
Di ruangan bawah tanah hotel teratai saat ini tampak dua orang berbeda usia saling berhadap-hadapan.
Ramsey yang sejak tadi tidak memandang sebelah mata pun kepada Jerry dengan sombong mempersilahkan Jerry untuk menyerang terlebih dahulu.
"Nah nak.., aku memberikan kesempatan untuk mu memukul ku sebanyak 3 kali pukulan dan aku tidak akan membalas sedikit pun." Kata Ramsey dengan sombong.
"Aku tidak butuh 3 pukulan. Cukup satu pukulan saja kau pasti tumbang." Kata Jerry lalu mengirimkan tinju nya tepat mengenai kening Ramsey membuat lelaki gaek itu terlentang kebelakang.
"Hahaha..., kau terlalu sombong Ramsey. Kau lupa bahwa kita sudah tidak muda lagi seperti dulu." Kata Jeff menertawakan kebodohan Ramsey yang dengan sombong memberi kepada Jerry pukulan gratis.
"Bagaimana Ramsey? Apakah kau akan memenuhi janji?" Kata Jerry sambil mencibir.
"Kurang ajar. Aku akan membunuh mu!" Kata Ramsey bergegas bangun dan menggeleng-gelengkan kepalanya yang pusing akibat pukulan dari Jerry tadi.
"Bersiaplah nak. Aku akan mengirim mu ke neraka." Kata Ramsey meluruk kearah Jerry.
Jerry yang memang telah bersiap dari tadi hanya menggeser tubuhnya ke kanan membuat serudukan Ramsey luput dari sasaran.
Baru saja Ramsey berbalik ke arah Jerry, Jerry sudah mengirimkan tendangan lurus yang tidak bisa di hindari oleh Ramsey
"Plak..."
"Bugh..."
"Aw..." Kata Ramsey terhuyung-huyung kesamping.
Pertarungan itu terus berlangsung berat sebelah. Tampak Ramsey kini telah kehabisan nafas. Dia kini benar-benar kepayahan meladeni Jerry yang memiliki stamina tinggi.
"Sial kau Jerry. Apa hubungan mu dengan Drako?" Tanya Ramsey.
"Drako adalah ayah angkat ku. Dia yang mendidik ku selama ini." Kata Jerry menjawab pertanyaan Ramsey.
"Sekarang bersiaplah Ramsey!!!" Kata Jerry lalu mengirim serangan tanpa henti bak curahan hujan menghajar apa saja dari bagian tubuh Ramsey.
Tampak kini darah mulai keluar dari hidung dan pelipis mata Ramsey. Kuda tua itu tampak megap-megap, sedangkan Jerry masih tampak seperti tidak melakukan apa-apa.
"Apakah seperti ini kemampuan anak buah Robin? Jika hanya seperti ini, maka kehancuran keluarga itu di tangan ku tinggal menunggu hari." Kata Jerry.
"Kau jangan senang dulu Jerry. Aku belum kalah." Kata Ramsey
"Hanya kematian lah yang menentukan siapa pemenangnya." Kata Jerry kembali mengirim tendangan kaki nya.
Ramsey pontang panting menghindar dari serangan kaki Jerry.
"Hajar dia Tuan muda!"
"Pukul ayo pukul! Pukul yah begitu, ayo lagi!" Kata Jeff sambil berjingkrak menahan geram.
"Aku tidak menduga karma ku akan seperti ini." Kata Ramsey sambil bersandar di dinding. Tampak darah sudah membasahi wajah nya di sana sini karena tendangan demi tendangan kaki Jerry telak mengenai sasaran.
__ADS_1
"Hutang darah bayar darah. Hutang nyawa bayar nyawa." Kata Jerry sambil mengambil sebatang besi kurang dari 1 meter dan menghantam tepat di samping kepala Ramsey.
"Prak..."
"Bugh..."
Terdengar suara sesuatu yang pecah di susul dengan ambruk nya sosok tubuh Ramsey di lantai ruangan dengan darah membanjiri lantai tersebut.
"Ting...."
"Hanya segitu saja kemampuan bertarung mu. Sebenarnya kau tidak layak atas tangan ku." Kata Jerry sambil melemparkan potongan besi itu ke lantai hingga mengeluarkan bunyi berdenting.
Semua yang berada di tempat itu seperti terpana menyaksikan Jerry yang tiba-tiba menjelma menjadi seorang yang berdarah dingin.
Tidak ada yang menduga sisi lain dari sifat Jerry ini. Selama ini mereka mengira bahwa Jerry ini orang yang lemah lembut dan penuh perasaan.
"Benar kata ketua bahwa Tuan muda ini tidak biasa." Kata Jeff berbisik ke telinga Regan.
"Dia telah lama menunggu saat ini. Aku yakin bahwa Robin akan mendapatkan balasan yang lebih sadis dari pada ini." Kata Regan.
