
Bab 115.
Mobil Volvo butut yang sudah sangat sengsara itu melaju dengan terseok-seok meninggalkan gerbang kampus dan langsung menyeberang mengikuti jalan di sebelah kafe menuju ke rumah kos-kosan dimana Via dan teman-temannya tinggal.
"Tin..., tin.., tin..."
Suara klakson memekakkan telinga mulai di perdengarkan begitu mobil sekarat itu berhenti di depan rumah kos-kosan itu.
Tampak seorang pemuda tampan memakai jas hitam dan celana hitam yang terlihat sangat mahal dan di padu dengan sepatu kulit Hermes keluar dari mobil dan melangkah menuju ke rumah kos-kosan tersebut.
Jika diperhatikan antara penampilan pemuda itu dengan mobil butut yang compang camping itu, ibarat langit dan bumi. Namun dengan gaya masa bodo nya, pemuda itu hanya cuek dengan pandangan mengerikan dari orang-orang yang melihatnya.
Tak lama setelah itu, tampak dua orang gadis keluar dari dalam rumah dan langsung menyapa pemuda itu.
"Jerry..., apa kau sudah lama menunggu?" Tanya salah seorang dari wanita itu.
"Ah tidak juga Via. Masih belum tumbuh akar. Berarti belum lama." Kata pemuda yang ternyata Jerry itu acuh tak acuh.
"Jerry..., boleh kan kalau aku membawa Lira ikut bersama ku?" Tanya Via merasa sedikit sungkan.
"Boleh. Mengapa tidak? Asalkan dia tidak malu ikut dengan kita mengendarai mobil butut itu." Kata Jerry dengan santai nya.
"Bagaimana Lira. Apa kau malu?" Tanya Via sambil menatap wajah sahabat nya itu.
"Kenapa harus malu? Kalau Jerry tidak merasa terganggu, aku juga ingin sesekali keluar jalan-jalan." Kata Lira yang terkenal sebagai gadis rumahan.
"Aku tidak merasa terganggu. Ayo lah. Semakin cepat, semakin baik. Daripada nanti mogok di jalan kan susah. Lebih baik berangkat sekarang. Jika mogok masih ada waktu untuk mencari taxi." Kata Jerry sambil tersenyum masam.
Setelah Jerry membukakan pintu untuk kedua gadis itu, tanpa membuang waktu lagi, Jerry langsung menghidupkan mesin dan mulai lah mobil butut itu bergerak seperti orang mabuk membelah jalan Starhill menuju ke Lotus Road.
Di dalam hati, Lira dan Via berdoa sepanjang jalan semoga saja mobil itu tidak mogok.
Dapat dibayangkan andai saja mogok, maka sudah pasti mereka berdua akan menjadi korban untuk mendorong mobil itu.
Benar saja. Belum lagi mobil itu memasuki Lotus Road, tiba-tiba saja mobil itu rusak.
Via dan Lira kini sama-sama panik dan tidak tau lagi harus berbuat apa.
Kini mereka saling pandang dan mulai mengeluh dalam hati.
"Jerry.., bagaimana ini?" Tanya Via panik.
__ADS_1
"Bagaimana apanya?" Tanya Jerry dengan acuh tak acuh.
"Mobil ini mogok Jerry!" Kata Via sedikit sewot.
"Sabar. Mesin nya terlalu panas. Nanti juga kalau sudah dingin, akan bisa hidup lagi." Kata Jerry santai.
"Ayo kita keluar dulu Jerry! Di dalam sangat panas." Kata Via lalu mengajak Lira untuk keluar.
Baru saja mereka keluar dari mobil yang rusak itu, tiba-tiba dari arah belakang melaju sebuah mobil Audi Rs7 dan tepat berhenti di belakang mobil butut itu.
Kini tampak 2 orang pemuda keluar dari dalam mobil dan dengan senyum menghina dia menyapa. "Via.., Lira. Kalian sedang apa di sini?" Tanya salah seorang dari lelaki muda sebaya dengan mereka itu.
"Oh.., itu kamu Anton dan John. Kami di sini bersama dengan Jerry. Mobil kami mogok." Kata Via sambil menutup kepalanya dengan tas tangannya untuk melindungi diri dari sinar matahari sore itu.
"Hahahaha... Apa lagi yang bisa dilakukan oleh pemuda sekarat yang menderita itu? Heh Jerry! Kau ini benar-benar tidak tau malu. Mengajak kedua wanita menaiki mobil butut dan mogok pula di jalan. Sungguh terlalu." Kata Anton sambil tertawa menghina.
"Via. Kemana kalian akan pergi?" Tanya John sambil menatap liar.
Melihat tatapan John yang kurang ajar itu, Via segera menarik tangan Lira agar sedikit menjauh dan menjawab, "Kami akan pergi ke Restoran teratai." Kata Via.
"Restoran teratai? Itu adalah restoran mewah Via. Aku tidak yakin apakah kucing kurap itu mampu mentraktir mu bahkan setengah porsi saja makanan di sana." Kata Anton pura-pura terkejut.
"Kebetulan kami juga akan kesana Via. Bagaimana jika kalian berdua ikut dengan kami!?" Kata Anton lagi sambil menawarkan untuk membawa Via dan Lira menuju restoran teratai.
"Aku heran dengan kalian berdua ini. Entah apa yang kalian harapkan dari kucing kurap itu. Penampilan sih Ok. Tapi lihat lah mobil nya. Ya ampun.., itu lebih cocok dijual ke kedai loak untuk di lebur menjadi besi buruk." Kata Anton sambil tertawa terbahak-bahak.
