
"Saya cuma nggak tega makan makanan enak sementara mamah dan adik di rumah makan hanya dengan tempe dan kecapa saja. Tiada niat membuat oma sedih tapi". Jelas Haikal tertunduk sedih. Biasanya ia rela melakukan apa saja untuk membuat dua wanita penting dalam hidup nya itu makan enak meskipun ia harus berhutang, sekarang ia hanya makan sendiri dan tidak tahu mereka berdua akan makan apa malam ini.
Semua orang tersentuh dengan perhatian Haikal pada keluarga nya, meskipun mereka tahu keluarga nya itu sama sekali tidak peduli pada diri nya tapi anak itu selalu ingin berbakti dan membalas budi.
"Kamu tenang saja, jangan terlalu pikir kan mereka. Mulai hari ini cukup fokus dengan pekerjaan kamu dan hidup layak di sini. Jika kamu bekerja dengan becus maka gaji kamu akan utuh dan bisa kamu berikan pada mereka. Peraturan di rumah ini, semua orang termasuk pekerja seperti kamu harus makan - makanan yang di sediakan kalau tidak maka gaji kalian akan saya potong". Ujar Mega mengeluarkan peraturan baru di mansion untuk semua orang.
Pekerja lain malah senang dengan peraturan baru itu, tapi sejak dulu jika makan di mansion memang nggak ada perbandingan dnegan6 atasan atau bawahan. Apa yang tersedia bisa di makan oleh siapa saja, dan tak jarang makan bareng seperti saat ini dengan hidangan yang sama untuk semua orang. Maka nya ruang makan ini di desain luas dan cukup untuk banyak orang.
Haikal tercengang, ia kembali di buat terharu dengan perlakukan nyonya besar terhadap semua pekerja nya. Meskipun sedikit ragu untuk menerima lauk mewah dari Mega, tapi karena takut gaji di potong ia hanya bisa pasrah.
"Semua nya juga nggak usah segan, silakan makan makanan yang kalian ingin kan. Jangan sisakan sedikit pun, saya paling nggak suka di rumah ini ada pembaziran. Kalian paham, kan". Ancam Mega dengan sorot mata teduh nya.
"Makan banyak, Al. Selepas ini kamu masuk ke kamar kamu istirahat, kalau tengah malam kamu laper minta pada simbok yang di sana. Minta untuk di panaskan lauk nya. Besok kamu berangkat sekolah seperti biasa di hantar Josep, sepulang sekolah kamu belajar bawa mobil, saya tahu kamu belum bisa nyetir mobil maka nya harus mulai belajar besok". Imbuh Zack dengan tegas.
"Baik tuan, eh maksud saya pah". Sahut Haikal setuju.
Selesai makan, Haikal di hantar ke kamar nya oleh Aisyah. Kamar yang sudah belasan tahun lalu kosong dan masih terlihat seperti kamar seorang anak kecil.
"Mulai sekarang kamar ini akan menjadi kamar kamu. Maaf yah, kalau desain nya kayak anak kecil gini. Kamu boleh kok mengubah nya sesuai keinginan kamu, cukup bilang sama mama kamu mau desain seperti apa, nanti mama tolong mengubah nya". Ujar Aisyah menuntun Haikal masuk ke kamar Albar semasa kecil.
"Sebenarnya ini kamar siapa, mah? Dan ini foto siapa?". Tanya Haikal sambil menatap foto seorang anak kecil yang terpajang cantik di dinding.
Aisyah menghela nafas berat, ia membelai foto itu dan meneteskan air mata. "Ini foto anak mamah, tapi kamu jangan khawatir dia tidak akan marah kok kalau kamu menempati kamar ini". Lirih nya.
"Sekarang anak mamah di mana? Kenapa kamar ini malah saya yang memakainya? Lebih baik saya di kamar lain saja mah". Tolak Haikal.
"Mamah bingung harus menjelaskan ke kami bagaimana, Al. Tapi kalau kamu menolak untuk menempati kamar ini maka mamah akan sedih banget. Tentang anak mamah nanti juga kamu akan tahu sendiri. Tapi mamah mohon kamu jangan menolak permintaan mamah, yah. Tempati kamar ini maka mamah akan senang banget". Ujar Aisyah membujuk Haikal.
"Tapi saya....".
"Nggak ada tapi - tapian, kalau tidak mamah akan sedih dan papa kamu akan memotong gaji kamu. Kamu nggak mau kan kalau gaji kamu di kurang kan, sementara keluarga kamu udah berharap gaji gedek?". Seperti Mega, Aisyah juga suka mengancam Haikal dengan memotong gaji nya.
