal dengan suara kecil hampir tak terdengar oleh telinga Rinata.


__ADS_2