"Apa kau sudah selesai dengan penghinaan mu Anton? Jika sudah, silahkan pergi. Aku tidak butuh ocehan mu." Kata Jerry yang mulai hilang kesabaran.
"Lihat kucing kurap itu Anton! Sepertinya dia marah. Ih.., aku takut. Hahahaha..." Kata John berpura-pura ketakutan.
"Aku juga takut. Takut kalau kesialan nya menular kepadaku." Kata Anton sambil bergidik ngeri.
"Sudah Anton. Pergi lah sebelum aku benar-benar marah. Aku takut jika aku benar-benar telah habis kesabaran, kau akan menderita luar dan dalam oleh ku." Kata Jerry sambil mengepalkan tinju nya.
"Aku mengatakan kenyataan. Mengapa kau harus tersinggung?" Kata Anton tetap dengan senyum mengejek.
Kini kesabaran Jerry benar-benar telah habis. Dia segera menghampiri Anton dan John. Namun sebelum dia lebih mendekat, telepon nya berdering.
Jerry buru-buru mengeluarkan ponsel nya dan menjawab panggilan.
"Paman Austin. Ada apa menelepon?" Tanya Jerry dengan suara sedikit berbisik.
__ADS_1
"Tuan muda.., mengapa anda lama sekali? Apakah terjadi sesuatu dengan mu di jalan?" Tanya Austin dengan nada khawatir.
"Paman.., mobil nya mogok. Apakah kau bisa mengirim mobil yang sedikit lebih bagus?" Kata Jerry.
"Bisa Tuan muda. Namun di sini ada ramai teman-teman mu. Apa alasan mu nanti ketika mereka melihatmu turun dari mobil mewah?" Tanya Austin.
"Paman bisa bersandiwara. Katakan bahwa Ryan yang mengirim jemputan. Dia adalah tangan kanan ku saat ini. Hanya saja aku belum ada waktu untuk mengumumkan jabatan apa yang tepat untuk nya." Kata Jerry.
"Oh.., baiklah kalau begitu. Anda tunggu lah di sana sebentar. Aku akan mengirimkan mobil untuk menjemput mu Tuan muda." Kata Austin lalu menutup telepon.
"Mengapa berhenti Jerry? Apakah kau ingin memukul ku?" Tanya Anton.
"Memukul mu hanya mengotori tangan ku. Kau tidak layak untuk itu." Kata Jerry membalas hinaan Anton.
"Lalu.., Apakah menurut mu kau layak untuk ku? Kau kucing kurap yang tidak tahu diri. Dan kalian berdua, apakah kalian akan tetap menunggu disini atau ikut dengan kami ke restoran teratai?" Tanya Anton dengan sangat Arogan.
"Pergi saja. Aku tidak butuh." Kata Via dengan sinis.
"Dasar perempuan bodoh. Kau akan berjamur disini menunggu mobil butut ini." Kata Anton.
"Siapa bilang kami menunggu mobil butut ini? Kami sedang menunggu Jemputan. Ryan telah mengirim mobil untuk menjemput kami." Kata Jerry mencibir.
"Apa.., Ryan? Apa yang bisa dilakukan oleh nya? Kau Jerry, bermimpi terlalu dini." Kata Anton mengejek.
"Kita lihat saja. Kau belum tau bahwa Ryan sekarang sudah menjadi orang kepercayaan pemilik Future of Company. Sedangkan kau, hanya seorang anak manja yang keluyuran kesana kemari dengan mengandalkan uang orang tua mu. Andai orang tua mu di pecat, kau bahkan akan lebih buruk daripada mobil butut ini." Kata Jerry sambil mengulum senyuman nya.
"Sialan kau Jerry. Aku pasti akan menghancurkan mu hari ini." Kata Anton mulai merasa terhina.
"Kau berani Anton? Apa belum cukup ketika aku menampar mu dulu? Apa belum cukup kau dihajar oleh Riko sampai babak belur? Apa kau mau aku mematahkan kaki mu?" Kata Jerry mengingatkan bahwa dia pernah menampar pipi Anton sampai jatuh terduduk akibat menghina orang tua Jerry.
Mendengar ancaman Jerry, Anton langsung tersurut mundur beberapa langkah.
Belum lagi Anton membuka mulut untuk kembali menyerang Jerry, tiba-tiba sebuah mobil Mercedez S-Class berbelok dan langsung berhenti di dekat mereka sehingga memblokir jalan.
Setelah pintu terbuka, tampak seorang supir keluar dan menyapa Jerry dengan Hormat lalu berkata, "Maaf saya terlambat. Tuan Ryan menyuruh saya untuk menjemput anda. Silahkan masuk ke mobil. Tuan Ryan sudah menunggu kalian." Kata Pak sopir sedikit kaku dalam sandiwara nya.
"Oh.., terimakasih pak. Ayo Via, Lira. Silahkan masuk dan tinggalkan sampah itu!" Kata Jerry sambil mengejek kearah Anton yang mulai merah padam wajahnya.
"Apakah bener Ryan telah menjadi orang penting di perusahaan FoC? Apakah jabatannya lebih tinggi dari Ayahku?" Kata Anton dalam hati.
Dia tidak lagi memikirkan tentang Jerry. Yang ada dalam hatinya saat ini adalah rasa tidak percaya.
__ADS_1
Bagaimana Ryan bisa menjadi seperti itu. Padahal jika dibanding dengan Ryan, maka dia lebih pantas. Ini karena ayah nya yaitu tuan Paul sudah lama bekerja jauh sebelum FoC membeli perusahaan Smith Group.
"Sialaaan. Apa-apaan ini?" Kata Anton lagi dalam hati.