__ADS_1
"Bukan maksud mamah mengancam kamu, tapi kalau nggak di giniin kamu tahu cuma membantah mulu". Batin Aisyah nggak tega.
"Baik lah, mah. Saya setuju untuk menempati kamar ini". Sahut Haikal mengalah.
"Kalau begitu istirahat lah. Mamah juga mau istirahat. Semoga malam ini kamu tidur nyenyak, selamat malam, Al". Aisyah meninggalkan Haikal di kamar nya.
"Al? Mereka memanggil ku dengan panggilan Al. Sangat manis". Gumam Haikal. Ia membersihkan tubuh nya dan melakukan aktifitas sebelum tidur seperti biasa.
*
*
Di tempat lain, Karina sedang mengulang kaji di kamar nya. Seperti pesan Haikal, ia harus tetap rajin belajar meskipun ia tidak ada di rumah itu lagi. Pekerjaan rumah yang biasa Haikal lakukan sudah ia kerjakan di bantu Sukma yang selalu saja mengomel nggak jelas.
"Udah malam gini, kok kedua abang ganteng itu belum pulang, yah? Kontrakan mereka juga tampak sangat sepi padahal aku udah buat kan teh yang mereka suka". Gumam Sukma sambil mengintip kontrakan Josep dan Kali di balik Jendela rumah nya.
Bukan mobil yang ia tunggu datang, mobil yang selalu membuat nya takut yang malah datang dan berhenti di depan rumah nya.
Sukma masuk ke kamar Karina berharap anak nya itu bisa memberi nya solusi.
"Mamah kenapa kayak takut begitu? Siapa yang datang? Penagih hutang?". Tanya Karina melirik wajah Sukma sejenak.
"Kamu jangan berisik, ini lebih menakutkan dari penagih hutang bapak kamu itu". Bisik Sukma sambil membekap mulut anak nya.
"Ehh,, emm". Karina mencoba melepas tangan Sukma dari mulutnya.
"Mamah akan lepas tapi kamu jangan berisik!". Ujar Sukma.
"Mamah apa - apaan sih, sakit tauk". Kesal Karina dengan suara yang sudah di kecil kan.
Tok,, tok,, tok,,
__ADS_1
Sukma kaget dan semakin ketakutan.
"Sebenarnya mereka siapa sih, mah? Sampai buat mamah takut banget seperti ini". Tanya Karina penasaran.
"Cerita nya panjang, mereka selalu datang ke rumah ini tapi bapak kamu yang layani, kali bapak kamu nggak ada Haikal pun nggak ada. Mamah takut ketemu mereka". Sahut Sukma tidak tenang.
"Kalau begitu biar Karina yang nyamperin mereka di luar". Ujar Karina penasaran..
"Jangan! Kamu jangan ketemu mereka! Mamah nggak mau kalau kamu ada apa - apa". Halang Sukma khawatir.
Tok,, tok,, tok,,
Pintu kembali di ketuk tapi kali ini terdengar kasar.
"Buka pintu nya! Kami tahu kalian ada di dalam, buka! Sebelum kami merusak pintu ini". Ancam pria yang di takuti Sukma.
"Dengar tuh, mah. Mereka ini merusak pintu rumah kita. Jadi percuma juga sembunyi kayak gini malah semakin buat mereka marah". Imbuh Karina ingin keluar tapi tangan nya di cepat oleh Sukma.
"Eh, pak Robert dan pak Ronal. Temben datang ke rumah saya malam - malam gini". Sapa Karim pada kedua pria itu.
Sukma akhirnya bisa bernafas lega mendengar suami nya sudah pulang dan menyapa kedua pria itu di luar.
"Anak itu aman kan?". Tanya Robert ketus.
"Hah, anak itu? Oh su sudah tentu aman pak". Sahut Karim gelagapan.
"Bagus. Di mana dia sekarang? Aku ingin melihat nya". Ujar Robert.
"Hah, di - dia seperti nya sudah tidur pak". Jawab Karim menahan takut nya..
"Bangun kan dia! Kami ingin memastikan dia benar - benar masih ada di sini". Robert menarik kerah baju Karim sehingga pria kurus itu sedikit melayang di udara.
__ADS_1
"Ba baik pak. Saya akan pa panggil kan". Kata Karim dengan nafas tersengal.