"Urus mayat sampah ini. Kirimkan barang-barang nya kepada Robin di Metro city! Katakan bahwa anjing peliharaannya mati di tangan anak Wilson William!" Kata Jerry sambil mengusap tangannya dengan kain bersih dan segera menaiki tangga untuk segera menuju ruangannya dan berganti pakaian.
...*********...
Sebentar saja berita kematian Ramsey di tangan Jerry segera merebak sampai ke telinga Robin, tuan Samson dan Drako di Metro city.
"Seperti apa wajah anak Wilson ini sebenarnya? Sial sekali bagiku karena sampai saat ini aku belum bisa memastikan seperti apa musuh ku ini." Kata Robin dalam hati.
Berbeda dengan Robin, Drako sedikit terpukul mendengan kematian Ramsey di tangan Jerry. Ini karena Ramsey dan Drako adalah sahabat ketika mereka masih di panti asuhan dan sama-sama malang melintang mengarungi kerasnya kota Metro city.
Namun jika di ingat lagi perbuatan khianat Ramsey kepada Wilson membuat Drako merasa ada baiknya bahwa Ramsey ini mati di tangan Jerry. Apa lagi kematian Ramsey secara ksatria. Mereka murni bertarung satu lawan satu.
...*...
Kembali ke Starhill.
Jerry yang merasa seperti tidak ada kejadian apa-apa hanya santai di ruangannya sambil mengutak atis hasil gambar yang dia ambil ketika berada di kampung halaman Ryan.
Sekali lagi dia memperhatikan gadis baju merah itu yang tanpa sengaja tertangkap lensa kamera nya.
Jerry hanya bisa mendesah dan melemparkan kameranya kearah tumpukan kertas lalu mengeluarkan ponselnya kemudian membuat pesan suara kepada tuan Barry.
"Tuan Barry. Segera siapkan Jet pribadi! Aku akan berangkat besok pagi ke luar negara."
Tak lama kemudian terdengar suara ponsel Jerry berdering.
Ketika di buka, ternyata itu adalah pesan suara dari tuan Barry.
"Aku akan mengatur keberangkatan anda besok pagi Tuan muda. Anda dapat dengan tenang beristirahat malam ini." Kata tuan Barry melalui pesan suara di Whatsapp.
__ADS_1
"Terimakasih Tuan Barry." Kata Jerry lalu mengunci layar ponsel nya dan segera melangkah keluar meninggalkan ruangan pribadi nya itu.
Di lobby hotel saat ini Jerry melihat bahwa David dan Kevin sedang duduk sambil sesekali menggoda seorang gadis resepsionis di hotel tersebut.
Begitu mereka melihat Jerry keluar, mereka yang berada di tempat itu langsung membungkuk hormat.
"Mau kemana Tuan muda?" Tanya Kevin ingin tau.
"Malam ini aku ingin jalan-jalan sebentar di sekitar Starhill ini." Jawab Jerry.
"Kami akan menemani anda Tuan muda." Kata Mereka berdua serentak.
"Tidak perlu. Kalian tetap di sini. Aku tidak lama." Kata Jerry.
"Baiklah Tuan muda." Kata Mereka lalu kembali tersenyum kepada resepsionis di belakang Jerry.
...*...
Mobil yang di kendarai Jerry baru saja Jerry tiba di Jewel Star.
Setelah memarkir mobil, Jerry segera keluar dan melangkah memasuki toko.
Beberapa staf langsung membungkuk ketika melihat siapa yang datang.
Manager Olive dan Aline juga terburu-buru dengan hormat menyambut kedatangan Jerry.
"Selamat datang Tuan muda!" Kata mereka bersamaan.
"Tumben kau tidak manja lagi kepadaku Aline?" Tanya Jerry.
Aline yang mendengar teguran ini tersedak dan salah tingkah.
"Ak..., ak.., ah tidak apa-apa Tuan muda. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya Aline dengan tergagap-gagap.
"Aku ingin beberapa pasang pakaian untuk wanita berumur 19 tahun. Setelah itu kau harus mengantarnya langsung kepada Ryan di Starhousing. Apa kau mmenngerti." Tanya Jerry.
"Saya mengerti Tuan muda." Kata Aline sambil.mengernyitkan kening nya.
"Mengapa? Apa kau cemburu?" Tanya Jerry becanda.
"Tidak berani.., saya tidak berani." Kata Aline sambil tertunduk.
"Hahaha.., aku hanya becanda. Ayo lah. Dia adik sepupu Ryan yang baru datang dari kampung. Aku bermaksud membelikannya baju karena baju yang dia bawa tidak terlalu cocok untuknya dalam bergaul dengan mahasiswa kelas atas di kampus. Aku tidak ingin lagi teman-teman ku mendapat penghinaan seperti yang kami alami dulu." Kata Jerry menjelaskan.
"Mengerti Tuan muda." Kata Aline kaku membuat Jerry merasa tidak nyaman.
"Sudah lah. Aku pergi dulu. Jika aku berlama-lama disini, aku takut kau bisa mati berdiri." Kata Jerry sambil memutar tubuhnya dan segera berlalu meninggalkan toko itu.
Bersambung
__ADS_1